Agar Flickr Uploadr Bisa Menggunakan Proxy Server

Posted by: on Jul 3, 2008 | 5 Comments

Saya adalah fans Flickr. Online photo sharing yang menurut saya paling mengasyikkan dibandingkan dengan layanan yang lain semacam Picasa, Photobucket, dll. Sedemikian ngefans-nya hingga beberapa bulan yang lalu saya memutuskan untuk meng-upgrade account saya menjadi pro. Yang paling saya suka adalah model tampilannya yang merupakan photoblogging. Selain itu, Flickr juga mempunyai tool uploader dahsyat bernama Flickr Uploadr — berbasis desktop, yang bisa melakukan batch uploading.

Sayangnya, software ini tidak memiliki opsi konfigurasi sama sekali. Konfigurasi koneksi internet dengan proxy tidak bisa dilakukan lewat GUI-nya. Awalnya saya kira ia mengikuti setting proxy-nya Internet Explorer (atau default internet browser), tapi ternyata tidak. Konfigurasinya default, lewat direct connection. Jika Anda menggunakan proxy, Anda harus melakukan konfigurasi secara manual. Bagaimana cara konfigurasinya? Berikut langkah-langkahnya.

Pengaturan opsi Flickr Uploadr sebenarnya ada. Ia disimpan di file bertipe Javascript bernama prefs.js. Instalasi default menyimpannya di folder C:\Program Files\Flickr Uploadr\defaults\preferences. Silakan buka file tersebut dengan teks editor, misalnya pakai Notepad, kemudian tambahkan baris-baris di bawah ini:

pref(‘network.proxy.http’, ‘localhost’);
pref(‘network.proxy.http_port’, 6112);
pref(‘network.proxy.type’, 1);

Silakan ganti localhost dengan alamat proxy server Anda, misalnya proxy.example.com. Kemudian ganti juga angka 6112 dengan port proxy server Anda. Kebanyakan proxy server memakai port 8080

Restart Flickr Uploadr, dan beberapa saat kemudian Anda akan bisa login ke flickr melalui software ini.

Selamat mencoba!

Sumber: http://www.perfectblogger.com/2008/02/flickr-uploadr-proxy/

Proses Pemblokiran, Penjelasan Secara Awam

Posted by: on Apr 12, 2008 | 9 Comments

Dunia internet Indonesia sedang ribut-ribut gonjang-ganjing mengenai rencana pemblokiran beberapa situs yang dianggap kurang baik oleh pemerintah. Sebenarnya bagaimana sih proses pemblokiran tersebut? Saya akan mencoba menjelaskannya dalam kacamata awam se-awam mungkin yang saya bisa.

Untuk memahami jaringan internet yang rumit, mari kita bayangkan sebagai kompleks perumahan saja. Kita bayangkan komputer-komputer kita adalah rumah yang ada di dalam kompleks. Setiap rumah memiliki nomor rumah. Nah, untuk keluar dari kompleks, kita harus melalui gerbang utama yang dijaga oleh pak satpam.

Kegiatan mengakses sebuah situs di internet, kita seperti keluar dari kompleks, melalui gerbang utama, kemudian minta izin ke pak satpam dulu. Pak Satpam akan bertanya kita akan kemana. Kita jawab ke suatu rumah di kompleks lain dengan alamat ini. Pak Satpam akan mencocokkan dengan peraturan apakah kita memang diperbolehkan berkunjung ke sana. Jika tidak boleh, kita sama sekali tidak bisa keluar dari kompleks dan berkunjung ke rumah yang akan kita tuju, meskipun rumah itu adalah saudara kita sekalipun.

Hanya Menghambat, Tidak bisa Mencegah

Apakah kita memang tidak bisa berkunjung ke rumah itu kalau sudah dilarang pak satpam? Selama pak satpam membolehkan kita keluar, kita tetap bisa. Biasanya, pak satpam hanya membolehkan kita keluar jika kita akan menuju ke:

  • Perpustakaan (80, HTTP)
  • Kantor polisi  (443, HTTPS)
  • Pasar (21, FTP)
  • Kantor Pos (25, SMTP)

Pak Satpam biasanya akan melarang jika tujuan kita adalah:

  • Agen Pengiriman Paket (3128, 8080, Proxy Server)
  • Gedung Pertemuan (5050, Yahoo Messenger)
  • Rumah-rumah yang bernomor selain nomor tersebut di atas.

Pak Satpam yang lebih teliti akan melihat lebih detail lagi. Pak satpam akan melarang kita berkunjung ke perpustakaan tertentu seperti Youtube dan Multiply misalnya, karena mereka memiliki koleksi pornografi. Atau bahkan lebih detail lagi, kita boleh berkunjung ke perpustakaan Youtube tetapi tidak boleh masuk ke lantai 2 gedung tersebut karena di sana ada koleksi pornografi.

Pak Satpam juga manusia yang memiliki keterbatasan. Kita tetap bisa mengunjungi rumah-rumah yang dilarang pak satpam tanpa harus menyakitinya. Cukup yakinkan pak satpam bahwa kita akan berkunjung ke tempat yang menurutnya boleh.

Cara pertama

Kita bilang ke pak satpam, “Pak, saya akan ke kantor polisi mengurus SKKB.” Siapa yang akan melarang dengan niat mulia tersebut? Pak satpam tentu akan mengizinkan. Tetapi pak satpam tidak tahu kalau ternyata kita tidak berkunjung ke kantor polisi, tetapi ke agen pengiriman paket yang memiliki nomor pintu sama dengan kantor polisi, yaitu 443. Pak Satpam hanya bisa mengenali tujuan kita dengan nomor pintu yang kita tuju. Pak Satpam tidak bisa mengikuti kita dan ikut memeriksa apakah benar yang ada di balik pintu 443 benar-benar kantor polisi. Lha, karena kita telah berhasil keluar dari pak satpam dengan cara yang sah dan tiba ke agen pengiriman paket, kita bisa minta agen tersebut mengantarkan kita kemana saja yang kita mau, termasuk ke gedung pertemuan Yahoo Messenger yang bernomor 5050. Inilah yang dinamakan HTTP Tunneling. Contohnya adalah yang dilakukan Pak Harry Sufehmi ini. Semoga Allah memberikan amal jariyah buat bapak dengan layanan ini. Amin.

Cara kedua

Cara ini lebih mudah. Kita bilang ke pak satpam, “Pak, saya akan ke perpustakaan dengan alamat ini.” Karena alamat ini tidak masuk dalam daftar alamat “hitam” milik pak satpam, kita akan diizinkan keluar. Tetapi ternyata perpustakaan tersebut sama sekali tidak memiliki koleksi buku. Istimewanya, kita bisa minta ke petugas bahwa kita ingin koleksi dari perpustakaan lain yang bisa jadi dilarang oleh pak satpam. Perpustakaan macam begini jumlahnya sangat banyak. Inilah yang dinamakan Web Proxy. Contohnya, misalnya http://56st.com

Begitulah, pak satpam tetap memiliki keterbatasan. Untuk cara pertama, kalau mau, pak satpam bisa saja mengikuti kemana kita pergi dan memeriksa apakah kita benar-benar pergi ke tempat yang kita bilang ke pak satpam. Tetapi bayangkan berapa tenaga yang harus dikeluarkan pak satpam untuk mengurusi sekian banyak penghuni kompleks yang sama-sama sibuk.

Untuk cara kedua, pak satpam harus memiliki catatan perpustakaan mana saja yang tidak memiliki koleksi. Jumlahnya sangat banyak. Catatan pak satpam bisa membengkak menjadi beribu-ribu halaman. Dan tentunya memerlukan waktu yang lama untuk mencocokkan tujuan kita dengan ribuan halaman itu. Tenaga yang dibutuhkan tidak sebanding dengan hasil.

Solusi

Itulah kenapa, pengurus kompleks (Pak Menteri Kominfo) berkali-kali berkata bahwa pemblokiran hanyalah satu layer dari tiga layer yang direncanakan. Saat ini sedang disiapkan satpam yang bisa ditempatkan di masing-masing rumah. Satpam ini tidak memblokir, tetapi memberi tahu. “Ibu, situs ini kurang baik karena mengandung pornografi. Berbahaya bagi anak-anak Anda yang masih remaja.” Sehingga peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.

Review: Opera Mini, Browser untuk Ponsel

Posted by: on Mar 27, 2008 | 6 Comments

Ponsel saya, Sony Ericsson W200i, memiliki dukungan untuk akses internet via GPRS (2,5 G). Di dalamnya terdapat sebuah browser internal yang membuat kita berseluncur di dunia maya tanpa harus menyambungkannya ke notebook. Browser ini memiliki sangat banyak kelemahan, utamanya ketika harus me-load halaman besar dan kompleks yang sama sekali tidak didesain untuk pengunjung yang memakai mobile device. Sempat saya berpikir untuk memodifikasi halaman pencarian google yang sangat mobile-friendly untuk menjadi semacam jembatan perantara setiap situs yang akan saya kunjungi dengan ponsel saya.

Sampai pada ketika saya menemukan browser imut-imut ini: Opera Mini!

Berbasis Java ME (Java Micro Edition), Opera Mini bekerja dengan sangat baik pada hampir semua situs yang kompleks. Ia memiliki dua pilihan, mobile view dan standard view. Mobile view memiliki perilaku seperti browser internal W200i, yaitu melakukan konversi halaman dan memindahkan isinya sehingga lebih nyaman dibaca. Meski demikian, Opera melakukannya jauh lebih baik daripada browser internal W200i.

Standard view mempertahankan tampilan semirip mungkin dengan aslinya. Agar muat di layar ponsel yang portrait dan kecil (sementara desain web kebanyakan berbentuk landscape), Opera mengecilkan tampilan (zoom out). Jika kita ingin membaca detailnya, ada alat pembesar (magnification) untuk mendetailkan tampilan pada area tertentu. Di beberapa situs, Opera menampilkan semirip aslinya, namun dalam beberapa situs yang lain lagi, Opera menampilkan tampilan yang porak poranda. Bukan suatu masalah yang berarti saya kira, karena kita bisa saling berganti-ganti mode view: mobile view atau standard view.

Satu lagi yang saya suka dari Opera Mini. Scrolling yang begitu halus dan nyaman. Di browser W200i, saya memerlukan waktu yang lama untuk melakukan scrolling halaman dari atas ke ujung bawah karena banyaknya teks. Solusi membagi halaman menjadi banyak seperti yang dilakukan Google kurang menarik bagi saya. Tetapi Opera melakukannya dengan lebih baik, ia membuat mode scrolling yang menggulung halaman dengan lebih banyak dan lebih cepat tanpa mengorbankan kenyaman.

Bravo Opera!

Dilema CMS Open Source

Posted by: on Mar 26, 2008 | 12 Comments

CMS (Content Management System) adalah sebuah sistem (saya lebih suka menyebutnya framework – bingkai kerja) yang ditujukan untuk manajemen isi suatu situs, misalnya portal. CMS yang sudah jadi sendiri sudah sangat banyak, baik yang bersifat lisensi berbayar (propietary) maupun yang open source. CMS Open Source juga sangat banyak yang populer, diantaranya adalah Joomla dan Drupal.

Kemudahan memakai CMS tentu saja adalah kecepatan pengembangannya. Tinggal lakukan instalasi, set up database, lakukan penyesuaian (customize) sesuai kebutuhan, sesuaikan tampilan, dan selesai. Siap launching. Live. Ini sangat berguna ketika kita diminta untuk menyelesaikan sebuah situs portal dengan deadline yang hampir tidak masuk akal. Apa pasal? Dalam pengembangan sebuah situs, paling tidak kita memerlukan beberapa pekerjaan besar, yaitu:

  • Desain tampilan, dan potong-potong (kawan saya yang pakai Adobe Photoshop pasti mengerti maksud potong-potong ini ) menjadi HTML
  • Serahkan HTML mentah kepada tim programmer untuk membuatnya dinamis dan bisa memuat data dari database
  • Tahap desain: database, site map, site flow
  • Pembuatan halaman administrasi situs, lengkap dengan validasinya
  • Set up database, set up webserver, set up DNS Server, dan lakukan proses deployment agar siap diluncurkan

Dalam waktu singkat, semua pekerjaan itu hampir mustahil dilakukan dengan sangat baik. Oleh karena itu, kemudahan dan kecepatan pengembangan situs dengan menggunakan CMS yang sudah jadi menjadi salah satu pilihan yang patut menjadi pertimbangan serius.

Namun demikian, memakai CMS yang sudah jadi apalagi open source mendatangkan masalah baru: sisi keamanan. Karena open source, semua orang menjadi tahu sudut-sudut terkecil dari infrastruktur CMS. Dengan demikian, semua orang (inilah contoh generalisasi hiperbolistik ) juga tahu kelemahan setiap CMS. Semua orang berpotensi menjadi penyerang sistem keamanan yang menggunakan CMS open source. Apalagi, dalam forum-forum terbuka, selalu ada saja kelemahan titik keamanan yang dipublikasikan, lengkap dengan cara penyerangannya.

Oleh karena itu, sebenarnya situs yang menggunakan CMS open source harus rajin-rajin dirawat, diteliti, dan diupdate agar celah-celah keamanan yang muncul dapat ditutup dengan cepat. Inilah yang jarang tidak pernah terjadi di sebagian besar portal yang memakai CMS open source. Biasanya memang pembuatan sebuah portal adalah outsourcing, dan kontrak yang ada tidak melibatkan proses perawatan. Sehingga tentu saja, portal-portal itu demikian mudah diserang oleh para script kiddies1.

Bagi saya, ini adalah pilihan yang dilematis. Kalau saya pakai CMS, saya harus merawatnya baik-baik. Kalau saya buat CMS sendiri, tentu saja saya lebih bisa mengendalikan infrastruktur keamanannya, tapi saya babak belur di waktu pembuatannya. Ironisnya, jika melihat bagaimana kontrak pembuatan sebuah website yang tidak menyertakan klausul perawatan, kebanyakan orang memilih memakai CMS yang jauh lebih cepat dan mengabaikan sisi keamanannya.

Catatan Kaki:
1: Penyuka kegiatan penyerangan sisi keamanan sistem dengan mencontek informasi yang sudah ada yang tersedia di forum-forum underground di internet atau IRC.

Tentang Layanan Hotspot Gratis dari Speedy

Posted by: on Jan 8, 2008 | 30 Comments


Alun-Alun Ibukota Tulungagung:
Taman Kusuma Wicitra

Baca artikel ibu Velisa jadi ingat kalau saya ingin cerita soal ini.

Waktu libur lebaran yang lalu, saya jalan-jalan bersama sahabat-sahabat saya (dr. Dika, Indri, Intan, Patrin) mengunjungi mall mini yang baru saja dibuka di sebelah alun-alun kota Kediri. Saat itu saya sempat membaca sekilas spanduk di tepi alun-alun bahwa di tempat itu telah ada sebuah hotspot persembahan dari Telkom Speedy. Waktu lewat alun-alun Tulungagung, saya juga melihat spanduk serupa. Wah, sayang sekali, saya tidak membawa notebook untuk mencobanya.

Waktu berlalu hingga liburan akhir tahun tiba.

Kali ini saya tidak lupa membawa notebook. Saya memang penasaran ingin mencoba, jadi saya bawa notebook dan saya taruh di kursi belakang. Berdua dengan int [thanks nduk, dah ditemeni], saya parkir ke tepi alun-alun Tulungagung dan segera mengaktifkan Wifi. Dua access point terdeteksi. Salah satunya memiliki SSID Hotspot_Speedy_TA. Wah, ini dia. Saya bisa tersambung dan uji coba pertama saya adalah mencoba menghubungi blog ini, google reader, google.com, dan yahoo.com.

Semenit, dua menit… tiga menit, tak ada satupun halaman yang membuka. Lima menit kemudian, si Firefox berhenti loading tanpa respon apapun. Bahkan respon Connection Timeout pun tidak. Wah, masak begini dibilang hotspot?? Hotspot dari Hongkong? ) Sejurus kemudian laptop saya tutup sembari bilang ke int sambil melirik wajah manisnya, “Halah, hotspot kok koyo entut.”

Dari hasil bertanya-tanya, Pak Agus Joko, guru Bahasa Inggris SMA saya, berkata kalau dulu pada waktu awal-awal hotspot ini masih cepat dan gegas. Tapi karena kemudian oleh masyarakat sekitar bandwidth-nya dicuri dengan cara memasang anttenna menembak langsung access point dari rumah, bandwidth hotspot langsung dipangkas habis.

Sebenarnya, alun-alun Tulungagung lumayan cocok diberi hotspot. Sangat menyenangkan duduk di sana sore-sore sambil bersantai. Udara yang hangat dan sejuk, lalu lintas yang relatif sepi. Sayang sekali memang, laptop belumlah menjadi barang yang umum seperti halnya di Jakarta. Jadi, andai tidak ada para pencuri bandwidth itu, hotspot di alun-alun Tulungagung tidak akan terlalu berguna. Lalu bagaimana cara mengatasi pencurian dengan antenna seperti ini? Agak sulit saya kira, karena jarak alun-alun dengan perumahan penduduk relatif dekat. Siapapun bisa memasang antenna RF dengan mudah di sana. Jadi, mungkin memang belum saatnya hotspot gratis ada di Tulungagung.

Windows Vista dan Internet

Posted by: on Oct 28, 2007 | 14 Comments

Windows Vista tidak cocok untuk digunakan di daerah fakir bandwidth. Terlalu banyak “spyware” legal yang berjalan.

Itu adalah kesimpulan saya tentang sistem operasi ini. Ceritanya, saya dipinjami notebook yang berisi Windows Vista Bussiness agar saya bisa bekerja di rumah. Saya bekerja dan terhubung dengan internet menggunakan koneksi GPRS IM3 dengan ponsel Sony Ericcson W200i saya. Vistanya masih baru, jadi segala setting masih default.

Saya pun segera terhubung ke internet berbekal pulsa Rp. 5000. Perkiraan saya, dengan digunakan hanya untuk chatting pakai Pidgin, pulsa sebanyak ini bisa tahan hingga tiga hari. Tapi tak lebih dari lima menit, pulsa saya habis! Padahal saya tidak browsing webpage. Ada koneksi diam-diam tanpa seizin saya tapi diizinkan oleh Windows. Bahkan oleh Norton Protection Center yang (kebetulan) terinstall. Selidik punya selidik, program itu adalah Windows Update. Secara default, Windows Update akan mencari update terbaru dan mendownloadnya. Hmm.. pantesan 5 MB saya habis! Tak sampai kejapan mata, saya habisi Windows Update supaya tidak buat koneksi seenaknya! Setelah itu lancar. Bandwidth keluar sesuai dengan kontrol.

Sampai tadi ketika saya terhubung dengan internet sambil mendengarkan musik dengan Windows Media Player. Pengalaman dengan Windows Update, segala opsi yang berhubungan dengan internet sudah saya matikan. Tapi traffic data begitu derasnya. Lagi-lagi yang terdeteksi terhubung dengan internet hanya Pidgin saja. Aplikasi ini sudah terjamin tidak menggunakan bandwidth secara misterius. Transparan. Ketika saya mematikan Windows Media Player, traffic data normal kembali. What a goddamned Windows! Apa itu bukan spyware namanya? Dasar. Karena tak ada Winamp, saya pakai VLC Media Player. Jauh lebih bersih dari koneksi misterius.

Saya jadi ingat quote dari Section Head saya ketika bicara tentang Internet Explorer dan Mozilla Firefox,

Microsoft mah bikin aplikasi jelek dan buruk gak masalah. Yang penting bagi dia adalah, meskipun jelek tapi semua orang pakai. Orang nggak tahu apa itu Firefox, yang tahu cuma yang sedikit ngeh sama komputer. Orang cuma tahu IE. Titik.

Wow!

Tinggalkan Microsoft Office? Ntar dulu kali yee…

Posted by: on Sep 30, 2007 | 5 Comments

Melanjutkan postingan ini.

Ada banyak hal ternyata — yang baru saya sadari — kenapa orang tidak mau pindah ke open source dan tetap bertahan di software propietary. Mari saya daftar satu per satu.

Ketergantungan dan Kebiasaan

Faktor utama tetap, tentu saja, yaitu ketergantungan dan faktor kebiasaan yang telah mendarah daging sejak era Windows 95. Dulu dan hingga sekarang, Windows dan Office telah menjadi standar pelatihan-pelatihan kerja. Tadi waktu lewat jalan Dewi Sartika, saya bahkan masih menemukan spanduk reklame pelatihan Microsoft Office. Saya belum pernah melihat ada spanduk reklame lembaga pelatihan kerja yang menggunakan OpenOffice.org

Ketidaktahuan Bahwa Office itu Harus Bayar

Ini ironis. Ternyata masih banyak yang tidak tahu kalau Windows dan Office itu pemakaian software-nya harus bayar, dan bahwa software yang dipakainya adalah bajakan. Ini dialami di kota-kota kecil macam Tulungagung, kampung halaman saya. Seorang pengajar komputer di sebuah SMA bertanya ketika saya menunjukkan aplikasi OpenOffice, dan dari dialog, dia baru tahu kalau selama ini ia mengajar software yang telah dibajak.

Bagaimana dengan saya sendiri? Ternyata, saya tidak berani berkampanye soal Free and Open Source Software (FOSS). Ketika saya membelikan sepupu sebuah notebook ber-brand Acer yang tidak ada sistem operasinya, saya tidak berani menginstallkan sebuah Ubuntu di situ. Mungkin kalau saya di dekatnya, saya bisa mengajarinya pelan-pelan. Tapi untuk sebuah instalasi Linux yang dimana saya tidak ada di dekatnya untuk memberikan support, saya tidak berani. Walhasil, saya menyerah dan menginstall Windows dan memberikan OpenOffice sebagai Microsoft Office.

Citra

Nah, ini masalah citra yang terlanjur terbentuk di wajah FOSS. Kesalahan besar yang mungkin dilakukan oleh para pengenal FOSS di jagad Indonesia. Bahwa FOSS itu identik dengan gratis! Ini sangat tidak sejalan dengan image building, khususnya untuk suatu perusahaan. Jumat kemarin, sebuah perusahaan asuransi, CAR, melakukan presentasi. Notebook yang dipakai adalah Acer ber-Windows XP. Presentasi yang dipakai adalah OpenOffice Impress (PowerPoint-nya OpenOffice). Meskipun presentasinya bisa dilihat (tapi jangan dibandingkan dengan PowerPoint 2007), spontan saya nyeletuk berbisik di telinga teman saya, “Eh, dia nggak kuat beli Office tuh… ) ”

Alternatif yang gratis yang sedang melawan dominasi market leader yang mahal, ternyata menimbulkan kesan seperti itu di kepala saya dan sangat mungkin di benak banyak orang awam. Ini jelas merusak kesan yang ingin dibentuk para presenter handal itu.

Switch to our mobile site