Entries Categorized as 'Internet'

Google Documents, untuk Penyimpanan Referensi Online

Date November 26, 2008

Terkadang saya memerlukan untuk menyimpan referensi yang saya dapat di internet secara online agar bisa saya akses dari mana saja. Referensi ini biasanya dari artikel-artikel di internet baik blog ataupun sumber yang lain. Salah satu cara untuk menyimpannya paling mudah adalah menaruhnya di blog tersendiri yang berisi — let sayKumpulan Artikel-Artikel Penting dan Bermanfaat yang Dikumpulkan Oleh Galih Satria.

Namun demikian, kini ranah blog merupakan sebuah bentuk publikasi yang secara ilmiah telah diakui sebagai sebuah karya cipta, sehingga dengan demikian, mempublikasi ulang artikel dari internet harus dilakukan secara hati-hati jika tidak ingin dianggap plagiat. Mungkin menuliskan sumber referensi saja kurang cukup, harus ada beberapa patah kata dari kita sendiri, minimal kenapa kita mempublikasi ulang sumber tersebut. Maka, pilihan blog sebagai tempat penyimpanan referensi yang cepat kurang tepat bagi saya.

Box.net, saya memiliki account di sana. Ini adalah media penyimpanan file-file secara online secara gratis berjatah 1 GB. Memiliki fitur sharing visibility yang bisa kita atur apakah file-file tersebut bisa diakses orang lain ataukah khusus untuk diri sendiri. Tetapi Box.net masih terlalu ribet untuk saya. Saya harus login dulu, meng-upload, dan dengan keribetan ini, Box.net saya jarang diakses kalau tidak akan mengupload sebuah berkas tertentu.

Pilihan jatuh pada Google Docs. Ia memiliki storage khusus yang bisa diatur susunan foldernya. Entah berapa kapasitas storage-nya (ada yang tahu?). Tapi yang jelas, saya tidak harus capek-capek login karena terintegrasi dengan semua layanan Google. Singe Sign On bo’! Saya hampir sepanjang hari memonitor mailbox Gmail saya sehingga ketika memerlukan referensi yang ingin disimpan, saya tinggal sekali klik Google Documents dan menyimpannya di sana tanpa harus melalui proses login yang ribet (tambah lama pakai internet, tambah manja).

Memperkenalkan: XML-RPC

Date August 21, 2008

XMLRPC adalah akronim dari eXtensible Markup Language – Remote Procedure Call. Sebuah spesifikasi XML yang menjelaskan mengenai mekanisme pemanggilan prosedur jarak jauh dengan menggunakan XML. Bisa dikatakan, XMLRPC adalah salah satu bentuk webservice yang disederhanakan dari standar yang konvensional. Dua sistem yang benar-benar terpisah dan berbeda platform serta lingkungan bisa saling berkomunikasi lewat sarana file XML.

Protokol komunikasi yang digunakan adalah protokol standar yang paling populer di dunia: HTTP. Request yang dikirim lewat HTTP harus menggunakan method POST. Prosedur yang akan dipanggil beserta parameternya dibungkus dalam file XML dalam spesifikasi XMLRPC. Demikian pula return value-nya, sebelum dikirim akan dibungkus dulu dalam bentuk XML dan ditransfer diatas lalu lintas protokol HTTP di internet.

Gambaran besar secara sederhana bisa dijelaskan dalam gambar di bawah ini:

Spesifikasi yang dibuat oleh tim XMLRPC sudah cukup lengkap, misalnya bagaimana cara mengirim parameter dan mengembalikan return value. Termasuk pula data type standar XMLRPC juga disertakan.

Implementasi spesifikasi XMLRPC telah diterapkan secara luas di berbagai lingkungan pemrograman. Di Java sendiri, tim dari Apache telah membuat library yang compliance dengan spesifikasi XMLRPC. Hal ini memudahkan kita untuk tidak perlu repot-repot berurusan di level rendah seperti pembuatan parser untuk mengolah data dari XML. Semua telah dibungkus dalam level yang lebih tinggi dalam bentuk class-class library. Misalnya, setiap objek java.util.Date akan  dikonversi menjadi tipe data standar XMLRPC secara otomatis. Dan banyak lagi kemudahan-kemudahan yang lainnya.

Saat ini, beberapa layanan populer telah mendukung XMLRPC. Yang paling mencolok tentu saja adalah layanan blogging. Kini setiap mesin blog saling berkomunikasi satu sama lain (trackback, pingback) dengan menggunakan standar XMLRPC. Dengan XMLRPC ini, beberapa layanan baru untuk mengelola blog di luar software standar muncul. Contohnya adalah WordPress API dan Blogger API. Kini kita bisa menulis posting blog dengan software berbasis desktop (Microsoft Word 2007 bisa melakukannya) tanpa harus terkoneksi dulu ke internet.

Akankah XMLRPC akan berkembang sebagai alternatif dari standar yang sudah ada macam SOAP,  UDDI, dan WSDL? Kita tunggu saja. :)

Agar Flickr Uploadr Bisa Menggunakan Proxy Server

Date July 3, 2008

fuploader.gif

Saya adalah fans Flickr. Online photo sharing yang menurut saya paling mengasyikkan dibandingkan dengan layanan yang lain semacam Picasa, Photobucket, dll. Sedemikian ngefans-nya hingga beberapa bulan yang lalu saya memutuskan untuk meng-upgrade account saya menjadi pro. Yang paling saya suka adalah model tampilannya yang merupakan photoblogging. Selain itu, Flickr juga mempunyai tool uploader dahsyat bernama Flickr Uploadr — berbasis desktop, yang bisa melakukan batch uploading.

Sayangnya, software ini tidak memiliki opsi konfigurasi sama sekali. Konfigurasi koneksi internet dengan proxy tidak bisa dilakukan lewat GUI-nya. Awalnya saya kira ia mengikuti setting proxy-nya Internet Explorer (atau default internet browser), tapi ternyata tidak. Konfigurasinya default, lewat direct connection. Jika Anda menggunakan proxy, Anda harus melakukan konfigurasi secara manual. Bagaimana cara konfigurasinya? Berikut langkah-langkahnya.

Pengaturan opsi Flickr Uploadr sebenarnya ada. Ia disimpan di file bertipe Javascript bernama prefs.js. Instalasi default menyimpannya di folder C:\Program Files\Flickr Uploadr\defaults\preferences. Silakan buka file tersebut dengan teks editor, misalnya pakai Notepad, kemudian tambahkan baris-baris di bawah ini:

pref(‘network.proxy.http’, ‘localhost’);
pref(‘network.proxy.http_port’, 6112);
pref(‘network.proxy.type’, 1);

Silakan ganti localhost dengan alamat proxy server Anda, misalnya proxy.example.com. Kemudian ganti juga angka 6112 dengan port proxy server Anda. Kebanyakan proxy server memakai port 8080

Restart Flickr Uploadr, dan beberapa saat kemudian Anda akan bisa login ke flickr melalui software ini.

Selamat mencoba! :)

Sumber: http://www.perfectblogger.com/2008/02/flickr-uploadr-proxy/

Proses Pemblokiran, Penjelasan Secara Awam

Date April 12, 2008

Dunia internet Indonesia sedang ribut-ribut gonjang-ganjing mengenai rencana pemblokiran beberapa situs yang dianggap kurang baik oleh pemerintah. Sebenarnya bagaimana sih proses pemblokiran tersebut? Saya akan mencoba menjelaskannya dalam kacamata awam se-awam mungkin yang saya bisa.

Untuk memahami jaringan internet yang rumit, mari kita bayangkan sebagai kompleks perumahan saja. Kita bayangkan komputer-komputer kita adalah rumah yang ada di dalam kompleks. Setiap rumah memiliki nomor rumah. Nah, untuk keluar dari kompleks, kita harus melalui gerbang utama yang dijaga oleh pak satpam.

Kegiatan mengakses sebuah situs di internet, kita seperti keluar dari kompleks, melalui gerbang utama, kemudian minta izin ke pak satpam dulu. Pak Satpam akan bertanya kita akan kemana. Kita jawab ke suatu rumah di kompleks lain dengan alamat ini. Pak Satpam akan mencocokkan dengan peraturan apakah kita memang diperbolehkan berkunjung ke sana. Jika tidak boleh, kita sama sekali tidak bisa keluar dari kompleks dan berkunjung ke rumah yang akan kita tuju, meskipun rumah itu adalah saudara kita sekalipun.

Hanya Menghambat, Tidak bisa Mencegah

Apakah kita memang tidak bisa berkunjung ke rumah itu kalau sudah dilarang pak satpam? Selama pak satpam membolehkan kita keluar, kita tetap bisa. Biasanya, pak satpam hanya membolehkan kita keluar jika kita akan menuju ke:

  • Perpustakaan (80, HTTP)
  • Kantor polisi  (443, HTTPS)
  • Pasar (21, FTP)
  • Kantor Pos (25, SMTP)

Pak Satpam biasanya akan melarang jika tujuan kita adalah:

  • Agen Pengiriman Paket (3128, 8080, Proxy Server)
  • Gedung Pertemuan (5050, Yahoo Messenger)
  • Rumah-rumah yang bernomor selain nomor tersebut di atas.

Pak Satpam yang lebih teliti akan melihat lebih detail lagi. Pak satpam akan melarang kita berkunjung ke perpustakaan tertentu seperti Youtube dan Multiply misalnya, karena mereka memiliki koleksi pornografi. Atau bahkan lebih detail lagi, kita boleh berkunjung ke perpustakaan Youtube tetapi tidak boleh masuk ke lantai 2 gedung tersebut karena di sana ada koleksi pornografi.

Pak Satpam juga manusia yang memiliki keterbatasan. Kita tetap bisa mengunjungi rumah-rumah yang dilarang pak satpam tanpa harus menyakitinya. Cukup yakinkan pak satpam bahwa kita akan berkunjung ke tempat yang menurutnya boleh.

Cara pertama

Kita bilang ke pak satpam, “Pak, saya akan ke kantor polisi mengurus SKKB.” Siapa yang akan melarang dengan niat mulia tersebut? Pak satpam tentu akan mengizinkan. Tetapi pak satpam tidak tahu kalau ternyata kita tidak berkunjung ke kantor polisi, tetapi ke agen pengiriman paket yang memiliki nomor pintu sama dengan kantor polisi, yaitu 443. Pak Satpam hanya bisa mengenali tujuan kita dengan nomor pintu yang kita tuju. Pak Satpam tidak bisa mengikuti kita dan ikut memeriksa apakah benar yang ada di balik pintu 443 benar-benar kantor polisi. Lha, karena kita telah berhasil keluar dari pak satpam dengan cara yang sah dan tiba ke agen pengiriman paket, kita bisa minta agen tersebut mengantarkan kita kemana saja yang kita mau, termasuk ke gedung pertemuan Yahoo Messenger yang bernomor 5050. Inilah yang dinamakan HTTP Tunneling. Contohnya adalah yang dilakukan Pak Harry Sufehmi ini. Semoga Allah memberikan amal jariyah buat bapak dengan layanan ini. Amin.

Cara kedua

Cara ini lebih mudah. Kita bilang ke pak satpam, “Pak, saya akan ke perpustakaan dengan alamat ini.” Karena alamat ini tidak masuk dalam daftar alamat “hitam” milik pak satpam, kita akan diizinkan keluar. Tetapi ternyata perpustakaan tersebut sama sekali tidak memiliki koleksi buku. Istimewanya, kita bisa minta ke petugas bahwa kita ingin koleksi dari perpustakaan lain yang bisa jadi dilarang oleh pak satpam. Perpustakaan macam begini jumlahnya sangat banyak. Inilah yang dinamakan Web Proxy. Contohnya, misalnya http://56st.com

Begitulah, pak satpam tetap memiliki keterbatasan. Untuk cara pertama, kalau mau, pak satpam bisa saja mengikuti kemana kita pergi dan memeriksa apakah kita benar-benar pergi ke tempat yang kita bilang ke pak satpam. Tetapi bayangkan berapa tenaga yang harus dikeluarkan pak satpam untuk mengurusi sekian banyak penghuni kompleks yang sama-sama sibuk.

Untuk cara kedua, pak satpam harus memiliki catatan perpustakaan mana saja yang tidak memiliki koleksi. Jumlahnya sangat banyak. Catatan pak satpam bisa membengkak menjadi beribu-ribu halaman. Dan tentunya memerlukan waktu yang lama untuk mencocokkan tujuan kita dengan ribuan halaman itu. Tenaga yang dibutuhkan tidak sebanding dengan hasil.

Solusi

Itulah kenapa, pengurus kompleks (Pak Menteri Kominfo) berkali-kali berkata bahwa pemblokiran hanyalah satu layer dari tiga layer yang direncanakan. Saat ini sedang disiapkan satpam yang bisa ditempatkan di masing-masing rumah. Satpam ini tidak memblokir, tetapi memberi tahu. “Ibu, situs ini kurang baik karena mengandung pornografi. Berbahaya bagi anak-anak Anda yang masih remaja.” Sehingga peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.

Review: Opera Mini, Browser untuk Ponsel

Date March 27, 2008

Ponsel saya, Sony Ericsson W200i, memiliki dukungan untuk akses internet via GPRS (2,5 G). Di dalamnya terdapat sebuah browser internal yang membuat kita berseluncur di dunia maya tanpa harus menyambungkannya ke notebook. Browser ini memiliki sangat banyak kelemahan, utamanya ketika harus me-load halaman besar dan kompleks yang sama sekali tidak didesain untuk pengunjung yang memakai mobile device. Sempat saya berpikir untuk memodifikasi halaman pencarian google yang sangat mobile-friendly untuk menjadi semacam jembatan perantara setiap situs yang akan saya kunjungi dengan ponsel saya.

Sampai pada ketika saya menemukan browser imut-imut ini: Opera Mini!

Berbasis Java ME (Java Micro Edition), Opera Mini bekerja dengan sangat baik pada hampir semua situs yang kompleks. Ia memiliki dua pilihan, mobile view dan standard view. Mobile view memiliki perilaku seperti browser internal W200i, yaitu melakukan konversi halaman dan memindahkan isinya sehingga lebih nyaman dibaca. Meski demikian, Opera melakukannya jauh lebih baik daripada browser internal W200i.

Standard view mempertahankan tampilan semirip mungkin dengan aslinya. Agar muat di layar ponsel yang portrait dan kecil (sementara desain web kebanyakan berbentuk landscape), Opera mengecilkan tampilan (zoom out). Jika kita ingin membaca detailnya, ada alat pembesar (magnification) untuk mendetailkan tampilan pada area tertentu. Di beberapa situs, Opera menampilkan semirip aslinya, namun dalam beberapa situs yang lain lagi, Opera menampilkan tampilan yang porak poranda. Bukan suatu masalah yang berarti saya kira, karena kita bisa saling berganti-ganti mode view: mobile view atau standard view.

Satu lagi yang saya suka dari Opera Mini. Scrolling yang begitu halus dan nyaman. Di browser W200i, saya memerlukan waktu yang lama untuk melakukan scrolling halaman dari atas ke ujung bawah karena banyaknya teks. Solusi membagi halaman menjadi banyak seperti yang dilakukan Google kurang menarik bagi saya. Tetapi Opera melakukannya dengan lebih baik, ia membuat mode scrolling yang menggulung halaman dengan lebih banyak dan lebih cepat tanpa mengorbankan kenyaman.

Bravo Opera!