Entries Categorized as 'Internet'
September 16, 2009
Saya tidak mengatakan bahwa Delicious akan bisa mengalahkan Google dalam hal pencarian, tapi paling tidak Delicious menawarkan sesuatu yang lain, yang practical buat dipakai!
Saya membutuhkan software gratis (free) untuk melakukan konversi dari format MIDI ke MP3. Maka dari itu, saya googling dengan kata kunci midi converter free. Google, membangun indeks-nya berdasarkan isi halaman dan struktur peringkat yang dilakukan oleh sebuah mesin dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence) tinggi. Tapi sehebat apapun mesin Google, para webmaster jauh lebih cerdas. Bahkan, topik ini telah menjadi cabang ilmu pengetahuan baru, yaitu: Search Engine Optimization (SEO).

Sejak awal, saya tahu, kata free diterjemahkan Google secara tidak murni lagi. Saya hanya akan menemukan software yang bersifat shareware. Mereka ini dengan cerdik menyisipkan kata free dalam artian bukan free harga software-nya, tetapi hanya sebatas free download. Tahu apa mesin soal beda free download dengan free charge? Oleh karena itu, hasil pencarian Google dalam hal ini sangat mengecewakan, karena halaman pertama hingga kedua bercokol shareware-shareware yang sama sekali tidak free.

Oke, bagaimana dengan Delicious? Salah satu gelombang legenda web 2.0? Ini menarik. Pembangunan indeks-nya didasarkan pada hasil voting manusia. Semakin banyak orang yang mem-bookmark, semakin tinggi peringkatnya. Kualitas sebuah situs ditentukan oleh manusia yang hasilnya tentu lebih akurat daripada mesin. Paling tidak, para ahli SEO tidak/belum bisa mengakali bagaimana supaya situsnya nangkring di posisi teratas hasil pencarian Delicious.
Hasilnya? Sangat memuaskan. Saya diantarkan ke situs bernama Media-Convert.com, sebuah situs yang bisa melakukan konversi berbagai macam format multimedia baik video, audio, dan gambar ke dalam format yang lain secara online dan yang paling penting: benar-benar gratis! Situs ini bahkan tidak masuk di halaman kedua pencarian Google. Padahal inilah yang saya butuhkan. Dengan segera, saya bisa mendapatkan file MP3 atau 3GP saya dari format MIDI yang saya upload.
Ada perlu mencoba juga sekali-sekali. ;)
Posted in Internet
6 Comments »
July 11, 2009
Pagi ini saya tak bisa akses wikimapia, facebook, dan gmail. Awalnya saya kira Telkomsel Flash biang keroknya (maklum koneksi 3G kan tidak reliable :D ). Tapi saya cukup surprise ketika saya bisa membuka website-website lokal macam Depkominfo, dan blog saya sendiri yang servernya ada di Surabaya. Kemudian, saya akses remote dengan SSH ke suatu server dan mencoba browsing dari sana. ISP-nya Astinet-nya Telkom. Sama saja. Saya traceroute juga putus di Astinet saja. Ada apakah gerangan? Apa IIX di-sabotase? Hehehe…
Tampaknya kita memang harus memakai layanan-layanan lokal, lihat konsumsi saya di bawah ini, mayoritas adalah link internasional yang mahal:
- Ngeblog (lokal)
- Facebook
- Flickr
- GMail
- Plurk
- Google Reader
- Yahoo! Mail
Semoga cepat diketahui sebabnya. Ini harusnya saya posting di Plurk saja, tapi berhubung saya hanya bisa akses blog ini saja, apa boleh buat? ;)
Posted in Catatan Harian, Internet
3 Comments »
June 9, 2009
Sejak mengenal piano, aku sadar bahwa ada hal yang sangat membedakannya dengan gitar, yaitu kebutuhan untuk memainkan akord secara detail dan akurat. Ketika bermain gitar, aku bisa melewatkan detail seperti kunci-kunci antara. Tidak terlalu terasa diantara genjrengan jari. Namun aku tidak bisa memperlakukan hal yang sama di piano. Kunci Dm/C (baca: d-minor-on-c) akan terasa sangat berbeda rasa dengan kunci Dm saja. Bahkan Am7 berbeda dengan Am. Karena itulah, di transkripsi lagu Vidi Aldiano, aku menyertakan detail akord-akord on (thanks to sensei Stenly).
Sayangnya, telingaku tidak terlalu peka dengan akord detail seperti ini. Dan perjalananku belajar piano akan jalan di tempat kalau aku memaksakan diri mengabaikan detail akord. Oleh karena itu, aku harus bisa baca partitur, atau bahasa inggrisnya disebut score/sheet music, atau bahasa gaulnya disebut teks kecambah nggak jelas.
Nah, mayoritas, jika teman-teman mencari sheet music di Google, yang muncul adalah partitur-partitur berbayar yang kita harus membayar sekitar 3-5 dollar per download. Meskipun banyak sekali tersebar partitur yang gratis, situs-situs ini sangat tersebar dan susah mencarinya karena pagerank di mata Google rendah.
Ada situs dahsyat yang mengumpulkan situs-situs yang menyediakan layanan download partitur gratis, mengindeks-nya, dan menyediakan kotak pencari. Namanya www.piano-sheets.net. Nyaris semua lagu populer ada di sini. Barusan aku mendownload sheet-nya Aerosmith – I Don’t Wanna Miss A Thing buat dimainkan sama teman-teman besok di studio di Tebet.
Lalu bagaimana cara aku membaca partitur? Well, aku memang sangat terlambat buat memulai belajar piano, harusnya orang memulainya di umur 10 tahun, aku memulainya baru dua bulan yang lalu. Jadi aku melewati beberapa tahapan yang biasa dilalui anak-anak kelas piano klasik, dan sedikit curang dengan memanfaatkan teknologi. Caranya? Nanti aku ceritakan :)
Posted in Catatan Harian, Internet, Musik, Review
35 Comments »
April 7, 2009
Dalam dunia marketing, ada pihak yang disebut market leader dan competitor. Market leader adalah pihak yang menguasai sebagian besar pangsa pasar dan competitor adalah saingannya yang berusaha merebut kue pasar si market leader dan selalu berusaha menggeser posisi market leadernya. Pertempuran di dunia ini sangat keras. Jenderal-nya adalah para ahli strategi pemasar produk, senjatanya adalah kampanye marketing dan branding lewat iklan-iklan dan komunikasi marketing, dan medan perangnya adalah media.
Contohnya banyak. Honda yang mati-matian menahan gempuran Yamaha. Telkomsel yang terengah-engah menahan laju para pesaingnya. Dan di dunia maya Indonesia, Friendster yang telah mengibarkan bendera putih untuk Facebook.
Kembali ke sekitar tahun 2003 ketika saya pertama kali mengenal situs jejaring sosial bernama Friendster. Waktu itu fs begitu terkenal di kampus mengalahkan situs-situs social networking yang telah lama ada: MySpace dan Multiply. Ada satu kunci faktor kemenangan fs menurut saya, yaitu adanya testimonial yang ditulis di profil setiap orang. Semua orang mengharapkan testimonial yang baik untuk citra yang baik pula dengan menuliskan testimoni kepada orang lain yang kebanyakan adalah pujian-pujian berlebihan setinggi langit. Setiap orang berbagi testimoni, tersenyum sendiri ketika dipuja-puja temannya.
Saya menandai fs telah menguasai pasar Indonesia ketika kawan-kawan saya yang tidak berkecimpung di dunia IT telah mempunyai account-nya. Ada semacam pemeo tak resmi yang terkenal saat itu, ketika orang berseru pendek, “Add aku di friendster yah!”
Kegagalan Friendster
Sebelum datangnya era Facebook pun, sebenarnya Friendster telah gagal untuk terus berinovasi agar tetap bertahan sebagai leader. Jualan utamanya itu-itu saja: bertukar testimoni, ketersambungan teman, foto, dan blog. Friendster melakukan blunder dengan mengubah istilah pentingnya dari testimoni menjadi comment. Jualan fotonya tidak istimewa, dan blog yang awalnya mengunakan engine Movable Type jelas kalah populer dengan WordPress.
Friendster melakukan kegagalan dalam membendung spam dan fake user. Berapa banyak pesan yang tiba di mailbox yang hanya berisi pesan berantai saja. Berapa banyak pesan yang berasal dari account yang palsu yang digunakan untuk mengirim spam. Berapa persen dari daftar teman Anda yang benar-benar teman yang pernah Anda kenal?
Kegagalan berikutnya adalah tentang halaman profil pengguna. Kebebasan membentuk wajah halaman profil pada awalnya adalah sebuah kekuatan Friendster. Sayangnya, fs terlalu membebaskan penggunanya untuk melakukan customization sehingga mayoritas halaman profil para pengguna diwarnai oleh desain yang sama sekali jauh dari nyaman. Ditambah penempatan iklan yang kurang cerdas membuat navigasi dan keseluruhan halaman friendster menjadi begitu menjengkelkan.
Tren Sesaat
Ketika gelombang kebosanan semakin memuncak, datanglah era Facebook yang menghantam habis. Petinggi Friendster mungkin masih bisa berkelit dengan mengatakan trafik Friendster masih di atas Facebook, namun tren penggunanya tidak dapat dibohongi. Facebook menawarkan segala hal yang baru dan segar untuk dunia jejaring sosial dan segera merebut perhatian pengguna.
Seperti kata pakar telematika kita, Roy Suryo, bahwa hampir semua layanan di internet adalah tren sesaat. Email, blog, dan situs jejaring sosial hanyalah tren sesaat saja. Secara positif dapat saya tafsirkan pendapat beliau bahwa setiap layanan di internet membutuhkan usaha untuk terus berinovasi secepat kilat karena tren market dunia internet terlalu cepat berubah.
Friendster, telah mengibarkan bendera putih kepada Facebook. Ini saya tandai dengan langkah-langkah antisipatif Friendster yang merupakan ciri dari follower, bukan tren setter lagi. Fitur application dan notification yang dipaksakan meniru Facebook adalah tanda bahwa Friendster bukanlah market leader lagi. Sudah terlampau sulit bagi Friendster untuk mengembalikan tahtanya karena konsep awal yang berbeda. Apa yang dipaksakan Friendster tentunya bukan lagi sesuatu yang segar karena mereka hanya mengekor Facebook.
Sekarang angin tren berada pada Facebook. Pemeo yang ada sekarang adalah, “Tenang, nanti gw tag pas di jidat lu”. Namun seperti halnya blog yang telah lewat eranya, jika Facebook tidak terus berinovasi, dalam waktu setahun dua tahun lagi, akan ada layanan yang membawa ide segar menendang Facebook dari tahta market leader.
Posted in Internet
17 Comments »
December 14, 2008
Tiba-tiba saya membuat dua cerita pendek bersambung: Sebuah Kegelisahan dan Sebuah Pernyataan Cinta. Cerita itu saya gantungkan dan mungkin tidak akan saya sambung lagi. Ada apakah gerangan kok tiba-tiba saya bikin cerita itu?
Cerita yang aneh, karena tiba-tiba saya mengambil latar Jepang di zaman sekitar rezim Tokugawa, dimana Samurai dan Shogun berjaya. Saya sama sekali tidak tahu menahu soal budaya Jepang, apalagi budaya Jepang zaman itu. Sigit benar, saya sebagian besar mengambil referensi dari novel Musashi, bahkan nama pemeran wanita utama yang saya kagumi, Otsu, saya pakai dalam cerita ini. Tentang upacara minum teh dan segala hal tentang Sungai Shirakawa, saya ambil dari novel Memoar Seorang Geisha. Sedangkan pernyataan cinta dan segala hal tentang kegelisahan itu, tentu saja pengalaman pribadi, dengan bumbu dramatisasi sekuat daya imajinasi saya ha ha ha…
Alasan pertama saya bikin cerita itu adalah sekadar percobaan. Ingin merasakan menjadi penulis cerita. Membuat sebuah karakter, berusaha menghidupkan suasana, dan menyiapkan kejutan dalam alur cerita, meramu alur maju dan alur mundur (flashback beberapa menit ke belakang sudah termasuk alur mundur kan?). Ini sulit karena daya khayal kita belum tentu sejalan dengan dengan daya penulisan kita. Tetapi saya rasakan kemarin, ketika cerita sudah mengalir dan tangan sudah menari-nari mengikuti khayalan, itu sangat menarik. It’s fun!
Mengenai ide ceritanya sendiri, juga tidak orisinil. Tentang Rikyu yang tiba-tiba diserang senjata rahasia oleh kekasih hatinya, Otsu. Justru karena inilah yang menggelitik saya menuliskan ceritanya. Dari mana ide tersebut?
Google Mail!Â
Saya pikir para developer GMail di Stanford sana memiliki selera humor yang bagus. Tak sengaja saya menemukan rangkaian gambar lucu yang berbeda-beda waktu saya set theme GMail di tema Ninja. Tiga diantaranya saya jadikan cerita mini bersambung kemarin. Ada yang mau melanjutkan cerita saya? :)

Posted in Catatan Harian, Internet
8 Comments »