Yahoo! Messenger, Riwayatmu Kini

Posted by: on Dec 16, 2011 | 8 Comments

Sepuluh tahun yang lalu, Yahoo! Messenger adalah aplikasi chatting yang mulai naik daun setelah IRC yang sangat populer waktu itu (ingat mIRC? als pls…). Saya masih ingat dulu waktu membuat email fox_galih [at] yahoo [dot] co [dot] uk berkuota 6 MB di warnet di kantor Telkom Tulungagung — tarifnya Rp. 6000 per jam dengan kecepatan sekitar 56 kbps. Kencang sekali bagai kilat.

Waktu kuliah, Y!M telah menjadi alat komunikasi standar. Dan karena dianggap boros bandwidth dan tidak ada relevansinya dengan kuliah, koneksi Y!M (melalui port legendaris 5050 itu hehe) pun diblok admin lab jahanam (saya sebut “jahanam” karena mereka mendapatkan privileges khusus). Tetapi memang itulah masa jayanya Y!M diwaktu bandwidth masih merupakan barang mewah. Tiap kali nyambung ke internet, urut-urutan yang dibuka adalah: Email Yahoo!, aplikasi Yahoo! Messenger, dan kemudian Friendster.

Saking mewahnya, salah satu motivasi menjadi admin lab adalah agar punya akses internet gratis tanpa blokir siapapun. Saya merasakan sensasi yang aneh ketika dini hari itu saya dikenalkan Mas Sokam, senior saya, lab ITSnet, puncak dari segala koneksi internet di ITS. Lantai 6 perpustakaan yang berhantu, Linux Debian Sarge, dan aplikasi Y!M for Linux! Menjadi admin lab ITSnet rasanya seperti menjadi dewa bandwidth yang mengatur segala lalu lintas koneksi.

Online di Y!M hampir 24 jam. Saya sampai sekarang masih menyimpan beberapa arsip chatting saya dengan Indri yang waktu itu kuliah di Vancouver Canada, lalu kemudian Tiwi si Rainy Me yang kuliah S2 di Melbourne. Curhat-curhat-an dengan mengetik teks yang panjang. Cara curhat yang aneh tapi memang bisa jadi lebih nyaman karena saling tidak melihat ekspresi muka.

Sekarang? Anehnya ketika era mobile tiba, ketika bandwidth sudah relatif murah, Yahoo! Messenger seperti ditinggalkan. Sekarang orang lebih suka aplikasi chatting mobile yang lebih reliable seperti BlackBerry Messenger, Apple iMessage, dan WhatsApp. Mungkin itulah titik lemah Y!M di mobile – tidak se-stabil aplikasi yang benar-benar untuk mobile. Sering saya mengalami sign out otomatis karena koneksi yang putus.

Y!M masih ramai lho. Artinya semua masih suka login di Y!M. Tetapi berapa banyak dari kita yang menggunakannya seperti di masa-masa 2000-2007-an? Saya meskipun online sudah sangat jarang berinteraksi dengan teman-teman yang juga online. Kalaupun chatting biasanya tukar nomor PIN dan kemudian pembicaraan dilanjutkan di BBM atau WhatsApp. Dan karena itu saya jadi malas login ke Y!M. Orang pada online, tapi seperti diam semua.

Hehehe, apakah teman-teman masih aktif memakai Y!M?

Facebook Timeline, Fitur Pembunuh Google+

Posted by: on Dec 16, 2011 | 6 Comments

Eh, apa kabar Google+ ya? Apa masih ada yang pakai? Tidak perlu survey rumit untuk melihat keberhasilan sebuah social media, cukup perhatikan teman-teman terdekat yang bukan early adopter. Mereka pakai G+ ga? Teman-teman saya tidak tahu apa itu G+. Yang punya account pun bingung bagaimana cara pakainya. Dan saya sendiri sudah menghapus account saya karena saya di-circle orang-orang tak dikenal. Karena tidak nyaman, saya hapus saja.

Kemunculan Google+, seperti produk-produk gagal Google lainnya, selalu dibuat heboh. G+ digadang-gadang adalah social media pembunuh Facebook karena membawa fitur-fitur yang unik. Banyak lelucon-lelucon yang dipakai untuk menaikkan G+. Google bertaruh cukup besar di social media ini dengan mengubah tampilan semua layanannya dengan tema Google+ — GMail, Reader, sampai Youtube. Nyatanya, sepertinya nasibnya akan seperti Wave dan Buzz.

Semalam, Facebook meluncurkan apa yang mereka sebut dengan Facebook Timeline. Ini adalah cara baru menampilkan halaman profil yang selama ini mulai membosankan. Dan ini menurut saya mengasyikkan. Tampilannya modern ala web masa kini. Sebuah fitur yang kata teman saya Adji Cynthia akan membahagiakan buat para stalker karena lebih mudah menelusuri apa yang dilakukan sang tokoh setiap harinya. Bahkan archive-archive lima tahun yang lalu akan sangat gampang diakses. Nah lo…

Jadi buat yang punya foto-foto masa lalu yang memalukan, atau yang sekarang berjilbab dan dulu masih ketahuan gimana dalemannya, segera cek dan segera hapus sebelum ditelanjangi oleh Facebook Timeline.

Business Model di Era Web 2.0

Posted by: on May 31, 2011 | 4 Comments

Pada dasarnya, web 2.0 adalah generasi dan tren baru dunia web yang menitikberatkan pada interaksi (komunikasi dua arah) dan konten yang dibuat oleh pengunjung. Jejaring sosial adalah contoh yang paling mudah dipahami. Tentu kita kenal (dan eksis) di salah satu social media ini: Facebook, Twitter, Plurk, Flickr, Youtube, dll. Atau jika merujuk pada media lokal: Koprol, Ngerumpi dan jaringan Dag Dig Dug-nya, Kaskus, dll.

Media-media ini semua konten-nya dibuat oleh pengguna yang loyal. Kemudian ciri berikutnya, media tersebut sangat ramai oleh interaksi antar penggunanya. Diskusi, saling bercanda, kopi darat, dan event-event yang akhirnya membentuk sebuah komunitas. Ada sangat banyak komunitas yang dibangun dari eksistensinya di dunia maya, misalnya komunitas blogger dari berbagai daerah, komunitas group di Facebook, Multiply, dll.

Pertanyaan logis yang muncul berikutnya adalah: dari mana situs-situs tersebut mencetak pendapatan (revenue)? Istilah kerennya, bagaimana sih business model-nya? Dari apa yang saya amati, paling tidak ada beberapa model, yaitu

Iklan

Ini adalah lagu lama dan sudah dipakai sejak jaman web 1.0. Situs mendapatkan iklan karena situs tersebut dikunjungi oleh banyak orang. Ini model bisnis yang dipakai portal-portal berita semacam Detik. Tetapi di situs yang mengusung konsep 2.0, kadang-kadang iklan tidak disukai oleh penggunanya. Pengguna mendapatkan servis gratis dan tetap menginginkan halaman pribadinya bersih dari banner-banner iklan. Jika ada kompetitor yang menawarkan servis yang sama dan tanpa iklan, pasti situs yang memasang iklan tersebut segera ditinggalkan penggunanya dan akhirnya: sepi.

Akuisisi

Banyak situs yang mendapatkan gelontoran dana dari raksasa web melalui akuisisi. Contohnya Koprol yang kaya mendadak karena dibeli Yahoo!. Youtube dibeli Google. Dan masih banyak lagi contohnya.  Jadi, bangunlah web 2.0 Anda hingga menjadi sangaaaaaaattttt populer, lalu tunggu ada angel investor ataupun institusi yang membeli web — dan Anda sekalian untuk menduduki jabatan semacam CEO — Anda dengan harga yang mahal.

Premium Member

Nah ini yang baru saya sadari ada keberadaannya (bodoh saya hehe). Situs-situs seperti ini biasanya mempublikasi artikel-artikel yang (seolah-olah) bermanfaat. Mengedukasi pengguna awam mengenai topik-topik tertentu. Semacam teaser yang menggoda untuk tahu lebih jauh. Tapi weits, untuk mendapatkan lebih, Anda harus bayar untuk itu. There’s no such free lunch.

Misalnya, Financial Planner mengedukasi tentang pentingnya manajemen keuangan pribadi atau keluarga. Bagaimana agar Anda bisa kaya (atau memiliki ini itu) pada jangka waktu tertentu. Bahwa dengan berinvestasi di instrumen tertentu, Anda akan mencapai tujuan keuangan Anda. Tetapi tentu tidak sembarang produk investasi, ada rumus-rumusnya. Nah, Anda tidak perlu jadi seorang MBA atau MM atau CFP certified untuk mengetahui rumus-rumus itu, Financial Planner akan mengerjakan semua untuk Anda. Tentu saja dengan fee tertentu.

Para motivator memiliki model bisnis yang serupa. Dengan menyebarkan artikel dan informasi di blog, televisi, radio, dan twitter, Anda akan diberikan informasi yang menarik dan bermanfaat. Misalnya, kenapa sih Anda selalu jomblo, kenapa sih Anda ditolak oleh gadis/pria idaman Anda? Anda akan tahu jawabnya. Tetapi bagaimana cara agar bisa mendapatkan gadis/pria idaman tersebut, trik-trik tersebut akan dibagikan melalui seminar atau workshop, yang, tentu saja tidak cuma-cuma.

Data Pengguna itu Sendiri

Sama sekali tidak ada yang gratis. Ketika Anda daftar Facebook yang gratis, sebenarnya Anda membayar mereka dengan data-data pribadi Anda. Tidak usah muluk-muluk alamat rumah atau nomor telepon, tetapi hal-hal yang kelihatannya sepele seperti email, hobi, interest, buku kesukaan — itu adalah informasi yang berharga untuk Facebook. Dengan informasi itu, Facebook bisa mengarahkan iklan apa yang cocok untuk ditampilkan di halaman Anda (ads-targeting). Ketika Facebook menjadi single source of global personal data network, bayangkan betapa kuatnya posisi Facebook. Tak heran kalau valuasi perusahaannya hingga bermilyar-milar dolar.

Itulah beberapa business model di era web 2.0 yang saya ingat. Tertarik terjun di bisnis ini?

Twitter untuk Berbahasa Ringkas

Posted by: on Jan 4, 2011 | 4 Comments

Salah satu tokoh novel yang saya kagumi adalah Jupiter Jones, Penyelidik 1 Trio Detektif bersama Peter Crenshaw dan Bob Andrews. Ini adalah novel bacaan saya ketika SD (SMP saya baca Sherlock Holmes, SMA baca Agatha Christie). Yang menarik dari Jupiter adalah kebiasaannya berbicara dalam kalimat-kalimat panjang yang selalu ditanyakan lawan bicaranya. Pete Crenshaw menjelaskan, hal itu karena Jupiter adalah seorang kutu buku dan akhirnya ia berbicara seperti di dalam buku-buku.

Apakah saya meng-copy kebiasaan Jupiter sekarang? Sejak saya ngeblog, saya cenderung membuat kalimat saya menjadi kalimat majemuk bertingkat-tingkat. Efek psikologis yang tak bisa dihindari — untuk membuat artikel terlihat lebih manis dan tak terlalu pendek.

Tetapi lihatlah, saya kehilangan kemampuan untuk menulis dengan ringkas. Saya bahkan berbicara dengan bahasa baku yang resmi. Teman-teman saya seringkali tersenyum atau bahkan memandang aneh melihat saya berbicara dengan kata-kata yang sebenarnya tidak lazim dipakai di bahasa sehari-hari. (bayangkan kata lazim saya pakai buat berbicara).

Twitter adalah media belajar baru saya untuk menulis ringkas langsung pada intinya. Bagi saya, seratus lima puluh empat puluh karakter sangat kurang untuk Bahasa Indonesia. Buat Bahasa Inggris, 150 140 karakter sudah cukup untuk berkicau macam-macam. Kalau saya developer Twitter, mungkin saya akan membatasi jumlah maksimal karakter menjadi 300. Bahasa Inggris adalah bahasa yang ringkas, sementara Bahasa Indonesia terlalu banyak kata sambungnya.

Saya tidak suka menyingkat kalimat seperti para aL4y itu. Justru tantangannya adalah bagaimana menyampaikan ide dengan penulisan normal tanpa disingkat (kecuali yang sudah umum seperti: yang – yg, dengan – dg, kepada – kpd, dll) di bawah 140 karakter. Ini adalah latihan untuk menyampaikan ide dengan ringkas dan padat (kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar juga kan).

Oh iya, kicauan saya ada di @galihsatria

List, Mem-follow Tanpa Harus Memenuhi Timeline

Posted by: on Nov 24, 2010 | 2 Comments

Adanya smartphone yang memiliki koneksi internet setiap saat membuat saya aktif kembali di Twitter. Dan saya memang akhirnya menemukan kekuatan Twitter jika dibandingkan dengan layanan microblogging yang saya ikuti seperti Plurk dan update statusnya Facebook.

Twitter saya gunakan untuk berkicau tentang hal-hal yang lebih bersifat sharing ilmu pengetahuan. Saya berkicau tentang apa yang sedang berkelebat di kepala — tentang fotografi, dan catatan-catatan singkat saya ketika membaca buku. Plurk tidak saya tinggalkan, ini khusus untuk update status yang tidak penting dan seringkali tret yang dibuat adalah untuk menyangga karma. Saya sangat jarang update status di Facebook — bukan apa-apa, sebagian besar teman di Facebook dalah teman di dunia nyata. Blunder di Facebook bisa berlanjut ke dunia nyata.

Nah, Twitter juga mengubah cara saya mengkonsumsi berita. Kantor-kantor berita yang mengupdate beritanya melalui Twitter bisa di-follow dan kita bisa mendapatkan update secepat yang kita mau. Apalah arti isi berita di zaman sekarang ini — kebanyakan isinya tidak penting. Judul berita adalah raja. Kalau dirasa berita tersebut benar-benar penting, baru saya akan klik link yang disediakan.

Tetapi ada sedikit masalah. Jika saya follow account-account tersebut, maka timeline saya akan dipenuhi oleh berita-berita yang sangat cepat update-nya — menutupi kicauan dari teman-teman dan orang-orang yang saya follow. Adakah cara untuk tetap update tanpa harus mem-follow?

Twitter menyediakan fitur List untuk tujuan ini. List adalah semacam pengelompokan twit-twit yang bisa kita buat sendiri. Dan list ini tidak akan memenuhi timeline kita. Jika kita ingin membaca berita, kita tinggal buka list itu kapan saja kita mau. Dengan demikian kita bisa mengontrol lalu lintas timeline.

Cara membuatnya cukup mudah; pertama-tama buatlah list Anda sendiri. Akan terbentuk satu list tanpa anggota atau list kosong. Untuk menambahkannya, silakan kunjungi account twitter yang akan Anda masukkan, lalu cari menu di situ — Anda akan menemukan menu semacam Add to list.

Okey, sampai di sini dulu #kulblog-nya dan jangan lupa kunjungi halaman kicauan sayah di http://www.twitter.com/galihsatria

Memperkenalkan: ComputerOffside.Com

Posted by: on Nov 13, 2010 | 5 Comments

Blog memang telah melewati masa keemasannya, tetapi bukan berarti blog-blog baru tidak tumbuh. Jadi, di sini saya memperkenalkan sebuah blog baru, bikinan kakak saya, yang ia beri tajuk ComputerOffside.Com. Entahlah, mungkin ada komputer yang berdiri di belakang posisi terakhir pemain lawan dan ia mendapatkan umpan bola dari kawannya, sehingga komputer itu posisinya ofset (baca: offside).

Tidak tanggung-tanggung, ia menuliskannya dalam pengantar bahasa Inggris — sesuatu yang saya tidak bisa lakukan (menulis blog pakai bahasa Inggris itu capek jendral!). Nantinya ini akan berisi review seputar dunia komputer, personal komputer, video game, aplikasi social networking, bisnis online, tutorial tentang teknologi, dan juga travelling! Hla, kok semuanya diembat begini, jadinya gado-gado juga? Haha…

Simak tips-nya mengenai bagaimana instalasi Windows dengan sebuah Flash Disk (bye-bye disket!), atau iPad-nya produk Cina yang diberi nama (ng)iPed.

Selalu menyenangkan memiliki sebuah startup, tetapi tentu saja perjalanan baru saja dimulai. Tantangan terbesar dalam merawat sebuah blog adalah membuatnya tetap ter-update oleh konten-konten baru. Have a good blogging journey, big brother! Semoga berjamaah wal istiqomah.

Googling Lebih Melelahkan

Posted by: on Oct 13, 2010 | 4 Comments

Jika saya bisa pulang kantor sore (matahari masih belum tenggelam), maka hal yang bisa saya nikmati adalah menonton TV. Akhir-akhir ini saya suka menonton sinetron Beningnya Cinta di Indosiar. Awalnya saya tertarik karena Jeremy Thomas berambut panjang seperti ketika awal dia muncul di sinetron Tersanjung (masih ingat? Lulu Tobing). Oldskul banget sehingga saya curiga apakah sinetron ini adalah sinetron lama yang diputar ulang oleh Indosiar. Akhirnya saya menjadi suka menonton karena pesona kecantikan Ida Ayu Kadek Devie, hehe…

Penasaran, saya pun googling nama Ida Ayu dan Beningnya Cinta. Yang tidak saya duga adalah tiga halaman pertama dipenuhi oleh halaman-halaman SEO. Halaman ini tidak ada gunanya diakses karena berisi informasi palsu — mereka hanya memberikan informasi kepada robot pencari, bukan kepada manusia. Bagaimana ciri-cirinya? Dari URL-nya saja, biasanya halaman SEO mengandung huruf sambung ‘+’ (untuk pencarian). Dari ringkasan yang ditampilkan Google, biasanya sepotong-sepotong dan tidak nyambung.

Tetapi sehafal apapun saya terhadap ciri-ciri website sampah ini, tetap saja googling menjadi lebih melelahkan. Saya rasa inilah faktor pembunuh Google kalau mereka tidak segera memperbaiki metode indexing secara radikal. Ini seperti pembuat virus yang menyasar Windows sebagai sistem operasi yang digunakan mayoritas pengguna komputer.

Dua kompetitor utama Google, Yahoo! dan Bing memberikan hasil yang jauh lebih bersih. Secara teknis, mereka bisa menyalip Google di sini. Hanya kultur, kebiasaan, dan dukungan default berbagai browser terhadap Google yang membuat Google masih bertahan, paling tidak untuk waktu yang masih lama ke depannya.

Switch to our mobile site