Cloud Computing dan Windows Azure
Duh, lama-lama bisa dikira jadi salesnya Microsoft dan paid review ini, hehehe…
Saya memang sedang mencoba-coba layanan cloud sih. Setelah kemarin mencoba layanan cloud untuk backoffice, kemarin saya mencoba layanan cloud yang bersifat lebih general lagi, yaitu Windows Azure.
Apa itu Windows Azure? Kurang lebih layanan infrastruktur server yang ada di dalam cloud. Seperti application hosting atau Virtual Private Server. Jadi kita bisa menyewa satu komputer server di dalam cloud untuk kebutuhan bermacam-macam. Di sana sudah disediakan banyak template untuk server, bisa berbasis Windows, Linux, dan sebagainya. Uniknya, harga sewa untuk server Windows lebih murah daripada sewa untuk server Linux, hehe…
Karena free tiga bulan pertama, jadi layanan ini juga bisa dijadikan ajang ngoprek. Secara saya sudah tidak punya lab kampus lagi yang bisa dijadikan mainan. Jadi saya kemarin mencoba membuat server Ubuntu di cloud. Setelah itu aksesnya pakai SSH seperti layaknya server biasa. Yang menarik juga, disediakan image virtual untuk Sharepoint 2013. Jadi yang mau belajar setup Sharepoint, juga bisa memakai Azure ini untuk coba-coba.
Register for trial-nya gampang, tetapi kita harus memasukkan nomor telepon dan kartu kredit yang valid buat ini. Kartu kreditnya dicharge Rp. 95 doang.
Dah sekian saja unpaid review-nya. Cuma mau sekadar share doang kalau dengan cloud kita bisa melakukan macam-macam dengan cukup bermodalkan koneksi internet — dan biaya sewa tentunya. ^_^
Firefox yang Semakin Berat
Pertama kali saya kenal Firefox adalah waktu kuliah ketika mentor lab saya memperkenalkan browser selain Internet Explorer. Sejak itu saya setia memakai Firefox sebagai browser yang menyenangkan. Cepat, nyaman, dan memberikan perlindungan keamanan yang lebih dibandingkan IE yang kuno. Apalagi hidup saya sebagai programmer, Firefox benar-benar tools untuk programmer dengan kelengkapan Add-On nya. Web Developer, Firebug, adalah contoh-contoh Add-on yang sangat membantu hidup seorang programmer.
Entah apa yang terjadi dengan development Firefox, makin hari, saya kok merasakan Firefox semakin berat ya? Apalagi sedikit-sedikit ada saja upgrade major. Masak hari ini sudah lari ke versi 20 aja. Saya memang tidak punya data ilmiahnya, hanya perasaan saja.
Di Macbook, saya menyukai browser bawaaan Mac, yaitu Safari. Tidak tahu kenapa tapi kayaknya cocok saja browsing-browsing dengan Safari. Dan yang jelas, Safari lebih bagus dari Firefox di Mac.
Di Windows, saya masih setia dengan Firefox — hingga akhir-akhir ini waktu saya menemukan Firefox sering mengalami hang. Akhirnya saya memutuskan download Chrome. Meskipun terkenal sebagai browser ringan, saya agak tidak suka Chrome karena khawatir pola saya browsing disimpan oleh Google.
Tapi memang Chrome adalah browser yang paling canggih sekarang ini nampaknya. Kesannya itu ringan, cepat, dan tipis, tidak berat. Mungkin didukung oleh user interface yang benar-benar mengesankan kalau dia itu ringan dan hemat memory.
Sejauh Mana Kita Bisa Bergantung Pada Layanan Gratis?
Saat ini kita banyak sekali menggunakan layanan gratis di internet. Paling tidak saya sendiri menggunakan GMail sebagai email pribadi saya. Saya memakai Facebook menyimpan foto-foto baik dari yang saya upload sendiri maupun yang ditag oleh teman-teman. Twitter untuk berkicau dan membaca berita. Flickr untuk sharing (baca: pamer) foto.
Tetapi saat ini bisnis dotcom sudah berdarah-darah. Saling mencaplok untuk dimatikan adalah hal yang lumrah. Kita tentu ingat layanan lokal Koprol yang begitu populer yang kemudian diakuisisi Yahoo! untuk dimatikan. Kemudian Multiply yang menutup layanan blog-nya agar fokus ke e-commerce. SalingSilang dan semua jaringan layanannya tak mampu bertahan lama. Blog yang saya suka, Dagdigdug juga ikut ditutup. Dan yang terbaru tentu saja adalah layanan blog Posterous, yang saya pernah upload beberapa foto di sana dan lalu menyukai cara memposting artikel, yaitu melalui email dan attachment-nya.
Jadi, seberapa jauh kita bisa bergantung dengan layanan-layanan gratis ini? How long can we rely on?
Friendster adalah kejadian pertama yang berakibat langsung ke saya. Tahun 2003 ketika layanan ini sangat populer, siapa yang mengira kalau dia akan mati begitu cepat waktu Facebook muncul? Saya masih ingat kami di lab berebut komputer untuk membuka Friendster dan saling menulis testimonial (atau puja puji ke teman dan berharap dia menulis balik testimonial yang bagus juga).
Ketika muncul kabar Friendster akan ditutup (atau dihapus datanya dan diganti model game yang menggelikan), saya kira itu hanya hoax. Kabar serupa sudah sering muncul melalui pesan-pesan berantai waktu Friendster masih menjadi Top 100 Private Company. Ketika muncul kabar yang sesungguhnya, saya masih berpikir itu hoax dan mengabaikannya. Waktu saya iseng membuka web itu, semua data sudah hilang dan saya tidak sempat memindahkannya.
Kita tidak akan pernah tahu sampai berapa lama Facebook dan GMail akan bertahan. Layanan lokal ternyata lebih tidak reliable daripada raksasa-raksasa yang sudah eksis bertahun-tahun. Jadi saya memilih untuk dicap tidak nasionalis daripada tak ada jaminan layanan itu akan bertahan.
Karena itu saya memilih untuk meng-host sendiri blog saya, dan menyimpan foto di fotoblog saya daripada melakukan hot link ke Flickr. Mungkin secara eksposure akan lebih rendah karena saya harus merintis dari awal — belum banyak orang yang datang berkunjung. Tapi saya merasa ini lebih aman selama saya masih punya sumber daya untuk menghidupi dan merawat website ini.
Mengapa Sedemikian Mudah nge-Hack Account Facebook?
#OlehOleh dari training Certified Ethical Hacker (CEH v7)
Apakah teman-teman sidang pembaca pernah mengalami akun Facebook-nya kebobolan atau dihack? Saya sih belum, tetapi akun email Yahoo! saya pernah dihack dan mengirimkan email-email spam jual Viagra ke daftar teman di buku alamat. Apa betul seorang hacker bisa dengan mudah menjebol akun email atau Facebook seseorang? Kayaknya makin banyak kita jumpai remaja-remaja yang bangga bisa ngehack akun gadis yang telah menolaknya (kasihan ya orang IT itu, cuma bisa berani di dunia dia sendiri, diam-diam stalking dan menjebol akun Facebooknya).
Benarkah sistem pertahanan Facebook sedemikian lemah? Bukankah Facebook adalah tempat pakar-pakar IT nomor satu di dunia?
Berbicara tentang dunia keamanan komputer adalah bahan pembicaraan yang luar biasa luas. Untuk membawa satu halaman Facebook yang indah itu ke hadapan kita, dibutuhkan kerjasama dari berbagai macam sistem. Jaringan komputer sebagai infrastruktur, sistem operasi yang kita pakai (Windows, Mac, Linux), web browser (IE, Firefox, Chrome, Safari), aplikasi Facebook-nya sendiri, database yang bekerja mensuplai data, koneksi internet yang sedang kita pakai (LAN kantor, 3G modem, Free Wi-Fi nya Sevel, Warnet, dsb). Sekian banyak sistem itu tentu memiliki ratusan titik-titik kelemahan yang bisa dimanfaatkan oleh seorang hacker.
Tak perlu menjadi ahli keamanan untuk menjebol akun Facebook. Ini bukan berarti orang harus menjebol Facebook yang sedemikian canggih itu, tetapi orang bisa memanfaatkan titik-titik lemah yang lain. Dan memang seperti itulah cara hacker bekerja!
Penjaga warnet tamatan SMK itu juga bisa.
Di warnet, orang pasti buka Facebook kan? Yakin warnetnya jujur? Mungkin di PC itu dipasangi keylogger yang selalu merekam apa yang Anda ketikkan. Atau di server warnet dipasangi alat penyadap? Membuat kloning halaman e-banking dan menyajikannya kepada Anda halaman e-banking yang palsu tanpa Anda sadari? Seharusnya, warnet adalah tempat yang paling tidak terpercaya untuk browsing. Ironisnya, setiap orang datang ke warnet untuk Facebookan.
Di mal, saya selalu kecewa kalau di sana ada banyak Wi-Fi tapi tidak banyak yang free. Naluri gratisan saya selalu mencari-cari Free Wi-Fi dengan biaya sekecil mungkin. Masuk Starbucks, pesan kopi paling murah, lalu internetan seharian. Begitu kan? Saya juga sering gembira jika ada Wi-Fi yang kencang, gratis, dan tanpa password pengaman.
Lagi-lagi, siapa yang tahu Wi-Fi gratis itu punya siapa? Dengan membuat koneksi ke Wi-Fi, maka Anda akan melewatkan seluruh paket data anda melalui Wi-Fi itu. Kasusnya jadi kayak warnet. Seberapa percayakah Anda? Untrusted Network, kata Windows, memang harus selalu menjadi Untrusted Network. Tidak ada jaminan informasi yang Anda kirimkan melalui jaringan itu tidak disadap.
Ah, kan cuma Facebook yang ga terlalu penting?
Tunggu dulu, seberapa banyak dari teman-teman sidang pembaca yang budiman memakai password yang berbeda-beda? Saya kok yakin hampir semuanya memakai password yang sama untuk semua account. Ya email, Facebook, WordPress, Google, Paypal, dan bahkan mungkin e-banking! Sekali hacker menangkap satu password, dia akan mencobanya ke semua layanan. Habis semua lah.
Lalu yang pernah tahu teknik-teknik penyadapan akan bilang, lalu lintas data melalui HTTPS lebih aman daripada HTTP karena dienkripsi. Hacker yang menyadap meskipun bisa mendapatkan paket data tetap tidak bisa membaca data aslinya.
Mari kita lihat kelemahannya. Browser-browser modern memerlukan izin pengguna ketika akan menginisiasi koneksi HTTPS, kecuali untuk koneksi yang memiliki sertifikat HTTPS yang telah verified dan trusted, seperti Facebook. Saya, si hacker usil itu, akan membuat sertifikat palsu lalu mengirimkannya kepada calon korban. Di sini kelemahan psikologis-nya. Seberapa banyak dari kita yang membaca pesan penting di bawah ini?
Tentunya kita akan menekan tombol “Yes” kan? Padahal dialog ini akan menunjukkan detail sertifikat HTTPS yang ada palsu atau asli. Ketika korban menekan tombol “Yes”, koneksi HTTPS terenkripsi sudah tak ada artinya lagi. Hacker sudah bisa membaca data apapun yang lewat karena korban telah mempercayai sertifikat palsu si hacker.
Setelah ini (kalau sempat dan masih mood nulis topik sekuriti ini), kita akan bahas tentang phishing, teknik hacking yang sedang sangat populer karena memanfaatkan kelemahan psikologis dan ketidaktelitian pengguna. Email Yahoo! saya pernah sekali jebol, padahal saya sudah sangat teliti dan hapal dengan web-web phising ini.
Aplikasi yang Saya Pakai di iPad
Saya pikir saya perlu share saya ngapain aja dengan iPad saya. Sekitar beberapa lama sebelum iPad 3 masuk Indonesia, saya merasa perlu mempunyai iPad untuk aktivitas trading saya di pasar modal, karena semakin lama saya semakin frustrasi dengan BlackBerry yang layanannya semakin menurun. Saya tidak mungkin melakukan aktivitas trading dengan menggunakan PC dan internet kantor karena memang koneksinya diblok. Dan saya rasa terlalu ribet jika harus membawa laptop pribadi dari rumah ke kantor.
Jadi, saya tidak sepenuhnya membeli iPad untuk hura-hura gila gadget. Saya butuh untuk mendukung aktivitas trading di pasar modal. Buat usaha cari duit juga ujung-ujungnya hehehe… Dan karena pada dasarnya saya tidak suka game, iPad saya pakai untuk membaca buku (ini alasan utama kenapa saya harus beli iPad 3 yang retina display).
Aktivitas Trading
Saya tidak memerlukan sebuah running trade yang real time karena saya bukan intraday trader. Saya cukup memakai browser bawaan iPad (Safari Mobile Browser) untuk akses aplikasi online trading yang disediakan broker saya (Mandiri Sekuritas). Kemudian untuk mendapatkan berita terbaru dari mailing list, saya memakai aplikasi Mail bawaannya iPad. Semua email account saya pindahkan ke iPad dari BlackBerry.
Organizer
Orang makin dimanjakan oleh gadget itu makin pikun dan pelupa. Aplikasi organizer nya iPad sudah sangat memenuhi kebutuhan, seolah-olah kita memiliki personal organizer sendiri. Aplikasi Calendar bisa menangani multi account dari iCloud, Google Calendar, Yahoo! Calendar, dan paling menarik adalah dari Microsot Exchange. Sehingga dengan ini saya bisa menggabungkan daftar kegiatan saya baik yang pribadi (iCloud) maupun daftar jadwal meeting pekerjaan di kantor (Exchange).
Social Media
Untuk Facebook, saya memakai aplikasi resmi keluaran Facebook. Sedangkan untuk Twitter, saya memakai Tweetbot for iOS. Saya tidak terlalu suka aplikasi bawaan Twitter (Twitter for iPad) karena agak terlalu basic. Untuk chatting, saya memakai Yahoo! Messenger meskipun tidak pernah dipakai lagi. iMessage juga tidak terpakai meskipun ada beberapa kontak sesama pengguna iOS. Untuk chatting, saat ini juaranya tetap BlackBerry Messenger, hehehe…
RSS Reader dan Aktivitas Blogging
Berhubung saya ini masih blogger, saya masih menyimpan beberapa link RSS di Google Reader yang semakin lama semakin sepi. Nah, aplikasi yang bisa mengambil data dari Google Reader ini namanya Reeder. Jadi saya tidak perlu mengumpulkan RSS Feed lagi di iPad. Agak mahal harganya sekitar Rp. 50,000. Tapi aplikasi gratisan yang ada selain penuh iklan juga tidak memuaskan saya.
Di iPad ini saya juga mengenal kebiasaan baru, yaitu mengumpulkan link-link, menyimpannya untuk dibaca nanti secara tersendiri (read it later). Karena ketika saya sedang asyik-asyiknya men-skrol-skrol Twitter atau RSS Reader, malas rasanya kalau harus mengklik link untuk baca tautan di luar Twitter/RSS Reader. Yang paling sering misalnya ada twit yang merujuk ke situs berita seperti Detiknews. Link-link ini kalau tertarik untuk dibaca nanti, saya memakai aplikasi Readability. Hasil pengumpulannya disusun jadi daftar baca seperti RSS Reader. Dan tampilannya juga disesuaikan dengan aplikasi mobile sehingga lebih bersih dan lebih nyaman.
Meskipun saya jarang nulis blog di iPad, kadang-kadang saya perlu menulis draft mumpung masih ingat. Jadi saya memakai aplikasi WordPress karena blog saya adalah self-hosted WordPress. Saya tinggal mengaktifkan fitur XML-RPC di blog saya dan aplikasi di iPad bisa langsung mengaksesnya.
DropBox
Nah, salah satu kelemahan iPad adalah masalah storage. Internal storage-nya yang menjadi pembeda utama kelas antar model iPad membuat iPad (dan semua iOS) sangat tidak transparan untuk melakukan manajemen file. Tidak ada yang namanya File Explorer di iPad. Dimana tersimpan foto, buku-buku, dan musik? Tidak terlalu jelas. Oleh karena itu penyimpanan awan (cloud storage) sangat diperlukan. Saya memakai DropBox karena sangat terintegrasi diantara device-device Apple.
Saya aktif memakai DropBox untuk menyimpan hasil analisis chart suatu saham di ChartNexus di Mac karena di iPad tidak ada aplikasi yang memuaskan untuk analisis harga saham melalui grafik. Jadi saya melakukan analisis di malam hari untuk persiapan perdagangan besok, dan di iPad saya melihat screenshot hasil analisis yang disimpan di DropBox untuk membantu keputusan trading.
Baca Buku
Bye-bye Kindle! Saya sangat puas dengan kualitas retina display-nya iPad 3 yang tidak membuat lelah dan pedih di mata. Siapa yang bilang retina display itu hanya gimmick dan hanya terlihat bedanya di mikroskop, pasti dia bukan kutu buku. Saya sekarang bisa membaca buku-buku PDF dengan nyaman tanpa harus mengkonvert-nya ke format tradisional epub atau mobi setiap kali mau baca buku PDF. Di sini aplikasi yang saya pakai adalah iBooks bawaan iPad.
Selain itu, sekarang sudah ada penjual majalah dan koran yang sangat update yang bisa dibeli di iPad. Kita tidak perlu lagi membeli majalah terkenal seperti FHM, Warta Ekonomi, Tempo, InfoKomputer secara hardcopy. Wayang Force adalah aplikasi newsstand yang menjual majalah ini secara softcopy. Harganya kebanyakan sedikit lebih murah dari versi cetaknya. Dan untuk majalah-majalah lama sering dibagi secara gratis untuk didownload.
Aplikasi Lainnya
Tidak banyak aplikasi yang saya pakai. Jadi memang storage 16 GB sudah cukup buat saya. Karenanya saya juga tidak merasa perlu untuk men-jailbreak iPad saya ini. Setiap kawan yang mencoba iPad saya hampir selalu berkomentar begini, “Lho kok cuma segini aplikasinya? Kok gak ada game-nya?”
Berikut adalah daftar beberapa aplikasi yang belum saya bahas secara tersendiri di paragraf sebelumnya:
- Notes (bawaan), untuk mencatat hal-hal yang perlu dicatat, termasuk draft untuk ngeblog
- Reminders (bawaan), terintegrasi dengan iCloud, bagian dari organizer sebagai pengingat hal-hal yang harus dikerjakan
- Youtube (bawaan), untuk melihat video di Youtube tanpa Flash
- Videos (bawaan), aplikasi pemutar video di iPad
- Photos (bawaan), aplikasi penyimpan berkas gambar
- Camera (bawaan), aplikasi untuk merekam gambar dan video. Kualitasnya lumayan.
- Maps (bawaan), menggunakan Google Maps, cukup sebagai pemandu dengan memanfaatkan GPS
- AppStore (bawaan), mencari aplikasi-aplikasi ya di sini, Android Market-nya Apple lah kira-kira
- QuranMajeed, aplikasi Al-Qur’an yang font-nya bisa dibesar kecilkan, ada terjemahan bahasa Indonesia dan beberapa murotal dari syekh terkenal
- GoodReads, untuk mengakses GoodReads
- Mizan, toko ebook nya penerbit Mizan, saya hanya beli buku Sejarah Tuhan (Karen Armstrong) di sini, karena belum banyak buku bagus yang dijual di sini
- Wayang Force, toko buku, majalah, dan koran. Yang sudah berkembang dengan baik di sini adalah majalah dan koran. Saya sekarang kalau pengen beli majalah cukup beli di sini
- Readability
- Reeder
- WordPress
- Dropbox
- Numbers, bagian dari iWork untuk mengolah file spreadsheet. Bisa juga mengolah file Excel. Saya memakainya untuk menghitung aktivitas trading saya
- Game Center (bawaan) – kosong
- Newsstand (bawaan) – kosong
- iMessages (bawaan), aplikasi chattingnya Apple, tidak terlalu populer karena eksklusif hanya kalangan pengguna produk Apple
- Photo Booth (bawaan), teman-teman perempuan saya suka aplikasi ini karena bisa narsis
- Twitter, bawaan Twitter, saya tidak terlalu suka
- Tweetbot for iOS, aplikasi untuk Twitteran
- Y! Messenger, aplikasi chatting dengan Y!M
- Facebook, aplikasi untuk Facebookan
- Adobe Reader, tidak terlalu bagus, lebih enak memakai iBooks
- Calculator, aplikasi kalkulator, kadang-kadang saya memerlukannya!
- VNC, aplikasi untuk mengakses Mac secara remote dari iPad
- iTunes (bawaan), tidak terlalu berguna karena toko musiknya belum masuk Indonesia. Ebook Store-nya juga belum terlalu berkembang
- FaceTime (bawaan), seperti iMessages tetapi melalui video conference. Tidak terlalu berfungsi.
- Skype, aplikasi video conference untuk berbincang-bincang dengan saling bertatap muka
- Emoji++, aplikasi emoticon agar bisa memakai emoticon di Twitter
- Contacts (bawaan), aplikasi buku alamat dan nomor telepon. Tersinkronisasi dengan iCloud
- Paper, aplikasi menggambar. Sayangnya saya tidak terlalu bisa menggambar.
- Compass, aplikasi yang memanfaatkan GPS untuk mengetahui arah mata angin. Di sini juga ada alat speedometer dan altimeter (pengukur ketinggian dari permukaan laut)
- Virtuoso, aplikasi piano virtual, kadang-kadang saya memerlukannya untuk sekadar menyanyi iseng atau mencari chord suatu lagu
- Tabs, aplikasi untuk mengakses situs Guitar Tabs, tempat repositori lirik lagu dan chords-nya
- UnArchiver, aplikasi untuk mengkompress dan dekompress file zip dan rar
- StockWatch, aplikasi untuk memonitor harga saham, tetapi saya tidak terlalu suka
- Mail (bawaan), aplikasi email management
- Safari (bawaan), aplikasi untuk browsing-browsing
- iBooks (bawaan), aplikasi untuk baca buku
- Music (bawaan), aplikasi untuk mendengarkan musik
- Angry Birds Space, supaya tidak ada pertanyaan, “kok tidak ada game-nya?”
- Where’s My Water, supaya tidak ada pertanyaan, “kok tidak ada game-nya?”
Yahoo! Messenger, Riwayatmu Kini
Sepuluh tahun yang lalu, Yahoo! Messenger adalah aplikasi chatting yang mulai naik daun setelah IRC yang sangat populer waktu itu (ingat mIRC? als pls…). Saya masih ingat dulu waktu membuat email fox_galih [at] yahoo [dot] co [dot] uk berkuota 6 MB di warnet di kantor Telkom Tulungagung — tarifnya Rp. 6000 per jam dengan kecepatan sekitar 56 kbps. Kencang sekali bagai kilat.
Waktu kuliah, Y!M telah menjadi alat komunikasi standar. Dan karena dianggap boros bandwidth dan tidak ada relevansinya dengan kuliah, koneksi Y!M (melalui port legendaris 5050 itu hehe) pun diblok admin lab jahanam (saya sebut “jahanam” karena mereka mendapatkan privileges khusus). Tetapi memang itulah masa jayanya Y!M diwaktu bandwidth masih merupakan barang mewah. Tiap kali nyambung ke internet, urut-urutan yang dibuka adalah: Email Yahoo!, aplikasi Yahoo! Messenger, dan kemudian Friendster.
Saking mewahnya, salah satu motivasi menjadi admin lab adalah agar punya akses internet gratis tanpa blokir siapapun. Saya merasakan sensasi yang aneh ketika dini hari itu saya dikenalkan Mas Sokam, senior saya, lab ITSnet, puncak dari segala koneksi internet di ITS. Lantai 6 perpustakaan yang berhantu, Linux Debian Sarge, dan aplikasi Y!M for Linux! Menjadi admin lab ITSnet rasanya seperti menjadi dewa bandwidth yang mengatur segala lalu lintas koneksi.
Online di Y!M hampir 24 jam. Saya sampai sekarang masih menyimpan beberapa arsip chatting saya dengan Indri yang waktu itu kuliah di Vancouver Canada, lalu kemudian Tiwi si Rainy Me yang kuliah S2 di Melbourne. Curhat-curhat-an dengan mengetik teks yang panjang. Cara curhat yang aneh tapi memang bisa jadi lebih nyaman karena saling tidak melihat ekspresi muka.
Sekarang? Anehnya ketika era mobile tiba, ketika bandwidth sudah relatif murah, Yahoo! Messenger seperti ditinggalkan. Sekarang orang lebih suka aplikasi chatting mobile yang lebih reliable seperti BlackBerry Messenger, Apple iMessage, dan WhatsApp. Mungkin itulah titik lemah Y!M di mobile – tidak se-stabil aplikasi yang benar-benar untuk mobile. Sering saya mengalami sign out otomatis karena koneksi yang putus.
Y!M masih ramai lho. Artinya semua masih suka login di Y!M. Tetapi berapa banyak dari kita yang menggunakannya seperti di masa-masa 2000-2007-an? Saya meskipun online sudah sangat jarang berinteraksi dengan teman-teman yang juga online. Kalaupun chatting biasanya tukar nomor PIN dan kemudian pembicaraan dilanjutkan di BBM atau WhatsApp. Dan karena itu saya jadi malas login ke Y!M. Orang pada online, tapi seperti diam semua.
Hehehe, apakah teman-teman masih aktif memakai Y!M?
Facebook Timeline, Fitur Pembunuh Google+
Eh, apa kabar Google+ ya? Apa masih ada yang pakai? Tidak perlu survey rumit untuk melihat keberhasilan sebuah social media, cukup perhatikan teman-teman terdekat yang bukan early adopter. Mereka pakai G+ ga? Teman-teman saya tidak tahu apa itu G+. Yang punya account pun bingung bagaimana cara pakainya. Dan saya sendiri sudah menghapus account saya karena saya di-circle orang-orang tak dikenal. Karena tidak nyaman, saya hapus saja.
Kemunculan Google+, seperti produk-produk gagal Google lainnya, selalu dibuat heboh. G+ digadang-gadang adalah social media pembunuh Facebook karena membawa fitur-fitur yang unik. Banyak lelucon-lelucon yang dipakai untuk menaikkan G+. Google bertaruh cukup besar di social media ini dengan mengubah tampilan semua layanannya dengan tema Google+ — GMail, Reader, sampai Youtube. Nyatanya, sepertinya nasibnya akan seperti Wave dan Buzz.
Semalam, Facebook meluncurkan apa yang mereka sebut dengan Facebook Timeline. Ini adalah cara baru menampilkan halaman profil yang selama ini mulai membosankan. Dan ini menurut saya mengasyikkan. Tampilannya modern ala web masa kini. Sebuah fitur yang kata teman saya Adji Cynthia akan membahagiakan buat para stalker karena lebih mudah menelusuri apa yang dilakukan sang tokoh setiap harinya. Bahkan archive-archive lima tahun yang lalu akan sangat gampang diakses. Nah lo…
Jadi buat yang punya foto-foto masa lalu yang memalukan, atau yang sekarang berjilbab dan dulu masih ketahuan gimana dalemannya, segera cek dan segera hapus sebelum ditelanjangi oleh Facebook Timeline.
Comments