Entries Categorized as 'Intermezzzo'

Canonian

Date February 28, 2008


Lokasi: Pantai Nambangan, Kenjeran, Surabaya
Kamera: Canon Powershot A400

Ketika saya diajak Pak Waskitho hunting ke Kenjeran, kami mendapat tamu yang menenteng satu backpack penuh berisi pernik-pernik berbau Canon. Salah satu yang dikeluarkan ini adalah lensa Canon 70-200 seri L. Tamu ini diperkenalkan oleh Pak Was sebagai Rahmat Zikri. Sekarang Saya sadar betapa bebalnya saat itu sampai tidak tahu siapa Rahmat Zikri. Saya baru sadar beberapa waktu lalu ketika membaca ulasannya yang dimuat di salah satu edisi dari majalah INFOKomputer. Kalau dulu tahu, saya bisa langsung minta tanda tangan seorang Microsoft MVP (Most Valuable Professional) ini, hahahaha… :))

Mas Zikri, sori fotonya saya upload tanpa izin, kalau keberatan, mohon kiranya memberitahu saya. Terima kasih. :D

L COHOLIC

Date February 15, 2008

L COHOLIC

Guyonan yang saya yakin hanya dimengerti oleh maniak fotografi saja. Ada alcoholic, workaholic, dan yang ini.. L COHOLIC! :)

Bidadari dari Surga (2)

Date January 28, 2008

Versi paparan dari puisi yang ini :D

Saya masih duduk di kelas 1 SMP ketika membaca novel Agatha Christie yang berjudul Three Act Tragedy (Tragedi Tiga Babak — Hercule Poirot series). Salah satu tokoh dalam novel tersebut, Hermione Lytton Gore (Egg), dideskripsikan sebagai wanita yang menarik, energik, penuh vitalitas, tetapi tidak cantik. Aura vitalitasnya yang membuat ia tampil begitu menarik. Ia membawa roh romantisme pada novel tersebut dengan hero worship (tergila-gila pada tokoh idola)-nya kepada sang tokoh utama, Sir Charles Cartwright yang tampan.

Waktu itu saya tidak mengerti, bagaimana bisa kecantikan dikonfrontasikan dengan ke-menarik-an. Di benak saya wanita cantik pasti menarik, dan wanita yang tidak cantik pasti tidak menarik. Tetapi kemarin, saya baru mengerti maksud Agatha Christie itu. Ternyata, wanita yang berwajah tidak terlalu cantik bisa sebegitu menariknya di mata saya, sampai saya spontan tergesa-gesa menuliskan draft puisi untuknya di ponsel saya.

Ia memakai jilbab — atau lebih tepatnya kerudung — berwarna merah jambu (bukan pink) berpotongan sederhana yang tidak perlu skill lipat-melipat kerudung. Karek nylobokne (Jawa: Tinggal memasukkan [kepala]), int pernah berkata begitu pada saya. Memakai baju santai untuk jalan-jalan berwarna pink yang serasi dengan kerudungnya. Tingginya mungkin sebatas telinga saya. Kalau Anda pernah melihat busana presenter acara Perjalanan Tiga Wanita di Trans TV, semacam itulah model pakaiannya.

Saya lihat lagi wajahnya dalam-dalam dari sudut mata saya. Wajah itu berkulit putih lembut. Berbentuk bulat karena ia berpostur agak gemuk. Weweg, mungkin kalau menurut istilah sastra Jawa. Tidak cantik. Tidak, saya tidak dapat mengatakan ia cantik. Biasa saja. Bukan cantik seperti ular yang dikampanyekan produk pemutih di televisi dan radio yang cenderung kurus kering.

Entah beruntung entah apa, saya sempat menangkap senyumannya. Saya selalu suka menikmati senyuman semacam itu. Manis sekali. Itulah yang menjadikan ia menarik. Ia memiliki salah satu senyuman terindah yang saya tahu hanya dimiliki beberapa orang saja. Senyuman yang bisa membangkitkan imajinasi saya untuk menulis draft puisi pada ponsel saya dan menyelesaikan seluruh bagiannya pagi tadi, dan jadilah puisi pendek itu.

Dan inilah saya…

Hanya duduk di sisi gelap dan menikmati indah senyumannya diam-diam. Saya yakin ia sendiri tahu bahwa saya memperhatikan dia. Tiwi pernah berkata kalau ia bisa melihat orang tanpa menoleh dalam sudut 90 derajat. Focal length lensa mata cewek memang lebih lebar daripada mata cowok. Kalau cowok yang lebih berani, mungkin sudah mendatanginya, berkenalan, ngobrol basa-basi ngalor-ngidul, tukar menukar nomor HP. Tapi saya, seperti di ujung akhir puisi, saya hanya mengikuti bayangannya yang menghilang pelan-pelan di sela-sela kesibukan bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

PS: Maaf, tidak ada foto. Saya ingin mengajak anda bermain-main dengan imajinasi dan membayangkan seperti apa wanita yang begitu istimewa-nya sampai saya membuatkan dua postingan khusus untuknya :D

After Shutter Click

Date January 16, 2008


FLICKR
Lokasi: Kompleks Museum Fatahillah, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR | 1/250 s | F/7.1

Foto ini sudah nyaris terselip di antara ribuan foto-foto yang pernah saya jepret dengan D40 saya. Maklum, secara teknis, banyak kelemahannya. Tapi tiba-tiba tadi malam saya ingat fotografer nikon ini yang saya colong gambarnya Juni 2007 lalu. Berkesan, karena saya agak jarang melihat fotografer cewek. Kalaupun ada pasti jauh lebih sedikit. :)

PS: Nduk, sido tuku S3 IS gak? ;)

Madiun Kota Gadis

Date January 3, 2008

Madiun Kota Gadis
FLICKR
Courtesy of Mas Puntadi
Pentax K100D | Pentax-DA 18-55 mm | 1/2000 s | F/5.6

Masih oleh-oleh dari liburan akhir tahun. Madiun kota Gadis, pusat perdaGAngan GADIS dan InduStri ;)) Asyik sekali singkatannya, biasanya kabupaten-kabupaten di Jawa Timur menggunakan kata Bersinar, Bersemi, Beriman, dan semacamnya. Tapi Madiun lebih memilih gadis. Entah ini bias gender atau tidak. :)