Saya Menulis Karena Krenteging Ati
Postingan bertopik basi, tapi ini adalah road to one thousand posts!
Krenteg artinya keinginan yang menggebu-gebu, yang seakan-akan mau meledak kalau ditahan. Ati itu ya hati. Itulah gambaran kalau saya sedang ingin menulis. Menulis itu buat saya sudah menjadi kebutuhan, seperti sarapan pagi, seperti minum obat tiga kali sehari.
Karena itu saya tidak mau membatasi tulisan saya dalam topik tertentu saja. Lihat saja photoblog saya yang saya diamkan hampir sebulan penuh, karena sebenarnya saya tidak mau dibatasi oleh topik-topik tertentu. Dan ternyata saya juga tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk memposting artikel, meskipun aturan main itu saya juga yang bikin.
Postingan seperti ini, mengingatkan saya seperti tulisan-tulisan tahun 2006-2007-an, sebelum saya upload foto-foto di sini.
Kalau ternyata tulisan-tulisan saya bermanfaat bagi teman-teman sidang pembaca, saya yang harus berterima kasih karena biar bagaimanapun juga, blogger itu juga perlu pembaca selain dirinya sendiri.
^_^
Apakah saya akan istirahat menulis dulu, atau malah menutup blog ini setelah menyentuh tulisan ke-1000, saya belum tahu. Yang jelas saya ingin merayakan dulu tulisan ke-1000 itu. Dengan jumlah 8-10 postingan setiap bulan, sepertinya itu akan terjadi satu atau dua bulan lagi.
Tek Tek
Sudah lama banget nggak dapat tag-tag an macam begini. Terakhir ya pada waktu era blog masih merajai tren social media, kira-kira kalau sekarang ya Twitter lah. Barusan, pas lagi leyeh-leyeh menikmati masa kebebasan sejenak setelah sidang tesis, saya dapat mention dari bu dosen muda nan cantik, Mba Puput, yang lagi jadi mahasiswi ITB. Ya sudah, saya akan jawab pertanyaan doi:
1. Uda merasa kalau kerjaan sekarang uda sesuai dengan passion kalian apa ga? Kalau ga pengennya apa? Kalau iya kenapa
Sudah. My life is born to code, hahahah, lebay. Teknologi informasi masih menjadi passion saya, khususnya sekarang SOA – Service Oriented Architecture. Bahkan ketika saya menuntut ilmu manajemen dan ekonomi pun, saya pikir coding masih lebih asyik daripada ekonomi. Itu tentang pekerjaan dan passion. Tapi secara job security, belum. Nah, kombinasi yang unik ini menurut saya adalah dinamika buat saya untuk selalu mengembangkan diri.
2. Kalau diperbolehkan untuk merubah masa lalu, 1 hal saja, apa yang akan kalian ubah? “ga boleh jawaban ga ada yang mau diubah”
Ah, saya ga menemukan jawaban yang bagus, tapi yang langsung terlintas di pikiran adalah ini: jika saja saya bisa kembali ke masa kuliah, saya tidak akan pikir panjang buat menyatakan cinta saya ke Int waktu dia sedang jeda jomblo beberapa waktu itu. Hahaha, yes, the queen who was in this blog with “Melankolis” category, coloring this blog in year 2004-2008 (My last post for her: Selamat Tinggal Cinta). Satu hal yang saya sesali adalah bahwa saya tidak sempat memintanya, saya memilih untuk memendamnya.
Pelajaran buat teman-teman cowok, nyatakanlah cintamu selagi sempat. Urusan diterima atau ditolak itu urusan lain. Kalah dan menang hal yang biasa. Tapi menjadi secret admirer itu lebih sakit kalau kamu benar-benar mencintainya. Menjadi secret admirer jika sekadar mengagumi tidak masalah. Tapi kalau menjadi cinta, segera nyatakanlah. Tidak usah memakai pertimbangan dokter cinta siapapun yang sok ahli. Nyatakanlah dengan Bismillah.
3. Lagu yang saat ini mencerminkan keadaan atau emosi kalian apa?
Hmm, apa ya, yang jelas saya sedang merasa sangat lega. Satu urusan kuliah S2 saya selesai. Tapi saya lagi suka lagu yang diulang-ulang diputar iTunes ini: Masih Cinta nya Kotak. Kamuuuuu tak tauuu rasanyaaa hatikuuuuu saat beeeerrrrrhadapaaaan kkhaaammuuuu….
4. Kalau kalian nanti kalian harus resign karena keluarga mau apa ga?
Belum tahu, belum punya keluarga. Ntar aja jawabnya, hahaha…
5. Saya ini ga suka sayur tapi saya pengen makan sayur nah menurut kalian sayur yang enak apa dan kalau saya nyoba pertama kali saya ga berpikir untuk kapok makan sayur =D
Bobor bayam, blencong (apa ya bahasa Indonesianya?), dan sayur apa ya yang enak di hotel-hotel itu. Yang kayak asparagus tapi ujungnya mekar, dimakan kremus-kremus…
6. Kalau boleh milih 1 tempat untuk tinggal, milih kota apa dan kenapa
Buat kerja banting tulang, Jakarta adalah kota yang sangat tepat. Di sini perjuangannya benar-benar heroik. Saya ibaratkan seperti waktu Ki Ageng Pamanahan dan Raden Sutawijaya babat alas Mentaok untuk jadi Mataram. Buat hidup berkeluarga: Jogja atau Malang. Buat pensiun, tentu saja Tulungagung
7. Kalau diperbolehkan sekolah lagi yang bener-bener sesuai dengan keinginan kalian (tanpa memperhatikan hal-hal lain) kalian mau ambil jurusan apa?
Heheheh, Puput ini, kan saya barusan selesai (sombooong hahaha). Tapi kalau ada kesempatan lagi, saya mau coba Sastra Jawa Kuno. Atau mungkin coba jadi engineer macam Geologist atau Geophysicist.
8. Pilih perasaan atau logika? Kenapa?
Logika. Orang bilang jalan pikiran saya udah macam program komputer saja. Loop and break if not zero, if there’s another thing happened, just shut me down.
9. Saya pengen tau, kalian merasa iri banget dengan orang lain ketika apa?
Ketika orang lain mendapatkan kepercayaan “naik kelas” dari Tuhan. Selalu bertanya-tanya kapan saya bisa naik kelas atau harus berjuang lagi untuk naik kelas.
10. Kalau lagi BT/Stress gimana cara kalian ngebalikin mood kalian?
Makan apa yang ingin dimakan. Lalu tidur dua hari.
11. Apa guilty pleasure kalian?
Mengerjakan sesuatu yang lagi mood banget buat dikerjain padahal ada deadline lain yang sedang menunggu. Contohnya, baca buku semalaman padahal besok ujian, analisis saham padahal buku tesis harus dikumpulkan besok. Yaah… semacam itu lah. Saya emang orangnya moody. Moody Koesnaedi.
Udah ye. Seperti yang dulu-dulu juga, saya ga punya ide buat lempar tek tek an ini kemana. Hahaha… sombongnya sayah. Siape elu… hahaha… Oh iya, thanks ya Puput. Kapan kita makan malam bareng di The Valley? Ihirr…
Ketika Merokok Menjadi Kebutuhan Pokok
Ketika orang mulai menghisap rokok untuk pertama kalinya, saat itu juga lah ia meneken kontrak selamanya dengan pabrik rokok. Karena nyatanya tidak banyak orang berhasil berhenti merokok. Saya tidak merokok karena bagi saya banyak alasan untuk tidak merokok, misalnya:
- Saya merasa cukup berpendidikan untuk mengerti bahwa rokok itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Begini saja sudah banyak diancam oleh penyakit-penyakit menakutkan macam darah tinggi, jantung, atau kolesterol. Apalagi jika merokok.
- Saya tidak ingin diperbudak oleh rokok.
- Saya tidak terlalu respek kepada para perokok karena mereka adalah kaum egois sedunia — merokok di tempat umum, asap yang membuat nafas sesak, dan bau yang menempel di baju.
- Saya tidak ingin menambah pengeluaran rutin bulanan.
Nah, soal expense ini, saya sebenarnya sangat prihatin ketika tahu bahwa mayoritas orang Indonesia merokok. Paling tidak, sebulan orang harus keluar uang sekitar Rp. 200 ribu sampai Rp. 400 ribu. Saya tidak prihatin kepada para kelas ekonomi menengah karena bagi mereka duit segitu adalah receh. Tetapi bagi kaum kelas ekonomi menengah ke bawah, uang segitu menjadi major expenses bagi cashflow bulanan mereka.
Seorang buruh pabrik rokok digaji sebulan sejuta misalnya, uang seratus ribu pun menjadi 10%. Sepuluh persen untuk rokok buat saya tidak masuk akal. Jika uang itu diinvestasikan di produk reksadana saham, dalam lima tahun saja, seratus ribu per bulan akan menjadi Rp. 13 juta! Tiga belas kali lipat penghasilan buruh pabrik itu. Dengan uang segitu, ia bisa melakukan pembelian besar (major acquisition) misalnya beli sepeda motor. Itu jika dia tidak merokok.
Permasalahannya adalah, tidak ada edukasi yang bisa menjelaskan secara mudah dan simpel bahwa uang seratus ribu pun bisa menjelma menjadi berkali-kali lipat. Uang seratus ribu menjadi terlihat kecil dan apalagi jika dikeluarkan setiap hari untuk membeli rokok. Hanya tiga ribu perak! Receh buat sebagian besar orang! Selain financial planner itu mahal, acara financial planning di tivi juga bukan buat segmen menengah ke bawah. Mereka akan jauh lebih memilih melihat sinetron Puteri yang Ditukar.
Permasalahannya adalah, rokok telah menjadi kebutuhan pokok karena kontrak telah diteken sejak orang duduk di bangku SMP atau SMA. Rokok adalah lambang pergaulan. Laki-laki biasa mengakrabkan diri dengan laki-laki lain dengan merokok bersama. Jika salah satu orang saja tidak merokok, jadinya aneh. Kurang akrab. Seperti sayur tanpa garam.
Permasalahannya adalah, rokok adalah lambang kejantanan. Meskipun setiap orang tahu iklan-iklan itu dibuat berlebihan, tetapi pesan yang diulang-ulang akan meresap ke alam bawah sadar. Laki-laki yang merokok adalah jantan, seorang petarung hidup sejati yang biasa menempuh risiko dan menjadi pahlawan. Dan saya tentu saja bukanlah seorang yang jantan ataupun yang gaul karena tidak merokok.
Entahlah.
PS: Ayah saya seorang perokok berat dan sampai sekarang saya masih heran bagaimana cara beliau mendoktrin saya untuk tidak merokok ketika saya melewati usia-usia yang kritis saat remaja. Padahal role model idola terbaik saya jelas merokok. Rokok favorit beliau saat itu adalah Bentoel Biru seharga Rp. 550. Sekarang favoritnya Gudang Garam Surya 12. Mungkin saya memang anak rumahan, entah, don’t know…
Tentang Intrik dan Politik
Intrik dan politik ternyata tidak hanya ada di panggung parlemen dan pemerintahan. Intrik dan politik dekat sekali bersentuhan dengan lingkaran kehidupan kita. Bagi teman-teman yang sudah bekerja, mungkin akan sangat mengenal sebuah perang non-fisik tak terlihat yang bernama politik kantor. Suka atau tidak, politik kantor ada di setiap ruang lingkup pekerjaan sebagai salah satu budaya bangsa kita.
Kenapa saya bilang budaya? Ternyata jika ditelusuri, berpolitik sebagai perang urat syaraf yang cerdik dan licik telah ada sejak jaman prabu Sri Erlangga, pendiri kerajaan Kadiri di Kahuripan. Oke, mari kita telusuri.
Nampaknya, kudeta menggunakan tipu muslihat pertama kali dilakukan oleh Ken Arok, pendiri kerajaan Singasari, dalam menjungkalkan kekuasaan akuwu Tumapel, Tunggul Ametung, kemudian bahkan kekuasaan raja Kadiri saat itu: Sri Kartanegara. Cara ini dicontoh oleh keturunan-keturunan berikutnya, termasuk anak tirinya: Anusapati.
Raden Wijaya (Sanggramawijaya), keturunan kelima Ken Arok, menghiasi berdirinya Majapahit dengan taktik politik ganda. Ia berhasil mengkudeta raja Kadiri saat itu, Jayakatwang, dengan tipu muslihat tingkat tinggi sekaligus mengusir tentara Mongol yang dipimpin Kubilai Khan. Ia sendiri bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.
Next. Jauh maju ke masa awal Mataram Islam. Raden Sutawijaya (Panembahan Senopati) mengkudeta ayah angkatnya sendiri, Sultan Hadiwijaya dan memindahkan kekuasaan bekas Demak dari Pajang ke Mataram.
Maju ke masa kemerdekaan Indonesia. Hampir semua presiden kita tidak turun dengan cara baik-baik. Orde Lama digantikan Orde Baru dengan kudeta kontroversial yang mirip dengan cara Ken Arok. Presiden Soeharto diturunkan paksa di tahun 1998. Penggantinya, Presiden Habibie dianggap hanya sebagai pejabat sementara. Presiden Abdurrahman Wahid dikudeta oleh Sidang MPR sebelum masa jabatan resminya berakhir. Mungkin hanya Presiden Megawati Soekarnoputri yang turun karena masa jabatannya berakhir, tetapi itupun melalui intrik politik yang luar biasa.
Jadi, bukankah drama politik telah mewarnai perjalanan sejarah bangsa kita sejak zaman dahulu kala?
Digital Library Nyata di Dunia Akademisi Indonesia
Sekarang adalah era digital, semua orang juga sudah tahu. Internet marketer menyebutnya Web 2.0. Buzzwords yang sedang ramai dibahas adalah HTML versi 5. Para peneliti internet sedang giat-giatnya menelurkan terobosan baru bernama teknologi semantic web.
Para dosen tentu juga mengetahui bahwa pola penelitian yang dilakukan mahasiswa kini telah jauh berbeda dengan yang mereka lakukan jaman dulu waktu berdjoeang meluluskan gelar master atau doktoral mereka. Mahasiswa sekarang (termasuk saya tentu saja) tidak hanya suka mie instant, tetapi juga dalam gaya riset mereka. Pengennya yang instan-instan.
Google dan Wikipedia adalah tools utama mahasiswa masa kini. Cobalah lihat di daftar pustaka, berapa rasio acuan antara jurnal ilmiah dengan alamat URL. Yeah, ketimbang harus mendatangi perpustakaan yang berdebu dan berhantu yang tutup di hari sabtu minggu itu, tentu saja lebih nyaman berselancar di “perpustakaan” Google sambil menyeruput chai latte atau black coffee latte diiringi musik yang lembut di sebuah kafe. Terlalu metropolis? Ah baiklah, ilustrasinya diubah sedikit — … sambil nggelosor di atas kasur sambil sesekali melirik Twitter ditemani camilan di kiri kanan. Home sweet home.
Jika acuannya adalah internasional hal ini tidak masalah. Kita bisa mendapatkan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena sudah banyak e-journal dan digital library di luar sana. Sebut saja Harvard Business Review, atau jurnal IEEE. Kita tinggal meluncur ke layanan jurnal ilmiah seperti Pro-Quest atau EBSCO Host. Download paper setelah membayar biaya sewa jurnal.
Jurnal Ilmiah Lokal?
Menurut saya, keberadaan digital library lokal masih jauh panggang dari api. Memang universitas-universitas besar di Indonesia sudah memiliki sistem perpustakaan digitalnya sendiri-sendiri. Tapi sepertinya hanya nice to have. Kita hanya bisa membaca judul dan abstraknya saja. Untuk mendapatkan akses secara utuh, kita harus ke perpustakaan dan mencari barang fisiknya.
Tentu saja sangat menyenangkan jika ada layanan lokal seperti Pro-Quest. Sebuah mesin pencari terintegrasi yang mencari ke sumber-sumber ilmu di masing-masing digital library universitas lalu menampilkan full text-nya. Untuk akses file secara utuh, dikenakan biaya langganan tertentu. Tentu saja ini akan menjadi business model yang sangat rumit, tapi saya pikir itu merupakan sebuah peluang.
Waktu masih aktif di lingkungan akademis — (ITS maksud saya, sekarang di Binus saya hanya sebagai mahasiswa master yang tidak tahu-menahu tentang dunia akademis di Indonesia), saya pernah mendengar ada proyek INHERENT. Sebuah proyek ambisius yang akan mengintegrasikan semua jaringan universitas di bawah Dikti dan Depdiknas. Tetapi sayang, proyek itu sepertinya berhenti pada pemasangan infrastruktur, tidak berlanjut pada integrasi content. Mungkin ide ini bisa jadi bahan bagus untuk integrasi content. Atau mungkin sekarang pun jaringan INHERENT sudah pecah? Ada yang tahu? Namanya juga proyek ambisius hehehe…
#celoteh di sore hari waktu pikiran buntu mencari ide untuk tugas paper Corporate and Business Strategy
Duta Sekolah
Itu adalah sebutan yang diberikan rekan kerja kepada saya. Hehehe, saya memang paling getol mendorong kawan-kawan saya untuk melanjutkan sekolah. Saya adalah orang yang percaya pada pentingnya pendidikan formal. Bukan apa-apa, saya telah merasakan langsung dampak positif keputusan saya melanjutkan ke jenjang S2 setahun yang lalu. Dampak karier? Oh, bukan. Sesuatu yang menurut saya lebih berharga daripada sekedar naik gaji dan perbaikan karier.
Jika ada orang yang bilang materi-materi di kuliah formal sedikit sekali yang dipakai di lapangan, maka saya akan mempertanyakan keseriusan dia waktu kuliah dulu. Ia pasti tidak mengerti intisari, maksud, roh, jiwa *halah* dari setiap perkuliahan yang diajarkan. Secara textbook tentu saja memang sedikit sekali yang dipakai, tetapi jiwa dan filosofi yang mengendap menjadi pola pikir, itulah yang dipakai setiap hari!
Saya pernah menulis, bahwa pola pikir lulusan D3, S1, dan S2 itu berbeda dalam menghadapi sebuah permasalahan. Maafkan saya, saya tidak bermaksud membuat anda tersinggung. Seorang diploma akan menyelesaikan masalah dengan praktis dan cepat. Produk jadi, dan ia boleh berbangga dengan karyanya. Seorang sarjana akan melihat dengan lebih analitis. Ia akan berpikir bagaimana menyelesaikan masalah secara efisien, berdampak besar.
Tetapi seorang lulusan pasca sarjana akan melihat masalah itu lebih luas. Ia akan menganalisis apa akar masalah tersebut. Alih-alih menyelesaikan masalah itu, ia malah menunjukkan masalah lain yang lebih besar, yang mungkin penyelesaiannya sangat lain sekali. Tetapi ia dapat menjamin bahwa dengan menyelesaikan akar permasalahan, masalah-masalah yang timbul bisa terselesaikan sendiri.
Mumpung Masih ada Kesempatan
Kawan saya tersebut bilang, biaya yang mahal adalah salah satu masalah. Uangnya telah dialokasikan buat biaya menikah (padahal calonnya aja belum ada — upss). Saya bilang, sebuah niat baik, akan selalu diberkati oleh Tuhan. Saya dulu juga khawatir bahwa saya akan hidup kekurangan karena sebagian alokasi penghasilan saya pakai buat sekolah. Tetapi ternyata Tuhan memberikan rezeki yang membuat saya tetap hidup apa adanya sambil bersekolah.
Menurut saya, ada hal yang jauh lebih kritis ketimbang masalah finansial: motivasi, waktu, dan kesempatan. Uang masih bisa dicari. Tetapi siapa yang bisa menghentikan waktu? Ketika motivasi untuk belajar telah hilang, apa lagi yang mau dicari?
Makanya saya selalu berkata: mumpung keinginan untuk sekolah lagi masih menyala-nyala. Mumpung waktu masih mengizinkan kita untuk memiliki malam-malam penuh dengan suasana akademis. Mumpung perusahaan tempat kita bekerja mendukung dan memfasilitasi penuh bagi yang sedang bersekolah: memberikan dispensasi khusus ketika ujian, diperbolehkan untuk tidak lembur meskipun dikejar deadline, dst…
Karena, ada banyak orang yang punya uang tetapi tidak lagi merasa perlu untuk belajar lagi. Ada orang yang punya banyak uang tetapi tak punya waktu lagi, karena waktunya telah habis untuk kantor dan keluarga. Dan tentu saja, ada lebih banyak lagi yang tidak punya uang dan tidak punya motivasi, hahaha…
Besekolah formal itu berat. Apalagi jika waktu telah semakin tipis. Waktu anda akan habis, anda akan pulang sekolah pukul 10 malam, dan kehilangan weekend anda yang mengasyikkan. Selama dua tahun! Tetapi saya sendiri selalu suka tantangan, karena sesuatu yang berat untuk diperjuangkan itu selalu berbuah manis. Insya Allah…
Minke, Pahlawan yang Dilupakan
Minke adalah seorang tokoh rekaan dalam roman Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) mahakarya Pramoedya Ananta Toer. Ia adalah seorang anak Bupati “B” (entah inisial apa ini, Bojonegoro?). Seorang anak bangsawan. Semestinya ia menyandang nama panjang dengan gelar Raden Mas, tapi ia nampaknya lebih suka dipanggil nama samarannya ketika menulis di media: Minke. Entah siapa nama aslinya.
Kesadaran tentang nasionalisme tidak datang seketika di diri Minke. Dari Minke kita belajar tentang proses pencarian jati diri dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Ia tumbuh seperti layaknya orang dari kelas priyayi yang beruntung bisa mendapatkan pendidikan. Ia fanatik terhadap Eropa. Ia hanya mau berbahasa Belanda ketimbang berbahasa Melayu. Ia memandang rendah kelas yang lebih rendah dari bangsanya sendiri.
Ia banyak mendapatkan pengaruh pandangan dari Nyai Ontosoroh. Ia mulai belajar ketidakadilan adalah salah satu bagian dari hidup dari Annelies, isterinya. Ia mulai tersedak tatkala melihat kehidupan petani gula yang ditindas oleh pemerintah Belanda.
Mungkin seorang pejuang terlahir untuk tidak pernah bisa menikmati hidup yang nyaman dan tenteram. Seorang pejuang sejati selalu gelisah dengan status quo. Ia memiliki konflik dengan Ayahandanya. Ia memilih meninggalkan hidupnya sebagai anak Bupati yang kaya raya, memilih menuntut ilmu di sekolah dokter STOVIA di Batavia — dengan cita-cita bisa menyembuhkan bangsanya sendiri. Gaji dokter hanya beberapa gulden, jauh di bawah pejabat pamong praja — jika ia menerima jabatan dari Ayahandanya.
Nampaknya ia tidak tertarik pada gadis-gadis Jawa yang montok (definisi cantik di masa itu) yang kebanyakan hanya mengincar statusnya sebagai anak Bupati. Ia tertarik dengan kecantikan Eropa ala Annelies. Ia tertarik dengan gadis Cina yang lemah sakit-sakitan namun berpandangan luas dan berkemauan keras: Ang San Mei. Dari Mei ia belajar banyak tentang perjuangan dan nasionalisme modern.
Demikianlah. Seringkali kita membayangkan para pahlawan itu terlahir dengan kesadaran penuh tentang nasionalisme. Namun Minke tidaklah demikian. Sebelumnya Minke bahkan benci bangsanya sendiri, Eropa minded. Dari Minke kita belajar tentang nasionalisme. Sebuah kata yang nampaknya kini menjadi mahal dan sulit untuk ditemukan di hati para petinggi negara kita.
Comments