Entries Categorized as 'Intermezzzo'

Saya dan Social Media

Date July 14, 2010

Sekarang nampaknya adalah era social media yang sedang menguasai tren. Baik buatan luar ataupun lokal. Facebook, twitter sedang sangat populer di sini. Keterlibatan media konvensional (MetroTV, tvOne) turut membesarkan tren ini. Apalagi hadirnya Blackberry. Orang merelakan beli smartphone itu agar bisa facebookan dan twitter-an. Pasar Indonesia memang unik, sekaligus sadis!

Tentu saja, saya punya beberapa account social media. Buat saya apa saja fungsinya? Ini dia:

Facebook

Ini adalah social media yang dimana didalamnya sebagian besar adalah teman-teman di dunia nyata. Hanya sebagian kecil yang belum pernah saya bertemu muka secara nyata karena setiap ada request selalu saya perhatikan. Kalau merasa tidak kenal dan mutual friends-nya tidak terlalu banyak, langsung saya ignore. Saya upload foto dan video tentang aktivitas di sini. Tidak bisa sembarangan di facebook, karena kedekatannya dengan dunia nyata inilah, yang membuat semua hal harus dilakukan lebih hati-hati.

Plurk

Kebalikan dengan facebook, plurk adalah social media yang sebagian besar adalah teman-teman yang belum pernah saya temui secara nyata. Setiap ada friend request pasti selalu saya approve tanpa berpikir lagi. Seringkali yang add adalah anak-anak alay yang bikin sepet baca timeline-nya. Untuk kasus ini, biasanya saya cukup unfollow plurk mereka, tidak sampai me-remove menjadi friend.

Plurk adalah tempat saya mengutarakan uneg-uneg yang tidak mungkin saya pasang di facebook. Rasan-rasan tentang bos, teman kerja, mengeluh tentang sang kekasih yang sedang ngambek (atau saya yang lagi ngambek haha), dsb. Status begini ini sensitif kalau dipasang di facebook karena bisa berlanjut panjang ke dunia nyata. Kalau sedang tidak ada uneg-uneg, status nggak penting dimasukkan. Tujuannya untuk menjaga karma agar tidak jatuh. Paling sering saya isi lirik lagu yang sedang melintas di earphone.

Flickr

Tidak ada media tempat pamer foto-foto senyaman Flickr. Saya menggunakannya untuk meletakkan foto-foto serius untuk hobi fotografi. Model-nya yang seperti blog, aplikasi organizr dan fiturnya yang membolehkan kita melakukan hot linking dari luar Flickr membuat saya betah di sini. Saya sudah tiga kali memperpanjang account pro-nya dengan rata-rata jumlah foto yang diupload sekitar 200-an foto per tahun.

Twitter

Sebenarnya account twitter saya buat jauh sebelum plurk. Pada waktu itu twitter belum sepopuler sekarang dan bahkan beberapa orang teman mengajak pindah dari twitter ke plurk. Mungkin saya snob, kini ketika semua orang balik ngetwit, saya masih betah di plurk.

Menurut saya, Twitter lebih cocok untuk status-status yang sifatnya fire and forget, bukan untuk berinteraksi. Saya heran mengapa orang suka dengan twitter yang sangat freak dengan kode-kode teks-nya: RT, @, dan entah apa lagi.

Foursquare

Oh no, apalagi ini? Foursquare adalah semacam media untuk menginformasikan kita sedang berada di mana. Saya merasa orang jadi tahu posisi kita sehingga privasi agak terganggu. Karena itu saya jarang mengunjungi foursquare, mungkin karena ponsel saya tidak terlalu cocok untuk update-update posisi, jadi sampai saat ini saya belum aktif di Foursquare.

Terkadang terlalu banyak social media yang menyita waktu kita, tanpa terasa kita bisa menghabiskan tiga jam lewat begitu saja hanya klak klik ke sana ke mari di berbagai social media yang kita ikuti. Jadi berhati-hatilah dan selalu bijaksana menggunakan waktu.

Wal ‘ashr, innal insaana la fi qushr, ila…

Tentang Membuka Diri (Self Disclosure)

Date April 28, 2010

Saya pernah mendengar dongeng seperti ini: jika kamu dan pacarmu tidak pernah bertengkar, maka kemungkinannya ada dua: (1) kalian adalah dua orang yang sempurna; (2) kalian tidak serius dalam hubungan kalian. Karena tidak ada orang yang sempurna, maka besar kemungkinan ada di opsi (2). Mengapa kesimpulannya seperti ini?

Well, ini hanyalah sebatas contoh saja, celoteh saya ini berlaku tidak hanya hubungan dalam hal pacaran, tetapi lebih secara umum hubungan pertemanan dengan teman-teman kita.


(Gambar dari Wikipedia)

Alkisah dalam teori komunikasi, ada bagan bernama Johari Window. Bagan ini melukiskan mengenai diri kita dan hubungannya dengan orang lain. Seberapa banyak kita dan orang lain tahu tentang diri kita. Seberapa banyak kita tidak tahu tentang diri kita. Dan seberapa banyak, orang lain tidak tahu tentang diri kita.

Kedekatan kita dengan teman kita bisa diukur dari seberapa besar open area ini dalam Johari Window. Semakin kita membuka diri, semakin akrab kita. Membuka diri (Self disclosure), dalam artian membuka hal-hal yang sensitif tentang diri kita kepada orang tertentu. Dengan teman yang tidak terlalu akrab, mungkin kita hanya membuka hal-hal yang “aman” saja seperti misalnya tentang nama, tanggal lahir, tempat tinggal, hobi, kesukaan. Tetapi dengan teman yang lebih akrab, kita mungkin menceritakan tentang hal-hal yang lebih sensitif seperti pacar, perasaan, keluarga, dll.

Sensitif, karena berisiko. Kita tidak tahu informasi ini akan dipakai untuk apa oleh teman kita tersebut. Jika dia seorang yang suka gosip, mungkin informasi itu akan disebarkan kepada orang lain dan bisa berakibat runyam.

Awalnya Saya pikir, self disclosure hanya terbatas secara verbal saja, misalnya lewat media curhat, atau dalam kondisi yang baik-baik saja. Tetapi saya sadari, suatu pertengkaran, kesalahpahaman bisa disebut pembukaan diri juga. Dengan mengetahui reaksi teman kita, atau — sebaliknya — dengan menunjukkan reaksi kita terhadap sesuatu hal yang membuat tersinggung atau marah, kita bisa mengetahui batas-batas sampai di titik tertentu yang bisa membuatnya tersinggung. Dengan mengetahui batas-batas itu, kita bisa menggunakan cara komunikasi yang lebih baik lagi yang tidak menyinggungnya. Dengan begitu, hubungan ke depan akan menjadi lebih hangat.

Itulah kenapa, in certain circumstances, pertengkaran itu perlu. Hal itu membuka sisi-sisi yang selama ini selalu kita tutupi. Bagaimana orang bereaksi ketika ia sulit mengontrol emosi, bagaimana cara ia mengatasi kondisi marah, apakah dengan memukuli tembok, atau membanting apa yang ada di dekatnya, atau dengan diam. Tentu saja, pertengkaran cukup riskan. Self disclosure selalu berisiko. Tetapi saya yakin, setiap kali kita saling mengetahui sisi-sisi tertutup orang lain, semakin lebar open area dalam Johari Window, semakin bagus dan semakin akrab hubungan kita.

Tentang Kata “Which Is”

Date January 15, 2010

Udara dingin sedang menyelimuti Jakarta malam itu. Hujan deras menyusul tanpa ampun mengguyur kawasan Pancoran dan sekitarnya. Tetapi bagi saya, malam masih panjang. Di sebuah sudut ruang 303 gedung ILP Pancoran Jakarta Selatan, guru Bahasa Inggris saya, Ms Rina, sedang menjelaskan kalimat majemuk Bahasa Inggris yang menggunakan konektor from which.

Seketika itu pula, saya teringat oleh fenomena berbahasa yang cukup mengusik saya sejak tiga tahun yang lalu. Saya amati, para profesional khususnya di Jakarta ini cukup suka memakai bahasa campur-campur. Setengah Bahasa Indonesia, setengah Bahasa Inggris. Saya tidak tahu apa motifnya, tetapi saya sering menjumpai ini. Misalnya,

Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapore, which is itu sangat sulit kita lakukan.

Ini menarik. Which is. Saya kira, kalau kita konsisten menggunakan Bahasa Indonesia, kalimat di atas sebaiknya,

Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapura yang mana itu sangat sulit kita lakukan.

Penghubung yang selalu dipakai adalah which is. Padahal, di Bahasa Inggris sendiri, konektor banyak sekali macamnya tergantung konteks. Which is, who is, where, from which, in which, dsb. Artinya, kalau andai kalimat di atas dijadikan Bahasa Inggris, belum tentu penghubung which is itu tepat penggunaannya.

Lingua Franca

Banyak sekali unsur-unsur yang merusak (atau justru memperkaya?) bahasa kita. Paling sering saya temukan adalah penggunaan Bahasa Inggris. Mungkin Bahasa Inggris terdengar lebih enak di telinga ya? A New Day Has Come rasanya pas banget jadi judul blog saya ketimbang Suatu Hari yang Telah Tiba yang terdengar jadi aneh.

Mungkin karena Bahasa Indonesia adalah berkembang dari bahasa pergaulan (lingua franca) sehingga sangat fleksibel dalam struktur gramatikal dan mudah menerima pengaruh dari bahasa lain.

Memang rasanya jadi aneh jika dalam pergaulan kita menggunakan bahasa baku. Nggak usah jauh-jauh, saya merasa blog ini menjadi sangat resmi, sopan, kaku, nyungkani (segan), dan mau tidak mau itu mencitrakan saya. Tetapi itu semata-mata agar saya tetap bisa melatih dan menjaga Bahasa Indonesia saya dengan baik dan benar. Saya tidak terlalu piawai berbahasa dengan baik, oleh karena itu saya menulis dengan bahasa yang baik untuk melatih kemampuan berbahasa.

Saya pikir, kita sulit bisa menguasai Bahasa Indonesia baku dengan baik sekaligus Bahasa Indonesia gaul (loe gue ala orang Jakarta). Karena lidah saya adalah lidah Jawa yang tidak bisa direparasi lagi untuk mengeja gue dengan fasih, saya memilih untuk menjaga Bahasa Indonesia saya agar tetap rapi, terstruktur dengan baik, dan tidak terlalu melenceng dari kaidah. Sudah Bahasa Inggris berlepotan, Bahasa Indonesia sama saja. Secara tidak mampu dua-duanya, akhirnya yang ada adalah bahasa campur-campur nggak jelas seperti penggunaan kata which is itu tadi. :)

Yuk Berkhayal

Date June 5, 2009

Kalau pikiran lagi bosan begini, ngapain ya enaknya? Saya tadi kok tiba-tiba berkhayal bagaimana bentuk rumah yang ideal buat saya. Andai punya uang banyak, bisa beli apaaa saja, dan bisa merancang sendiri rumah semau kepala, hehe… Jadi bayangan saya, rumah yang ideal itu adalah:

  1. Langit-langitnya tinggi, udara segar dan sejuk.
  2. Rumahnya kecil saja, tapi bersih, cahaya matahari bisa masuk dengan leluasa.
  3. Ada warna hijau rimbun di halaman depan dan belakang. Yang di depan adalah taman kecil dengan rumput hijau, yang di belakang rimbun dan sejuk, ada saung kecil untuk bersantai setelah berkebun di hari sabtu atau minggu.
  4. Lalu di kamar tidur, kasurnya harus yang ekstra besar karena saya suka glundang-glundeng ke sana ke mari kalau lagi tidur.
  5. Di sudut ruang keluarga, ada Yamaha Clavinova untuk bermain lagu-lagu klasik Sebastian Bach, Ludwig Van Beethoven, dan Johan Pachelbell. Kemudian di sore hari saya mengajari putri perempuan saya yang masih kelas 2 SD membaca not balok.
  6. Ada satu ruangan lagi, tak terlalu luas, sempit saja. Di situ ada drum — tak perlu lengkap, cukup snare, bass, tom-tom, dan beberapa simbal, lalu ada gitar dari Fender atau Gibson, dan Roland RD-700 di sudut sana. Sound system secukupnya. Buat apa? Ini untuk bapak-bapak yang membentuk group band satu RT di kompleks situ. Warna musiknya, oldies, lagu andalannya: Easy dari Lionel Ritchie. :))

Hmm… itu saja dulu. It’s all about imagination. Karena tidak semua orang punya imajinasi dan daya khayal yang bagus. Sekarang sholat Jumat dulu, he he he…. Okeh… :D

Melepas Lelah

Date October 28, 2008

FLICKR
Lokasi: Puncak Gunung Gede
Self Portrait – Juru kamera: entah, lupa

Saya akan merindukan Puncak Gunung Gede ini. Saya tak tahu apakah masih kuat naik kesana kalau diajak lagi. Rasanya, kedua tungkai ini ketahanannya menurun sepulang dari Gede. Kapan yah bisa sesantai orang di foto itu… Ingin rasanya berlibur sejenak tanpa harus dibebani oleh deadline dan tanggung jawab yang menunggu di Jakarta…

* Liburan lebaran kemarin saya tetap tak bisa santai. Harus bekerja dari rumah :(