Peraturan Lalu Lintas yang Tidak Konsisten

Posted by: on Dec 19, 2012 | 3 Comments

Saya pikir salah satu biang kerok penyumbang ruwetnya lalu lintas Jakarta adalah ke-tidak-konsisten-an peraturan lalu lintas. Maksudnya pelaksanaannya itu, kadang iya kadang nggak, pak polisi tidak tegas dan punya standar ganda.

Misalnya tanda dilarang putar balik nih. Di perempatan 7-Eleven Mampang, kalau kita dari arah Rasuna Said, di situ terpampang jelas tanda dilarang putar balik. Tapi sepertinya jadi konvensi umum kalau di perempatan ini boleh putar balik. Mobil-mobil biasa melenggang putar balik dengan tenang meskipun ada pak polisi yang sedang jaga di perempatan itu. Lhawong dibiarin saja. Kalau motor sih triknya beda lagi. Kita belok dulu di pom bensin, lalu keluar pintu samping pom yang tembus di jalan satunya lagi. Di situ tunggu lampu hijau untuk belok kanan.

Di perempatan Kuningan beda lagi. Ini khusus berlaku bagi kami para pengendara sepeda motor. Dari jalan Rasuna Said kalau kita mau belok kanan ke jalan Gatot Subroto, cara yang halal adalah sebelum sampai perempatan, kita harus masuk jalur cepat untuk putar balik, kemudian masuk ke jalan Denpasar. Di situ tembus jalan Gatot Subroto lalu putar balik di bawah kolong perempatan Kuningan. Tapi cara ini ribet dan biasanya di jalan Denpasar macet gila.

Maka cara yang praktis adalah, lanjutin sampai perempatan kuningan, sok-sok mau jalan lurus, tapi pas sampai ruas jalan yang menuju jalan Gatot Subroto berhenti. Mundurin motor sedikit dan atur sedemikian rupa hingga jadi barisan terdepan di lampu merah yang menuju Gatot Subroto. Ini adalah cara belok kanan yang praktis dan sederhana, hehehe…

Di jam-jam sibuk, biasanya pak polisi akan mendiamkan saja, apalagi jika peserta dan pengikut cara ini banyak. Tapi ada juga yang strict yang mengusir pemotor untuk terus jalan lurus, apalagi buat belok kiri buat antri lampu merah di belakang. Dan yang paling kejam adalah pak polisi yang memberhentikan pemotor yang pakai cara ini dan menilangnya — biasanya si pemotor ini sendirian. Saya pernah diberhentikan begitu karena tidak ada temannya.

Jadi sekarang saya kalau melalui rambu-rambu yang tidak konsisten begini, atau lewat di tempat yang saya belum tahu kebiasaannya, saya nunggu teman dulu. Kalau ada yang melakukan, saya ngikut di belakangnya. Jangan sekali-sekali melanggar rambu-rambu sendirian karena kalau pas apes bisa benar-benar ditilang.

Sekian tips and trik bermotor di Jakarta, hehehe… ^_^

Menelusuri Awal Mula Blog Saya

Posted by: on Nov 2, 2012 | 9 Comments

Pesan moralnya (halah, belum apa-apa kok sudah pesan moral): Hati-hati apa yang teman-teman tuliskan apapun di internet. Internet akan menyimpannya: selamanya! Meskipun kalian sudah hapus, itu akan tetap disimpan selamanya sebagai aib atau karya sastra di belantara digital.

Saya baru saja menelusuri jejak-jejak tulisan saya di internet melalui http://www.archive.org, dan dia mengingatkan saya apa yang telah saya lupakan. Yuk, berjalan-jalan sebentar ke tujuh sampai delapan tahun ke masa lalu.

Saya mulai menulis sekitar tahun 2004, waktu itu saya belum mau dianggap blogger karena memang terminologi itu belum terlalu populer. Konsep saya tahun 2002 adalah memiliki website pribadi dan baru terlaksana ketika saya menjadi Sysadmin di NOC (Network Operation Center) Puskom ITS. Saya diberi satu IP Public (waktu itu Puskom diberi satu blok kelas C/24 IP Public dari RadNet), dan PC saya saya namakan eliza.its.ac.id. Inspirasinya dari Elizabeth, anak Teknik Industri 2002 yang saya ngefans kepadanya ketika kuliah TPB (kuliah bersama).

Generasi pertama web saya sudah berteknologi Java Server Faces (gila bo’, jaman segitu udah pake JSF aja). Lihat di sini deh: saya memakai struktur menu kayak begini:

  • Tentang Duniaku
    • Jadwal Kuliah – mahasiswa, jadwal kuliah, sekarang jadwal meeting kali ya
    • Jadwal Imsak 1426H – sekarang udah 1433H aja
    • Java –  saya masih di dunia Java hari ini
    • C/C++
    • Linux & Windows
    • Networking
    • Database
    • Serba-Serbi
  • Tentang Aku
    • About Me
    • Album Foto
    • Web Project –  portofolio web yang pernah saya buat
    • Dear Diary — cikal bakal blog.galihsatria.com
  • Tentang Hobiku
    • Lirik Lagu
    • Tablatur Gitar — jauh sebelum saya belajar piano
  • Tentang Kamu
    • Lihat Buku Tamu — buku tamu adalah tren tahun 2000-an
    • Ngisi Buku Tamu
  • Link Seru
    • Mas Sokam — salah satu mentor dan guru saya
    • Helmy Satria
    • Mbak Menik
    • Rena Ipeh — kira-kira kalau hari ini analoginya sama dengan Nike ya?
    • Foto P. Suhadi Lili — salah satu guru fotografi saya
  • Mbajak Berita

Saya juga ternyata pernah menulis tentang Macapat, tembang Jawa yang mungkin akan punah sepuluh sampai dua puluh tahun lagi. Kemudian, ketika Archive.org men-snaphost blog.galihsatria.com, ternyata yang di snapshot adalah waktu saya menulis Sayonara Surabaya, perpisahan saya dengan kota Surabaya menjelang kepindahan saya ke Jakarta, tertanggal 19 Oktober 2006. Hari pertama saya di VICO Indonesia adalah 1 Desember 2006, dan ternyata sampai hari ini saya masih ngantor di situ.

Setelah blog dan fotoblog, rencana saya akan menghidupkan kembali www.galihsatria.com lagi, dengan menambahkan resource-resource lain seperti studi saya di ilmu keagamaan, musik, membuat document management (semacam DropBox begitu) di situ, dan masih ada beberapa ide-ide untuk men-share apa yang sudah dititipkan ke saya. Tanggung jawab seseorang tatkala dikaruniai ilmu adalah membuatnya bermanfaat bukan? Karena saya bukan pengajar sekolah, saya adalah profesional, maka blog dan web adalah salah satu cara saya untuk berbagi. Syukur-syukur bisa membawa manfaat untuk teman-teman semua.

Cheers!

Perang Pengaruh dan Ideologi

Posted by: on Sep 8, 2012 | One Comment

Lewat Twitter saya mengenal Jamaah Islam Liberal (JIL) sekaligus para penentangnya: Anti JIL. Hal ini membuat saya cukup penasaran untuk mengetahui bagaimana sih konsep JIL itu sebenarnya. Saya tahu tokoh utama JIL adalah Ulil Abshar, dan yang membuat saya tertarik adalah bahwa dia itu menantu kiai NU yang kharismatik, KH. Mustofa Bisri.

Konsep utama dari JIL adalah pluralisme, bahwa semua agama pada hakikatnya baik dan benar. Benar seperti apa? Pertanyaan ini yang ingin saya cari jawabannya. Dan saya mencarinya harus dari JIL sendiri karena kalau dari sumber lain pasti sudah terkontaminasi oleh subjektivitas penulis, apalagi jika penulis berdiri berseberangan dengan JIL.

Pernyataan resmi yang lengkap dari pendapat “semua agama adalah benar” ada di artikel panjang yang berjudul “Mengapa Semua Agama itu Benar?” di webnya JIL. Sebuah pernyataan yang sebenarnya tidak bisa dibaca secara sepintas dan harus dengan perenungan yang dalam. Ini setara dengan pernyataan sufisme “manunggaling kawula lan gusti”. Biar bagaimanapun juga, artikel itu seharusnya hal itu bisa dihargai sebagai sebuah ide.

Permasalahannya memang konsep pluralisme tersebut rawan distorsi, baik di sisi pendukung JIL maupun yang anti JIL. Dan hal itu menjadi bahan perang baik secara urat syaraf maupun perang fisik yang memprihatinkan.

Konsep manunggaling kawula lan gusti, adalah kondisi saat sang sufi telah menemukan Tuhannya dan seolah-olah bersatu dengan-Nya secara hakikat. Sehingga dengan demikian secara hakikat, ketika sufi itu berkata, “Matilah kamu!” maka yang berkata begitu bukan dia lagi. Ini adalah ajaran tasawuf yang bisa dikatakan sangat “berbahaya” jika seseorang tidak memahami konsep itu dengan benar.

Ketika awal Islam masuk pulau Jawa dengan dibawa oleh Wali Songo, ada satu konsep tasawuf yang ikut masuk yang dibawa oleh Syekh Siti Jenar. Beliau mengajarkan konsep sufisme yang seolah-olah berlawanan dengan ajaran syariat Islam yang dibawa oleh Wali Songo. Oleh Wali Songo ajaran tasawuf dianggap belum saatnya diajarkan ke masyarakat Jawa yang masih sangat muda mengenal Islam, sehingga konsep tasawuf itu malah menjerumuskan kepada syirik. Akhirnya Syekh Siti Jenar dibunuh dengan alasan “politis”.

Mungkin bagi kaum fundamentalis, konsep JIL juga dianggap berbahaya bagi umat Islam yang masih dinilai belum siap menelaah konsep yang bermakna dalam dan halus. Bisa-bisa orang menjadi mencampuradukkan agama. Atau malah murtad dari Islam karena menganggap ritual di Islam terlalu berat — toh semua agama sama saja, kelak sama-sama naik surga.

Karena itulah banyak yang mengkafirkan JIL dan dituduh sebagai antek-antek barat yang haus akan dollar yang ingin merusak Islam dari dalam. Sebuah tuduhan berat yang saya sendiri tertarik untuk mengetahui apakah itu benar — karena jika itu tidak benar, tentu itu sudah menjadi fitnah yang serius.

Bagaimana dengan saya sendiri?

Saya tidak setuju konsep pluralisme. Pemikiran itu saya anggap terlalu rumit supaya tetap sesuai dengan konsep-konsep Islam yang saya percayai. Ilmu agama saya belum sampai pada pengertian makna-makna yang halus itu. Saya membaca surat Al-Kafirun secara harfiah. Toleransi beragama tidak perlu dilakukan dengan menganggap agama lain itu benar. Islam lah yang benar, haqqul yakin tanpa keraguan sedikit pun!

Toh, sahabat saya yang non muslim juga banyak. Saling menghormati saling menghargai satu sama lain. Saya biasa makan siang di rumah teman saya yang non-muslim. Sering juga teman saya yang non muslim tidur di rumah saya. Masalah akidah tidak perlu diributkan. Bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Aku tidak akan pernah menyembah apa yang kau sembah. Dan menurut saya dengan cara begitulah Islam menjadi rahmatan lil alamin dengan sendirinya, tanpa perlu dipaksakan.

Dear Diary

Posted by: on Jul 25, 2012 | 5 Comments

Tadi siang ada pengumuman di mailing list bahwa panitia kegiatan Ramadhan di kantor sedang mengadakan lomba curcol Ramadhan. Langsung saya ingat kalau awal-awal saya membuat blog ini yang isinya curhat mlulu. Kebetulan tadi juga si Dhika di chatting entah kesambet apa tiba-tiba mengutip salah satu postingan saya yang paling galau. Iya sih, postingan yang mendayu-dayu itu telah mengalami pengikisan makna menjadi galau.

Jadi ini hasil karya saya barusan. Spontan begitu saya masih bisa bikin postingan yang galau lho ternyata. Saya mengapresiasi diri sendiri yang begitu cepatnya menemukan kosa kata “berdentam-dentam”, “bertalu-talu”, “sedang dilanda badai cinta sedahsyat badai Katrina”.

Dear diary,

Ada ngga sih cara supaya ngga galau di bulan Ramadhan? Tiap kali menjelang sahur rasanya hati ini kok berdentam-dentam bertalu-talu, selalu ingat masa-masa ketika ada seseorang yang menemani setiap makan sahur. Meskipun hanya sekadar sebuah miscall, tetapi buat orang yang sedang dilanda badai cinta sedahsyat badai Katrina, itu berarti banyak. Itu artinya sebuah perhatian. Sedikit bisa mengurangi suasana dingin di dini hari.

Ketika Pengeluaran Sudah Efisien

Posted by: on Jun 29, 2012 | 2 Comments

Dalam buku saya “Merencanakan Keuangan dengan GNUCash”, hanya ada dua komponen dalam pengelolaan Cash Flow, yaitu pemasukan dan pengeluaran. Saya banyak membahas pengeluaran karena buat saya ada ruang yang luas untuk diotak-atik di bagian pengeluaran ketimbang pemasukan. Mengatur pengeluaran adalah mengatur bagaimana cara kita hidup dan gaya hidup. Sedangkan pemasukan, bagi kita yang rata-rata adalah staf profesional, gaji adalah pemasukan yang besarannya tetap dan paling-paling kenaikannya hanya untuk mengimbangi inflasi setiap tahunnya.

Teman saya bertanya, apa yang harus dilakukan ketika pengeluaran sudah efisien — sudah mentok tidak bisa diperkecil lagi, kalau harus diperkecil hidup jadi sengsara. Tidak ada pilihan lain, harus menaikkan pemasukan. Caranya? Nah!

Bagaimana caranya supaya kita digaji lebih tinggi? Salah satu cara yang sering dipakai teman-teman saya adalah meloncat pindah kerja ke perusahaan lain. Saya tidak suka cara ini (dan kenyataannya dari sejak lulus sampai sekarang saya masih bekerja di perusahaan yang itu-itu saja). Pindah kerja tidak hanya pindah pekerjaan, tetapi segala hal yang akan mewarnai hari-hari kita akan berubah total.

Secara nominal gaji memang akan naik, tetapi siapa jamin kita akan menemukan suasana yang sama enaknya di perusahaan baru? Apakah teman-temannya sehangat sekarang? Atau bukannya malah penuh intrik dimana karyawannya bekerja sampingan menjadi politikus lokal? Atau lifestyle dari lingkungan sekitar, misalnya. Andai saya di Chevron Indonesia yang berkantor di Sentra Senayan (yang berhubungan langsung dengan Plaza Senayan, selemparan batu ke Senayan City), saya tidak yakin saya bisa mempertahankan pengeluaran seperti sekarang dimana kantor jauh dari mal.

Lalu bagaimana dengan fasilitas-fasilitas non gaji lainnya, seperti misalnya ekskul olahraga, seni, dan keagamaan? Terus terang yang membuat saya betah bekerja di tempat sekarang adalah bahwa keagamaannya hidup dan semarak. Alhamdulillah saya berhasil shalat lima waktu tidak bolong-bolong lagi ya di kantor ini (kebetulan meja saya dekat mushola hehe). Itu saja sudah pencapaian yang luar biasa buat saya.

Itu pertimbangannya. Apakah nggak boleh pindah kerja? Tentu saja boleh — saya juga tidak mungkin selamanya akan bekerja di tempat ini terus, saya tidak ingin mendapatkan Service Award setelah 30 tahun bekerja di tempat yang sama. Saya juga akan loncat ketika saya telah tiba di puncak — atau mentok tidak bisa ke puncak.

Jadi bagaimana cara menaikkan penghasilan tanpa loncat pindah perusahaan? Ya minta naik gaji, hehe…

Dengan cara sehat tentunya. Tingkatkan skill dan performance pada pekerjaan. Pegang posisi-posisi strategis. Hanya atasan yang bebal yang tidak bisa melihat kemajuan bawahannya dalam melaksanakan pekerjaan. Atasan yang baik akan memberikan kepercayaan lebih, dan ketika kepercayaan yang lebih itu bisa kita selesaikan dengan brilian, gaji akan terkatrol dengan sendirinya. Iya kan, posisi kan naik, gaji tentunya juga akan naik.

Karena setiap atasan akan selalu melihat potensi anak buahnya. Atasan selalu mencari siapa yang bisa dipercaya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Ketika seorang atasan melihat salah satu anak buahnya biasa-biasa saja, ia akan diberikan pekerjaan yang biasa juga. Iya dong, tidak mungkin dia memberikan pekerjaan kepada orang yang ia sendiri tidak yakin bisa mengerjakan. Buntutnya, tidak ada justifikasi yang masuk akal untuk menaikkan gaji orang tersebut. Cara meyakinkannya, ya hanya dengan menunjukkan performance yang luar biasa. Exceed Expectation kalau orang HR di kantor saya bilang.

Tapi cara yang ini adalah cara yang tidak instan – cara yang baru kelihatan hasilnya dalam waktu berbulan-bulan hingga tahunan. Karena ini adalah proses pembangunan reputasi. Perlu kerja keras dan konsistensi yang panjang. Dan sialnya ketika atasan Anda memang bebal, Anda tidak akan mendapatkan apa-apa. Cara yang lebih instan sudah saya bahas di atas: loncat pindah kerja atau menjadi politikus lokal, hehehe…

Tentang Firas dan Zarah (Novel Partikel)

Posted by: on May 3, 2012 | 7 Comments

Zarah adalah nama tokoh dalam novel Supernova terakhir Dee: Partikel. Sedangkan Firas adalah ayahnya Zarah. Mereka berdua adalah ilmuwan sejati yang memiliki gagasan-gagasan gila (seperti ilmuwan pada umumnya).

Firas adalah ilmuwan yang ngefans berat sama teori Darwin, bahwa manusia berasal dari evolusi kera/orang utan. Terbukti bahwa 97% DNA Orangutan mirip dengan DNA manusia. Kemudian, ada makhluk dari dimensi lain yang menculik manusia kera itu dan dikarantina di suatu tempat — yang disimbolkan sebagai surga Firdaus. Tiba-tiba manusia itu mengetahui rahasia reproduksi yang membuat mereka bisa berkembang biak di luar kendali makhluk dimensi lain itu — yang disimbolkan sebagai “buah pengetahuan” terlarang yang dimakan Hawa. Akhirnya manusia dikembalikan ke bumi — yang disimbolkan manusia dikeluarkan dari surga Firdaus.

Dewi Lestari, melalui tokoh Firas dan Zarah, secara halus mengritik banyak hal tentang kehidupan beragama. Bagaimana Zarah dikucilkan dan dicap atheis di sekolah. Termasuk ketika Abah, kakek Zarah, malah naik pitam ketika Zarah menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang lugas tentang keimanan. Abah malah menampar Zarah ketika Zarah berkata, “Bahkan kalaupunTuhan itu ada…”.

***

Firas dan Zarah, seperti banyak ilmuwan yang lain, gagal memahami esensi ketidaktahuan sebagai pengetahuan. Zarah gagal memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya pada setiap penciptaan-Nya dan terus memburu jawaban-jawaban ilmiah yang dingin dan logis.

Ilmu pengetahuan sangat banyak dibahas di Al-Qur’an. Coba tengok Al-Baqarah 212, Yunus 24, Luqman 27, Ar-Rum 21-27, 46, 48, 49 dst. Dan yang bikin menohok, banyak ayat-ayat yang ditutup dengan kalimat, … yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir. Atau di ayat yang lain dengan pertanyaan yang diulang-ulang, Apakah kamu tidak mendengar? Apakah kamu tidak memperhatikan?

Ayat-ayat tersebut seperti mengingatkan saya yang bebal dan tidak melihat apa yang sebenarnya terlihat mencolok mata. Memang dalam beberapa titik, ada hal yang tidak bisa dijelaskan karena ketidakmampuan manusia itu sendiri. Abu Bakar ra. pernah berkata, pengetahuan untuk mengetahui ketidaktahuan adalah pengetahuan. Manusia hanya diberi pengetahuan yang amat sedikit, dan seharusnya manusia cukup tahu diri karenanya.

Zarah adalah satu contoh dari orang yang gagal mendapatkan esensi ilmu pengetahuan. (Apa esensinya, menurut saya adalah untuk memahami kebesaran Allah SWT melalui ciptaan-ciptaan-Nya). Ia hanya terhenti pada titik kekaguman dan pemujaannya kepada alam semesta, tidak terus mencari ke sumber pencipta alam semesta itu.

Sayang sih, padahal dia kan cantik. Ukuran bra-nya 34C lho… *halah! apa hubungannya*

Tentang Novel Kriminal dan Pembunuhan

Posted by: on Mar 21, 2012 | 11 Comments

Kalau ditanya jenis novel apa yang paling saya suka, saya tentu akan menjawab dengan pasti: novel pembunuhan. Meskipun saya suka romantisme, tapi saya selalu bosan membaca novel-novel tentang jatuh cinta dan patah hati. Saya juga akan merasa terlalu tua kalau lagi baca novel teenlit yang ceritanya tak jauh-jauh dari rebutan pacar. Dan saya sebut novel-novel percintaan Islami itu sama semua gayanya: pakai gayanya Habiburrahman El-Shirazy.

Teman saya di Twitter ada yang geleng-geleng, apa nggak menjijikkan mengimajinasikan darah-darah berceceran, tangan dipatahkan, leher ditebas pedang, leher dijerat sampai putus nafas dan lubang dubur terbuka, dll. Tapi anehnya saya bisa membaca pembunuhan Barzini, Philip Tattaglia, Carlo, dan musuh-musuh keluarga Corleone di novel Godfather sambil makan dengan nikmat. Baiklah, mungkin sekarang teman-teman menganggap saya punya bakat psikopat…

Tapi terlepas dari kekejamannya, novel kriminal menurut saya lebih kaya muatan dan pengetahuan. Di sini tidak melulu hanya pembunuhannya, tetapi ada seni perencanaan pembunuhan berencana. Ada konflik batin dimana seseorang dihadapkan pada satu pilihan: membunuh untuk menyelamatkan umat manusia. Ada drama romantis hero worship. Ada cinta posesif yang berujung kematian. Ada filosofi. Kadang-kadang ada sastra Shakespeare (Othello, Romeo and Juliet).

Nah, karena itu saya suka membaca novel kriminal. Selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari, selalu ada pengetahuan baru. Saya mungkin sudah membaca novel Godfather ratusan kali, karena apa yang saya lihat dari seorang Don Vito Corleone bukan kekejamannya, tapi leadership-nya, visinya, seni negosiasinya yang membuat dia menjadi seorang negarawan dunia bawah tanah yang jauh lebih sukses dari Paus dalam membawa misi perdamaian dunia bawah tanah.

Saya suka sosok Hercule Poirot yang sombong bukan main, tetapi itu saya anggap sebagai sebuah kepercayaan diri. Dia tidak pernah menyombongkan hal yang tidak bisa dia lakukan. Saya suka sosok Sir Charles Cartwright yang mempesona, seorang aktor yang membuat dramanya sendiri, menjadi peran-peran yang ia inginkan di kehidupan nyata. Bahkan saya suka Jupiter Jones, yang mengandalkan kecerdasan otaknya dan kemampuan analisisnya yang luar biasa.

Pernah saya mencoba membaca novel yang kelihatannya adalah drama romantis. Penulis macam Sandra Brown novel-novelnya drama romantis bukan? Tapi apa yang saya dapatkan? Sebuah petualangan dokter muda cantik yang dikagumi oleh seorang pembunuh bayaran. Pembunuhan lagi, hahaha…

Mungkin saya harus ambil novelnya Mira W kalau ingin baca novel drama percintaan yang benar-benar romantis.

Switch to our mobile site