Golden Moment
Jika saya ditanya, kapan waktu terbaik untuk memotret landscape, maka saya akan menjawab begini…
Dalam sehari ada dua kali kesempatan yang diberikan untuk fotografer untuk mendapatkan hasil yang terbaik, yaitu pagi dan sore. Waktu pagi adalah mulai matahari terbit sampai jam sembilan, sedangkan untuk sore adalah sekitar jam empat sampai tenggelam matahari. Makanya salah satu kehebatan fotografer landscape adalah kemampuannya bangun pagi dan langsung ngebut ke lokasi gak pake mandi ). Jadi kira-kira ada waktu sekitar dua sampai tiga jam.
Tetapi ada satu lagi waktu yang disebut golden moment, ini adalah saat yang paling tepat untuk memotret landscape untuk night shot. Meskipun namanya night shot, waktu terbaik pengambilannya sebenarnya bukan malam hari karena saat itu langit sudah gelap gulita sehingga kurang artistik untuk dilihat.
Golden moment adalah waktu sesaat tepat setelah matahari tenggelam, dimana semburat merah candikala sudah hilang dan digantikan oleh warna biru. Yap! Warna biru! Biru yang kontras dan tebal. Dan saat lampu-lampu kota sudah menyala dihiasi warna biru langit yang tua, maka foto night shot akan terlihat sempurna. Dan fotografer hanya diberi waktu sekitar sepuluh sampai lima belas menit saja untuk menyelesaikan semuanya. Setelah itu langit akan segera berubah menjadi hitam kelam. Saya sering terkesima menyaksikan cepatnya perubahan alam itu terjadi dan tahu-tahu saja saya sudah tidak bisa pencet shutter lagi.
Selamat hunting, salam jepret!
Prigi Lagi
Sebuah sudut lain sisi sebelah timur dari Pantai Karanggongso, Prigi Trenggalek.
Parade Satwa
FLICKR
Lokasi: Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm APO Macro
Selamat Ramadhan 1432H
FLICKR
Lokasi: Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm APO Macro
Meskipun terlambat (tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?), izinkan saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1432H bagi yang melaksanakan. Maafkan saya jika ada salah-salah ucap dan tulis baik yang saya sengaja dan (utamanya) yang tidak saya sengaja. Maafkan saya atas segala kesalahan, untuk hati yang saya sakiti. Sebenarnya tidak ada maksud kecuali hanya saya yang khilaf sebagai manusia yang darahnya sering bergejolak.
Saya mengambil foto burung merak sebagai tema Ramadhan ini karena dua hal. Burung Merak mengepakkan ekornya yang indah hanya untuk menarik lawan jenisnya. Ia mengembangkan ekornya selebar-lebarnya, menunjukkan semua hal yang dimilikinya. Tulus, tidak ada yang ditutup-tutupi.
Dua hal yang bisa kita tarik pelajaran dari burung Merak ini. Ketulusan dan keikhlasan harus menjadi semangat kita dalam setiap tingkah laku kita. Sekaligus menjauhi sikap sombong dan riya’ yang suka ditunjukkan oleh si Burung Merak untuk menarik pasangannya. Dua hal yang nampaknya bertentangan, tetapi sesungguhnya tidak.
Menengok Car Free Day di Jl. Pemuda
Setahun yang lalu, saya menulis essay fotografi tentang Car Free Day di jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat, yang diadakan di minggu terakhir setiap bulan. Di sana saya menulis ajang CFD tidak hanya sebagai sarana olahraga pagi yang sehat, tetapi sebuah arena ekspresi dan unjuk lifestyle.
Hingga sekarang, antusiasme masih sangat luar biasa sehingga Car Free Day diadakan dua kali sebulan. Bahkan di hari minggu biasa pun, jalur cepat harus ditutup sampai sekitar jam sepuluh karena begitu banyak masyarakat yang bersepeda.
Semangat bersepeda pun merambah tidak hanya di pusat kota. Salah satunya Jakarta Timur yang menggelar Car Free Day di sepanjang jalan Pemuda mulai perempatan yang menuju terminal Rawamangun hingga ujung timur persimpangan yang menuju terminal Pulogadung. Secara sekilas, tidak ada yang berbeda, tapi saya merasakan atmosfer yang sangat mencolok.
Di sini, tidak ada mobil-mobil SUV mewah yang parkir di tepi jalan menggendong sepeda mountain bike belasan hingga puluhan juta rupiah. Di sini tidak ada sepeda-sepeda kemilau dengan pesepeda yang… trendy, dandy, berpakaian olahraga dengan cermat, seakan-akan mau ke pesta saja bukan berolahraga.
Di Jl. Pemuda, saya menemukan atmosfer yang lebih merakyat. Mayoritas peserta CFD adalah penduduk kampung di belakang Jl. Pemuda. Jalanan relatif lebih lengang sehingga banyak yang menggelar lapangan bola di tengah jalan, bermain bulu tangkis, berjalan kaki, senam pagi, sampai anak-anak yang jungkir balik di tengah jalan yang selalu macet hampir 24 jam ini (wajar, ini adalah salah satu poros utama penghubung Bekasi-Jakarta).
FLICKR
Lokasi: Jl. Pemuda, Jakarta Timur
Kamera: Panasonic Lumix DMC F-3
Summer
FLICKR
Lokasi: Wisma Mulia, Jakarta Selatan
Panasonic Lumix DMC-F3
Saya tidak menduga kalau apa yang terlintas di pikiran saya ketika memotret foto ini bisa ditebak oleh Lisyin, di form komentar di Flickr ini. Memang saya membayangkan suasana seperti di film-film Korea (atau film seri Japan AV hehe). Salah satu kebahagiaan memotret itu adalah ketika apa yang terlintas di kepalamu bisa terbaca melalui fotomu. Jadi, saya sangat gembira dengan komentar Lisyin tersebut.
Motif Rumah Gadang
FLICKR
Lokasi: Anjungan Sumatera Barat, Taman Mini Indonesia Indah
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm Macro APO
Bahkan hal-hal yang sepele seperti motif penghias rumah saja sudah menunjukkan bahwa Indonesia itu kaya raya. Terlalu kaya sehingga orang tidak menyadari bahwa Indonesia itu sangaaaaaaaaattt kaya ragam budaya. Ini adalah motif khas Minangkabau. Berbeda dengan motif ala Jawa, Dayak, Bugis, dan ribuan suku yang tersebar di seantero Nusantara.
Comments