Entries Categorized as 'Fotografi'
July 23, 2010

FLICKR
Lokasi: Stasiun Gambir, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Kereta Argo Lawu, kereta terbaik menuju Solo yang bisa disediakan PT KAI, malam itu berangkat sejam lebih lambat dari yang dijadwalkan. Tiba di stasiun Solo Balapan dua jam lebih lambat daripada yang tertulis di tiket. Setajam jadwal kereta api, he?
Posted in Daily Photos, Night Shot, Still Life
No Comments »
July 15, 2010

FLICKR
Lokasi: Pernikahan Nida-Hanif, Patra Graha Cilacap, Jawa Tengah
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Nikon Speedlight SB-600 dan internal flash
Salah satu fitur yang saya suka dari Nikon D90 adalah kemampuan flash internalnya yang luar biasa. Berbeda dengan flash internal pada umumnya, dia bisa mengukur cahaya dengan cerdas sehingga cahaya yang ia keluarkan tidak harsh, dan masih bisa mendapatkan ambience light dari background. Kesalahan saya tidak menunggu sedikit lebih lama untuk mengetahui kesaktian flash kecil ini, saya terlanjur menambahkan flash eksternal Nikon SB-600.
Tidak hanya itu saja, flash kecil ini juga memiliki kemampuan menjadi commander dari sistem pencahayaan flash eksternal. Jika Anda pernah datang ke pesta pernikahan dan melihat lampu-lampu digantung di atas tripod tinggi dihiasi payung kecil, itulah sistem flash eksternal. Nah, untuk mengendalikannya, perlu alat tambahan khusus bernama wireless flash commander atau speedlight eksternal semacam Nikon SB-800 atau SB-900. Dengan Nikon D90, alat tambahan itu tidak diperlukan lagi.

Foto di atas saya ambil dengan “mencuri” lighting-nya tukang foto. Saya set commander di channel 2 (setelah saya coba-coba dengan channel 1 dan 3). Hasilnya: like a pro! Jika saya memotret ke arah panggung, SB-600 bebas tugas saya kantongi. Bahkan flash internal saya bikin underexposed -1.7 EV supaya saya benar-benar mendapatkan efek cahaya samping dari sistem lampunya tukang foto.
Untuk Knip dan Nida, selamat menempuh hidup baru, selamat membangun keluarga yang penuh cinta kasih yang selalu dirahmati Allah SWT. Amiin…
Posted in Catatan Harian, Model
No Comments »
July 5, 2010

FLICKR
Lokasi: Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Siapa suruh jika hujan turun di bulan Juli, bulan yang seharusnya menjadi bulan yang kering? Tetapi itulah yang terjadi malam minggu kemarin, waktu saya dengan penasarannya ingin tahu bagaimana suasana arena Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair) yang diselenggarakan setiap tahun bertepatan dengan ulang tahun Jakarta. Hujan datang tanpa bisa dicegah, kerumuman orang yang berdesakan bubar mencari tempat berteduh seadanya, termasuk saya.
Akhirnya waktu kejenggreng di tenda foodcourt, saya berpikir, PRJ benar-benar miniatur Jakarta. Pusat bisnis dan perdagangan terbesar dimana manusia berdesak-desakan entah mencari apa. Sampah menggunung. Dan akhirnya lengkap dengan banjir. Seperti aslinya, nampaknya sistem sanitasi area ini juga kurang baik karena banyak genangan air waktu hujan.
Posted in Catatan Harian, Human Interest, Night Shot
6 Comments »
July 4, 2010
Waktu saya melepas kamera DSLR pertama saya, Nikon D40, bisa dikatakan bedol desa. Betapa tidak, bersamanya pula ikut lensa kit 18-55 mm dan lensa tele 55-200 mm VR. Dua lensa yang meskipun murah tetapi kualitasnya superb. Eh, tidak hanya itu saja, speedlight berpower raksasa Nissin Di 622 juga ikut. Hlah? Entahlah, mungkin waktu itu saya dihipnotis, hahaha…

Saya memutuskan Nikon D90 karena pilihan logis ada di sini. Kalau D3000 atau D5000, Nikon D40 jauh lebih bagus. Nikon D300 terlalu mahal untuk sekadar menjadi kamera penghobi fotografi dan saya memiliki kesan pertama yang kurang baik untuk D300. Picture control-nya agak terlalu vivid bahkan untuk settingan netral. Jadinya ndemblok seperti karakternya Pentax yang juga tidak saya sukai.
Kualitas
Nikon D90 disebut-sebut sebagai kamera terbaik Nikon saat ini. Saya sangat setuju. Lensa kit 18-105 mm VR-nya tajam. Sesuai ekspektasi. Rentang focal length 18-105 mm benar-benar seperti gabungan dua lensa awal saya 18-55 mm dan 55-200 mm dengan sedikit kehilangan jarak di zoom terjauhnya, tetapi dengan keuntungan tidak perlu gonta-ganti lensa. Ini menghilangkan efek distorsi dan softness karena konstruksi focal length terlalu panjang, seperti yang sering saya temukan di konstruksi lensa sapu jagat 18-200 mm (bahkan lensa Nikon 18-200 mm yang mahal itu).
Dibandingkan dengan lensa 18-135 mm, lensa kit D90 jauh lebih baik karena sudah dilengkapi teknologi VR (Vibration Reduction). Ini sangat berguna untuk saya yang malas menghunus tripod dari sarungnya. Saya cukup heran bahwa di D90 yang lebih berat bisa pegang dengan stabil sampai 1/2.5 detik. Padahal di D40 maksimal di 1/8 detik.
Tentang noise, D90 satu stop lebih baik ketimbang D40. Batas toleransi saya di D40 adalah di ISO 800, tetapi dengan D90, saya masih cukup oke dengan menaikkan ISO di 1000 hingga 1250.
Fitur dan Handling
Fitur yang paling mengesankan adalah LCD-nya yang besar dan tajam. Ini membuat memotret menjadi sangat menyenangkan. Rasanya hasil foto menjadi lebih bagus. Nikon D40 adalah DSLR pertama yang ber-LCD besar, dan itu sudah sangat menyenangkan. Bandingkan dengan kakak tertua D90, Nikon D70, yang ber-LCD kecil. Harus memicingkan mata dulu kalau mau melihat. Di sini, setiap detail, warna, dan depth of field bisa langsung dinikmati dan segera diperbaiki dengan jepretan berikutnya kalau ada yang kurang pas.
Ada banyak tombol dan kombinasi tombol untuk mengatur setting. Menu yang tersedia tiga kali lipat lebih banyak ketimbang Nikon D40. Ada banyak fitur baru yang belum saya kenal. LCD kecil di sebelah kanan menunjukkan informasi lengkap tentang setting yang digunakan. LCD ini saya juluki sebagai: pembeda kamera Nikon seri pro dan seri pemula ;-).
Movie dan Live View
Saya tidak akan menggunakan fitur movie meskipun kualitasnya bagus. Aneh rasanya merekam video dengan alat yang konstruksinya dirancang untuk memotret. Saya akan lebih sering merekam video dengan Ixus kecil saya yang sudah cukup memenuhi kebutuhan.
Saya juga akan jarang memakai mode live view. Salah satu kenikmatan memotret dengan DSLR adalah mengintip melalui viewfinder. Fitur ini baru berguna untuk memotret di sudut-sudut sulit yang tidak mungkin untuk mengintip melalui viewfinder.
Kesimpulan
Ken Rockwell bilang, if price does matter, grab D5000 instead. Tetapi memotret di D90 merupakan pengalaman baru yang mengasyikkan. Nikon D90 tidak hanya sekadar D5000 dengan tambahan tombol. Ada banyak hal yang D90 jauh lebih baik dan worth it dengan perbedaan harganya.
Jika Anda adalah fotografer pemula yang akan memilih kamera pertama, mungkin D90 bukan kamera yang terlalu tepat. Akan ada terlalu banyak fitur yang tidak terpakai. Nikon D3000 atau D5000 lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan bereksplorasi dengan komposisi dan beberapa keterbatasan yang membuat kita jadi lebih kreatif lagi.
Ada rumor yang beredar bahwa masa hidup D90 sudah hampir berakhir, melihat kamera ini dirilis di tahun 2008. Tetapi ketimbang Anda menunggu, saya pikir lebih baik membelinya sekarang dan memulai memotret. Saya meramalkan penerus D90 adalah semacam D90s atau D90x atau apalah namanya — tidak akan ada banyak peningkatan dan akan lebih menjadi strategi pasar untuk menaikkan harga dan mempertahankan tren.
Contoh hasil foto Nikon D90 bisa dilihat di halaman Flickr saya di sini.
Posted in Fotografi, Review
8 Comments »
July 2, 2010

FLICKR
Lokasi: Kinara Restaurant, Kemang, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS (Powershot SD 940 IS)
Roses are red
Violets are blue
Honey is sweet, but not as sweet as you
Puisi pendek ini saya temukan lama sekali di sobekan koran iklan film Titanic. Ini sering saya pakai buat merayu, atau membumbui suasana di saat saya memerlukan efek gombalisme. Tetapi waktu saya melihat buket mawar merah di sudut ruangan yang ditemani dua buah lilin untuk penerangan sekadarnya, bukan efek romantis yang saya tangkap. Saya justru mengingat simbolisasi mawar berduri sebagai lambang seorang wanita cantik yang melukai pria-pria yang mengharapkan cintanya.
Mawar berduri, kini kupergi
Dengan membawa luka di hati…
Posted in Still Life
No Comments »