Entries Categorized as 'Night Shot'

Selendang Malam

Date March 16, 2010

selendangmalam2.jpg

Lokasi: Gate 1 VICO Indonesia, Muara Badak Kalimantan Timur
Canon Ixus 120 IS

Selendang malam mulai turun menutupi semburat kemerahan senja yang beranjak pergi. Keheningan segera menyeruak. Bintang-bintang berkelap-kelip riang gembira menyambut datangnya malam. Suasana yang tidak akan pernah saya temui di Jakarta ini membuat saya disergap sensasi yang aneh. Kehidupan para pekerja lapangan, kehidupan masyarakat sekitar camp, hutan-hutan, hingga perasaan mistik yang unik yang hanya ada di sini membuat tugas lapangan kali ini menjadi sangat menyenangkan.

The Batavia Hotel

Date May 26, 2009

FLICKR
Lokasi: Kawasan Kota Tua, Jakarta
Nikon D40 |Nikkor AF-S 18-55 mm

Siapa bilang komposisi dead center itu haram? Siapa bilang lampu sorot itu mengganggu? Buat saya, tak masalah tuh!

Rangkaian foto tur museum Jakarta Night Heritage Trail saya akhiri di foto Hotel Batavia ini. Meskipun nyaris membawa peralatan lengkap, pada praktiknya saya hanya memakai lensa mid-range 18-55 mm. Saya tahu ini perjalanan malam dan seharusnya saya juga membawa tripod Velbon hitam saya, tapi karena berat dan panjang, saya jadi malas membawanya. Mungkin nanti perlu beli tripod kecil yang ringan agar enak dibawa-bawa dalam suasana begini. :D

Sebagai penutup, saya berharap benda-benda bersejarah saksi kekuasaan penjajah di Jakarta ini bisa bertahan selama mungkin. Menarik sekali mengikuti sejarah, pemikiran-pemikiran para gubernur jenderal, konsep tata ruang mereka yang dipengaruhi tata ruang Eropa, dan segala romantisme masa lalu. Semoga bangunan-bangunan ini selamat dari korban vandalisme.

Terima kasih buat EO dan kawan-kawan yang begitu riuh dan semangat mengikuti tur ini. Album tentang riuhnya suasana JNHT ini bisa dilihat di Facebook saya. See you in the next tour guys!

Kanal Batavia

Date May 24, 2009

FLICKR
Lokasi: Jembatan Kota Intan, Kawasan Kota Tua, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm

Ini adalah sisa peninggalan kota kanal air Batavia. Tata ruang seperti ini dirancang oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang disebut dengan The New Uptown. Ia memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam tata ruang Batavia pada masa pasca VOC. Hotel Batavia (saya tunjukkan fotonya besok), yang megah dibangun tepat di tepi kanal adalah salah satu bukti kalau transportasi air adalah primadona saat itu. Di atas kanal ini dibangun sebuah jembatan dari kayu bernama Jembatan Kota Intan. Terlepas dari namanya yang unik, konstruksi jembatan kayu ini sampai sekarang masih menyisakan mekanisme buka tutupnya, yang dibuka kalau ada kapal atau perahu yang lewat.

Hanya Sebuah Night View

Date May 21, 2009

FLICKR
Lokasi: Menara Tawang Museum Bahari, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm

Perjalanan kami terus ke utara hingga sampai di kompleks Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan ini adalah pelabuhan utama Batavia. Tempat yang sekarang menjadi Museum Bahari ini dulu adalah galangan kapal dan tempat penyimpanan rempah-rempah sebelum masuk kapal dan segera dikapalkan ke Belanda. Oh iya, ternyata kawasan ini zaman dahulu adalah kanal-kanal seperti di Venesia, jadi saya membayangkan ketika naik di menara kecil ini, hamparan yang di depan saya ini adalah kanal-kanal yang rapi, perahu-perahu hilir mudik, air laut yang biru, bukan penuh dengan bangunan padat semrawut seperti sekarang ini.

Moonlite Sonata

Date April 21, 2009

FLICKR
Lokasi: Beranda Rumah Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | Velbon CX-440

Kawanku,
Malam ini kamu kulihat indah sekali
Hitamnya langit begitu pekat,
Satu-satunya yang menerangi cuma merahnya sinarmu

Kamu tetap sama seperti bulan-bulan yang silam
Dan kamu akan tetap sama esok, lusa, dan tahun depan
Kadang sekali-sekali kamu tersenyum mengejek melihat berjuta mata di bumi
Kadang pula, kamu tersenyum manis juga kok…

Sebab sobat, dalam suasana seperti ini, penontonmu cuma ada dua model
Ada yang menonton sambil berdendang,
Bulan indah berkilauan, namun lebih indah wajahmu…
Ada yang diam sambil mengeluh dalam hati,
Diriku kini sendiri…. menghitung hari… detik demi detik…

Aku tak tahu, sekarang ini aku di posisi yang mana
Yang aku tahu, aku sedang memandangimu
Ditemani angin bergerisik yang seharusnya dingin menusuk tapi kenyataannya kok gerah
Ditemani tiga kaki dari karbon hitam terkunci baut plastik bernama tripod…

Aku cuma sedang berpikir sobat,
Dulu, aku bisa memandangimu dengan perasaan paling melankolis yang aku bisa
Bisa paling hancur, tersayat, patah, pecah, atau entah apa pun kata yang bisa menggambarkan perasaan

Tapi sekarang aku bertanya, kemana perginya?
Kosong nggak, tapi isi juga nggak.
Padahal aku sedang ingin bersedih-sedih ria, berpatah-patah ria

Aku cuma kuatir, sobat, batang ranting kuncup daun itu telah patah
Sehingga tak akan ada lagi kuncup-kuncup daun berikutnya
yang berharap akan muncul mahkota mawar atau harum melati di sana

Semoga tidak.
Semoga batang itu tetap ada dan masih bisa berharap,
Seperti aku yang berharap bisa menontonmu besok, lusa, bulan depan, tahun depan.