Merah Senja
FLICKR
Lokasi: VICO Indonesia Badak Plant, Kalimantan Timur
Nikon D80 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Sejak jam empat sore, saya sudah nyanggong di area terlarang ini. Menunggu matahari tenggelam, lalu memotret kilauan cahaya warna-warni lampu fluorescent di instalasi plant ini. Saya duduk di atap tangki pengolahan minyak kondensat yang berdiameter setengah lapangan bola. Bau minyak mentah menyengat tajam. Saya sudah melanggar aturan keamanan dan keselamatan yang dijalankan dengan begitu ketat, yaitu tidak memakai masker hidung.
Senja datang dengan begitu cepat. Kuning, merah, merah tua, dan akhirnya gelap gulita. Hanya keheningan yang menemani. Teman saya memilih tempat di stabilizer di sebelah sana. Hanya suara shutter kamera yang dilepas yang sekali-sekali yang memecah kesunyian.
Senja di Kalimantan Timur
FLICKR
Lokasi: KM 53, VICO Indonesia Pipeline Badak – Bontang, Kaltim
Nikon D80 | Sigma 10-20 mm HSM wide lens
Saya belum pernah melihat senja seindah ini sebelumnya. Maksudnya, saya sudah sering menikmati indahnya senja di pantai, tapi belum pernah di perbukitan di tengah hutan. Terpencil jauh dari rumah. Di tengah hembusan semilir angin yang menggoyang rumput liar. Driver saya, Pak Arifin, hanya bisa geleng-geleng kepala ketika saya minta beliau untuk berhenti sebentar, dan saya segera melompat berlarian mengejar matahari tenggelam. Hanya tiga menit saja. Tapi tidak mengapa, itu cukup untuk menangkap momen yang entah kapan saya akan mengalaminya lagi.
Mahakam
FLICKR
Lokasi: Jembatan Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur
Nikon D80 | Nikkor AF-S 18-55 mm
Kota Samarinda di sore hari. Pemandangan di tepi sungai yang sama sekali baru buat saya. Maklum, di Jawa tidak ada sungai yang dijadikan sarana transportasi dimana kapal-kapal besar hilir mudik. Saya terheran-heran melihat kapal kecil mengangkut tumpukan batu bara yang menggunung bergerak pelan. Seperti kucing yang kekenyangan.
Masjid Islamic Center yang memamerkan menara-menaranya di ujung sungai, kemudian cahaya matahari sore yang masih berusaha menerobos kepungan awan hujan yang hitam kelam, tiba-tiba menghidupkan imajinasi saya tentang buku Ketika Cinta Bertasbih. Mungkin seperti inilah suasana di tepian sungai nil itu hahaha…
Inilah kali kedua saya menginjakkan kaki di kota Samarinda, dengan kesempatan yang lebih banyak untuk mengeksplorasi landmark-landmark-nya. Inilah landmark pertama kota Samarinda: Sungai Mahakam.
Take Off
FLICKR
Lokasi: Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten
Canon Ixus 120 IS
Saya selalu menikmati sensasi saat-saat pesawat tinggal landas. Mulai ketika pesawat didorong ke landasan pacu, lalu bergerak pelan menuju ujung landasan. Pramugari dengan tangkas berdiri di lorong melakukan safety briefing — memperagakan cara-cara penyelamatan dalam keadaan darurat. Kemudian ketika pesawat sampai titik ujung, pilot berkata, “Flight attendant, take off position…” Pesawat menghentak, jet mendorong dengan akselerasi yang memilin perut, dan angin terasa mengangkat dari bawah — hukum aerodinamika. Pesawat pun terbang.
Pagi itu saya cukup beruntung mendapat tempat di dekat jendela. Penerbangan pertama Lion Air hari itu menuju bandara Sepinggan di Balikpapan berlangsung dalam cuaca yang amat cerah. Moncong Boeing 737-400 berkilau menantang matahari pagi. Ekspedisi enam hari di Kalimantan Timur pun dimulai.
Negeri di Atas Awan
FLICKR
Lokasi: Perjalanan Jakarta – Balikpapan
Canon Ixus 120 IS | Canon Zoom Lens 5 – 20 mm
Saya membayangkan jika negeri di atas awan itu benar-benar ada. Terhampar putih berkilau. Bidadari-bidadari cantik bergaun putih berkilau berlarian dengan riang gembira. Istana yang megah. Hanya ada kedamaian. Hanya ada cinta dan kasih sayang.
Kau datang padaku kau tawarkan hati yang lugu
Selalu mencoba mengerti hasrat dalam diri
Kau mainkan untukku sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kau bawa aku menuju ke sanaTernyata hatimu penuh dengan bahasa kasih
yang terungkapkan dengan pasti
dalam suka dan sedihNegeri di Awan – Katon Bagaskara
Desa Terapung, Bontang Kuala
FLICKR
Lokasi: Bontang Kuala, Bontang, Kalimantan Timur
Canon Ixus 120 IS | Canon Zoom Lens 4x IS 5-20 m
Matahari tepat di atas khatulistiwa menyengat tanpa ampun ketika kami keluar dari Ford Everest yang nyaman. Mobil tidak bisa masuk desa ini karena desa ini berdiri di atas geladak kayu. Semua rumah di sini adalah rumah panggung di atas air laut. Suara bergembelodak setiap sepeda dan sepeda motor yang lewat membuat sensasi dan suasana unik yang hanya bisa ditemui di kampung nelayan terapung macam ini.
Kami berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk mencapai ujung desa ini. Kesan yang saya dapatkan bahwa semua tepi laut Kalimantan bercahaya menyilaukan. Sambil menikmati hidangan seafood sebagai makan siang yang luar biasa, di ujung jauh sana, kapal-kapal tanker hilir mudik mengangkut gas dari PT Badak NGL.
Siang hari sepertinya desa ini sedang tidur. Tidak banyak aktivitas yang terjadi. Hanya ketika menjelang sore, anak-anak bersemangat belajar mengaji di masjid yang juga terbuat dari kayu — terapung juga. Mungkin malam hari desa ini baru semarak dengan kerlap-kerlip cahaya dan para nelayan yang berangkat bekerja.
Pulau Cemara Kecil
FLICKR
Lokasi: Perairan Karimun Jawa, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM
Pulau kecil tak berpenghuni. Luasnya mungkin hanya sekitar 700 meter persegi. Tetapi inilah spot yang paling indah di seluruh kepulauan Karimun Jawa. Tak hanya pantai dan pulaunya yang cantik, tapi terumbu karang-nya membuat kegiatan ber-snorkel menjadi sangat mengasyikkan. Sekadar safety briefing, pastikan Anda dilengkapi peralatan lengkap untuk kegiatan snorkell karena di sini banyak bulu babi dan ubur-ubur yang bisa menyengat dan membuat Anda demam.
Pulau ini sekaligus pulau terakhir yang kami kunjungi. Tanpa menunggu matahari tergelincir, kami segera bergegas kembali ke penginapan. Benar saja, baru saja kami selesai makan siang, kapal cepat Kartini sudah melenguh tak sabar. Nyaris saja kami ditinggal.
“Selamat tinggal Karimun Jawa, senang berkenalan dan menginjakkan kaki di pulaumu,” gumam saya ketika gugusan kepulauan itu perlahan-lahan mengecil, membiru, dan akhirnya klemun-klemun tidak terlihat.
Comments