Salam Metal!

Posted by: on Jun 12, 2009 | 10 Comments

FLICKR
Lokasi: SD Negeri Samangraya 01, Cilegon, Banten
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Harusnya saya upload foto ini di hari anak nasional, tapi saya suka ekspresi mereka yang benar-benar alami. Ceria, polos, dan spontan. Waktu itu bus kami terjebak kemacetan di jalan raya Anyer, dan untuk menghilangkan rasa bosan, saya jeprat-jepret kemana saja. Anak-anak ini rupanya peka lensa juga, waktu saya memotret ke arah mereka dari jendela bus, mereka segera berebut memanjat pagar dan berpose dengan pose terbaiknya. “Salam metal kak!” mungkin begitu maksud isyarat jari jempol, telunjuk, dan jari kelingking itu.

Pemilu, Dari Pengabdian Hingga Pemborosan

Posted by: on Apr 19, 2009 | 10 Comments

Catatan Perjalanan Mudik Pemilu (2 – Habis)

Saya geleng-geleng ketika menyaksikan bagaimana para Panitia Pemungutan Suara (PPS) di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) bekerja. Setiap TPS memiliki sekitar 300-an pemilih yang akan menggunakan hak pilihnya di tempat itu. Paling tidak ada empat surat suara. DPR Pusat, DPRD I, DPRD II, dan DPD. Setiap surat suara yang sah harus ada minimal satu tanda tangan ketua KPPS. Belum lagi berkas-berkas berita acara dan sebagainya yang ribet.

Ini jelas pekerjaan pengabdian yang besar. Honornya sungguh tidak sebanding dengan beban pekerjaan dan besar risiko yang harus ditanggung para panitia pemungutan suara. Risiko?

Pemungutan suara adalah masalah yang sangat sensitif. Hal-hal teknis begitu mudah dibelokkan ke politis. Jadi sudah jelas, para ksatria-ksatria berseragam putih itu sangat berisiko dijebloskan dalam penjara dengan tuduhan memanipulasi suara — padahal mungkin itu hanya kesalahan sepele karena kesalahan administrasi saja.

Kebetulan ibu saya adalah ketua KPPS dari TPS 04 sehingga saya bisa menyaksikan jalannya pemungutan suara dan sedikit jeprat jepret dengan agak bebas. Sebelum acara pemungutan suara dimulai pun, ibu sudah sibuk menandatangani bermacam-macam berkas administratif. Pagi hari, sampai mimiren beliau menjelaskan tata cara pencontrengan yang sangat rumit untuk ukuran peserta TPS 04 yang mayoritas berlatar belakang buruh tani.

Menjelang siang hari, setelah menyambut kedatangan saya yang baru tiba dengan satu pelukan hangat, ibu mengumpulkan tim pemungutan suara menyiapkan proses penghitungan. Kemudian kotak suara dibuka, kertas suara dibuka satu per satu, memelototi kotak-kotak yang ada goresan contrengan. Ternyata proses “mencari contrengan” ini tidak mudah. Sementara, daftar para Caleg ditempel memenuhi dinding dengan paku. Panitia juga lagi-lagi harus mencari posisi Caleg yang mendapat suara untuk diberi tanda. Ibu baru pulang ke rumah pukul 23:00 malam.

Pemilu yang Tidak Go Green

Dunia sudah nyaris kiamat karena kehabisan pohon-pohon yang ditebang untuk kertas. Dan coba lihat berapa juta hektar hutan yang dibabat sia-sia untuk kebutuhan kertas Pemilu ini? Setiap surat suara berukuran sekitar A3, dan ini “hanya” dipakai untuk menulis coretan kecil yang disebut contreng. Setelah itu, mungkin berjuta-juta lembar kertas ini teronggok tak berguna di ruang arsip kantor kecamatan. Tak boleh didaur ulang atau dibuang, haram menurut Undang-Undang resmi kearsipan negara kita.

Seharusnya, sistem IT yang paperless bisa diaplikasikan untuk mendukung gerakan Go Green. Sayangnya, untuk ukuran negara kita, hal ini masih mustahil. Sistem contreng saja sudah membingungkan orang, apalagi kalau disuruh memegang mouse dan meng-klik pilihannya. Sementara, sistem IT untuk rekapitulasi penghitungan suara saja kacau balau.

Yeah… semoga biaya yang sangat besar ini membawa manfaat. Meskipun saya agak pesimis Pemilu ini bisa mendapatkan senator-senator parlemen yang berkualitas. Kualitas seperti apa kalau Calegnya diwarnai dari orang-orang nggak jelas dan artis jadi suara mayoritas? Entahlah. Semoga saya salah.

Lokasi Foto: TPS 04 Ds. Sanan, Kec. Pakel, Kab. Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM 

Siang di Depan Masjid Nurul Ikhlas

Posted by: on Mar 4, 2009 | 9 Comments

FLICKR
Lokasi: Depan Masjid Nurul Ikhlas, Cilegon, Banten
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Saya menyempatkan diri menepikan mobil dan turun tatkala menara masjid megah ini terlihat dari kejauhan. Inilah pemandangan masjid ini tepat di depannya di jalan Sultan Ageng Tirtayasa, Cilegon. Ternyata masjid ini masih dalam proses pembangunan. Nanti saya tunjukkan kemegahannya — meskipun belum selesai dibagun, tapi megahnya sudah sangat terasa. Mungkin akan seperti Dian Al-Mahri Depok, atau bahkan Istiqlal.

Masjid Agung Surakarta

Posted by: on Jan 24, 2009 | 6 Comments

FLICKR
Lokasi: Alun-Alun Utara Solo, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM

Lepas dari Pasar Klewer, tepat di sebelah pusat aktivitas ekonomi di Alun-Alun Surakarta itu, berdiri megah Masjid Agung Surakarta. Memasuki masjid ini, kenangan akan masa kejayaan salah satu pecahan Kerajaan Mataram ini segera terasa. Arsitektur Jawa-Belanda yang didominasi oleh kayu ini menghiasi sayap depan masjid ini.

Masjid ini selain menyimpan nilai sejarah yang tinggi juga sangat fungsional — saya menyebutnya begitu karena beberapa masjid sekarang ini lebih berperan sebagai gedung berarsitektur indah daripada digunakan sebagai tempat sholat dan tempat berkumpul. Setiap kali masuk waktu sholat, para penggiat ekonomi di Pasar Klewer segera bergegas menunaikan ibadah sholat di masjid ini melalui pintu butulan samping kecil, langsung berbatasan dengan jalan utama Pasar Klewer yang sibuk.

Berikut tangkapan kamera saya ketika berkunjung di masjid ini dan sholat ashar di dalamnya.

Keluarga Pemusik

Posted by: on Dec 30, 2008 | 5 Comments

29 Desember 2008, Stasiun Pasar Turi, Surabaya

Saya terpaku melihat keluarga ini. Lebih terpaku lagi melihat penyanyi cilik bersuara luar biasa ini menyanyi. Lagu-lagu dari segala macam genre: pop, dangdut, pop luar negeri, hits populer Indonesia, tembang kenangan, hingga tembang Jawa melantun merdu dari suaranya yang diiringi oleh musik electone Yamaha yang dipencet ayahnya.

Saya terpaku dan terharu. Keluarga ini tampil menghibur penumpang Argobromo Anggrek dengan penuh keceriaan. Jauh dari kesan sedih. Si penyanyi cilik tunanetra itu sambil tersenyum-senyum membisiki ibunya jika lupa lirik yang akan dinyanyikan dan si ibu mengambil alih bait yang terlupa itu. Alamak, sang ibu juga memiliki suara yang tak kalah merdunya. Sekali-sekali ucapan terima kasih meluncur dari bibirnya.

Saya terharu karena saya jadi merasa kurang bersyukur. Tetapi bukan karena kasihan saya mengeluarkan sedikit uang dari dompet untuk saya masukkan ke kotaknya. Itu adalah apresiasi. Apresiasi atas karya seni yang mereka suguhkan saat menunggu keberangkatan Argobromo Anggrek yang malam itu terlambat setengah jam.

Teronggok di Sudut Pramex

Posted by: on Dec 21, 2008 | 15 Comments

FLICKR
Lokasi: KRDE Prambanan Express, Stasiun Solo Balapan, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR | -eksperimen komposisi-

Seorang penumpang komuter Pramex duduk dengan bosan di sudut pintu kereta rel diesel elektrik (KRDE) terbaru yang diluncurkan awal tahun 2008 ini. Dengan adanya KRD berwarna kuning ini, praktis warga sekitar Kutoarjo-Yogyakarta-Solo memiliki alternatif transportasi yang lebih banyak.

Sang Pemburu Ganggang

Posted by: on Oct 20, 2008 | 15 Comments

FLICKR
Lokasi: Tepi Jembatan Lembu Peteng, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | 1/1000 s | F/5.6

Yes! Akhirnya sampai waktunya buat upload foto-foto dari kampung halaman Tulungagung, Jawa Timur. Hehehe…

Suatu siang yang cukup terik, saya menyusuri tanggul sebelah barat kali Lembu Peteng dari arah selatan dan tertarik pada bunga ungu bermekaran dari tumbuhan Ganggang yang tumbuh subur di tepi sungai ini. Musim kemarau memang sedang meranggas. Bukan bunga Lotus yang saya temukan, tapi Ganggang.

Ketika saya sampai persis di seberang studio Radio Kembang Sore FM yang ada di sisi timur sungai, saya melihat beberapa bapak-bapak sedang asyik kungkum (Jawa: berendam) sambil mengepulkan asap rokoknya. Senjatanya adalah galah bambu panjang dan semacam jaring untuk wadah di sisinya. Saya tak tahu mereka mencari apa, mungkin cacing. Apapun yang mereka cari, saya telah siap dengan kamera tersambung lensa tele dari atas tanggul.

Saya tersenyum puas. Selamat bekerja, Sang Pemburu Ganggang… (saya namakan saja begitu biar lebih dramatis kesannya ^_^)

Switch to our mobile site