Menengok Car Free Day di Jl. Pemuda

Posted by: on Jul 29, 2011 | 2 Comments

Setahun yang lalu, saya menulis essay fotografi tentang Car Free Day di jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat, yang diadakan di minggu terakhir setiap bulan. Di sana saya menulis ajang CFD tidak hanya sebagai sarana olahraga pagi yang sehat, tetapi sebuah arena ekspresi dan unjuk lifestyle.

Hingga sekarang, antusiasme masih sangat luar biasa sehingga Car Free Day diadakan dua kali sebulan. Bahkan di hari minggu biasa pun, jalur cepat harus ditutup sampai sekitar jam sepuluh karena begitu banyak masyarakat yang bersepeda.

Semangat bersepeda pun merambah tidak hanya di pusat kota. Salah satunya Jakarta Timur yang menggelar Car Free Day di sepanjang jalan Pemuda mulai perempatan yang menuju terminal Rawamangun hingga ujung timur persimpangan yang menuju terminal Pulogadung. Secara sekilas, tidak ada yang berbeda, tapi saya merasakan atmosfer yang sangat mencolok.

Di sini, tidak ada mobil-mobil SUV mewah yang parkir di tepi jalan menggendong sepeda mountain bike belasan hingga puluhan juta rupiah. Di sini tidak ada sepeda-sepeda kemilau dengan pesepeda yang… trendy, dandy, berpakaian olahraga dengan cermat, seakan-akan mau ke pesta saja bukan berolahraga.

Di Jl. Pemuda, saya menemukan atmosfer yang lebih merakyat. Mayoritas peserta CFD adalah penduduk kampung di belakang Jl. Pemuda. Jalanan relatif lebih lengang sehingga banyak yang menggelar lapangan bola di tengah jalan, bermain bulu tangkis, berjalan kaki, senam pagi, sampai anak-anak yang jungkir balik di tengah jalan yang selalu macet hampir 24 jam ini (wajar, ini adalah salah satu poros utama penghubung Bekasi-Jakarta).

FLICKR
Lokasi: Jl. Pemuda, Jakarta Timur
Kamera: Panasonic Lumix DMC F-3

Life Begins at 50

Posted by: on Feb 27, 2011 | 4 Comments

FLICKR
Lokasi: Bundaran HI, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm Macro APO

Lihatlah gadgetnya: Nokia E71 (atau semacam E series lah), helm sepeda model sport, dan earphone dari iPod yang menemani bersepeda sehatnya. Meminjam tagar #LBat50 punya Paman Tyo yang ultah kemarin, ini adalah salah satu contoh nyata bahwa hidup seorang pria baru akan dimulai di usia lima puluh.

Serius

Posted by: on Feb 20, 2011 | 2 Comments

FLICKR
Lokasi: Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm APO Macro

Mereka adalah para “pemain cadangan” yang sedang menyaksikan kawan-kawannya sedang menyusun serangan ke gawang lawan. Saya selalu suka ekspresi anak-anak. Ini saya potret di hari Minggu pagi di lapangan di tepi kebun tebu yang rimbun, di perjalanan Tulungagung – Malang. Hiburan yang menarik pas sarapan di tengah perjalanan.

Sweet Corn

Posted by: on Feb 20, 2011 | No Comments

FLICKR
Lokasi: Jatim Park, Kota Batu Malang
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm APO Macro

Penampakan yang menarik, di tengah hembusan angin sore kota Batu yang dingin (meskipun tidak lagi menggigit seperti dulu). Asap mengepul, jagung yang nampaknya masih segar, hangat, dan tentu saja manis rasanya.

Fixie, Rebranding dan Tren Baru

Posted by: on Jan 30, 2011 | 3 Comments

FLICKR
Lokasi: Car Free Day, Bundaran HI, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm APO Macro

Euforia bersepeda sebagai gaya hidup sehat rupanya belum mencapai puncaknya di Jakarta. Ketika pada awalnya gaya hidup ini seperti dimonopoli kaum elit dengan sepeda-sepeda mountain bike yang harganya mendekati harga sebuah mobil baru, kini gaya hidup bersepeda semakin merambah kelas masyarakat yang lebih luas dengan semakin populernya Fixie.

Jika Anda pernah mendengar sepeda Doltrap, maka tentu yang ada di kepala adalah sebuah sepeda tanpa pedal rem karena giginya memiliki mekanisme unik yang digunakan untuk mengerem. Dan Doltrap adalah sepeda soo yesterday — jadul dan tidak gaul, dipakai bapak-bapak pensiunan pegawai negeri atau abang penjual es campur keliling.

Namun sejatinya Fixie adalah re-branding yang sukses dari Doltrap. Fixie mulai hadir di pertengahan tahun 2010 dengan ide gila dan terkesan norak. Fixie hadir melawan kemapanan sepeda-sepeda mahal yang memiliki gigi kecepatan sampai 12 dengan teknologi yang rumit. Fixie hadir dengan single speed dengan keunikan Doltrap. Warna yang sangat mencolok dan sering sengaja ditabrakkan adalah ciri khas lain. Velg berwarna hijau menyala dikombinasikan dengan hiasan mata kucing oranye menyala — dan yang menaiki adalah pemuda besar berkulit hitam dengan sepatu… kuning!

Tren memang tidak pernah bisa ditebak. Siapa sangka Fixie semakin populer sebagai identitas yang sangat klop dengan generasi muda 4LaY. Sama-sama norak (di mata beberapa orang), hahaha… Saya semakin sering berpasasan dengan kelompok bersepeda Fixie. Biasanya mereka muncul di atas jam 9 malam, dengan asesoris lampu neon kelap-kelip yang tak kalah mencoloknya.

Konstruksinya yang simpel (single speed) dan lebih jamak dirakit sendiri daripada beli jadi mungkin adalah daya tarik yang lain. Ini membuat harga komponen Fixie menjadi sangat terjangkau (yang penting mencolok mata). Ketika sebuah Trek digendong All New CRV atau Chevrolet Captiva melesat, pesepeda Fixie tetap bisa menggenjot dengan penuh percaya diri. Lengkap dengan ciri khasnya tentu saja: mencolok, bersepatu senada (yang juga berwarna menyala), biasanya memakai jaket tipis, dan mencangklong sebuah tas kecil di pinggang.

Idul Adha 1431H

Posted by: on Nov 18, 2010 | 4 Comments

Meskipun sudah empat tahun tinggal di Jakarta, ini adalah Idul Adha pertama saya di Jakarta. Biasanya saya selalu mudik ke Tulungagung. Tetapi karena tahun ini lebaran haji ada di tengah minggu, jadi saya memilih untuk berlebaran di ibukota Jakarta. Menariknya, lebaran haji ini juga tidak serempak — saya ikut pemerintah berlebaran di hari Rabu, dan puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah di hari Selasanya.

Awalnya saya ingin melaksanakan sholat Ied di masjid Istiqlal bersama presiden SBY. Pukul setengah enam, setelah mandi pagi, SCTV menyiarkan liputan langsung persiapan sholat Ied di Istiqlal. Masya Allah jamaah yang hadir sudah banyak sekali, tidak mungkin bisa masuk ruang utama dan memotret presiden. Jadi saya mengubah rencana dan melaksanakan sholat Ied di Masjid Sunda Kelapa.

Foto-foto bisa dilihat di halaman Flickr saya seperti biasa, dan berikut adalah beberapa foto favorit hasil jepretan Nikon D90 dan lensa kit-nya yang luar biasa: Nikkor AF-S 18-105 mm.

Sholat Ied diselenggarakan di taman Masjid Sunda Kelapa. Di sisi sayap sebelah kiri diperuntukkan untuk jamaah pria, sementara bagian dalam masjid dan pelatarannya semua diperuntukkan untuk jamaah wanita.

Karena outdoor, maka koran bekas dipakai sebagai alas sajadah. Selain membawa sendiri dari rumah, banyak juga yang menjual koran bekas ini dengan harga Rp. 1000 untuk beberapa lembar. Kemudian setelah selesai, mereka mengumpulkan kembali koran-koran yang ditinggalkan oleh jamaah untuk dijual secara kiloan. Seperti ibu ini misalnya.

Masjid Sunda Kelapa terkenal oleh pengunjungnya yang modis-modis. Ini juga salah satu alasan saya memilih sholat di sini. Keluarga-keluarga yang berada merayakan Idul Adha dengan membawa semua keluarga besarnya di masjid ini. Seperti misalnya nona ini dan ibunya yang sedang bercakap-cakap dengan saudaranya yang ada di lantai bawah.

Tour Singkat di Kampus ITB

Posted by: on Oct 14, 2010 | 3 Comments

FLICKR
Lokasi: Kampus Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm

Sekitar sembilan tahun yang lalu, inilah obsesi terbesar saya. Menjadi mahasiswa ITB. Pelaksanaan SPMB (sekarang SNMPTN atau entah apa lah namanya) masih dua tahun lagi, tetapi saya sudah tapa brata puasa ngebleng. Ribuan soal latihan saya lahap dengan nikmat. Berbagai pelajaran yang orang sibuk berdebat tentang kurikulum saya pahami sedalam mungkin. Janji saya teriakkan dalam hati: demi, saya tidak akan menegakkan kepala jika belum merasakan dinginnya hawa Bandung, memainkan jari jemari di keyboard di salah satu lab Teknik Informatika ITB! Demi kehormatan, kebanggaan, dan kebahagiaan Ayah dan Ibu saya.

Dan memang perjalanan hidup bercerita lain. Tuhan lebih tahu apa yang menjadi kebutuhan hamba-Nya. Segalanya adalah Dia. Empat tahun berikutnya saya menimba ilmu di kampus ITS. Menghirup hawa Surabaya yang lembab. Membawa gita cinta dan sejuta rasa dan pengalaman yang luar biasa.

Adalah Ifa, sepupu saya yang membangkitkan kenangan itu ketika di sebuah sore yang berhawa sejuk mengantarkan saya berjalan-jalan di lingkungan kampusnya. Saya beruntung karena ITB sedang mengadakan masa orientasi mahasiswa barunya sehingga saya bisa mendapatkan beberapa frame jepretan yang cukup bagus.

Tentu saja ketika lewat di depan gedung bersetrip warnah merah itu, saya berhenti sejenak dan tersenyum, kemudian meminta adik saya itu untuk memotret saya di depan gedung ini. Inilah sebuah pelajaran kepada seorang anak berumur 18 tahun tentang bagaimana cita-cita menghidupkan obsesi, dan bagaimana sebuah obsesi membakar sebuah kerja keras, dan akhirnya ikhlas dan tawakkal tentang apa yang telah menjadi takdir-Nya.

Switch to our mobile site