Entries Categorized as 'Human Interest'

Malioboro

Date August 22, 2010

FLICKR
Lokasi: Jalan Malioboro, DI Yogyakarta
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

Salah satu icon Yogyakarta. Tidak akan terasa lengkap perjalanan Anda di Jogja jika belum mengunjungi tempat ini. Banyak seniman yang melahirkan lagu-lagu romantis karena terinspirasi Malioboro. Misalnya Doel Sumbang dan Nini Carlina: panas-panas goreng pisang, kopi agak manis di gelas kaca, digelar tikar di terang neon, di ubun-ubunnya Jogjakarta — waduh jadul bener contohnya. Atau yang legendaris karya KLA:  … ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila … musisi jalanan mulai beraksi, seiring lara ku kehilanganmu … merintih sendiri… di telan deru kotamu …

Jogja memang unik dan berbeda dengan kota lain. Seperti Bali, warganya telah sadar betul bahwa Jogja adalah kota pariwisata. Mereka menyapa dengan keramahan khas Jawa yang masih asli. Ketika saya bilang terima kasih kepada tukang parkir yang menuntun mobil saya masuk jalan, maka jawabannya saya rasakan sangat hangat dan tulus. “Inggih, ndhere’aken mas…,” kata beliau.

It’s kind of a remarkable trip, if I can say.

Rileks

Date July 23, 2010

FLICKR
Lokasi: Lounge Stasiun Gambir, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

Jika Anda belum tahu, maka saya beritahu bahwa ini adalah pemandangan jamak yang biasa ditemukan di segala sudut kota Jakarta. Orang sekarang lebih suka menekuri Facebook-nya ketimbang ngobrol dengan teman semeja-nya. Tak heran kalau penjualan gadget macam Blackberry, Iphone, Netbook, dan Notebook laku keras bak kacang goreng. Tak menutup kemungkinan bahwa mereka sedang saling ngobrol. Lewat Facebook Chat!

Pekan Raya Jakarta 2010

Date July 5, 2010

FLICKR
Lokasi: Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

Siapa suruh jika hujan turun di bulan Juli, bulan yang seharusnya menjadi bulan yang kering? Tetapi itulah yang terjadi malam minggu kemarin, waktu saya dengan penasarannya ingin tahu bagaimana suasana arena Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair) yang diselenggarakan setiap tahun bertepatan dengan ulang tahun Jakarta. Hujan datang tanpa bisa dicegah, kerumuman orang yang berdesakan bubar mencari tempat berteduh seadanya, termasuk saya.

Akhirnya waktu kejenggreng di tenda foodcourt, saya berpikir, PRJ benar-benar miniatur Jakarta. Pusat bisnis dan perdagangan terbesar dimana manusia berdesak-desakan entah mencari apa. Sampah menggunung. Dan akhirnya lengkap dengan banjir. Seperti aslinya, nampaknya sistem sanitasi area ini juga kurang baik karena banyak genangan air waktu hujan.

Kerak Telor

Date June 26, 2010

FLICKR
Lokasi: Setu Babakan, Jakarta Selatan
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

Penjaja kerak telor selalu mengingatkan saya pada postingan lama ini, dan tentu saja mengingatkan pada isi postingan tersebut. Tetapi baru kemarin untuk pertama kalinya saya tahu bagaimana rasa jajanan khas Betawi ini. Mengikuti rekomendasi si bapak untuk memilih telor bebek ketimbang telor ayam, kerak telor berasa kasar dikunyah, berbau amis telur, dan eneg. Pokoknya jauh dari imajinasi, he he he…

Judging the Book by the Cover

Date May 13, 2010

FLICKR
Lokasi: Jl. Kuningan Barat, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Saya pernah bertanya-tanya berapa kira-kira omset harian bapak penjual rujak buah ini. Setiap hari ia mendorong gerobak kaca yang sudah tidak muat menampung jumlah buah yang dibutuhkan sehingga harus ditambah ekstra dua tas kresek super besar di pegangan dorongannya. Posnya adalah di kompleks pedagang kaki lima di tepi jalan Kuningan Barat 1. Lokasi yang sangat strategis karena di situ bisa dikatakan “halaman belakang”-nya beberapa kantor pemda Jakarta dan kantor pusat Telkomsel: Wisma Mulia.

Beliau cukup memonopoli pasar karena praktis di pasar niche ini tidak ada pesaing lain. Berbeda dengan mereka yang memilih bermain di blue ocean market seperti nasi uduk, gado-gado, mie ayam, dan gorengan. Meskipun demikian, kondisi pasar di sini sudah cukup matang, artinya sudah ada pelanggan tetap dari para pekerja kantoran di hari Senin-Sabtu.

Saya cukup confident untuk mengatakan bahwa bapak ini tidak pernah membaca The Wealth of Nation-nya Adam Smith, atau tentang teori Power and Politicking di buku Organizational Behavior-nya Mc Shane, tetapi beliau tahu betul bahwa ia menguasai pengaturan harga secara mutlak. Kalau tidak salah, satu piring rujak buah dijual pada angka sepuluh ribu yang mana harga pasar normalnya sekitar enam ribu sampai tujuh ribu rupiah.

Tapi toh, dagangannya tetap laris sampai habis. Sekadar prakiraan kasar, jika setiap hari beliau bisa menjual 300-an piring, maka omset per harinya adalah Rp. 3.000.000. Dan jika berandai-andai setiap hari ia bisa mengambil profit margin hingga Rp. 1.500.000, maka penghasilan per bulannya adalah sekitar Rp. 25.000.000! Jauh lebih tinggi dari penghasilan seorang supervisor, apalagi staf-staf muda yang merasa kaya dengan penghasilan lima jutaan tiap bulan dan dihabiskan untuk lifestyle.

Lesson learn-nya adalah:

  1. Untuk Anda yang bekerja di kantor yang adem, berbusana rapi, dan mungkin bersepatu Mahnolo Blahnik, pernahkah Anda berpikir? Berapa saving ada tiap bulan?
  2. Bisnis makanan kaki lima seringkali dipandang sebelah mata. Tetapi kadang-kadang ternyata tidak seperti kelihatannya bukan?

*disclaimer: perhitungan omset di atas hanyalah angan-angan belaka tanpa didukung oleh data survey maupun wawancara langsung. bisa jadi masih ada banyak faktor yang belum diperhitungkan, tetapi pada intinya hanya sebagai jembatan untuk saya menulis lesson learn yang saya dapatkan dari penjual buah ini.