Apa sih yang Enggak Buat Cinta?
FLICKR
Lokasi: Debenhams, Supermall Lippo Karawaci, Tangerang
Canon Ixus 120 IS
Iklan yang buat saya akan sangat menggelitik bagi para cowok-cowok eksmud kelas atas. Masak berat sih ngeluarin duit sejuta untuk selembar lingerie untuk kekasihmu? Mungkin kira-kira itu pesan yang ingin diteriakkan Debenhams Department Store kepada mereka yang sedang lewat.
Iklan ini begitu elegannya sehingga saya memerlukan berhenti sebentar untuk mengamatinya. Bahkan sempat bertanya-tanya apa arti “What’s not to love”. Mulai penempatannya yang di depan sebuah foto pria tampan yang memakai setelan jas, tipografinya, pemilihan kata, hingga posisi grafis lingerie-nya.
Iklan ini memang hanya akan mengusik pria-pria berduit, tapi bukankah memang itu segmen pasar Debenhams? Ini tentang kelas sosial, ini tentang harga diri, bahwa demi menyenangkan hati sang kekasih, berapapun tidak masalah. Jika efeknya adalah sebuah kecupan di pipi dengan bisikan, “terima kasih, sayang”, apalah arti sejuta dua juta untuk sekadar lingerie? Iya nggak?
Sunday Morning
FLICKR
Lokasi: Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS
Demi… gara-gara posterous-nya Fenty Lovegood dan Efahmi!, saya jadi semangat untuk menghidupkan kategori Daily Photos lagi. Sempat tadi mau ikutan daftar, tapi takutnya ini cuma euforia sesaat saja. Sehabis subuh tadi pagi, biasanya saya melakukan scaling sampai jam delapan pagi. Tapi hari ini, saya menyambar si mungil Ixus 120, dan bergegas ke Taman Makam Pahlawan Kalibata yang jaraknya hanya selemparan batu saja dari kos-kosan.
Berpayung
FLICKR
Lokasi: Bandara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah
Canon Ixus 120 IS | Canon Zoom Lens 2.8-5.9 mm
Sore hari itu, bandara Adi Sumarmo bersuasana sendu. Hujan rintik-rintik masih turun membasahi landasan. Inilah akhir rangkaian perjalanan liburan akhir tahun saya — semuanya menggunakan pesawat low cost carrier. Dari tiga pesawat yang saya naiki, Lion Air yang paling memuaskan di peak season ini. Delay hanya setengah jam (bandingkan: AirAsia empat jam, Citilink dua jam). Pramugarinya ada yang membuat saya berdebar-debar, meskipun di luar stereotipe saya (imut-imut pakai kerudung), tapi wajahnya…
*menarik nafas panjang….
Iklan yang Berbisik, Tidak Berteriak
FLICKR
Lokasi: Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan
Nokia N95 | Carl Zeiss Optics
Saya selalu menyukai ad/iklan yang bergaya halus. Saya menyukai foto-foto poster yang tidak berteriak menyampaikan pesannya, tetapi tersenyum simpul. Menyimpan pesannya, memiliki simbolisasi. Memancing imajinasi, kecerdasan, dan wawasan penikmatnya. Buat saya, gaya komunikasi seperti ini lebih berkesan daripada yang langsung menyampaikan pesan.
Seperti iklan Rasuna Epicentrum di perempatan kuningan ini. Awalnya saya tak mengerti apa maksud penempatan foto perempuan yang tersenyum sambil membentangkan kain. Saya terkesiap waktu menyadari bahwa kain itu adalah sprei yang dibentangkan. Tatkala membaca tagline-nya, seketika itu pula saya tersenyum. Pas sekali!
Menunggu Lampu Start
FLICKR
Lokasi: Perempatan Kuningan, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan
Nokia N95 | Carl Zeiss Optics
Nampaknya ekspansi sepeda motor tidak tertahankan lagi. Tiga tahun yang lalu, waktu saya memulai bersepeda motor di jalanan Jakarta dengan Suzuki Tornado, perasaan belum sebanyak ini deh. Sekarang kalau pagi-pagi, penguasa jalanan adalah sepeda motor. Yaa… mau bagaimana lagi, transportasi massal yang layak masih menjadi angan-angan semua orang. Kalau nggak sesak berjubel, ancaman kecopetan, ya ditodong — coba aja metromini 640 arah Pasar Minggu jam 10 malam.
Eh, anyway, ini lho maksud saya dari potongan puisi saya: Mengais celah di jalanan Jakarta. Bermandikan asap knalpot kendaraan. Menghirup kabut SMOG yang beracun…
Biang Macet Jalan Dr. Satrio
FLICKR
Lokasi: Depan Mal Ambassador, Jakarta Selatan
Nokia N95 | Carl Zeiss Optics
Mal Ambassador mungkin adalah mal yang paling strategis di Jakarta. Tidak terlalu mewah, tetapi lokasinya sangat dekat dengan pusat perkantoran Mega Kuningan, dan merupakan salah satu ikon di kawasan segitiga emas Jakarta. Sangat strategis, karena jalan Dr. Satrio ini membelah Jakarta dari barat hingga ke timur. Tanah Abang, Sudirman, Kuningan, Kampung Melayu, sampai menembus Pondok Bambu.
Nah, pertanyaan besar saya adalah: kenapa di depan mal ini tidak ada jembatan penyeberangan? Asal tahu saja, mobilitas pengunjung menyeberangi jalan ini sangat tinggi dan ini jelas membuat kemacetan yang mahaparah di sini dari pagi sampai malam. Siapa yang bertanggung jawab kira-kira? Pemerintah DKI? Atau pengelola mal?
Duniaku, Duniamu, Dunia Kita
FLICKR
Lokasi: Stasiun Kereta Api Kediri, Jawa Timur
Nokia N95 | Carl Zeiss Optics
Rem kereta ekspress malam Gajayana berdecit ketika matahari mulai naik dan mewarnai langit Kediri yang cerah. Masih setengah jam lagi untuk sampai di Tulungagung. Orang-orang mulai sibuk menyambut hari. Petugas pengatur perjalanan kereta api berdiri di depan panel kontrol bikinan Belanda dengan khidmat. Seorang pemuda tanggung, memakai kaos yang lusuh, dengan wajah yang masih bersih bersinar air mandi bergegas mengambil barang dagangan asongan di warung sebelah toilet umum stasiun.
Saya, meringkuk di sudut kursi bernomor 3A, mencoba menarik kelambu dan melihat keluar. Pendingin kereta terasa berlebihan, dan selimut hijau yang nyaman telah dikumpulkan petugas sejak masih di Kertosono. Saya termenung dan hanyut dalam lamunan…
Setiap pagi, matahari yang sama menyinari kita semua, namun kita hidup dalam dunia kecil yang berbeda-beda yang disebut rutinitas. Suasana Stasiun Kediri setiap hari akan mirip seperti itu, semirip saya yang sudah bermandikan asap knalpot, menghirup kabut SMOG yang beracun, berebut celah di jalanan Jakarta, mengais sesuatu yang orang sebut sebagai peluang, harapan, dan cita-cita akan kualitas hidup yang lebih baik.
Perjalanan kecil yang singkat seperti ini seperti memberikan kesempatan bagi saya untuk melihat sisi dunia yang lain. Dunia kecil yang tampak damai di kota kecil macam Kediri dan Tulungagung, tempat melarikan diri sejenak dari rutinitas. Suasana yang akan selalu saya rindukan.
PS: Galih mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman yang ketemu kemarin di Tulungagung, dan kepada yang telah menemani ke kondangan. Thanks Lin, Neng, mantene wis meh medun panggung he he he…
Comments