Sudut Kampus
FLICKR
Lokasi: Kampus JWC, Binus University, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS
Ini adalah salah satu sudut favorit saya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah setelah Perpustakaan Lantai 4. Agak sedikit terpencil di sudut dan sepi, memberikan saya tempat yang sempurna untuk sendirian. Kalau ingin produktif memanfaatkan waktu, saya memang memilih mengerjakan tugas di sini ketimbang di rumah. Paling-paling di sini gangguannya cuma internet dan makhluk-makhluk jelita yang kebetulan lewat. Kalau di kamar, gangguannya terlalu banyak: internet, televisi, piano, hingga kasur yang empuk buat tidur.
Suatu Sore di Muara Badak
FLICKR
Lokasi: Muara Badak, Kalimantan Timur
Canon Ixus 120 IS
Setiap kali menikmati suasana sore di tempat yang cukup asing, saya selalu berpikir, inilah sepenggal dunia lain. Dunia yang saya tidak ikuti setiap hari, karena dunia saya sendiri adalah jalan raya dan kemacetan kota besar. Orang menjalani hidup di dunianya sendiri-sendiri, dalam foto ini, kampung di area sebuah operasi penambangan minyak dan gas di ujung Kaltim.
Ketika memotret, pikiran saya selalu melayang, di sore-sore seperti ini, seperti apa ya suasana di dunia-dunia lain jika saya menghabiskan kebanyakan sore di depan komputer. Di Muara Badak, beberapa pekerja plant pulang naik sepeda. Di Tulungagung, Pak Tani sedang mengangkut damen dari sawah. Di Solo, seorang gadis cantik sedang menegur keponakannya yang menjatuhkan ponselnya ke lumpur sawah. Di Bogor, hujan sedang turun. Di puncak Gede, sekelompok pecinta alam sedang mendirikan tenda untuk berlindung dari dingin malam…
Janur Kuning
FLICKR
Lokasi: SMESCO UKM, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS
Wahai para pecinta yang bertepuk sebelah tangan, patah hatilah jika kalian melihat tanda ini di depan rumah kekasih kalian. Hahaha… sering mendengar ungkapan, “Sebelum janur kuning melengkung, harapan masih terbuka lebar” kan?
Janur kuning, ketika satu simbol bisa diartikan berbeda, tergantung dari sudut pandang mana kita memandangnya. Buat mempelai, pasti menjadi simbol yang membahagiakan karena cinta kasih mereka akan sempurna. Buat mereka yang menyimpan dan memendam rasa, bisa jadi ini akan menjadi simbol yang paling menyedihkan.
Terpinggirkan
FLICKR
Lokasi: Jl. Pasar Minggu Raya, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS
Di Jakarta, pejalan kaki adalah kaum yang paling didzolimi. Adalah sangat tidak nyaman berjalan-jalan di ibukota Jakarta Raya ini. Fasilitas satu-satunya yang dimiliki pejalan kaki, trotoar, tidak pernah sepenuhnya dimiliki.
Oke, ambil contoh, berjalanlah di trotoar jalan Pasar Minggu Raya dari ujung Pancoran ke Kalibata saja di sore hari. Perjalanan Anda akan dihadang oleh pedagang kaki lima yang menggelar lapak di tengah trotoar, praktis memenuhi lebar trotoar. Para pedagang kaki lima itu sering mengeluh bahwa mereka didzolimi oleh nasib dan pemerintah, namun kira-kira mereka sadar nggak ya bahwa mereka juga mendzolimi kepentingan pihak lain, yaitu pejalan kaki?
Contoh lagi, berjalanlah di trotoar paling lebar di poros Sudirman – Thamrin di jam pulang kantor. Ini trotoar paling lebar dan paling bersih yang seharusnya memanjakan pejalan kaki. Apa yang terjadi? Anda akan diteriaki oleh klakson-klakson pengguna jalan paling arogan, paling agresif, dan paling tak tahu aturan di Jakarta: pengendara sepeda motor. Di sini, jalur Anda diserobot oleh pengendara motor. Yeah, seharusnya Anda yang berteriak marah, tetapi siapa yang berani melawan sepeda motor? Sedan 3 miliar saja memilih diam sambil menggerutu kalau spion-nya disambar sepeda motor.
Jadi beginilah kondisi trotoar sekarang. Tumpukan sampah daun yang rontok bercampur lumpur ini mungkin sangat jelas bercerita bahwa di sini pejalan kaki bukanlah pengguna jalan yang dianggap penting.
Marilah Kita Sholat
FLICKR
Lokasi: Masjid Lido, Sukabumi, Jawa Barat
Canon Ixus 120 IS
Senja telah tiba. Seiring meredupnya sinar matahari, secara serempak suara adzan berkumandang bersahut-sahutan memanggil para muslim untuk segera menunaikan kewajibannya. Seruan yang sederhana. Bagi saya, kadangkala adzan terdengar menjengkelkan, tetapi sering juga mampu menggetarkan jiwa hingga memaksa saya meneteskan air mata.
Pembenahan Stasiun Gambir
FLICKR
Lokasi: Stasiun Gambir, Jakarta
Canon Ixus 120 IS
Stasiun Gambir sedang melakukan pembenahan layout besar-besaran, khususnya di sisi infrastruktur dan fasilitas. Paling mencolok terlihat adalah penambahan stand toko-toko dan restoran cepat saji di sayap selatan yang dulu kosong tak terurus. Saya lihat pembenahannya positif, lebih banyak pilihan makanan di sana (sehingga saya tak khawatir akan kelaparan di sini).
Infrastruktur tak ketinggalan. Parkiran sepeda motor yang biasanya ada di sisi belakang menempel pagar area Monas, sekarang dipindah ke sisi selatan di bawah rel yang dulunya adalah area parkir menginap mobil. Letaknya lebih berdebu karena masih banyak bagian yang beralas tanah — belum semuanya pave yard. Nampaknya areanya juga lebih terbuka dan saya berkesan kurang aman meninggalkan motor di sini selama empat hari.
Cuma satu yang saya tidak suka dengan perubahan ini. Blue Bird terusir dari Gambir karena insiden beberapa waktu yang lalu. Saya paling tidak suka diintimidasi sopir taksi dan pengemudi ojek ketika keluar stasiun, sehingga saya harus keluar gerbang stasiun dulu kalau ingin cari taksi. Itu sangat tidak nyaman.
Sensus untuk Pembangunan
FLICKR
Lokasi: Purwantoro, Wonogiri, Jawa Tengah
Canon Ixus 120 IS
Cacah Jiwo Kanggo Mbangun Praja.
Itulah tagline poster kampanye sensus penduduk yang saya temukan ditempel di kaca sebuah pom bensin di Purwantoro, sebuah kota transit antar lintas kota Ponorogo – Wonogiri. Selanjutnya isinya adalah tentang pengertian sensus dan manfaatnya. Semuanya tertulis dalam bahasa Jawa dialek Surakarta.
Beda audience, beda cara komunikasi. Tampaknya hal ini sangat dimengerti oleh tim BPS setempat. Saya saja terkejut ketika membuka tangki bensin dan disambut ramah oleh petugas dengan sapaan berbahasa Jawa krama alus! Padahal, kalau lagi di rumah (Tulungagung), kemana-mana juga disapa pakai bahasa Jawa juga, tetapi masih terperanjat juga mendengar dialek yang masih asli dari mas petugas pom bensin.
Oh iya, tentang sensus-nya sendiri, saya kok pesimis bahwa saya akan dihitung. Di Jakarta ini saya hitungannya adalah perantauan. Bapak kos tidak tahu data detail tentang saya, kalaupun petugas datang ke kos-kos-an, saya rata-rata baru pulang jam 9 malam ke atas. Di rumah dimana secara legalitas saya tinggal, katanya sudah dihitung dan saya dikonfirmasi tidak dihitung karena kata petugasnya, yang dihitung adalah yang secara fisik ada di sana. Barusan saya berkunjung ke situs BPS dan tidak ada informasi mendetail tentang ini.
Comments