Masjid Gedhe Yogyakarta
FLICKR
Lokasi: Alun-Alun Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta
Nikon D90 | Sigma 10-20 mm HSM
Summer
FLICKR
Lokasi: Wisma Mulia, Jakarta Selatan
Panasonic Lumix DMC-F3
Saya tidak menduga kalau apa yang terlintas di pikiran saya ketika memotret foto ini bisa ditebak oleh Lisyin, di form komentar di Flickr ini. Memang saya membayangkan suasana seperti di film-film Korea (atau film seri Japan AV hehe). Salah satu kebahagiaan memotret itu adalah ketika apa yang terlintas di kepalamu bisa terbaca melalui fotomu. Jadi, saya sangat gembira dengan komentar Lisyin tersebut.
Motif Rumah Gadang
FLICKR
Lokasi: Anjungan Sumatera Barat, Taman Mini Indonesia Indah
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm Macro APO
Bahkan hal-hal yang sepele seperti motif penghias rumah saja sudah menunjukkan bahwa Indonesia itu kaya raya. Terlalu kaya sehingga orang tidak menyadari bahwa Indonesia itu sangaaaaaaaaattt kaya ragam budaya. Ini adalah motif khas Minangkabau. Berbeda dengan motif ala Jawa, Dayak, Bugis, dan ribuan suku yang tersebar di seantero Nusantara.
Rumah Gadang
FLICKR
Lokasi: Anjungan Sumatera Barat, Taman Mini Indonesia Indah
Nikon D90 | Sigma 10-20 mm HSM
Sejak ganti ke Nikon D90, saya jarang sekali memakai lesa wide Sigma 10-20 mm. Mungkin karakter kamera? Entahlah, tapi waktu saya masih pegang Nikon D40, bawaannya jalan-jalan melulu, Gunung Gede dan Karimun Jawa adalah mahakarya D40 bersama Sigma ini. Sekarang memakai D90, saya jarang sekali jalan-jalan; malah bawaannya dibawa cari duid mlulu.
Bicara soal TMII sendiri, mungkin sekarang eranya telah lewat, kalah sama Dufan dan Grand Indonesia (dan mal-mal raksasa lainnya). Tetapi bagaimanapun juga TMII adalah icon. Saya bahkan berani menyebutkan bahwa inilah masterpiece era keemasan Bapak Pembangunan, Soeharto. Jika Raja Samaratungga punya Borobudur, Dinasti Sanjaya punya Prambanan, Bung Karno punya Monas dan Tugu Selamat Datang, maka Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto punya Taman Mini.
Perpustakaan UI – 2010
FLICKR
Lokasi: Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm
Kata beberapa pakar, Presiden Soekarno terlalu dini mendirikan TVRI di saat budaya baca belum tertanam di kehidupan rakyat Indonesia. Padahal, negara-negara besar selalu identik dengan budaya membaca. Budaya baca juga sangat kental di zaman keemasan Islam; ilmuwan-ilmuwan seperti Ibnu Sinna, Abu Yusuf Al-Kindi, adalah sang pencerah kegelapan Eropa. Buku-bukunya diterjemahkan dan dipelajari sehingga mengakhiri masa aufklarung.
Makanya, saya sangat berharap megaproyek perpustakaan UI ini segera jadi. Bangunan berarsitektur nyleneh ini terletak di pinggir danau UI yang asri. Melihatnya, mungkin seperti melihat piramida terbalik di depan museum Louvre. Di luar kemapanan arsitektur bangunan-bangunan UI dengan ciri khas bata merahnya.
Semoga kelak perpustakaan ini dibuka untuk umum, senyaman perpustakaan Binus di kampus Joseph Wibowo Center, Hang Lekir. Tentu saja yang lebih penting adalah buka di akhir pekan sehingga saya bisa menghabiskan Sabtu dan Minggu menenggelamkan diri di tengah-tengah guyuran ilmu pengetahuan. Ironis jika memikirkan tidak ada perpustakaan yang buka di hari Minggu, dengan suasana senyaman kafe Starbuck
Tour Singkat di Kampus ITB
FLICKR
Lokasi: Kampus Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm
Sekitar sembilan tahun yang lalu, inilah obsesi terbesar saya. Menjadi mahasiswa ITB. Pelaksanaan SPMB (sekarang SNMPTN atau entah apa lah namanya) masih dua tahun lagi, tetapi saya sudah tapa brata puasa ngebleng. Ribuan soal latihan saya lahap dengan nikmat. Berbagai pelajaran yang orang sibuk berdebat tentang kurikulum saya pahami sedalam mungkin. Janji saya teriakkan dalam hati: demi, saya tidak akan menegakkan kepala jika belum merasakan dinginnya hawa Bandung, memainkan jari jemari di keyboard di salah satu lab Teknik Informatika ITB! Demi kehormatan, kebanggaan, dan kebahagiaan Ayah dan Ibu saya.
Dan memang perjalanan hidup bercerita lain. Tuhan lebih tahu apa yang menjadi kebutuhan hamba-Nya. Segalanya adalah Dia. Empat tahun berikutnya saya menimba ilmu di kampus ITS. Menghirup hawa Surabaya yang lembab. Membawa gita cinta dan sejuta rasa dan pengalaman yang luar biasa.
Adalah Ifa, sepupu saya yang membangkitkan kenangan itu ketika di sebuah sore yang berhawa sejuk mengantarkan saya berjalan-jalan di lingkungan kampusnya. Saya beruntung karena ITB sedang mengadakan masa orientasi mahasiswa barunya sehingga saya bisa mendapatkan beberapa frame jepretan yang cukup bagus.
Tentu saja ketika lewat di depan gedung bersetrip warnah merah itu, saya berhenti sejenak dan tersenyum, kemudian meminta adik saya itu untuk memotret saya di depan gedung ini. Inilah sebuah pelajaran kepada seorang anak berumur 18 tahun tentang bagaimana cita-cita menghidupkan obsesi, dan bagaimana sebuah obsesi membakar sebuah kerja keras, dan akhirnya ikhlas dan tawakkal tentang apa yang telah menjadi takdir-Nya.
The Heritage
FLICKR
Lokasi: Jl. H Juanda, Bogor, Jawa Barat
Canon Ixus 120 IS
Saya membayangkan beratus tahun yang lalu, meneer-meneer Belanda mengendalikan pemerintahan Hindia Belanda di kota kecil sejuk yang tak jauh dari pusat pemerintahan di Batavia. Kota yang sejuk dan selalu hujan ini diberi nama: Buitenzorg. Kereta kuda berseliweran membawa pejabat-pejabat berseragam putih-putih dan bertopi bulat.
Saya tak tahu dulu gedung ini dipakai untuk apa oleh pemerintahan kolonial, tetapi sekarang gedung yang masih terlihat kokoh terawat itu dipakai sebagai gedung Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah 1 Jawa Barat. Letaknya persis di depan Istana Bogor, yang memang dulunya merupakan pusat pemerintahan di Buitenzorg.
Comments