Review Kamera Saku Nikon Coolpix S6200
Dalam salah satu hobi saya yang banyak itu, fotografi, tahun 2012 adalah tahunnya kamera saku. Saya sedang ada di posisi malas tingkat akut buat membawa-bawa DSLR. Nikon D90 agak terlalu berat buat dibawa jalan-jalan ketimbang Nikon D40 (atau sekarang model D3100 dan D5000) yang praktis dan cukup ringan tapi membawa kualitas yang sangat baik. Galeri halaman depan di fotoblog saya yang saya khususkan untuk foto-foto DSLR jarang update dibanding kategori Daily Photos yang buat saya asal jepret saja.
Saya kurang beruntung dengan kamera saku sehingga saya punya banyak pengalaman dengan kamera saku. Kamera saku saya Canon Ixus hilang diambil orang. Berikutnya adalah Panasonic Lumix DMC F-3, secara optik cukup bandel, tapi sayangnya LCD-nya lemah. LCD-nya tiba-tiba ga mau nyala waktu suatu hari saya hidupkan. Sekarang generasi terakhir kamera saku saya adalah Nikon Coolpix S6200.
Kamera digital mengalami perkembangan eksponensial selama 10 tahun terakhir ini. Saya ingat saya pertama kali lihat kamera DSLR adalah Nikon D70. Kamera besar yang terlihat hebat, lensa hitam panjang, dengan LCD yang kecil. Megapixel-nya cuma 6 MP, sesuatu yang kecil di hari ini.
Jadi, membandingkan kamera digital di zaman sekarang sebenarnya sudah agak tidak relevan lagi. Setiap merk pada kelas harga yang sama memiliki kemampuan dan kualitas yang sama. Selebihnya adalah masalah preferensi. Canon atau Nikon, atau Panasonic Lumix, atau bahkan Leica, dsb. Dalam hal preferensi, berulang kali saya katakan, saya suka karakter warnanya Nikon yang cocok untuk desktop publishing, yang sesuai dengan kebutuhan saya.
Nikon Coolpix S6200 adalah kamera saku kelas entry level dengan harga di bawah Rp. 1,5 juta. Pengalaman saya yang buruk dengan kamera saku membuat saya kapok beli kamera saku high-end di atas Rp. 2,5 juta. What do you expect with under 1,5 milion camera? Don’t expect too much.
Nikon Coolpix S6200 adalah kamera dengan fungsi dasar kamera. Point-and-shoot. Tidak banyak fitur yang handy. Setel white balance aja susah harus masuk jauh ke dalam menu setting. Jadi memang itu yang akan didapatkan. Kamera saku yang cukup tipis untuk dibawa-bawa, kualitas lumayan (artinya bagus di cahaya ideal dan cukup payah di low light), dan karakter warna yang sama persis dengan senior-seniornya dari jajaran merk Nikon.
Kecepatan fokus lambat. Orang yang awam bisa jadi tidak bisa mendapatkan satu gambar penting — misalnya ketika saya menyerahkan kepada juru foto yang memotret saya dan pasangan mempelai di atas panggung. Dipencet, dipikir sudah fokus padahal belum. Ini masalah terburuk dari kamera ini.
Kualitas sebenarnya masih dibawah ekspektasi saya. Saya rasa masih bagus Lumix DMC F-3 yang harganya mirip. Noise dan kehilangan detail di cahaya rendah, sekaligus terlalu ngejreng di cahaya terang. Nikon masih belum bisa menguasai pasar kamera saku, saya rasa. Masih kalah dengan Canon dan Panasonic Lumix.
Jadi begitulah. Jika Anda punya budget sedikit berlebih, saya sarankan untuk memilih seri kamera di atas 1,5 juta. Kalau memang ngepas seperti saya punya, dan penggunaannya tidak terlalu lembut (kebanting-banting, kegores-gores), Nikon Coolpix S6200 akan menjadi pilihan lebih tepat daripada Panasonic Lumix DMC F-3 yang ringkih. Bodi Nikon terkesan lebih kokoh dalam cat hitam kelamnya.
Sample image-nya bisa dilihat di fotoblog saya di http://foto.galihsatria.com/category/daily-photos. Salam jepret!
Project Reklame
Beberapa hari yang lalu saya sempat mengeluh di Twitter kalau saya bosan dengan foto-foto saya yang itu-itu saja. Seperti seorang seniman yang mengalami masa kering ide, saya juga mengalami hal itu sehingga fotoblog saya biarkan tidur selama lebih dari dua bulan.
Saya suka memotret landscape, arsitektural, rekaman kejadian (yang saya sebut once upon a time), dan bunga-bungaan (makro). Tiba-tiba saya merasa foto-foto saya menjadi kusam, kurang bening. Saya selalu iri melihat foto-foto yang menampilkan cerahnya pagi dengan warna-warna cerah: biru, hijau, dengan pencahayaan yang sempurna.
Tadi pagi, waktu menyusuri jalur Sudirman-Thamrin di Car Free Day, saya menemukan ide yang lama saya lupakan. Saya sudah lama ingin mengoleksi iklan-iklan dalam bentuk reklame, poster, dan baliho di jalan. Dulu sekali waktu blog masih ngetren kalau nggak salah ada blog niche yang khusus membahas itu. Sekarang tentu saja sudah mati blognya (emang berapa biji blog niche yang masih hidup?).
Saya memulai topik baru di http://foto.galihsatria.com/topics/reklame/. Tentu saja kategori lainnya akan menggeliat kembali seiring dengan passion motret yang tiba-tiba meledak bangun ini. Khusus “Daily Photos”, saya akan khususkan untuk fotografi mobile. Foto-foto yang asal jepret tanpa pakai mikir. Pokoknya, Don’t think, just shoot!
Pembagian Kelas Kamera, Versi Saya
Jika kita ingin belajar memasak, tentu benda yang pertama kali harus kita punyai adalah alat masak: kompor, wajan, dan bahan makanan. Begitu juga dengan kalau kita suka fotografi dan ingin belajar fotografi: benda yang mutlak harus kita punya adalah sebuah kamera.
Apakah harus kamera bagus dan mahal? Iya dan tidak, tergantung mau seserius apa kita belajar. Kalau mau bisa bikin hidangan ala barat, tentu wajan tidak cukup untuk membuat masakan barat. Mungkin perlu oven, blender, segala macem. Begitu juga dengan fotografi, kalau mau bikin foto bagus sekelas foto iklan di baliho, butuh kamera dan lensa yang bagus — yang pasti mahal harganya.
Nah, di sini saya mau share tentang berbagai macam jenis kamera, menurut versi saya tentu saja. Setiap jenis kamera memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tentu saja. Kalimat bodoh.
Mobile Camera
Ini saya kategorikan untuk kamera-kamera kecil yang biasa ada di gadget: ponsel, smartphone, dan tablet. Ciri-cirinya, ukuran lensanya mini, hanya menjadi bagian dari fungsi alat induknya. Karena ukurannya yang mini, jangan berharap banyak dari kamera jenis ini. Tidak terlalu tajam, range warna dan cahaya yang sempit, dan noise-nya gila-gilaan. Tetapi keunggulannya adalah ia bisa secepat kilat diunggah ke internet. Makanya orang biasa memakai ini untuk pamer ke teman-temannya bahwa ia sedang ada di mana, ngapain, dsb.
Jika mengutip profil Instagram saya, fotografi mobile itu menarik. Keterbatasannya menantang kreativitas untuk menaklukkannya. Fotografi mobile, tidak bisa mengunggulkan kualitas teknis agar dilirik, tetapi lebih mengandalkan kekuatan konsep, cerita, dan komposisi.
Kamera Saku
Mungkin hampir setiap orang memiliki kamera jenis ini. Kamera kecil yang bisa dikantongi. Fungsinya hanya sebagai kamera dan kamera video tanpa fungsi yang lain. Karena itu, ukuran lensanya lebih besar daripada kamera mobile, dengan LCD yang lebih luas. Sekarang saya memakai Panasonic Lumix DMC F-3 yang murah meriah.
Kamera saku mengedepankan segi kepraktisan, maka disebut juga point and shoot camera. Tunjuk dan bidik. Gak usah pakai mikir. Don’t think. Just shoot!
Nah uniknya, saya pikir kamera saku akan semakin terjepit di tengah seiring meningkatnya kualitas kamera mobile. iPhone bisa dikatakan kamera mobile yang terbaik saat ini. Saya sering mengantongi kamera saku saya, memotret, lalu mendiamkannya sampai saya mentransfer-nya ke laptop, editing, lalu mengunggahnya ke web. Project365 di photoblog saya nampaknya hanya bertahan sebulan saja, hehehe…
Kamera Prosumer (Kamera Saku High Level)
Kamera saku saya kategorikan untuk kamera-kamera digital yang harganya di bawah 2,5 juta. Di atas itu saya sebut kamera saku high-end, atau sering disebut juga kamera prosumer. Kamera ini seperti kamera saku karena lensanya tidak bisa diganti-ganti, tetapi dengan fitur dan kualitas yang jauh lebih baik. Pengguna kamera ini ada dua: satu adalah orang yang memiliki budget lebih untuk membeli kamera saku karena ia menginginkan kualitas yang bagus dan tidak usah beli apa-apa lagi. Dan dua adalah penghobi foto yang menjadikan ini sebagai kamera kedua setelah kamera DSLR high-end-nya.
Iya, saya sering malas membawa Nikon D90 yang berat itu (karena harus bawa tas sendiri). Makanya saya menjadikan Lumix F-3 sebagai kamera kedua. Tetapi F3 sendiri kurang jika harus memotret kondisi-kondisi sulit seperti low light, butuh depth of field, macro, dsb. Contoh kamera di kelas ini adalah Canon Powershot G12 (baca: ji twelfv).
Kamera Mirrorless
Saya tahu kamera lucu ini setahun yang lalu waktu teman saya membawa kamera Olympus PEN ke kantor. Bodi-nya yang sekecil kamera saku tapi berlensa gendut membuat saya berpikir itu kamera prosumer. Makin melongo ketika teman saya itu membuka lensa dan menggantinya dengan lensa manual tua buatan Rusia. Ia tergabung di komunitas PENatics, yang sedang gandrung dengan lensa-lensa manual fokus berkualitas bagus.
Jadi ini adalah semacam perkawinan antara SLR dan kamera saku. Lensa bisa diganti-ganti, dengan layar bidik LCD tanpa viewfinder untuk mengintip. Sehingga ukurannya, baik ukuran bodi maupun lensa bisa diperkecil secara signifikan. Praktis, dengan kemampuan yang “nyaris” menyamai DSLR. Saya yakin, beberapa tahun ke depan bukan tidak mungkin kamera ini menduduki kasta tertinggi di dunia fotografi menggeser DSLR.
Kelemahan utama dari mirrorless kamera adalah shutter lag-nya, yaitu jeda/tunda/delay sepersekian detik ketika tombol shutter dijepret. Ini tentu menjengkelkan karena banyak sekali momen yang memerlukan reaksi saat itu juga. Shutter lag ini disebabkan oleh waktu yang diperlukan kamera untuk memindahkan sensor dari mode preview ke mode record.
Ini tidak dialami oleh DSLR karena mode preview dipantulkan oleh cermin, dibelokkan ke viewfinder. Ketika shutter dijepret, cermin tinggal diangkat dan cahaya langsung menuju sensor yang selalu dalam mode record. Makanya model ini disebut SLR – Single Lens Reflex.
Kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex)
Nampaknya saya tidak perlu menjelaskan lagi jenis kamera ini. Ini adalah kamera yang biasanya berwarna hitam, memiliki viewfinder untuk mengintip, lensa yang juga cukup besar, dan yang pasti tidak bisa dimasukkan ke dalam saku. Saat ini, teknologi kamera digital paling canggih ada di kamera DSLR, bahkan untuk entri level sekalipun. Kemampuan menangani noise yang halus, cahaya remang-remang, range warna yang luas, menjadikan kamera DSLR menghasilkan kualitas gambar yang terbaik.
Untuk belajar fotografi, membeli kamera DSLR adalah menunjukkan keseriusan yang tinggi. Ada banyak hal yang bisa dieksplorasi dengan kamera DSLR. Tetapi, saya harus memperingatkan anda dari awal, kamera DSLR hanyalah salah satu bagian kecil dari alat fotografi. Saya harus katakan, dengan satu kamera DSLR dan lensa normal (18-55 mm), dan jika anda ingin:
- Membuat foto candid, anda perlu lensa tele di atas 70 mm
- Membuat foto pemandangan yang asal jepret saja pasti kelihatan bagus, anda perlu lensa wide di bawah 17 mm
- Memotret pernikahan, model, prewedding, anda perlu alat pencahayaan tambahan, bisa speedlight, bisa juga softbox
Jer basuki mawa beya. Begitulah. Makanya sayang sekali kalau sudah bisa motret, punya kamera bagus, tidak dikomersilkan. Paling tidak bisa mengganti biaya beli alat-alat ituh….. He he he …
Sepuluh Foto Terbaik Saya di 2011
Meskipun sedikit terlambat, saya akhirnya merilis sepuluh foto terbaik saya di sepanjang tahun 2011 yang baru saja lewat. Secara kuantitas, sepanjang tahun 2011 memang lebih rendah dari 2010 karena memang saya tidak melakukan banyak kegiatan hunting. Tetapi saya cukup senang karena sebagai gantinya saya bisa menghasilkan satu lagi essay foto yang berjudul “Jatuh Cinta di Jogja”. Mungkin setelah ini akan saya publish untuk Anda semua. Ditunggu yaaa, hehehe…
Karena saya sudah punya rumah baru untuk tempat foto-foto, silakan menikmatinya di http://foto.galihsatria.com Dan berikut adalah bonus untuk foto-foto di tahun-tahun 2007-2010. Enjoy!
Meaningless Fireworks, Happy New Year Folks!
Lokasi: Pantai Atlantis, kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta
Nikon D90 | Sigma 10-20 mm HSM | 15″ / F22
Lepas Maghrib saya langsung meluncur ke Ancol dengan persenjataan lengkap: kamera dengan baterai penuh, lensa secukupnya, dan memanggul tripod yang biasanya saya sangat malas membawanya. Dan saya terkejut kalau jalan masuk ke Ancol sudah macet! Saya memutuskan untuk parkir motor di pelataran hall bowling dan jalan kaki menuju ke lokasi pantai, yang masih lebih dari sekilo lagi.
Gelar tikar di pantai mulai jam sembilan malam, saya pasang tripod di situ sambil mulai jeprat jepret. Jam 11 malam suasana sudah riuh dengan kembang api yang meledak-ledak. Antara kembang api yang disediakan pihak pengelola dan yang dibawa pengunjung tidak terlihat lagi bedanya. Dan menjelang jam 12 malam pergantian tahun, suasana riuh dengan ledakan dan terompet.
Jam 00:00 … Lalu diam …
“Wis, ngene tok?” pikir saya dalam hati. Lalu apa artinya kembang api barusan yang kata pengelola menghabiskan 400 juta itu? Hanya sekadar merayakan perpindahan menit? Pertunjukan kembang apinya pun tidak bertema. Pokoknya meledak-ledak di langit gitu aja. Dan setelah itu, orang bingung untuk keluar. Saya nggak tahu mereka yang bawa mobil dan parkir di dalam bisa keluar jam berapa hehe…
Tapi perayaan tahun baru memang telah menjadi tradisi, membuat bisnis bergerak, creating demand and supply. Pihak pengelola akan mendapatkan untung besar dari sekian ribu pengunjung yang berjejal-jejal di pantai. Pihak penguasa lahan parkir akan berpesta. Penjual kembang api, minuman, terompet, hingga penjual tikar akan mendapatkan rezeki awal tahun. Dan tentu saja, seperti orang kebanyakan, saya lebih suka melihat atraksi kembang api begini ketimbang ikut dzikir akhir tahun di Monas, hehe…
Happy New Year teman-teman!
Memotret Keseharian
Salah satu alasan saya berhenti aktif dari Fotografer.net dan situs forum kamera serupa beberapa tahun yang lalu adalah karena saya bosan dengan style fotografi yang begitu-begitu saja. Olah digital yang berat ibarat wajah cewek cantik pergi ke kondangan — dempulnya semeter. Jadi meskipun fotonya sebenarnya cakep, tapi oldig membuatnya jadi menor dan membosankan.
Lalu seolah-olah fotografi itu sesuatu yang sangat serius. Harus dengan heavy equipment, konsep matang, metering cahaya yang terukur, dan akhirnya eksekusi yang sempurna. Saya mencoba melakukannya ketika membuat project essay. Hasil fotonya memang bagus, dilihat indah, tetapi apa iya fotografi hanya seperti itu? Fotografi seharusnya fun dan bisa juga dibawa tidak serius.
Saya suka foto-foto once upon a time yang merekam sebuah kejadian keseharian dengan apa adanya. Mungkin secara konsep fotografi sekolahan foto itu tidak bagus — penuh noise, ngeblur, komposisi kacau, dsb. Tapi isinya yang dibuat dengan spontan dan apa adanya menurut saya adalah sebuah seni tersendiri. Contoh: suasana sore di sebuah gang sempit di Depok, angkot yang sedang ngetem di depan stasiun Wonokromo, ayam sedang diberi makan di lereng gunung Wilis, seorang santri sedang turun dari masjid di pesantren Tebu Ireng, seorang ayah sedang menggendong anaknya di rumah kayu di tepi hutan Kalimantan, dsb.
Sesuatu yang biasa bagi setiap orang yang menjalani rutinitas, tapi jadi spesial bagi orang di belahan bumi berbeda yang mengalami suasana berbeda. Bagi saya, asap kopaja, kemacetan di jam pulang kantor adalah pemandangan yang menyesakkan dan bikin mata sepet; tetapi mungkin buat kawan yang di Probolinggo jadi spesial karena tidak pernah melihatnya. Itulah yang saya sebut foto once upon a time, atau pada suatu ketika, atau titi kala mangsa.
Karena yang penting adalah objeknya, maka hasil dan kualitas foto jadi nomor dua. Spontan dan fun. Alat jadi tak terbatas harus kamera-kamera mahal, bisa jadi kamera saku (Lumix F3 saya harganya dibawah sejuta), atau kamera ponsel.
Jangan pernah mikir konsep. Jepret! Jepret! Jepret. Lalu upload. Saya sarankan jangan diupload ke jejaring sosial macam Twitter atau Facebook karena foto di Twitter tidak tahan lama dan Facebook tidak tersusun secara kronologis. Konsistenlah, dan lihat apa yang terjadi… (MTGW banged).
Contoh yang bagus tentu saja fotoblog favorit saya: Oh! dan Memo. Meskipun bukan once upon a time dan lebih ke citizen photo jurnalism (maksudnya berkonsep dan kadang-kadang serius banget), tapi dua blog itu bisa jadi inspirasi. Contoh lain, Mas Fahmi yang konsisten dengan Weekly Photo Challenge-nya. Meskipun fokusnya lebih ke pembuatan konsep yang kreatif (maklum, ilmunya sudah di level berbeda), tapi juga bisa sebagai inspirasi.
Saya sedang memulai project foto once upon a time ini di sesi blogging post di foto.galihsatria.com. Update kategori ini tidak akan terlihat di halaman depan karena sudah terlanjur dipakai foto-foto yang lebih (sok) serius. Ini akan terlihat di feed-nya atau langsung di alamat ini. Pokoknya konsepnya: gak pake mikir, gak pake konsep, gak pake teknik, jepret, jepret, jepret!
Memperkenalkan, GALIHSATRIA photoworks
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang,
Teman-teman, saya ingin memperkenalkan sebuah fotoblog yang saya beri judul: GALIHSATRIA photoworks. Sebuah wadah khusus untuk memajang hasil karya fotografi saya. Konsepnya adalah: high resolution! Meskipun tidak segede The Boston’s Big Pictures, tapi di sana saya akan memasang foto berukuran 900-an pixel. Lebih lega daripada foto-foto yang saya pasang di sini yang hanya sekitar 500-an pixel.
Tidak takut dibajak? Sudah terlanjur, saya sudah melihat foto-foto saya ada dimana-mana, baik yang komersial ataupun non-komersial. Tapi saya tetap memohon, marilah kita belajar menghargai sebuah karya cipta. Oke!
Tidak berpanjang-panjang, silakan meluncur ke http://foto.galihsatria.com. Dengan lahirnya fotoblog ini, saya tidak akan memajang foto lagi di sini. Segala hal yang berhubungan tentang fotografi akan saya taruh di sana. Perhatikan konsumsi bandwidth karena situs itu akan cukup rakus bandwidth.
Oh iya, beberapa komentator pertama akan mendapatkan hadiah. Mungkin sebuah edisi cetak dari essay fotografi saya, atau cetakan salah satu foto saya seukuran kertas letter. Mari silakan dinikmati dan jangan lupa subscribe feed-nya di sini: http://foto.galihsatria.com/feed.
Meluncur!
Comments