Sepuluh Foto Terbaik Saya di 2011

Posted by: on Jan 10, 2012 | 6 Comments

Meskipun sedikit terlambat, saya akhirnya merilis sepuluh foto terbaik saya di sepanjang tahun 2011 yang baru saja lewat. Secara kuantitas, sepanjang tahun 2011 memang lebih rendah dari 2010 karena memang saya tidak melakukan banyak kegiatan hunting. Tetapi saya cukup senang karena sebagai gantinya saya bisa menghasilkan satu lagi essay foto yang berjudul “Jatuh Cinta di Jogja”. Mungkin setelah ini akan saya publish untuk Anda semua. Ditunggu yaaa, hehehe…

Karena saya sudah punya rumah baru untuk tempat foto-foto, silakan menikmatinya di http://foto.galihsatria.com Dan berikut adalah bonus untuk foto-foto di tahun-tahun 2007-2010. Enjoy!

Meaningless Fireworks, Happy New Year Folks!

Posted by: on Jan 1, 2012 | 21 Comments

Lokasi: Pantai Atlantis, kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta
Nikon D90 | Sigma 10-20 mm HSM | 15″ / F22

Lepas Maghrib saya langsung meluncur ke Ancol dengan persenjataan lengkap: kamera dengan baterai penuh, lensa secukupnya, dan memanggul tripod yang biasanya saya sangat malas membawanya. Dan saya terkejut kalau jalan masuk ke Ancol sudah macet! Saya memutuskan untuk parkir motor di pelataran hall bowling dan jalan kaki menuju ke lokasi pantai, yang masih lebih dari sekilo lagi.

Gelar tikar di pantai mulai jam sembilan malam, saya pasang tripod di situ sambil mulai jeprat jepret. Jam 11 malam suasana sudah riuh dengan kembang api yang meledak-ledak. Antara kembang api yang disediakan pihak pengelola dan yang dibawa pengunjung tidak terlihat lagi bedanya. Dan menjelang jam 12 malam pergantian tahun, suasana riuh dengan ledakan dan terompet.

Jam 00:00 … Lalu diam …

“Wis, ngene tok?” pikir saya dalam hati. Lalu apa artinya kembang api barusan yang kata pengelola menghabiskan 400 juta itu? Hanya sekadar merayakan perpindahan menit? Pertunjukan kembang apinya pun tidak bertema. Pokoknya meledak-ledak di langit gitu aja. Dan setelah itu, orang bingung untuk keluar. Saya nggak tahu mereka yang bawa mobil dan parkir di dalam bisa keluar jam berapa hehe…

Tapi perayaan tahun baru memang telah menjadi tradisi, membuat bisnis bergerak, creating demand and supply. Pihak pengelola akan mendapatkan untung besar dari sekian ribu pengunjung yang berjejal-jejal di pantai. Pihak penguasa lahan parkir akan berpesta. Penjual kembang api, minuman, terompet, hingga penjual tikar akan mendapatkan rezeki awal tahun. Dan tentu saja, seperti orang kebanyakan, saya lebih suka melihat atraksi kembang api begini ketimbang ikut dzikir akhir tahun di Monas, hehe…

Happy New Year teman-teman!

Memotret Keseharian

Posted by: on Oct 22, 2011 | 14 Comments

Salah satu alasan saya berhenti aktif dari Fotografer.net dan situs forum kamera serupa beberapa tahun yang lalu adalah karena saya bosan dengan style fotografi yang begitu-begitu saja. Olah digital yang berat ibarat wajah cewek cantik pergi ke kondangan — dempulnya semeter. Jadi meskipun fotonya sebenarnya cakep, tapi oldig membuatnya jadi menor dan membosankan.

Lalu seolah-olah fotografi itu sesuatu yang sangat serius. Harus dengan heavy equipment, konsep matang, metering cahaya yang terukur, dan akhirnya eksekusi yang sempurna. Saya mencoba melakukannya ketika membuat project essay. Hasil fotonya memang bagus, dilihat indah, tetapi apa iya fotografi hanya seperti itu? Fotografi seharusnya fun dan bisa juga dibawa tidak serius.

Saya suka foto-foto once upon a time yang merekam sebuah kejadian keseharian dengan apa adanya. Mungkin secara konsep fotografi sekolahan foto itu tidak bagus — penuh noise, ngeblur, komposisi kacau, dsb. Tapi isinya yang dibuat dengan spontan dan apa adanya menurut saya adalah sebuah seni tersendiri. Contoh: suasana sore di sebuah gang sempit di Depok, angkot yang sedang ngetem di depan stasiun Wonokromo, ayam sedang diberi makan di lereng gunung Wilis, seorang santri sedang turun dari masjid di pesantren Tebu Ireng, seorang ayah sedang menggendong anaknya di rumah kayu di tepi hutan Kalimantan, dsb.

Sesuatu yang biasa bagi setiap orang yang menjalani rutinitas, tapi jadi spesial bagi orang di belahan bumi berbeda yang mengalami suasana berbeda. Bagi saya, asap kopaja, kemacetan di jam pulang kantor adalah pemandangan yang menyesakkan dan bikin mata sepet; tetapi mungkin buat kawan yang di Probolinggo jadi spesial karena tidak pernah melihatnya. Itulah yang saya sebut foto once upon a time, atau pada suatu ketika, atau titi kala mangsa.

Karena yang penting adalah objeknya, maka hasil dan kualitas foto jadi nomor dua. Spontan dan fun. Alat jadi tak terbatas harus kamera-kamera mahal, bisa jadi kamera saku (Lumix F3 saya harganya dibawah sejuta), atau kamera ponsel.

Jangan pernah mikir konsep. Jepret! Jepret! Jepret. Lalu upload. Saya sarankan jangan diupload ke jejaring sosial macam Twitter atau Facebook karena foto di Twitter tidak tahan lama dan Facebook tidak tersusun secara kronologis. Konsistenlah, dan lihat apa yang terjadi… (MTGW banged).

Contoh yang bagus tentu saja fotoblog favorit saya: Oh! dan Memo. Meskipun bukan once upon a time  dan lebih ke citizen photo jurnalism (maksudnya berkonsep dan kadang-kadang serius banget), tapi dua blog itu bisa jadi inspirasi. Contoh lain, Mas Fahmi yang konsisten dengan Weekly Photo Challenge-nya. Meskipun fokusnya lebih ke pembuatan konsep yang kreatif (maklum, ilmunya sudah di level berbeda), tapi juga bisa sebagai inspirasi.

Saya sedang memulai project foto once upon a time ini di sesi blogging post di foto.galihsatria.com. Update kategori ini tidak akan terlihat di halaman depan karena sudah terlanjur dipakai foto-foto yang lebih (sok) serius. Ini akan terlihat di feed-nya atau langsung di alamat ini. Pokoknya konsepnya: gak pake mikir, gak pake konsep, gak pake teknik, jepret, jepret, jepret!

Memperkenalkan, GALIHSATRIA photoworks

Posted by: on Oct 21, 2011 | 12 Comments

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang,

Teman-teman, saya ingin memperkenalkan sebuah fotoblog yang saya beri judul: GALIHSATRIA photoworks. Sebuah wadah khusus untuk memajang hasil karya fotografi saya. Konsepnya adalah: high resolution! Meskipun tidak segede The Boston’s Big Pictures, tapi di sana saya akan memasang foto berukuran 900-an pixel. Lebih lega daripada foto-foto yang saya pasang di sini yang hanya sekitar 500-an pixel.

Tidak takut dibajak? Sudah terlanjur, saya sudah melihat foto-foto saya ada dimana-mana, baik yang komersial ataupun non-komersial. Tapi saya tetap memohon, marilah kita belajar menghargai sebuah karya cipta. Oke!

Tidak berpanjang-panjang, silakan meluncur ke http://foto.galihsatria.com. Dengan lahirnya fotoblog ini, saya tidak akan memajang foto lagi di sini. Segala hal yang berhubungan tentang fotografi akan saya taruh di sana. Perhatikan konsumsi bandwidth karena situs itu akan cukup rakus bandwidth.

Oh iya, beberapa komentator pertama akan mendapatkan hadiah. Mungkin sebuah edisi cetak dari essay fotografi saya, atau cetakan salah satu foto saya seukuran kertas letter. Mari silakan dinikmati dan jangan lupa subscribe feed-nya di sini: http://foto.galihsatria.com/feed.

Meluncur!

Museum Kereta

Posted by: on Oct 16, 2011 | No Comments

FLICKR
Lokasi: Museum Kereta Alun-Alun Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

Masjid Gedhe Yogyakarta

Masjid Gedhe Yogyakarta

Posted by: on Oct 10, 2011 | 6 Comments

FLICKR
Lokasi: Alun-Alun Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta
Nikon D90 | Sigma 10-20 mm HSM

Jatuh Cinta di Jogja

Jatuh Cinta di Jogja

Posted by: on Oct 1, 2011 | 5 Comments

Lokasi: Tugu Jogja, Daerah Istimewa Yogyakarta
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR | F/22 – 6″

Yogyakarta, atau Jogja, apa sih istimewanya kota ini sehingga banyak sekali cerita tentang ibu kota kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini? Sebagai kota pusat budaya Jawa, Jogja memang memiliki karakter tersendiri, apalagi jika dibanding kota-kota megapolitan seperti Jakarta dan Surabaya.

Switch to our mobile site