Antara Cost Averaging dan Cut Loss
Dalam berdagang di pasar modal, selalu ada dua sisi psikologis yang bertempur: ketakutan dan keserakahan. Ketika indeks sedang turun, kita takut bahwa indeks akan terus jatuh. Bayang-bayang kejatuhan BEI tahun 1998, dan efek domino dari kejatuhan bursa Wallstreet di 2008 menghantui. Sebaliknya, ketika indeks naik, kita menginginkan indeks terus naik lagi supaya mendapatkan capital gain yang lebih besar. Padahal, segera setelah indeks naik, aksi profit taking menyusul sehingga indeks kembali tenggelam.
Pada akhirnya, tidak ada yang kita lakukan karena ditekan dua sisi psikologis yang berlawanan bagaikan setan dan malaikat. Ketakutan dan keserakahan yang berlebihan membuat kita tidak akan kemana-mana. Musuh terbesar dalam berinvestasi bukanlah pasar, inflasi, gejolak ekonomi, akan tetapi diri sendiri. Butuh energi yang besar untuk memulai. Butuh keberanian untuk mengambil risiko. Sebuah perbedaan besar antara mengerti lalu merencanakan investasi dengan melaksanakan rencana investasi tersebut.
Nah, psikologi trader dalam menghadapi kondisi indeks yang sedang jatuh adalah dengan cut loss. Menjual rugi. Ia membeli di harga tertentu (yang ia pikir cukup rendah), tetapi ternyata harga terus meluncur jatuh. Kemudian ia melakukan penjualan di harga lebih rendah untuk mencegah kerugian yang lebih besar (cut loss). Lalu ia bisa menunggu sampai harga kembali naik untuk mengambil posisi di sana. Atau mereposisi ke saham lain yang sudah mulai merangkak naik.
Psikologi investor tidak pernah mengenal istilah cut loss. Wajar, karena memang tujuannya untuk jangka panjang, gejolak pasar hanyalah noise belaka. Pergerakan secara jangka panjang lebih tercermin dari kinerja perusahaan itu sendiri.
Ketika indeks turun bahkan ambruk, alih-alih melakukan cut loss dan keluar pasar, investor justru masuk pasar. Katanya sedang sale, harga-harga sedang didiskon. Cost averaging adalah, Anda membeli saham di 1000. Kemudian harga jatuh di harga 500. Anda beli satu lagi. Jadi, Anda punya dua dengan harga rata-rata 750. Ketika harga kembali naik, untuk mencapai balik modal, Anda hanya perlu sampai di harga 750 saja. Ketika harga kembali di 1000, Anda bahkan sudah untung.
Namun demikian, cost averaging memerlukan modal yang besar karena Anda harus terus-menerus menyuntikkan dana ketika indeks terus jatuh untuk mendapatkan harga rata-rata yang rendah. Cost averaging juga membutuhkan mental baja, karena bisa saja saham yang Anda suntik dananya takkan pernah kembali, atau bahkan setelah itu dihentikan perdagangannya oleh BEI. Risiko selalu ada. Risiko selalu membayangi dalam investasi.
Cost averaging dengan mental investor juga tidak membutuhkan analisis teknikal (baca: memelototi chart dan berbagai macam indikator) yang terlalu rumit. Saya masih tidak terlalu percaya bahwa analisis teknikal bisa digunakan dengan akurat sehingga saya bisa dengan percaya diri untuk melakukan cut loss. Saya masih percaya paham bahwa harga pasar mengikuti hukum random walk. Apalagi di pasar Indonesia, hehehehe…
Menengok Kinerja Awal IHSG dan Reksadana Saham
Seperti yang pernah saya tulis, salah satu instrumen investasi yang paling agresif adalah pasar modal dan saudara dekatnya: reksadana saham. Karena sifatnya high risk high return maka tentu saja risiko untuk nilai investasi turun juga besar. Meskipun sebenarnya tujuannya adalah jangka panjang, namun saya akan meninjau kinerja dua instrumen ini selama awal tahun 2011 ini. Untuk pasar modal saya akan menengok kinerja IHSG dan untuk reksadana saham saya akan menengok produk RD Panin Dana Maksima. Kenapa PDM, karena kawan saya Daniel memilih untuk investasi di sini.
IHSG
Well, Kinerja IHSG di tahun 2010 sangat impresif. Ia memulai tahun 2010 di titik 2533 dan finish di Desember 2010 dengan harga 3700-an. Jadi kinerjanya sekitar 32%. Artinya portofolio Anda akan telah berkembang sekitar 32% selama tahun 2010.
Namun demikian, nampaknya indeks 3700 dianggap terlalu tinggi untuk memulai tahun 2011. Dengan berbagai sentimen negatif yang ada, indeks terus ambruk hingga di posisi 3400-an. Atau kinerjanya turun sekitar 7%. Artinya, modal yang Anda masukkan di awal tahun akan berkurang alias mungkret sebanyak 7%.
Reksa Dana Saham
Bagaimana kinerja RD Saham? Berinvestasi di reksa dana artinya menyerahkan semua dana kita untuk dikelola seorang manajer investasi. Manajer investasi yang baik adalah yang bisa mengalahkan kinerja IHSG; minimal sama. Tentu saja, karena manajer investasi akan membuat portofolionya dengan sangat cermat: mengeliminasi perusahaan-perusahaan yang berkinerja buruk, mereposisi portofolio ketika dirasa tidak efisien lagi, dan seterusnya. Ambil contoh RD Panin Dana Maksima, di awal tahun 2011 ini kinerjanya minus 4%. Masih mengalahkan kinerja IHSG.
Trading
Di awal tahun, saya memilih untuk mengelola portofolio sendiri ketimbang memasrahkannya ke manajer investasi. Hasilnya, dengan memanfaatkan fluktuasi saham, portofolio saya sementara ini positif 5%.
Mengapa? Selain faktor keberuntungan, faktor modal kecil adalah salah satu faktor. Semakin besar portofolio Anda, maka akan semakin susah melakukan diversifikasi portofolio. Hasilnya, portofolio Anda akan semakin mendekati kinerja IHSG. Itu teori yang saya dapatkan di kelas Corporate Finance pada pembahasan Risk Management. Dengan jumlah modal kecil, saya bisa melompat-lompat. Masuk ketika harga rendah dan keluar di harga tinggi. Tunggu lima sampai sepuluh hari, akan ada saham yang sedang turun dan saya akan masuk di sana.
Cuma memang dari segi usaha dan pengetahuan yang diperlukan, melakukan trading di pasar saham lebih menyita waktu dan pikiran ketimbang hanya berinvestasi di pasar modal — menyusun portofolio di awal tahun berdasarkan analisis fundamental dan meninjaunya kembali di akhir tahun. Hasilnya pun belum bisa terjamin. Ini masih putaran awal, semua teori yang saya bangun masih akan saya perbaiki dan akan dibuktikan ketika 2011 selesai dan saya akan selalu penasaran saya akan finish di level berapa.
Pasar Modal, Investasi Atau Spekulasi?
Pasar Modal menurut saya adalah bahasan yang menarik; suatu ranah dan pengalaman baru bagi saya. Menarik untuk dicermati bahwa pasar modal Indonesia (Bursa Efek Indonesia) sebagian besar dikuasai oleh modal asing. Investor asing adalah penggerak indeks bursa. Ini menunjukkan bahwa pasar modal belum begitu tersosialisasi dengan baik di negerinya sendiri.
Memang pasar modal memang masih banyak mendatangkan pertanyaan, buat saya sendiri, kejelasan tentang investasi di pasar modal masih menjadi pertanyaan. Investor pasar modal bisa dikategorikan investor apa memang spekulan (short time trader)? Dimana batas suatu entitas dikatakan investor atau spekulan?
Dalam pasar modal ada dua jenis, yaitu pasar primer dan pasar sekunder. Pasar primer adalah ketika perusahaan mengeluarkan penawaran saham perdana (IPO — Initial Public Offering) atau ketika rights issue. Di sini hanya investor besar/institusional yang boleh membeli langsung dari pasar saham perdana. Sedangkan pasar sekunder adalah ketika saham diperjualbelikan oleh antar pemilik saham, termasuk diantaranya investor individual. Dana yang berputar di pasar sekunder tidak pernah ada hubungannya dengan operasi perusahaan (kecuali jika perusahaan tsb ikut bermain saham di pasar sekunder).
Ada 2 imbal hasil saham: yaitu dividen dan capital gain (perbedaan harga saat membeli dan menjual saham). Dividen dibagikan suka-suka oleh manajemen perusahaan: bisa dibagi, bisa pula tidak sama sekali. Dan jumlahnya kecil sekali karena terdilusi (dilluted shares) oleh jumlah saham (outstanding shares) yang sangat banyak. Bisa dikatakan, dividen adalah imbal hasil investasi sebenar-benarnya.
Bagaimana dengan capital gain? Dalam segi ekstrim, capital gain mungkin tidak bisa disebut investasi. Capital gain adalah harapan akan harga naik ketika menjual. Seberapa lama, tergantung trader itu sendiri. Tidak perduli berapa lama saham dipegang, karena dana Anda tidak akan pernah dipakai langsung oleh perusahaan dalam menjalankan usaha. Dan kita sebagai investor individual memang tidak pernah bisa membeli langsung dari pasar IPO. Jadi tergantung definisi investasi itu sendiri. Apakah capital gain termasuk investasi? Bukankah instrumen emas batangan imbal hasilnya juga dari capital gain? Well, itu terserah Anda.
Saya memang tidak menduga kalau saya “terseret” menjadi trader begitu cepat. Hanya 14 hari sejak saya membeli saham KLBF dan disusul beberapa saham blue chips. Saya melakukan panic selling saham BMRI karena kabar rights issue, sehingga saya merealisasikan keuntungan 10% — hanya dalam 10 hari, waktu harga saham dikerek spekulan. Tapi saya juga melakukan kesalahan membeli SMGR ketika harga sudah tinggi, sehingga nyangkut merah selama beberapa hari.
Saya merasa excited karena pasar modal membawa banyak pelajaran baru buat saya:
- Saya harus rapi memotret kondisi keuangan saya (aset, cashflow, hutang) sehingga saya tahu betul berapa dana yang bisa saya pakai buat belajar di pasar modal
- Saya lebih mengerti konsep-konsep Financial Analysis, analisis fundamental banyak perusahaan, analisis teknikal, belajar manajemen risiko langsung di lapangan; semuanya adalah praktik lapangan dari ilmu yang saya pelajari di kelas
- Menyadari bahwa emosi itu nyata. Pertempuran keserakahan dan ketakutan itu nyata dan sangat manusiawi. Mempelajari psikologi ini saya anggap penting untuk menghadapi kondisi yang lebih berat daripada sekadar “melihat potensi kerugian/keuntungan saham yang ditanamkan (unrealized gain/loss)”
Hukumnya?
Pasar modal ternyata jauh lebih rumit daripada apa yang tampak dari luar. Bukan hak saya menjustifikasi hukum transaksi pasar modal; biar bagaimanapun juga, ini adalah salah satu faktor penggerak ekonomi secara makro. Logika sederhana saya bilang bahwa pasar modal diperbolehkan karena di sini ada Jakarta Islamic Index, saham-saham yang dinyatakan syariah oleh Dewan Syariah Nasional.
Saya telah membaca banyak artikel mengenai transaksi saham syariah — salah satu yang cukup menyenangkan bahwa ada ulama yang berpendapat kalau trading diperbolehkan dalam batas-batas tertentu. Hal yang jelas-jelas dilarang misalnya: short selling (menjual saham yang belum pernah dimiliki), menggunakan margin trading, menggunakan hutang sebagai modal (leveraging), dll.
Apakah saya mungkin akan berubah pendapat? Sangat mungkin. Sekarang, saya masih dalam pencarian jati diri di pasar modal, masa-masa puber lah. Saya masih mencari pola yang sesuai, apakah short trading memang lebih menguntungkan daripada long buying? Apakah cost averaging lebih manjur ketimbang market timing? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang saya cari jawabannya lewat eksperimen, terjun langsung dalam hiruk pikuk dunia pasar modal.
Comments