Saham untuk Pemula (3 – Habis)
Oke, sekarang, paling tidak kita sudah punya daftar 20 saham yang baik. Saya memutuskan untuk menulis tentang rasio dan kriteria saya sendiri di lain waktu karena itu memerlukan penjelasan tentang analisis fundamental yang lebih. Bulan Februari, musimnya orang jatuh cinta, masak nulisnya begini-begini mlulu, saya mulai merasa blog ini semakin tidak punya perasaaan (coba bandingin sama masa 2004-2006 — isinya patah hatiiii mlulu hahahaha).
Saham-saham yang saya sebutkan di seri Saham untuk Pemula (2), sudah merupakan saham yang baik untuk dikoleksi. Di titik ini boleh-boleh saja membeli dengan emosi dan perasaan:
- Pilih yang paling anda kenal.
Dalam hal ini, saya sudah memilih Bank BRI dan Charoen Pokphand. - Pilih yang paling terjangkau.
Di sini saya belum memakai istilah mahal dan murah karena mahal dan murahnya saham sama sekali tidak dicerminkan oleh harga per lembarnya. Ini berhubungan dengan valuasi saham (ada cukup banyak metode valuasi yang cukup bikin pusing).
Contoh, untuk membeli 1 lot CPIN, dengan asumsi harga Rp. 2600 per lembar, maka anda memerlukan uang minimal sebesar Rp. 1,300,000. Untuk BBRI, dengan asumsi harga Rp. 6900 per lembar, maka anda perlu uang minimal sebesar Rp. 3,450,000.
Setelah itu, kita masuk ke pertanyaan semilyarnya? Kapan harus membeli?
Hal yang paling gampang tanpa banyak berpikir adalah membelinya secara rutin, misalnya sebulan sekali. Katakanlah setiap bulan anda bisa menyisihkan penghasilan Rp. 1,3 juta. Di minggu-minggu tersebut, tunggulah IHSG turun berapapun, dan pastikan saham incaran anda juga sedang turun — berapapun. Lalu belilah. Lakukan secara rutin dan konsisten.
Kalau anda sudah punya dana yang cukup besar, katakanlah, mari berandai-andai, Rp. 100 juta. Maka anda perlu timing untuk melakukannya. Ilmu yang mempelajari kapan ini disebut analisis teknikal. Timing yang sederhana adalah, belilah saat terjadi krisis ekonomi atau moneter di saat pasar modal sedang berdarah-darah. Contoh waktu yang tepat buat masuk pasar adalah saat krisis tahun 1998, 2005, dan 2009 kemarin. Atau Oktober 2011 saat krisis Eropa kemarin. Sekarang bukan saat yang cukup tepat karena saham-saham sudah beranjak mahal. Tunggu saja. Masukin ke logam mulia saja dulu. Secara makro, fundamental Indonesia sangat-sangat bagus. Andai saja infrastruktur telah bagus, dan korupsi itu tidak sebesar sekarang, kita tentu sudah menjadi macan Asia, bukan Cina atau India.
Terakhir, belajar analisis fundamental dan teknikal adalah hal yang perlu dikuasai sebelum masuk pasar modal. Tidak ada sesuatu yang instan. Dengan menguasai ilmu itu, kita akan lebih tenang melihat perkembangan turun naik investasi di pasar modal. Berikut adalah buku-buku yang pernah saya baca:
- Kiat Investasi Valas, Emas, dan Saham. Istijanto Oei (saya baca tahun 2009).
- Trading for Dummies. Michael Griffis (saya baca tahun 2011).
- Technical Analysis: The Complete Resource for Financial Market Technicians. Charles D. Kirkpatrick (2011).
- The Intelligent Investor. Benjamin Graham (2011).
- Corporate Finance. Jonathan Berk (2011).
- Investor Sibuk: Solusi Investasi di Bursa Saham Indonesia bagi orang Sibuk. Ferdie Darmawan (2011).
- Happy Investing: Temukan Rahasia Sukses Berinvestasi di Pasar Saham. Jhon Veter (2011).
Selengkapnya di rak pasar-modal di Goodreads saya.
Terima kasih. Semoga bermanfaat. Selamat berinvestasi. ^_^
Saham untuk Pemula (2)
Oke, setelah mengerti risiko segala macem, saatnya menjawab pertanyaan “Saya harus membeli saham yang mana?”. Ada lebih dari sekitar 400 perusahaan publik yang listing di Bursa Efek Indonesia. Ada perusahaan yang benar-benar bagus, misalnya Bank Mandiri, Semen Gresik, ada yang sekedar mainan para konglomerat macam perusahaan-perusahaannya group Bakrie.
Bagaimana mengetahui sebuah perusahaan itu baik atau tidak? Melalui analisis laporan keuangan dari setiap perusahaan dan diperbandingkan melalui berbagai macam rasio. Ini harus saya akui tidak gampang karena kita harus mengakrabkan diri dengan bahasa-bahasa accounting. Menjadi seorang finance geek. Ini dinamakan analisis fundamental.
Well, tapi kalau sudah niat belajar, apapun menjadi mudah bukan? Saya mulai baca buku tentang pasar modal dan investasi tahun 2009, lalu di sekolah bisnis S2 diajari Corporate Finance tahun 2010, dan baru berani membeli saham pertama saya: Kalbe Farma, tanggal 23 Januari 2011.
Jika nggak mau report-report, alternatifnya: beli reksadana saham. Tidak cukup waktu untuk belajar segala hal tentang analisis fundamental, sudah ada yang mengerjakan yang disebut manajer investasi. Tinggal cari reksadana terbaik dari majalah-majalah, lalu beli rutin setiap bulan (beli kalau IHSG lagi turun, berapapun turunnya), dan kuitansinya taruh di laci. Buka laci lagi lima tahun lagi dan lihat apakah nilainya sudah berlipat.
Tidaaak! Saya tetap pengen beli saham! Lebih asyik beli biangnya langsung! Tapi gak ada waktu buat belajar analisis fundamental!
Baiklah, masih ada cara buat memilih saham. Conteklah portofolio (susunan/komposisi/daftar saham para manajer investasi). Cari dokumen yang namanya Fund Fact Sheet di website manajer investasi. Atau lebih instan lagi, intip portofolio mereka di Bloomberg. Misalnya, berikut adalah top holding dari reksadana Schroder Dana Istimewa yang saya ambil dari Bloomberg: BNI, United Tractors, Astra International, Bumi Resources, Gudang Garam, Indofood Sukses Makmur, Bank Mandiri, Bank Jabar Banten, PT Telkom, dan Perusahaan Gas Negara.
Sumber yang lain, adalah rekomendasi dari majalah. Ini adalah 20 saham dengan fundamental yang baik menurut majalah Investor edisi Januari 2012:
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
- Bank Negara Indonesia (BBNI)
- Bank Mandiri (BMRI)
- Bank Central Asia (BBCA)
- Jasa Marga (JSMR)
- Alam Sutera Reality (ASRI)
- Holcim Indonesia (SMCB)
- Semen Gresik (SMGR)
- Astra International (ASII)
- Perusahaan Gas Negara (PGAS)
- Telkom Indonesia (TLKM)
- XL Axiata (EXCL)
- United Tractors (UNTR)
- Adaro Energy (ADRO)
- Aneka Tambang (ANTM)
- Indo Tambang Raya Megah (ITMG)
- Astra Agro Lestari (AALI)
- Charoen Pokphand Indonesia (CPIN)
- Indofood Sukses Makmur (INDF)
- Kresna Graha Securindo
Nah, silakan pilih salah satu. Tetapi saya pribadi tidak akan berani membeli tanpa konfirmasi dari hasil analisis fundamental saya sendiri. Meskipun cukup rumit, masih ada cara cepat untuk melakukan analisis fundamental dari alat screener website Financial Times. Yang penting adalah kriteria Anda untuk memilih suatu saham. Masing-masing orang akan berbeda kriterianya, sehingga portofolio masing-masing orang juga akan berbeda. Kriteria saya sendiri, akan saya share di postingan berikutnya….
Namanya juga postingan berseri :p
Saham untuk Pemula (1)
Mbak dokter Vicky menanyakan hal yang luar biasa buagus di postingan saya yang ini, bunyinya begini:
Galih, saya kepingin punya saham. Buat orang awam bermodal kecil-kecilan macam saya, enaknya saya beli saham yang bagaimana, yang seharga berapa, dan kira-kira kapan saya bisa dapet untungnya?
Pertanyaan ini tidak gampang dijawab sebaris dua baris saja karena berinvestasi di pasar modal itu gampang-gampang susah. Sama seperti mas Indobrad yang bilang dia belum berani main saham, saya juga. Saya tidak berani main saham. Saya sangat serius dengan saham sehingga tidak saya mainkan. Sepanjang tahun 2011, saya mencoba berbagai macam teknik trading (atau… baiklah, … spekulasi), dan melihat pola pekerjaan saya, saya tidak cukup waktu untuk melakukan swing trading.
Tapi orang suka yang instan-instan bukan? Jadi di sini saya mencoba membagi tips untuk memulai icip-icip rasanya beli saham. Membeli perusahaan gedeeee. Harapannya, nanti kalau sudah terjun, kalau dapat untung mendadak jangan jadi merasa hebat, kalau dapat rugi, jangan panik dan jangan kapok. Terus belajar.
1. Kenali Risiko
Kita semua sudah tahu sampai tingkat paranoid. Pasar modal itu risiko tinggi. Sudah banyak cerita banyak orang yang bangkrut karena maen saham. Gejolak ekonomi selalu diawali dari keruntuhan pasar modal. Sebaliknya, indikator makro yang bagus juga diawali dari kinerja pasar modalnya.
Sebagian orang akan menghindari risiko. Tapi sebagian lagi melihatnya sebagai kesempatan untuk menangguk hasil yang lebih besar dengan meminimalisir risiko.
Percayalah pada saya, ada saham-saham yang tingkat risikonya nyaris seperti deposito.
Jadi hal yang terpenting buat masuk pasar modal sebenarnya justru bukan ilmunya, melainkan kesiapan emosi dalam menghadapi gejolak naik turunnya nilai saham. Apa yang anda lakukan jika nilai saham anda turun hingga 50% (modal sejuta tinggal setengahnya)? Jual rugi? Atau justru menambah koleksi?
Jika anda memilih opsi yang kedua, anda bisa jadi cocok menjadi investor di pasar modal.
2. Orientasi Jangka Paaaanjaaaaaaaaaaaang
Jangan terpengaruh oleh pergerakan harian atau mingguan. Tetap orientasi ke jangka panjang. Lihat grafik di bawah, dalam sepuluh tahun, tren IHSG sangat naik (istilah prokem-nya bullish). Ini sudah termasuk kejatuhan IHSG di tahun 2005 dan 2008. Bayangkan jika tahun 2000 sudah investasi di pasar modal, sekarang nilai kapitalisasinya sudah berlipat sekian ratus bahkan sekian ribu kali. Dan juga tentu saja tambahan dividen tiap tahun yang lumayan buat beli es cendol. ^_^
Untuk target di bawah tiga tahun, lebih baik jangan dimasukkan ke saham. Kecuali kalau anda sudah mengetahui gerak-gerik IHSG. Jitu meramal pergerakan besok setajam dukun beranak Tasik. Di dunia pasar modal ada dua mahzab besar: market is always wrong dan market is always right. Satu pihak berpendapat bahwa pergerakan indeks tercermin dari historikalnya Di lain pihak berpendapat, pergerakan indeks sama sekali acak, tidak ada hubungan dengan historikalnya. Dua-duanya sama-sama ilmiah, sama-sama hasil disertasi para profesor dan master-master keuangan kapitalis dunia.
3. Pakai Duit Nganggur
Duit kuliah, modal kawin jangan dimasukkan ke saham. Ber-ba-ha-ya. Salah-salah bisa di-DO dan ditinggal lari calon isteri/suami. Kenapa, ya karena gejolaknya itu tadi. Jangan sampai kita harus jual rugi karena memerlukan duit itu untuk keperluan yang mendesak.
Apa ya ada yang namanya duit turah (duit sisa)? Di sinilah pentingnya tujuan keuangan. Kebanyakan dari kita (termasuk saya), hidup dengan gaya yang di atas kemampuan kita. Kita hidup untuk hari ini dan esok. Kita tidak hidup untuk masa depan. Bahkan yang lebih ironis, kita membiayai hidup hari ini dengan hutang. Gaya hidup yang sebenarnya terlalu jauh di atas, tetapi kita harus masuk ke tingkatan itu karena teman-teman dan lingkungan kita memaksa kita untuk begitu.
**
Oke, sampai di sini dulu bahasan saya. Saya mempersilahkan teman-teman semua (mbak Vicky tentu saja yang udah tanya) untuk merenung tiga hal itu. Jika berani, saya akan lanjut bagaimana cara memilih saham yang baik dengan cepat dan instan. Sedekah komennya kakaak…. ^_^
Oh iya, supaya tidak penasaran, secara garis besar saya akan jawab pertanyaan di atas:
Saya juga orang awam, bermodal kecil, tidak terlalu banyak waktu untuk mantengin indeks IHSG. Saya memilih saham-saham yang mapan dan tidak terlalu bergejolak. Harus perusahaan besar yang labanya mencapai sekian trilyun rupiah. Masuk ke jajaran LQ45, harganya saya cari sekitar 1500 sampai 4000 supaya saya bisa beli tiap bulan. Saya berinvestasi untuk jangka panjang, sekitar 3-5 tahun, nabung buat DP untuk nyicil rumah di tahun kelima.
Modal awal saya, awal tahun 2011, lima juta. Waktu terjadi gejolak di bulan Oktober 2011 kemarin, saya belikan saham Charoen Pokphan Indonesia (CPIN) waktu harganya jatuh di 2000-an. Sekarang harganya ada di 2650-an. Sudah naik sekitar 24%. Tapi saya tidak segera mencairkannya, saya hanya menunggu harganya sedikit turun untuk menambahnya, rutin setiap bulan. Karena memang saya mau mencairkannya di tahun kelima waktu saya berharap tabungan saya ini sudah cukup untuk mencicil rumah kecil di daerah suburban Jabodetabek.
Semoga bocoran sedikit di atas menginspirasi. Oh iya, saya juga mengalami beberapa kerugian kok waktu saya belajar menjadi swing trader. Untung juga. Yah, dinamika untung rugi lah. Namanya juga belajar. ^_^
Sampai ketemu di postingan berikut…
Membeli Saham, Transaksi Fiktif?
Banyak orang yang masih menganggap pasar modal itu adalah transaksi keuangan fiktif yang menjurus pada money game. Barang yang diperjualbelikan tidak ada dan hanya bermain spekulasi pada gejolak indeks dan harga saham. Semua teman saya akan mudah mengerti investasi logam mulia, dengan alasan barang fisiknya ada, nyata, bisa digenggam. Dan semua memicingkan mata ketika saya ajak untuk investasi di saham, dengan alasan barang fisiknya tidak ada. Apa iya?
Saham adalah bukti kepemilikan sebuah perusahaan. Salah satu cara perusahaan mendapatkan modal adalah menjual kepemilikan dalam bentuk lembar-lembar saham. Uang yang secara nyata masuk ke perusahaan adalah saat penawaran harga saham perdana (IPO – Initial Public Offering). Kemudian, bukti kepemilikan ini bisa diperjualbelikan di pasar sekunder dengan harga mengikuti mekanisme pasar. Bisa jadi lebih tinggi atau lebih rendah dari harga penawaran perdana. Nah, gejolak di pasar sekunder inilah yang dijadikan ajang spekulasi oleh spekulan.
Apa bukti bahwa saham adalah bukti kepemilikan? Deviden. Perusahaan, melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), menentukan nilai yang disisihkan dari laba ke pemilik modal sebagai bagi hasil keuntungan. Jumlah nilai itu dibagi per lembar saham yang diterbitkan oleh perusahaan. Perusahaan yang baik biasanya memerlukan waktu 10-20 tahun untuk mengembalikan jumlah modal yang diberikan investor dalam bentuk deviden (dengan asumsi saham tidak pernah dijual, dibeli dari pasar sekunder — jadi tidak ada faktor capital gain). Kepemilikan saham mayoritas bahkan bisa menentukan arah akan dibawa kemana perusahaan itu.
Tapi kan tidak ada bukti kepemilikan secara fisik seperti surat saham?
Mekanisme pasar saham sudah lama meninggalkan surat saham berbasis kertas dan telah sepenuhnya dipindahkan ke media elektronik (database komputer). Kepemilikan surat saham akan terlihat di aplikasi trading dari broker kita yang biasanya diberi judul: “Portofolio”. Lah, kalau begitu saham kita dipegang sama si broker dong? Nah, di sini ada badan bernama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang menyimpan surat-surat saham itu secara elektronik. Setiap investor pasar modal, besar ataupun kecil, bisa memiliki akses ke KSEI dengan menggunakan kartu KSEI. Saya juga punya.
Waktu saya memilih saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saya membelinya tidak hanya sekadar analisis teknikal dan fundamental saja, tetapi juga karena faktor emosional. Saya menabung pertama kali di produk Tabanas BRI. Ibu saya fanatik dengan BRI. Dan jaringan BRI yang sedemikian luas dan mengakar di desa-desa membuat saya suka bank ini. Jadi saya membelinya. Jadi, meskipun kepemilikan saya mungkin ibarat debu pasir di pantai, saya adalah salah satu pemilik Bank Rakyat Indonesia. Sehingga jelas, saya tidak setuju jika jual beli saham itu adalah transaksi fiktif yang tidak ada objek jual belinya.
Memprediksi Titik Finish IHSG
Di dunia togel, ada istilah nyeket togel. Orang-orang mencoba melakukan prediksi dengan membuat oret-oretan (sketch — nye-ketch) tentang angka yang akan muncul. Analisis-nya bisa rumit dan macam-macam. Nah, saya kok melihat sisi kemiripan dengan memprediksi laju IHSG. Kalau sedang menarik garis-garis support dan resistance, sama sekali tidak ada benar atau salah. Murni spekulasi. Meskipun berdasar pada science matematis yang tak kalah rumit dengan punya para analis togel. )
Jadi ceritanya saya mencoba memprediksi berapa kira-kira titik finish IHSG di 2011. Kondisi yang dipertimbangkan adalah window dressing para fund manager di akhir tahun dan krisis Eropa yang sedang menghajar Yunani dan Italia.
Dengan tarik garis sini, tarik garis sana, jadilah analisis ngawur ini. IHSG berpotensi finish di titik 4000. Dengan teknik yang sama, saya dapat itung-itungan ngawur juga buat BBRI, berpotensi finish di 7200. SMGR berpotensi finish di 9700. CPIN berpotensi finish di 2800.
Tahun 2011, investasi instrumen saham memang kurang menjanjikan karena kondisi resesi global. Saat saya menulis ini, kinerja IHSG masih 1,36% — bahkan kalah dengan bunga simpanan biasa di bank. Sudah saatnya mendiversifikasi portofolio ke logam mulia? Tidak ada ruginya.
PS: Saya tak perlu menuliskan disclaimer seperti yang dilakukan para analis profesional. Saya cukup mengatakan kalau ini analisis ngawur, mirip-mirip dengan analisis para analis togel itu, hehe…
Bagaimana Cara Masuk Pasar Modal?
Dari beberapa instrumen investasi: saham, reksa dana, dan emas logam mulia (LM), saya anggap justru saham yang paling mudah dan simpel. Di LM kita harus ke toko emas, dan jangan harap toko mau melepas LM jika harga sedang turun-turunnya. Mau ke Antam di Pulogadung jauh. Di Reksadana, kita perlu ke bank agen penjual atau sales manajer investasi untuk membeli reksadana. Surat konfirmasi (confirmation letter)-nya biasanya baru sampai seminggu kemudian.
Di pasar modal, jika sudah memiliki rekening di broker atau pialang saham, urusan jual dan beli tinggal masalah klik, bahkan bisa dari ponsel kalau mau. Ini bisa jadi kerugian juga karena sangat mudah bagi kita untuk berubah dari investor menjadi swing trader. Tetapi juga bisa jadi keuntungan karena menjadi swing trader sangat melatih mental kita dalam menghadapi gejolak instrumen investasi yang naik turun. Jadi ketika kemarin nilai investasi reksa dana saya turun drastis, saya tenang-tenang saja karena sudah terlatih mentalnya ketika jadi swing trader.
Langkah pertama yang dibutuhkan untuk menjadi pelaku pasar modal adalah modal itu sendiri, hehe. Modal minimal yang disyaratkan broker pada umumnya Rp. 10 juta, atau Rp. 5 juta kalau sedang ada promo. Dengan modal segitu kita bisa langsung bertransaksi, tetapi pada kenyataannya agar bisa membeli saham-saham unggulan, biasanya modal yang diperlukan lebih dari itu.
Saya memakai Mandiri Sekuritas sebagai pialang saham saya. Awal tahun 2011 kemarin, waktu IHSG jatuh ke 3400 (dari 3700), saya mendaftarkan diri di Plaza Mandiri, Gatot Subroto. Ditemani oleh mbak CS yang cantik, saya disuruh mengisi biodata, fotokopi identitas, dan fotokopi NPWP. Lalu menandatangani cukup banyak term and conditions bermaterai. Di Mandiri Sekuritas, saya dibuatkan rekening Bank Mandiri khusus untuk penyimpanan cash yang siap untuk digunakan, meskipun saya sendiri sebelumnya sudah memiliki rekening Bank Mandiri. Jadi kalau ingin menambah modal, saya cukup transfer dari rekening saya ke rekening saya juga di Mandiri Sekuritas lewat internet banking.
Proses administrasi kira-kira sekitar lima hari kerja, saya kemudian dikirimi user ID, password, dan PIN yang digunakan di Mandiri Sekuritas Online Trading, tempat bertransaksi. Dan, jadilah saya salah satu pelaku pasar modal Indonesia, hehe…
Setelah itu proses transaksinya seperti dagang cabe begitu. Saya disuguhi halaman penuh yang berisi daftar-daftar saham yang sedang diperdagangkan dengan aktif. Angkanya terus bergerak. Ini disebut running trade. Kadang-kadang bisa tercipta suasana seperti Wallstreet di meja saya. Nah, kalau saya ingin beli saham yang sedang diincar, saya ketik ticker code-nya, misalnya Semen Gresik (SMGR). Kemudian akan tertera informasi berapa harga terakhir, daftar antrian, daftar harga-harga yang sedang diminta, daftar harga yang sedang ditawarkan, volume transaksi, dll. Saya akan pasang berapa harga yang saya inginkan, kemudian setelah memasukkan PIN, saya akan masuk ke antrian di lantai bursa.
Misalnya, harga terakhir SMGR adalah 8000, maka akan ada orang yang mau beli (bid) di harga 7800, 7850, 7900, 8000. Kemudian ada juga orang yang akan beli di harga 8050, 8100, 8150 di kolom yang ditawarkan (offer). Jika mau beli di harga 8000, kita akan masuk ke antrian. Tetapi jika kita mau beli dengan harga yang lebih mahal di 8050 atau 8100, maka transaksi akan segera terjadi dan ini disebut matched.
Happy investing!
Pasar Modal, Haram atau Halal?
Tahun 2011 mungkin akan saya canangkan sebagai tonggak awal saya mulai berinvestasi. Tahun mulai merencanakan keuangan dengan baik dan yang paling penting mengubah gaya hidup spending menjadi gaya hidup investing. Antara lain berinvestasi di pasar modal.
Pertanyaan kemudian adalah, halal kah transaksi saham di pasar modal itu?
Anda boleh punya pendapat tersendiri, tapi menurut saya, pasar modal itu boleh dengan syarat-syarat tertentu. Saya mengacu pada Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN – MUI) No. 80/DSN-MUI/III/2011. Secara garis besar, transaksi saham di bursa efek diperbolehkan, dengan syarat-syarat khusus, antara lain:
- Tidak mengandung unsur judi atau spekulasi.
- Transaksi tidak menggunakan margin trading.
Pada umumnya, broker pasar modal kita membolehkan kita untuk bertransaksi melebihi modal yang kita punya. Misalnya modal kita adalah 25 juta, kita bisa bertransaksi hingga 100 juta. Gratis? Tentu tidak, ada bunga yang dikenakan di setiap margin yang kita pakai. - Transaksi tidak dengan short selling.
Short adalah menjual saham tanpa harus memiliki sahamnya terlebih dahulu. Ini dilakukan ketika harga tinggi. Saham ini akan diganti dengan membeli segera di waktu lain — harapannya tentu ketika di harga rendah. Di BEI, transaksi short memang tidak diperbolehkan. - Tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai prinsip syariah dalam perdagangan seperti cornering, insider trading, wash sale, dll.
Spekulasi = Judi?
Poin pertama, yaitu tidak mengandung unsur judi atau spekulasi tentu sangat debatable. Ada yang bilang yang namanya trading itu ya spekulasi, sehingga otomatis judi.
Menurut saya, trading saham, mungkin memang spekulasi, tetapi tidak otomatis menjadi judi. Karena kontrol jual dan beli tetap ada di trader. Keputusan beli dan jual (meskipun rugi) tetap di trader. Dan kalau tidak mau rugi, hold saja saham itu selamanya dan sang trader akan jadi investor dadakan. Seperti orang jualan cabe di pasar, bisa untung, bisa pula rugi.
Lain halnya dengan trading forex (foreign exchange) misalnya. Ini saya anggap judi karena ada margin call, yaitu penjualan secara paksa karena account Anda tidak memiliki dana yang cukup untuk menutupi posisi Anda yang merugi. Trader tidak memiliki kekuasaan terhadap modalnya ketika harga melewati margin level. Ini murni spekulasi. Di saham, Anda bisa memiliki saham dalam posisi merugi, bahkan hingga nilai saham Anda di titik terendah sekalipun. Tidak akan ada margin call.
Transaksi trading yang saya anggap judi lainnya adalah trading indeks. Ini adalah perdagangan berdasarkan indeks, misalnya indeks komoditas, atau indeks IHSG sendiri. Apa barang yang diperjualbelikan? Tidak ada. Misalnya, Anda beli sejumlah unit transaksi di level indeks 300. Anda akan untung jika indeks bergerak naik di 400.
Saham berbeda dengan indeks karena saham adalah bukti kepemilikan suatu perusahaan publik. Salah satu fasilitas investor terhadap kepemilikan ini adalah penerimaan dividen. Dan kepemilikan inilah yang diperjualbelikan di pasar sekunder di bursa efek.
Jadi perdagangan di bursa tidak melulu saham saja, ada banyak sekali jenis-jenis perdagangan mulai dari saham hingga derivatif (turunan)-nya. Hingga saat ini, yang sudah difatwakan DSN-MUI adalah transaksi saham.
Demikian, semoga bermanfaat.
Comments