Money for iOS

Posted by: on Apr 10, 2013 | 2 Comments

Salah satu kelemahan GNUCash untuk manajemen keuangan pribadi adalah cukup rumit untuk orang awam. Sistemnya yang menganut double entry terlalu akunting dan bisa membingungkan untuk orang yang tidak mengenal ilmu akuntansi. Saya menulis buku GNUCash itu pun tidak sempurna — masih banyak sekali prinsip-prinsip akuntansi yang saya langgar.

Di lain pihak, GNUCash sangat fleksibel dan memiliki fungsionalitas yang luas. Saya bisa mengalokasikan tabungan menjadi berbagai macam account untuk tujuan keuangan. Saya bisa melakukan trading dan manajemen portofolio investasi dengan GNUCash. Report-nya pun sangat komprehensif.

Sayang sekali software sebagus ini tidak ada versinya di iOS (iPhone dan iPad). Kayaknya ada di Google Play tetapi sepertinya bukan porting langsung dari GNUCash ini. Karena saya ini suka ngulik hal-hal yang baru, saya cari-cari apakah ada aplikasi pencatatan personal finance yang bagus di iOS.

Saya menemukan aplikasi “Money” di AppStore. Harganya lagi diskon 50%. Saya mencoba dan ternyata menyenangkan juga bisa melakukan manajemen keuangan di perangkat mobile.

Dibandingkan dengan GNUCash, Money jauh lebih mudah dimengerti. Mencatat pengeluaran, tinggal dimasukkan dalam kategori apa, dan memakai duit dari mana (kartu kredit kah, tabungan di bank, atau uang di dompet). Ini akan langsung kelihatan di budgeting. Beda dengan sistem budgeting yang saya buat di GNUCash yang cukup membingungkan untuk dimengerti (bener deh, saya tidak terlalu berharap apa yang bisa saya tulis di buku itu cukup jelas dengan dibaca saja, karena konsep yang saya pakai adalah hasil rekaan saya sendiri dan itu tidak standar, hehehe).

Di sini, sistem penganggaran atau budgeting juga cukup mudah digunakan. Kita bisa mulai menganggarkan masing-masing kategori pengeluaran dan bahkan penghasilan. Nanti, ketika kita mencatat transaksi pengeluaran, setiap kategori pengeluaran akan langsung dibandingkan dengan di anggaran. Masih under budget ataukan sudah over budget.

Kelemahannya tentu saja ada. Kemudahannya membuat Money tidak bisa dipakai untuk perencanaan tujuan keuangan yang bagus. Misalnya seperti dana pensiun dengan reksadana saham, tabungan beli mobil yang terdiri dari beberapa logam mulia dan beberapa saham, dsb. Tetapi ini bisa diakali dengan mencatatnya di spreadsheet saja (perangkat mobile sudah ada aplikasi spreadsheet yang bagus).

Yang penting, dengan adanya aplikasi mobile, tingkat pencatatan lalu lintas keuangan diharapkan semakin akurat karena semakin mudah pencatatannya. Tinggal keluarin handphone dan dicatat langsung di sana. Tidak perlu dicatat di notepad dulu lalu nanti dimasukkan ke GNUCash. Ya kalo rajin, kalau malas? Malas itu manusiawi kok, hehehe…

Ini homepage mereka: iBearSoft Money
Aplikasinya di AppStore: Money for iPad 

Cara Meningkatkan Tabungan

Posted by: on Jan 21, 2013 | 2 Comments

Saya sedang mengikuti kuliah Fundamentals of Financial Planning di Coursera.org yang diajar oleh dosen bersertifikat CFP. Minggu lalu adalah minggu pertama dan membahas hal-hal dasar yang harus diketahui oleh setiap orang yang akan memulai perjalanannya mengelola keuangan pribadi.

Pada prinsipnya sama dengan yang diajarkan oleh setiap perencana keuangan: mengetahui di mana posisi keuangan kita dan menuliskan tujuan keuangan kita.

Untuk mencari tahu dimana posisi kita, caranya cukup sederhana. Pertama adalah memotret kondisi keuangan dengan membuat Net worth statement, atau mencatat berapa harta dan berapa hutang, lalu selisihnya banyakan harta apa hutang. Yang kedua adalah mengetahui kondisi Cash flow, berapa penghasilan dan berapa pengeluaran. Selisihnya untuk mengetahui apakah kita besar pasak daripada tiang atau tidak. Dan yang ketiga adalah Emergency funds. Ini adalah dana segar yang harus disiapkan untuk mempersiapkan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Besarannya sekitar 3-6 bulan pengeluaran.

Nah, karena mahzab CFP adalah mahzab kapitalis, maka pengelolaannya pun juga dengan cara kapitalis. Cara dasar untuk memenuhi tujuan keuangan adalah memperbesar selisih positif antara pendapatan dan pengeluaran. Atau dalam kalimat yang lebih sederhana: memperbesar tabungan. Urusan bagaimana memanfaatkan tabungan ini supaya berkembang efektif adalah urusan lain.

Cara memperbesar tabungan juga sudah banyak yang tahu pastinya. Gampang teorinya, susah dijalankannya. Itu sudah pasti. Berikut beberapa tips dari dosen virtual saya tadi:

  • Menaruh tabungan di rekening tersendiri yang susah diambil. Gunting saja kartu ATM-nya.
  • Transfer uang ke rekening ini secara rutin. Pakai autodebet misalnya.
  • Jadikan menabung sebagai pengeluaran tetap bulanan, dan lakukan di awal setelah gajian seperti layaknya bayar tagihan-tagihan.
  • Tentukan target, dan rayakan target itu ketika target tercapai. Ini yang saya suka. Setiap kali target keuangan saya tercapai, saya selalu merayakannya. Yang paling saya ingat adalah ketika saya berhasil membeli saham saya untuk pertama kalinya, besoknya saya ke Plaza Senayan membeli jam tangan, hehehe…

Intinya sih sebenarnya kembali ke komitmen dan keseriusan kita. Duit hari ini, mau dihabiskan hari ini juga, atau nanti. Logikanya sama saja. Masalahnya adalah ketika kita punya duit, rasa-rasanya seisi dunia mau dibeli. Shop ’til drop katanya. Ujung-ujungnya duit habis aja ga kerasa.

Untuk mengetahui lebih detail tentang perencanaan dan pengelolaan keuangan pribadi ini, bisa ikut kuliah juga di Coursera, atau kalau mau baca buku yang sudah saya tulis hehehe. (Promosi, #repost gan). Silakan di-download di homepage saya yah. Gruatisss. Pamrihnya cuma semoga ilmunya bermanfaat sehingga saya dapat pahala jariyah hehe. Amiiinn…

Menyikapi Kenaikan Pendapatan

Posted by: on Nov 24, 2012 | 7 Comments

Saya terinspirasi dari postingan Daniel tentang efek berantai kenaikan upah buruh. Saya ingin menyoroti dari sisi keuangannya. Saya adalah orang yang termasuk tidak percaya bahwa kenaikan pendapatan adalah satu-satunya cara untuk menaikkan taraf hidup. Makanya saya santai saja walaupun saya sering dicela bahwa gaji saya yang paling rendah di satu tim. Nope, gaji lebih besar bukan berarti hasil akhir jadi lebih kaya.

Kembali ke kasus buruh. Ambil contoh upah awal buruh pabrik adalah 1,5 juta. Dengan upah segini ia cukup berat menghidupi keluarga, bahkan tidak cukup. Kemudian, ia dan teman-temannya menuntut kenaikan upah menjadi 2,2 juta. Kenaikan ini sebesar 46%. Secara persentase sangat tinggi.

Apa yang akan terjadi? Si buruh bersuka cita karena kenaikan itu akan menutupi defisitnya selama ini. Faktor 46% akan memberikan dampak psikologis berupa delusi bahwa si buruh telah naik taraf hidupnya, so ia berhak menempati strata yang sedikit lebih tinggi. Ada saat itu mungkin ia sudah mengambil kredit ini itu karena ada margin 700 ribu…

Padahal tak lama kemudian roda ekonomi mulai bergerak mencari titik ekuilibrium. Harga-harga kebutuhan naik, inflasi bertambah, insentif dari pabrik dikurangi. Ujung-ujungnya, 2,2 juta tidak cukup lagi. Dan begitu seterusnya…

Delusi setelah kenaikan gaji ini saya yakini pasti ada di setiap pekerja. Tergoda untuk hidup dengan lifestyle yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Bagi pekerja kelas menengah, margin pendapatan pasca kenaikan gaji tentu sangat menggoda. Kalau saya selalu berpikir gadget apa yang akan saya beli? Mall selalu memanggil-manggil. Film terbaru, makan di restoran mahal, fashion, jalan-jalan, dan seterusnya. Sikap permisif untuk menaikkan lifestyle selama sebulan dua bulan pertama rawan untuk jadi keterusan. Pokoknya, margin kenaikan itu sangat menggoda dan sayang kalau mau dimasukkan ke komponen surplus dan ditabung. Dimana penghargaan atas kerja keras selama ini?

Mengejar lifestyle tidak akan ada batasnya. Pendapatan berapapun akan kurang. Dua juta, sepuluh juta, dua puluh juta. Habis. Perlu kedewasaan dan kematangan dalam pengelolaan keuangan sehingga kenaikan gaji bisa disikapi dengan positif. Apa sikap yang positif itu?

Selesaikan dulu hutang-hutang konsumtif. Hutang konsumtif itu tanda seseorang hidup di atas batas kemampuan gajinya. Selesaikan juga hutang ke teman. Jangan sampai dicap sebagai pengemplang hutang dan mencederai kepercayaannya. Kepercayaan itu ibarat nila dan susu sebelanga. Setelah itu, restrukturisasi hutang jangka panjang. Cukupi dana darurat. Kapan saja kita bisa dipecat lho, contoh yang paling baru adalah kasus dibubarkannya BPMIGAS, tempat bekerja yang menurut saya tingkat kepastian masa depannya (job security) sangat terjamin.

Setelah itu bergeraklah ke pengeluaran rutin bulanan. Adakah pos yang membuat gaji selalu rawan defisit? Perbesar anggaran di titik itu. Tetap pertahankan efisiensi anggaran bulanan. Perbesar tabungan dan investasi jangka panjang. Apa itu, bisa investasi duniawi, bisa juga investasi akhirat dalam bentuk bantuan sosial. Porsinya sesuaikan dengan kepantasan diri masing-masing. Kata banyak motivator sih, sedekah itu memancing datangnya rezeki yang lebih besar dari Allah SWT. Saya percaya meskipun belum bisa ekstrim. Yang saya tahu sih, Allah selalu mengganti dengan balasan yang berlipat ganda. Kontan. Cash. Kadang-kadang jumlahnya pas betul. Keajaiban sedekah, kata ustadz Yusuf Mansur.

Sisi Negatif Investasi Logam Mulia

Posted by: on Jul 17, 2012 | 3 Comments

Logam Mulia (LM) atau disebut juga emas, dalam bentuk macam-macamnya: batangan, dinar, dsb, adalah instrumen investasi yang sangat populer — paling tidak sudah diterima banyak kalangan (kelas menengah) sebagai instrumen investasi yang lebih dipercaya dan lebih menguntungkan daripada deposito.

Di sini saya ingin mengingatkan, bahwa LM bukanlah tidak punya kelemahan. Biasanya toko emas bilang kalau harga emas susah turun. Saya bilang bukan susah turun, tetapi gejolaknya relatif lebih rendah daripada saham atau forex. Dan perlu diketahui, bahwa komoditas seperti LM memiliki dua macam harga, yaitu harga beli dan harga jual kembali. Artinya, ketika kita membeli LM, pada saat itu juga nilainya jatuh hingga titik harga jualnya. Saya beli LM di awal tahun dengan harga rata-rata sekitar Rp. 510.000. Sampai saat ini, tidak pernah Antam merilis harga jual di atas Rp. 510.000. Artinya unrealized gain  saya masih negatif.

Di sini dapat dilihat bahwa selain lambat geraknya, perlu waktu yang cukup lama untuk mendapatkan keuntungan dari margin harga. Logam mulia sudah cukup berisiko, dan anda akan menambah faktor risikonya menjadi dua kali lipat ketika memakai metode berkebun emas yang bukunya jadi best seller dan diseminarkan dimana-mana itu. Berkebun emas hanya oke ketika harga emas stabil naik, bukan stabil naik turun. Anda rugi berlipat ketika harga emas meluncur turun.

Terus banyak orang juga yang beranggapan kalau LM (apalagi dinar) adalah investasi paling syar’i. Menurut saya ini pemahaman yang terlalu sempit. Apapun yang paling syar’i bisa menjadi haram jika niat dan perlakuannya tidak syar’i. Contohnya berkebun emas itu tadi. Saya mengkhawatirkan segi syar’i-nya karena berkebun emas ada faktor leverage-nya.

Kalau mau jujur-jujuran, investasi di sektor keuangan tidak ada yang benar-benar syar’i secara murni. Prinsipnya kan “menimbun” lalu berharap keuntungan lewat capital gain. Cara kapitalis memperkaya diri.

Investasi yang benar-benar syar’i ya investasi di sektor real! Bisnis. Karena di sana ada uang yang beredar, menggerakkan roda ekonomi umat. Tidak ditimbun. Emas syar’i karena nilainya tidak banyak berubah dalam waktu yang sangat lama. Makanya dipakai sebagai alat tukar di jaman nabi. Tetapi apa iya ketika emas dijadikan alat untuk investasi untuk mendapatkan capital gain masih syar’i? Menabung dan investasi itu cara kapitalis (capital gain — kapital!). Dalam sejarah-sejarah, seingat saya sahabat-sahabat nabi tidak pernah mengajarkan menabung. Yang diajarkan adalah zakat, infaq, sodaqoh, dan sisanya diputar lagi dalam bisnis. Keuntungan bisnis diambil untuk zakat, infaq, dan sodaqoh, lalu diputar lagi. Begitu seterusnya. Dan lihat hasilnya di era Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pemerataan kesejahteraan sampai-sampai baitul mal kebingungan mencari orang yang bisa diberi zakat.

Well, saya menulis begini karena ada banyak orang yang fanatik hanya investasi di emas karena syar’i, membawa-bawa dalil-dalil bermeter-meter. Saya setuju, tapi jangan fanatik buta. Perlu diperiksa dulu niat dan cara menginvestasikan instrumen yang syar’i ini.

Disclaimer: Penulis adalah orang awam, bukan kiai atau ustadz, bukan pula ahli perencanaan keuangan.

Mengapa Tidak Boleh Lebih Dari 30%?

Posted by: on May 16, 2012 | 9 Comments

Hampir semua perencana keuangan dan buku-buku personal finance management mematok besaran maksimal cicilan hutang adalah sekitar 30%. Sudah termasuk cicilan untuk hutang produktif (cicilan rumah dsb) dan hutang konsumtif (kartu kredit, gadget, dsb). Mengapa tidak boleh?

Salah satu sebabnya adalah karena kebutuhan kita lainnya masih terlalu banyak. Kita perlu makan, bayar tagihan operasional hidup (sewa rumah, listrik, air, telepon, belanja bulanan, dkk), perlu beli baju baru, beli sepatu, nonton film 3D di bioskop, nge-mall, dll. Manusiawi kok. Belum lagi kalau ada keinginan lain seperti beli gadget dan hanphone terbaru. Sedemikian banyak kebutuhan itu harus bisa kita penuhi dengan 70% penghasilan saja. Cukup? Bahkan seringkali tidak. Bayangkan jika porsi kewajiban lebih dari 30%, tak heran kalau rekening tabungan kita macam dispatcher saja – aliran uangnya lewat saja.

Saya tidak suka punya hutang, bahkan mau ambil kredit rumah aja masih mikir-mikir (saya tahu pasti ini turunan dari bapak saya). Teman saya ada yang bilang pas saya ingin beli gadget (dan mau nabung dulu), “Buat apa nabung kalau bisa nyicil?”

Well, apalagi untuk hutang konsumtif, secara psikologis efeknya sangat tidak menyenangkan buat saya. Saya pernah beli lensa wide saya yang Sigma 10-20 mm HSM dengan cara cicilan 0% selama enam bulan. Rasa punya barang baru paling banter cuma sebulan dua bulan, tapi rasa ngutangnya sampai setengah tahun sendiri. And for me, that hurts.

Nabung sebenarnya juga hampir sama gak enaknya sama nyicil. Tapi untuk kebutuhan tersier yang tidak ada pun kita masih bisa hidup enak, keinginan itu bisa direm sedikit. Tadi pagi tiba-tiba saya mendapatkan justifikasi sempurna untuk beli gadget, tapi seperti biasa, duitnya belum ada. Mau jual saham, IHSG lagi maen perosotan yang tentu saja lebih cocok buat beli ketimbang jualan (tapi anehnya biasanya pas gajian ntar IHSG sudah balik, ketinggalan kereta lagi).

Nah, ketimbang besok ke toko sambil nyodorin kartu buat digesek, saya lebih suka memendam keinginan itu. Toh semua justifikasi itu bisa dilakukan oleh laptop saya. Namanya keinginan impulsif, bisa jadi pas duitnya terkumpul, keinginan itu sudah mereda. Bisa diarahkan ke sesuatu yang lebih baik, buat bayar zakat misalnya.

Sama halnya jika cicilan hutang itu lebih dari 30%. Meskipun cicilan itu untuk aset produktif yang bisa mengungkit (leverage factor) harta kita menjadi sekian kali lipat. Tapi tetap saja efek psikologisnya, kurang dari 70% penghasilan yang tersisa, mungkin sebagian besar habis untuk kebutuhan pokok. Belum ada bagian untuk kebutuhan sekunder apalagi tersier. Akhirnya merasa penghasilan kurang, efek lebih jauhnya, bekerja menjadi tidak nyaman karena merasa kurang dihargai secara finansial.

Antara Hemat, Pelit, Boros, dan Financial Planning

Posted by: on Jan 15, 2012 | 11 Comments

Financial planning selalu identik dengan hemat cenderung pelit. Banyak orang yang sangat cermat dengan catatan keuangannya, dan juga sangat pelit dengan dirinya sendiri. Untuk beli sebuah handphone baru saja butuh riset yang begitu lama, dan ujung-ujungnya beli second yang harganya sebenarnya hanya sepersekian dari gaji bulanannya.

Menurut saya, memiliki catatan keuangan yang baik tidak boleh seseorang menjadi pelit — bahkan untuk dirinya sendiri. Hidup dengan standar gaya hidup tertentu menurut saya adalah sah-sah saja, asal kita tahu dimana kemampuan kita. Mengejar gengsi, membeli barang-barang branded, menurut saya adalah sebuah penghargaan terhadap kerja keras yang telah dilakukan. Salah satu cara menikmati hidup. Hidup kan bukan hanya setelah pensiun kan? Percuma juga kaya raya di usia tua kalau fisik sudah tidak mendukung lagi untuk melakukan kegiatan seperti masa muda.

Saya sendiri sering dicap hedon oleh teman-teman saya — sebagai balasan untuk saya yang memang sering mencela gaya hidup begitu. Hehehe, harus diakui, saya memang hidup dengan standar gaya hidup yang saya tentukan sendiri. Tetapi itu saya lakukan karena saya tahu dan saya mau hidup di gaya hidup yang mana. Gaya hidup yang menurut saya cukup, tidak berlebih-lebihan, sekaligus tidak terlalu menyengsarakan (menikmati hasil kerja keras). Ow, tentu saja, “cukup” di sini sangat relatif ^_^.

Memiliki perencanaan keuangan yang baik akan membuat kita lebih bijak dalam mengelola pengeluaran. Di sinilah mengapa tujuan keuangan itu sangat penting. Ketika semua tujuan keuangan telah tercicil, kebutuhan telah diamankan (sandang, pangan, papan, zakat, infak, transportasi, hiburan), jika masih ada space, di situlah saatnya hura-hura! Bayangkan jika perencanaan keuangan itu membabi buta tanpa tujuan, semua sisa penghasilan akan masuk pos investasi dan ujung-ujungnya jadi pelit terhadap diri sendiri.

Semakin kita terlatih dengan perencanaan keuangan, tahu betul kondisi kesehatan keuangan kita, akan semakin mudah kita memilah-milah mana kebutuhan, keinginan, dan hasrat. Ketika saya menyelesaikan tabungan untuk membeli laptop baru, saya pun masih ragu-ragu untuk mengeksekusinya karena faktor “hasrat”-nya masih besar disaat laptop saya yang lama masih bisa dipakai. Sehingga sebenarnya kebutuhan belum ada. Membeli laptop ASUS atau Lenovo adalah keinginan. Dan membeli Apple MacBook Pro jelas adalah hasrat.

Jadi, tidak seharusnya perencanaan keuangan yang rapi membuat orang pelit terhadap diri sendiri. Justru akan membuat kita bisa memilih standar gaya hidup yang dikehendaki, sekaligus mengejar apa yang dinamakan gengsi itu — karena pepatah don’t judge the book by its cover itu benar adanya, kebanyakan orang akan melihat bungkus, bukan isi.

Hidup sederhana, menurut saya, bukan hidup dengan pas-pasan cenderung kekurangan, tetapi hidup yang sesuai dengan kemampuan, tidak berlebih-lebihan, sekaligus tidak berkurang-kurangan. Hehe…

Tentang Dana Cadangan

Posted by: on Dec 22, 2011 | 2 Comments

Dana cadangan, atau dana darurat, adalah sesuatu yang sering kita dengar dalam pengelolaan keuangan pribadi. Seperti namanya, dana ini digunakan sebagai jaga-jaga di saat keadaan darurat, di saat tiba-tiba butuh uang mendadak. Dengan begitu, orang tidak perlu mencairkan investasinya yang belum saatnya dipanen, atau jual fixed assetnya (dengan keterangan “Jual Cepat, Butuh Duit”), atau bahkan harus hutang ke orang lain.

Setiap orang memerlukan dana darurat karena saat darurat itu tidak ketahuan kapan akan datang. Orang bisa saja tiba-tiba jatuh sakit (jabang bayik doh doh o sing adoh), mendapatkan musibah, atau tiba-tiba kena PHK, dll. Tentu saja semua itu tidak diinginkan, tetapi kalaupun terjadi sudah diantisipasi. Dana darurat adalah sebagai proteksi agar perencanaan keuangan dan cash flow tidak terganggu.

Nah, seberapa besar dana darurat? Tidak ada rumus yang baku, tetapi biasanya diperbandingkan dengan jumlah pengeluaran kali sekian. Berapa faktor pengalinya? Bebas juga. Tetapi mari berandai-andai. Jika kita di-PHK secara mendadak, sampai berapa bulan kita akan mendapatkan pekerjaan baru lagi? Nah, selama jeda waktu nganggur itulah kita harus bisa hidup dengan dana darurat. Jika dalam waktu sebulan sudah bisa dapat, ya berarti dana daruratnya sekali pengeluaran bulanan. Besaran dana darurat saya adalah sekitar enam kali pengeluaran.

Disimpan dalam Bentuk Apa Dana Darurat?

Pokoknya liquid, bisa dicairkan segera dan kapan saja. Saya menyimpannya dalam tabungan terpisah, dalam rekening yang terpisah dengan rekening yang untuk lalu lintas cash flow. Deposito masih boleh lah.

Bagaimana dengan logam mulia? Karena LM termasuk instrumen investasi, maka saya tidak terlalu merekomendasikan untuk dijadikan dana darurat. Karena nilainya juga fluktuatif. Emas kan susah turun? Kata siapa? Lihat kinerja harga logam mulia selama sebulan terakhir. Sedang turun banyak! Kan sayang kalau dijual rugi. Lah, tabungan biasa kan bisa digerus inflasi? Karena itu juga lah besarannya jangan terlalu besar.

Nah, setelah dana cadangan beres, barulah boleh berinvestasi. Karena investasi itu pahit kawan, jangan bayangin return-nya saja. Saham dikatakan sebagai instrumen produk keuangan yang paling berisiko sekaligus paling besar return-nya, bisa mencapai 40%. Tapi biasanya orang lupa risiko-nya. Sekarang ini, salah satu saham saya return-nya -11%. Kinerja IHSG juga cuma 2% setahun ini. Jauh di bawah nilai deposito. Oleh karena itu keberadaan dana cadangan atau dana darurat dalam jumlah yang cukup sangat diperlukan.

Switch to our mobile site