Antara Hemat, Pelit, Boros, dan Financial Planning

Posted by: on Jan 15, 2012 | 11 Comments

Financial planning selalu identik dengan hemat cenderung pelit. Banyak orang yang sangat cermat dengan catatan keuangannya, dan juga sangat pelit dengan dirinya sendiri. Untuk beli sebuah handphone baru saja butuh riset yang begitu lama, dan ujung-ujungnya beli second yang harganya sebenarnya hanya sepersekian dari gaji bulanannya.

Menurut saya, memiliki catatan keuangan yang baik tidak boleh seseorang menjadi pelit — bahkan untuk dirinya sendiri. Hidup dengan standar gaya hidup tertentu menurut saya adalah sah-sah saja, asal kita tahu dimana kemampuan kita. Mengejar gengsi, membeli barang-barang branded, menurut saya adalah sebuah penghargaan terhadap kerja keras yang telah dilakukan. Salah satu cara menikmati hidup. Hidup kan bukan hanya setelah pensiun kan? Percuma juga kaya raya di usia tua kalau fisik sudah tidak mendukung lagi untuk melakukan kegiatan seperti masa muda.

Saya sendiri sering dicap hedon oleh teman-teman saya — sebagai balasan untuk saya yang memang sering mencela gaya hidup begitu. Hehehe, harus diakui, saya memang hidup dengan standar gaya hidup yang saya tentukan sendiri. Tetapi itu saya lakukan karena saya tahu dan saya mau hidup di gaya hidup yang mana. Gaya hidup yang menurut saya cukup, tidak berlebih-lebihan, sekaligus tidak terlalu menyengsarakan (menikmati hasil kerja keras). Ow, tentu saja, “cukup” di sini sangat relatif ^_^.

Memiliki perencanaan keuangan yang baik akan membuat kita lebih bijak dalam mengelola pengeluaran. Di sinilah mengapa tujuan keuangan itu sangat penting. Ketika semua tujuan keuangan telah tercicil, kebutuhan telah diamankan (sandang, pangan, papan, zakat, infak, transportasi, hiburan), jika masih ada space, di situlah saatnya hura-hura! Bayangkan jika perencanaan keuangan itu membabi buta tanpa tujuan, semua sisa penghasilan akan masuk pos investasi dan ujung-ujungnya jadi pelit terhadap diri sendiri.

Semakin kita terlatih dengan perencanaan keuangan, tahu betul kondisi kesehatan keuangan kita, akan semakin mudah kita memilah-milah mana kebutuhan, keinginan, dan hasrat. Ketika saya menyelesaikan tabungan untuk membeli laptop baru, saya pun masih ragu-ragu untuk mengeksekusinya karena faktor “hasrat”-nya masih besar disaat laptop saya yang lama masih bisa dipakai. Sehingga sebenarnya kebutuhan belum ada. Membeli laptop ASUS atau Lenovo adalah keinginan. Dan membeli Apple MacBook Pro jelas adalah hasrat.

Jadi, tidak seharusnya perencanaan keuangan yang rapi membuat orang pelit terhadap diri sendiri. Justru akan membuat kita bisa memilih standar gaya hidup yang dikehendaki, sekaligus mengejar apa yang dinamakan gengsi itu — karena pepatah don’t judge the book by its cover itu benar adanya, kebanyakan orang akan melihat bungkus, bukan isi.

Hidup sederhana, menurut saya, bukan hidup dengan pas-pasan cenderung kekurangan, tetapi hidup yang sesuai dengan kemampuan, tidak berlebih-lebihan, sekaligus tidak berkurang-kurangan. Hehe…

Tentang Dana Cadangan

Posted by: on Dec 22, 2011 | 2 Comments

Dana cadangan, atau dana darurat, adalah sesuatu yang sering kita dengar dalam pengelolaan keuangan pribadi. Seperti namanya, dana ini digunakan sebagai jaga-jaga di saat keadaan darurat, di saat tiba-tiba butuh uang mendadak. Dengan begitu, orang tidak perlu mencairkan investasinya yang belum saatnya dipanen, atau jual fixed assetnya (dengan keterangan “Jual Cepat, Butuh Duit”), atau bahkan harus hutang ke orang lain.

Setiap orang memerlukan dana darurat karena saat darurat itu tidak ketahuan kapan akan datang. Orang bisa saja tiba-tiba jatuh sakit (jabang bayik doh doh o sing adoh), mendapatkan musibah, atau tiba-tiba kena PHK, dll. Tentu saja semua itu tidak diinginkan, tetapi kalaupun terjadi sudah diantisipasi. Dana darurat adalah sebagai proteksi agar perencanaan keuangan dan cash flow tidak terganggu.

Nah, seberapa besar dana darurat? Tidak ada rumus yang baku, tetapi biasanya diperbandingkan dengan jumlah pengeluaran kali sekian. Berapa faktor pengalinya? Bebas juga. Tetapi mari berandai-andai. Jika kita di-PHK secara mendadak, sampai berapa bulan kita akan mendapatkan pekerjaan baru lagi? Nah, selama jeda waktu nganggur itulah kita harus bisa hidup dengan dana darurat. Jika dalam waktu sebulan sudah bisa dapat, ya berarti dana daruratnya sekali pengeluaran bulanan. Besaran dana darurat saya adalah sekitar enam kali pengeluaran.

Disimpan dalam Bentuk Apa Dana Darurat?

Pokoknya liquid, bisa dicairkan segera dan kapan saja. Saya menyimpannya dalam tabungan terpisah, dalam rekening yang terpisah dengan rekening yang untuk lalu lintas cash flow. Deposito masih boleh lah.

Bagaimana dengan logam mulia? Karena LM termasuk instrumen investasi, maka saya tidak terlalu merekomendasikan untuk dijadikan dana darurat. Karena nilainya juga fluktuatif. Emas kan susah turun? Kata siapa? Lihat kinerja harga logam mulia selama sebulan terakhir. Sedang turun banyak! Kan sayang kalau dijual rugi. Lah, tabungan biasa kan bisa digerus inflasi? Karena itu juga lah besarannya jangan terlalu besar.

Nah, setelah dana cadangan beres, barulah boleh berinvestasi. Karena investasi itu pahit kawan, jangan bayangin return-nya saja. Saham dikatakan sebagai instrumen produk keuangan yang paling berisiko sekaligus paling besar return-nya, bisa mencapai 40%. Tapi biasanya orang lupa risiko-nya. Sekarang ini, salah satu saham saya return-nya -11%. Kinerja IHSG juga cuma 2% setahun ini. Jauh di bawah nilai deposito. Oleh karena itu keberadaan dana cadangan atau dana darurat dalam jumlah yang cukup sangat diperlukan.

Rugi Dua Kali

Posted by: on Dec 8, 2011 | 12 Comments

Seorang kawan memutuskan untuk membeli mobil baru Nissan Grand Livina edisi Highway Star dengan cara kredit selama lima tahun. Sebagai orang yang pernah dan sedang belajar financial planning, saya agak merasa sayang dengan keputusan tersebut. Ada tiga poin lemah dalam keputusan itu:

  1. Mobil adalah jenis aset yang nilainya mengalami penyusutan dari waktu ke waktu. Bahkan, begitu mobil keluar dari dealer, harganya bisa jadi sudah jatuh lima puluh jutaan.
  2. Dia harus membayar cost of fund alias biaya bunga yang dibebankan. Padahal, dengan tenggat waktu cicil yang semakin panjang, bunga otomatis semakin tinggi.
  3. Mobil membuat mau tidak mau gaya hidup juga meningkat. Suka tidak suka. Ini saya amati di keluarga saya (ayah dan ibu) mulai hanya mulai memiliki motor Honda Astrea Star hingga sekarang, Kijang Innova.

Yuk coba main itung-itungan simpel saja. Kebetulan tadi ada brosur kredit mobil Honda All New Jazz di meja saya.

Perhatikan kolom Cost of fund. Semakin lama jangka waktu cicilan, semakin tinggi biaya bunga yang harus dibayarkan. Dalam lima tahun, orang harus membayar 82 juta sendiri untuk biaya bunga! Buset, itu duit sudah bisa dipakai buat bayar DP rumah baru. Kolom PV adalah kolom yang memperhitungkan nilai inflasi di titik 8%. Jadi nilai 82 juta di lima tahun mendatang itu kira-kira sama dengan nilai uang 76 juta sekarang.

Properti seperti rumah dan tanah, nilainya terus naik sehingga biaya bunga ini seolah-olah bisa dicover oleh kenaikan nilai asset jika asset tersebut dijual. Berbeda dengan mobil, berapa harga si Jazz ini setelah lima tahun? Mungkin tinggal 120-an juta. Makanya saya sebut rugi dua kali.

Tentu saja semakin lama jangka waktu cicilan, semakin ringan angsurannya. Siapa yang kuat bayar cicilan 16 juta sebulan? Yang artinya dia harus punya penghasilan minimal 50 jutaan kalau dia mau hidup normal. Tapi siapa pula orang yang gajinya 50 jutaan mau nyicil mobil harga segitu? Kalau mau dia cukup nabung setengah tahun sudah bisa beli cash. Tapi siapa pula orang yang gajinya 50 juta sebulan pakai Honda Jazz? Tentunya ia akan beli mobil sekelas Mercy atau BMW.

Hehehe, point saya adalah, keputusan keuangan tidak hanya sekadar urusan matematis sederhana seperti ini. Semua orang bisa menghitung biaya bunga sebuah cicilan. Tetapi tentu ada kondisi-kondisi yang memaksa orang harus mengambil kredit mobil dengan jangka waktu terlamanya: lima tahun.

Apalagi kalau sudah berbicara tentang gaya hidup dan kelas sosial. Dan kelas sosial erat kaitannya dengan dengan siapa kita bersosialisasi. Artinya jika kita hidup di lingkungan kelas sosial A, kita akan sulit untuk hidup dengan cara yang lebih rendah dari kelas A. Dan inilah yang sering membuat orang memaksakan diri. Ini juga yang menyebabkan penghasilan berapapun akan kurang. Inilah yang menyebabkan orang bergaji seratus juta sebulan belum tentu bisa menyisihkan penghasilannya untuk ditabung.

Memulai Investasi itu Sulit Lho!

Posted by: on Nov 23, 2011 | 6 Comments

Investasi bukan sekedar beli reksadana atau logam mulia lalu menyimpannya. Ini adalah soal kultur dan gaya hidup. From spending lifestyle to investing lifestyle. Dari kecil saya sudah suka menabung, tetapi untuk bisa menjadi investor, itu perlu waktu tersendiri rupanya.

Ketika kita mendapatkan THR, bonus, gaji ke-13, SPM, atau apapun namanya, apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Kalau saya sih gadget — notebook baru (Portege atau Macbook Pro), tablet yang lagi tren macam iPad atau Galaxy Tab, upgrade BlackBerry, iPod, netbook. Oh, masih ada lagi. Saya hobi fotografi kan, lensa apa lagi yang saya perlu? Lensa tele cepat bukaan besar, lensa makro 1:1, kamera saku high-end karena saya mulai merasa DMC F3 saya semakin menurun kualitasnya, kamera mirrorless yang lagi tren macam Olympus PEN. Oui, oui, saya juga suka main musik, saya ingin sebuah sound card yang bagus agar bisa nulis aransemen musik dengan nyaman di laptop.

Fiuh… bayangkan kalau semuanya dipenuhi, hahaha…

Tapi berapa banyak dari kita yang memikirkan soal produk investasi dahulu. Top-up reksadana, beli logam mulia sekilo, beli saham, dll. Kapan menikmati hasil kerja keras kalau harus disimpan? Halangan terbesar saya adalah ketidaktegaan melihat nilai investasi yang turun. Duit yang saya peroleh dengan memeras keringat kok ya berkurang nilainya, mendingan dibelikan sesuatu yang bisa dinikmati ketimbang ngenes lihat portofolio yang mengkerut. Lebih baik saya diamkan di tabungan. Aman dan nyaman…

Lalu kemauan untuk menyisihkan dari penghasilan. Ini adalah bagian tersulit bagi sebagian besar orang. Dan jangan harap ketika penghasilan naik, pengeluaran tidak naik. Adaaaa saja yang membuat jumlah pengeluaran itu ikutan naik (buktikan sendiri dengan mencoba mencatat pengeluaran secara rutin). Saya pernah ngecek kenapa pengeluaran saya lebih besar dari pengeluaran saya ketika masih fresh graduate dulu. Padahal saya merasa tidak menaikkan lifestyle saya — kos-kosan sama cuma naik 50 ribu, ngantor masih pakai sepeda motor, makan masih di warteg dan kaki lima. Tapi toh saya tetap merasa dulu sama lapangnya dengan yang sekarang.

Inflasi salah satu biang keroknya.

Jadi, menabung dengan aman dan nyaman tetap akan turun nilainya karena inflasi. Jadi, suka tidak suka, kita harus mengubah tabungan dengan sesuatu yang lebih berisiko. Sesuatu yang berpotensi mengalahkan inflasi, syukur-syukur kalau bisa menghasilkan yang lebih besar lagi. Berpotensi berarti tidak pasti bisa mengalahkan inflasi, bisa jadi kalah banyak, hahaha…

Contoh. Tabungan — bunga sekitar 2% setahun, dipotong biaya ATM, ini itu, pajak, dua persen itu akan habis. Dihajar inflasi 7% — maka uang kita akan hilang 7% setiap tahunnya. Deposito — bunga sekitar 5%, dipotong pajak, mungkin bersih sekitar 4% setahn. Dijahar inflasi 7%, maka laju merosotnya nilai uang kita adalah 3% setahun. Saham — potensi return 20 – 1000 persen setahunnya. Risikonya, hilang tak bersisa.

Produk mana yang bisa dipilih, semua tergantung bagaimana sikap Anda terhadap risiko. Mengenal profil risiko juga tidak mudah. Tidak langsung serta merta bilang, “Saya adalah investor konservatif, jadi saya pilih deposito!” Itu hanya bisa dikenali dengan mengubah lifestyle, dari spending menjadi investing. Saya perlu waktu dua tahun mempelajari reksadana, emas, dan saham. Saya baru berani beli saham di awal tahun ketiga, beli reksadana di bulan keenam setelah saham, dan beli emas di bulan kesebelas. Makanya saya perlu merayakan diri ketika itu — beli jam tangan setelah beli saham untuk pertama kalinya. Hehe…

Studi Kasus: Mencatat Pemasukan dan Pengeluaran

Posted by: on Nov 12, 2011 | 8 Comments

Topik Financial Planning sudah terbengkalai sebulan lebih rupanya. Yuk mari dilanjutkan lagi. Pada postingan sebelumnya, kita sudah berhasil membantu Galih memetakan kondisi harta dan kewajibannya. Sekarang kita masuk bagian yang paling melelahkan dan membutuhkan konsistensi, yaitu mencatat pengeluaran dan pemasukan harian si Galih ini. Ini boleh dilakukan setiap hari, semingu sekali, atau kapan saja, yang penting setiap pengeluaran. Semakin rajin mencatat, akan semakin akurat, itu prinsipnya.

Seperti yang sudah saya bilang, saya biasa mencatat setelah melakukan transaksi di notes di BlackBerry saya, supaya tidak lupa. Karena kadang-kadang (atau sering) kita sudah lupa apa saja yang sudah kita keluarkan untuk sehari saja. Setelah ada waktu luang (mungkin sehari di akhir minggu), saya memasukkan semuanya ke dalam GNU Cash untuk mengetahui posisi keuangan – apakah saya terlalu boros atau masih boleh berfoya-foya lagi, hehehe…

Oke, kembali ke laptop. Galih telah mencoba mencatat pemasukan dan pengeluarannya setelah ia gajian tanggal 25 Oktober 2011. Kira-kira daftar lalu lintas cashflow-nya seperti tabel di bawah ini:

Tanggal Keterangan

Jumlah

25-Okt-2011 Gajian Hore

Rp. 3,150,000

26 Makan sehari

Rp. 28,000

27 Makan sehari

Rp. 34,000

27 Isi bensin motor

Rp. 20,000

28 Makan sehari

Rp. 32,000

28 Infaq

Rp. 20,000

28 Belanja sabun, odol, dll.

Rp. 70,000

29 Makan sehari

Rp. 63,000

29 Beli pulsa untuk internet

Rp. 120,000

30 Beli buku di Gramedia

Rp. 76,000

30 Makan sehari

Rp. 30,000

31 Makan sehari

Rp. 29,000

1-Nov-2011 Bayar Kos-kosan

Rp. 700,000

1 Makan sehari

Rp. 24,000

1 Bayar cicilan kredit motor

Rp. 800,000

2 Makan sehari

Rp. 32,000

2 Beli pulsa telepon

Rp. 50,000

3 Nonton di XXI Plaza Senayan

Rp. 40,000

3 Makan di Hokben PS

Rp. 50,000

3 Taksi Plaza Senayan PP

Rp. 45,000

4 Makan sehari

Rp. 27,000

4 Beli bensin motor

Rp. 20,000

 

Pengeluaran yang nampaknya cukup umum. Saya juga biasa membeli ini-itu seperti yang dicontohkan di atas (ya eyalah wong yang bikin contohnya saya sendiri :p). Apakah pengeluaran sepuluh hari pertama setelah gajian ini termasuk boros atau tidak? Kita tidak akan tahu. Makanya agar tahu, kita akan masukkan ke sebuah sistem akunting sederhana.

Balik lagi ke worksheet GNU Cash yang telah kita bikin di posting sebelumnya, kita akan melanjutkan membuat pos-pos pemasukan dan pengeluaran yang telah tercatat rapi di tabel di atas.

Mari saya tampilkan lagi worksheet-nya:

Membuat Pos Pemasukan

Untuk pos pemasukan, terserah Anda mau bikin sub account di bawah Income atau langsung menggabungkan semua pemasukan di account tersebut. Jika pemasukan Anda tidak terlalu bervariasi, Anda bisa menggabungkan semua pemasukan di sana. Tetapi jika sumber pemasukannya cukup banyak, lebih baik untuk memisahkannya menjadi beberapa pos pemasukan yang berbeda-beda untuk memudahkan pengawasan.

Saya sendiri saya pecah menjadi tiga, yaitu Gajian Bulanan untuk menampung gaji bulanan dari kantor (karena saya adalah karyawan), Bonus untuk menampung gaji tambahan seperti gaji ketigabelas, THR, dan bonus lainnya, Stock Trading untuk pemasukan dari aktivitas perdagangan saya di pasar modal.

Dalam kasus Galih, mari kita putuskan untuk menggabungkan semua pemasukan di account Income.

Membuat Pos Pengeluaran

Pengeluaran (expense) wajib kita pecah-pecah menjadi banyak pos untuk memudahkan penelusuran dan perencanaan. Pos, atau kelompok pengeluaran, adalah sebuah tempat penampung untuk mencatat pengeluaran-pengeluaran sejenis, sehingga selama sebulan, uang kita bisa diketahui habis kemana saja.

Anda bisa membuat pos pengeluaran sendiri sesuai dengan kondisi Anda. Di sini saya membuat account pengeluaran untuk Galih, diurutkan mulai kebutuhan pokok hingga keinginan, kira-kira seperti ini:

  • Pangan, untuk kebutuhan makan. Segala transaksi yang berhubungan dengan makanan akan ditaruh di sini.
  • Sandang, untuk transaksi beli pakaian dll.
  • Papan, untuk membayar sewa rumah, kontrakan, kos-kosan, dsb.
  • Rumah Tangga, untuk beli keperluan sehari-hari seperti sabun, odol, parfum, minyak rambut, dkk. Saya biasa belanja bulanan di supermarket, dan untuk transaksi di luar kategori pangan, sandang, dan papan, akan saya masukkan ke sini.
  • Zakat dan Infaq, meskipun kita diajarkan untuk tidak menghitung-hitung amal yang telah ditunaikan, tetapi untuk kebutuhan accounting, kita harus mencatatnya.
    Syukur-syukur dengan tercatat begini, kita jadi tahu kalau ternyata porsi untuk amal sangat kecil dibanding dengan porsi hiburan, sehingga kita jadi memperbesar infaq.
  • Transportasi, ini pos untuk urusan wira-wiri misalnya ongkos bus, kereta, tol, beli bensin, dsb.
  • Telekomunikasi, jaman sekarang pulsa sudah menjadi kebutuhan pokok, maka untuk transaksi yang berhubungan dengan telekomunikasi seperti pulsa dan tagihan telepon, tagihan langganan internet, akan masuk ke sini.
  • Hiburan, ini untuk hal-hal yang bersifat hura-hura seperti nonton film, atau apapun yang Anda maksudkan sebagai kategori hiburan.
  • Gadget, beli flash disk, ponsel baru, laptop baru, akan saya masukkan di pos pengeluaran ini.

Mungkin ini dulu sudah cukup banyak. Sambil jalan, Anda akan menemukan pos-pos pengeluaran baru yang cukup unik – yang tidak akan sesuai dimasukkan ke pos apapun.

Dengan mengelompokkan transaksi pengeluaran seperti ini, kita bisa memonitor pos apa saja yang sering bocor alias tidak terencana sehingga kita bisa lebih fokus lagi untuk mempertimbangkan sebuah pengeluaran tertentu.

Kemudian ada satu lagi pos yang selalu berguna, pos yang saya namakan Gain/Loss. Ini adalah kumpulan transaksi-transaksi yang lolos pencatatan. Account ini akan berguna di akhir bulan ketika kita melakukan pencocokan catatan di GNU Cash dan account di Bank (istilah accountingnya: reconciliation). Semakin rajin Anda mencatat pengeluaran, biasanya nilai yang dibuang/ditambahkan ke account ini juga semakin kecil. Sebaliknya, jika Anda mencatatnya dua minggu sekali, bisa jadi nilai yang akan masuk ke pos Gain/Loss ini bisa sampai sepertiga pengeluaran sendiri.

[Uji Coba posting blog dari MS Word 2007]

Mengendalikan Pengeluaran

Posted by: on Oct 7, 2011 | 2 Comments

Ada dua komponen penting dalam hal cashflow, yaitu pendapatan (income) dan pengeluaran (expense). Kecuali jika kita adalah enterpreneour alias wirausaha atao wiraswasta a.k.a business person, komponen pendapatan adalah variabel tetap yang tidak bisa atau sukar untuk diubah-ubah. Seorang karyawan yang bergaji Rp. 3,150,000 setiap bulan akan mendapatkan pendapatan sebanyak itu juga setiap bulan.

Sebaliknya dengan pengeluaran, ini adalah variabel bebas yang kendalinya ada di tangan masing-masing orang. Ini sangat erat kaitannya dengan spending habits dan gaya hidup. Jadi dalam perencanaan keuangan, mengatur pengeluaran menjadi prioritas utama karena ini erat kaitannya dengan kesehatan keuangan, dan akhirnya kemampuan untuk melakukan investasi.

Belum tentu orang dengan gaji yang lebih besar memiliki kemampuan investasi yang lebih besar pula. Gaya hidup orang kan beda-beda. Orang yang bergaji tiga juta katakanlah bisa saving 10% dari penghasilan, berarti Rp. 300,000. Apakah orang yang bergaji sepuluh juta bisa saving sejuta? Belum tentu. Apa iya orang bergaji 10 juta kemana-mana tidak pakai mobil, rela naik metromini? Tentu ia akan merasa layak untuk menghargai dirinya dengan memiliki (mencicil) mobil, naik taksi ketimbang kopaja, makan di restoran di mall mewah seminggu sekali, nge-gym di Fitness First tiga kali seminggu, karaokean dengan kawan-kawan di akhir pekan, dan seterusnya. Dari situ saja, bisa jadi pengeluarannya ngepas 10 juta, bisa jadi lebih atau defisit anggaran.

Untuk bisa mengatur keuangan, sebelum kesana, kita perlu menyadari dulu dimanakah posisi gaya hidup kita. Setelah sadar perlunya menempatkan diri, baru berusaha mengubah kebiasaan. Ini akan luar biasa susah. Ada teman saya yang tersenyum meremehkan ketika saya menabung beli saham Semen Gresik satu lot dan mengetahui besoknya nilainya jatuh hingga 10%. Ia berkata, “kita beda sih…” sambil memainkan jari-jarinya di atas iPad 2-nya yang berkilau.

Iya sih, beli saham atau reksadana tidak akan senikmat beli iPad. Bahkan mungkin menyakitkan karena setelah itu nilainya bergejolak naik turun. Perlu perubahan mental yang cukup radikal untuk mengubah kebiasaan dari spending ke investing. Saya butuh waktu setahun lebih. Sebelum itu prinsip saya, apa yang bisa dinikmati sekarang ya dinikmati sebagai penghargaan terhadap kerja keras. Besok belum tentu bisa.

Jadi buat saya, untuk mengendalikan pengeluaran, sadari dulu letak gaya hidup kita dimana. Jika merasa terlalu berlebihan, mari berusaha membuatnya normal.

Patokannya, ada tiga macam kebutuhan: need, want, desire. Makan adalah kebutuhan (need). Makan nasi uduk lengkap dengan daging ayam adalah keinginan (want). Makan di restoran hotel Mulia jelas adalah desire. Meng-upgrade notebook adalah keinginan. Meng-upgrade notebook menjadi Macbook Pro adalah desire (heleh, kalo ini mah curcol hahaha).

Dengan menekan pengeluaran hingga batas normal (artinya juga tidak pelit-pelit amat sehingga kita sendiri menderita), porsi untuk investasi akan semakin besar. Dan juga cashflow kita akan semakin sehat.

Studi Kasus: Mencatat Aset dalam GNU Cash

Posted by: on Oct 1, 2011 | 6 Comments

So far, kita sudah punya beberapa account register. Sekarang saatnya melakukan pencatatan. Pertama-tama kita masukkan catatan harta, hutang, baru kemudian cash flow. Mari kita bikin sebuah studi kasus.

Galih (24 tahun) adalah seorang lulusan universitas dari Surabaya yang berurbanisasi ke Jakarta Raya. Ia diterima menjadi seorang junior programmer di sebuah software house di bilangan Sudirman-Thamrin dengan gaji per bulan Rp. 3,150,000. Untuk bekerja, ia menggunakan sebuah laptop bermerk Compaq Presario V3000 hasil pemberian kakaknya. Ia menyewa sebuah kamar kos-kosan di daerah Mampang Prapatan dengan harga Rp. 600,000 sebulan. Karena merasa tidak nyaman dengan transportasi umum, ia mencicil sebuah sepeda motor Yamaha Jupiter MX. Hartanya yang lain adalah sebuah ponsel Samsung Galaxy Mini yang ia gunakan untuk berceloteh di Twitter dengan id: @galihsatria. Hobinya fotografi, untuk jeprat jepret ia memakai kamera saku Panasonic Lumix DMC F3.

Untuk menerima gaji bulanan, ia menggunakan rekening Bank Mandiri. Tercatat saldo yang ada di rekeningnya adalah Rp. 4,138,900. Ia belum memiliki rekening lain dan kartu kredit.

Ia berharap bisa segera mengganti notebook tuanya dengan hasil keringatnya sendiri. Targetnya adalah sebuah Toshiba Portege. Karena suka fotografi, ia juga ingin sebuah kamera DSLR entri level Nikon D3100 agar lebih bisa berekspresi dengan hobinya. Cita-citanya memiliki sebuah rumah sendiri ketika ia menemukan jodohnya.

Bantulah Galih menyusun catatan keuangannya dengan GNU Cash. Siap! Kali ini kita akan bantu Galih mencatat harta dan kewajibannya dulu.

Hartanya adalah:

  • Laptop Compaq Presario V3000 tua, ditaksir kalau dijual akan bernilai Rp. 2,000,000.
  • Yamaha Jupiter MX baru seharga Rp. 14,000,000.
  • Samsung Galaxy Mini, kira-kira seharga Rp. 900,000.
  • Kamera saku Panasonic Lumix DMC F3, mungkin seharga sekitar Rp. 500,000.
  • Saldo bank sebesar Rp. 4,138,900.

Kewajibannya adalah:

  • Cicilan kredit untuk sepeda motor Jupiter MX, sebanyak Rp. 800,000 setiap bulan selama dua tahun ke depan.

Oke Galih, mari kita bantu mencatat di GNU Cash. Pertama-tama, dari account Asset, kita buat satu lagi subaccount bernama Fixed Asset untuk mencatat harta Galih. Kemudian, kita isikan saldo Bank Mandiri Galih pada account Bank Mandiri yang sudah dibuatkan di postingan sebelum ini. Karena ini adalah awal pencatatan, maka kita catat di account-account yang bersangkutan pada Opening Balances.

Untuk lebih jelasnya lihat screenshot berikut ini:

Cara membuat subaccount Fixed Asset, pada Assets klik kanan, klik New Account.

Buka account tersebut dengan double click, dan masukkan semua harta tetap Galih. Kira-kira hasilnya menjadi seperti ini:

Masukkan saldo tabungan Galih ke dalam account Bank Mandiri:

Langkah selanjutnya adalah membuat account kewajiban untuk Galih. Pada account Assets, klik kanan, pilih New Account. Pertama-tama kita buat placeholder dulu karena ke depan mungkin si Galih ini akan memiliki banyak hutang. Perhatikan bahwa checkbox placeholder tercentang, account type adalah Liability, dan parent account adalah New top level account.

Kemudian buatlah subaccount liabilities bernama Jupiter MX untuk menampung hutang sepeda motor. Pada account Liabilities klik kanan, klik new Account, kemudian beri nama Jupiter MX. Seperti halnya Fixed Asset dan Bank Mandiri, buka account ini dan isi dengan Rp. 14,000,000. Perhatikan bahwa berbeda dengan account asset, account liabilities diisi di kolom kanan atau kredit, namun GNU Cash tidak membuat kita bingung karena di situ sudah tertulis Decrease dan Increase.

Beres sudah! Kita sudah mencatat kondisi awal keuangan si Galih. Secara kasat mata, kita tahu bahwa kondisi keuangan Galih cukup sehat karena net worth-nya masih positif tujuh juta. Ini terlihat dari account Equity-nya yang berjumlah Rp. 7,538,900. Tetapi apakah kondisi keuangannya juga sehat ketika kita sudah masuk pada cash flow yang sangat erat kaitannya dengan lifestyle alias gaya hidup? Kita akan analisa di posting berikutnya, hehehe…

PS: Tidakkah bermain-main dengan angka seperti ini menyenangkan? Yuk, coba sendiri dengan kondisi kita masing-masing.

Switch to our mobile site