Auto Pilot

Posted by: on Apr 18, 2013 | 3 Comments

Dow Theory, sebuah teori dasar analisis teknikal pergerakan harga saham, menyatakan bahwa price discount everything. Artinya semua hal yang mempengaruhi harga saham telah tercermin dalam pergerakan harga. Semua hal, termasuk fundamental perusahaan, rumor, berita, aksi korporasi, dsb. Oleh karena itu, menurut Dhow Theory, analisis fundamental terhadap suatu saham tidak diperlukan karena itu semua sudah tercermin pada harganya. Ini bertentangan dengan teori para fundamentalis yang menyatakan bahwa pergerakan harga itu sama sekali tidak berarti apa-apa, hanya sebuah kejadian yang random.

Dow Theory lebih sering digunakan oleh para trader — yaitu investor yang lebih fokus pada perubahan harga saham sebagai basis profitnya, atau istilah kerennya capital gain, bukan fokus pada dividen.

Seperti yang pernah saya tulis, aktivitas trading sebenarnya adalah menetapkan sebuah sistem dan aturan kapan beli dan kapan menjual saham berdasarkan indikator-indikator statistik yang diambil dari harga kemarin-kemarin (historical price). Keputusan beli dan jual bisa diambil murni statistik. Oleh karena itu aktivitas trading sebenarnya bisa dilakukan oleh mesin secara autopilot. Ini membantu trader melepaskan diri dari beban psikologis untuk disiplin, utamanya ketika harga bergerak melawan prediksinya.

Katanya, software seperti MetaStock bisa melakukan analisis teknikal, menetapkan aturan-aturan beli dan jual, melakukan backtesting atau melakukan simulasi aturan tersebut dengan harga-harga yang telah terjadi. Tapi pas saya download versi trial software ini saya nggak ngerti cara pakainya, hahaha… Sudah harganya mihil, trainingnya juga mihil…

Saya jadi pengen bikin software itu sendiri. Ketertarikan saya terhadap trading sebenarnya bukan keuntungan atau ruginya, tapi analisis dan forecasting-nya yang menggunakan ilmu statistik. Mungkin menyenangkan sekali jika saya punya mesin yang memantau harga di lantai bursa, melakukan analisis sendiri, dan memberi tahu saya ketika ada saat yang tepat untuk melakukan positioning.

Saya sendiri jarang punya waktu untuk memantau harga di lantai bursa. Saya berinvestasi dengan reksadana dan jika di akhir bulan masih ada sisa anggaran, saya pakai untuk belajar trading.

Money for iOS

Posted by: on Apr 10, 2013 | 2 Comments

Salah satu kelemahan GNUCash untuk manajemen keuangan pribadi adalah cukup rumit untuk orang awam. Sistemnya yang menganut double entry terlalu akunting dan bisa membingungkan untuk orang yang tidak mengenal ilmu akuntansi. Saya menulis buku GNUCash itu pun tidak sempurna — masih banyak sekali prinsip-prinsip akuntansi yang saya langgar.

Di lain pihak, GNUCash sangat fleksibel dan memiliki fungsionalitas yang luas. Saya bisa mengalokasikan tabungan menjadi berbagai macam account untuk tujuan keuangan. Saya bisa melakukan trading dan manajemen portofolio investasi dengan GNUCash. Report-nya pun sangat komprehensif.

Sayang sekali software sebagus ini tidak ada versinya di iOS (iPhone dan iPad). Kayaknya ada di Google Play tetapi sepertinya bukan porting langsung dari GNUCash ini. Karena saya ini suka ngulik hal-hal yang baru, saya cari-cari apakah ada aplikasi pencatatan personal finance yang bagus di iOS.

Saya menemukan aplikasi “Money” di AppStore. Harganya lagi diskon 50%. Saya mencoba dan ternyata menyenangkan juga bisa melakukan manajemen keuangan di perangkat mobile.

Dibandingkan dengan GNUCash, Money jauh lebih mudah dimengerti. Mencatat pengeluaran, tinggal dimasukkan dalam kategori apa, dan memakai duit dari mana (kartu kredit kah, tabungan di bank, atau uang di dompet). Ini akan langsung kelihatan di budgeting. Beda dengan sistem budgeting yang saya buat di GNUCash yang cukup membingungkan untuk dimengerti (bener deh, saya tidak terlalu berharap apa yang bisa saya tulis di buku itu cukup jelas dengan dibaca saja, karena konsep yang saya pakai adalah hasil rekaan saya sendiri dan itu tidak standar, hehehe).

Di sini, sistem penganggaran atau budgeting juga cukup mudah digunakan. Kita bisa mulai menganggarkan masing-masing kategori pengeluaran dan bahkan penghasilan. Nanti, ketika kita mencatat transaksi pengeluaran, setiap kategori pengeluaran akan langsung dibandingkan dengan di anggaran. Masih under budget ataukan sudah over budget.

Kelemahannya tentu saja ada. Kemudahannya membuat Money tidak bisa dipakai untuk perencanaan tujuan keuangan yang bagus. Misalnya seperti dana pensiun dengan reksadana saham, tabungan beli mobil yang terdiri dari beberapa logam mulia dan beberapa saham, dsb. Tetapi ini bisa diakali dengan mencatatnya di spreadsheet saja (perangkat mobile sudah ada aplikasi spreadsheet yang bagus).

Yang penting, dengan adanya aplikasi mobile, tingkat pencatatan lalu lintas keuangan diharapkan semakin akurat karena semakin mudah pencatatannya. Tinggal keluarin handphone dan dicatat langsung di sana. Tidak perlu dicatat di notepad dulu lalu nanti dimasukkan ke GNUCash. Ya kalo rajin, kalau malas? Malas itu manusiawi kok, hehehe…

Ini homepage mereka: iBearSoft Money
Aplikasinya di AppStore: Money for iPad 

Transaksi yang Berkualitas

Posted by: on Mar 14, 2013 | One Comment

Menjadi chartist, atau trader yang menggantungkan transaksinya atas dasar hasil analisis teknikal, kadang-kadang kepuasannya bukan pada besar kecilnya keuntungan yang didapat, tetapi dari ketepatannya meramal pergerakan harga saham.

Seorang chartist memang tidak mungkin bisa menebak arah harga saham hanya berdasarkan pergerakan historikal, tetapi hal itu membantu mengambil keputusan yang jauh dari spekulasi. Membeli atau menjual saham tanpa dasar sangat berbahaya, dan analisis teknikal menyediakan batasan-batasan tertentu untuk kapan kita beli dan kita jual.

Oh, tidak ada itu namanya timing di pasar modal. Orang tidak bisa menebak. Tetapi analisis teknikal memang bisa membantu mengantisipasi kok. Ketika sinyal negatif muncul, kita harus keluar posisi. Kalau toh ternyata harga melambung naik ya dibiarkan saja. Iya kalau naik, kalau turun gimana? Keputusan untuk keluar sangat membantu untuk melindungi dari kerugian.

Akhirnya IHSG longsor juga, setelah sekian lama ditunggu-tunggu, hehehe… Hari ini saya 100% cash setelah melepas saham terakhir saya — CPIN. Sambil menunggu tanda pembalikan arah, mungkin saya akan top up reksadana lagi. Strategi yang berbeda untuk tujuan berbeda, trading dan investasi. Tujuan berbeda dengan visi yang sama: memperbesar aset atau kapital, sementara orang yang berusaha melakukan itu dinamakan… kapitalis, hehehe…

Saham Melonjak, LM Stagnan, What Should We Do?

Posted by: on Mar 11, 2013 | One Comment

Per pagi ini, IHSG telah ada di posisi 4870, dimana posisi tertingginya sepanjang masa adalah 4900. IHSG mulai mendaki pada pertengahan Januari dan nyaris tidak pernah koreksi. Kata berita, yang menyebabkan indeks bertingkah seperti itu adalah derasnya dana asing yang masuk. Lagi-lagi asing.

Trader galau seperti saya ini, kalau turun panik, kalau naiknya drastis seperti ini juga bingung, hehehe. Soalnya kehabisan barang. Mau entri lagi sudah takut ketinggian dan tiba-tiba sudah di puncak, eeeh… jadi nyangkut deh walhasil. Untung saya masih hold satu saham yang naiknya mengikuti IHSG, baru saya jual tadi pagi karena dia kena trailling stop saya.

Paling tidak, saya sudah memutuskan untuk mengikuti sistem trading yang telah saya buat. Saya hanya memakai Moving Average, MACD, dan Stochastic. Yang masih saya pelajari gerak-geriknya adalah pemanfaatan garis support dan resistance, karena di sistem saya sekarang, saya belum punya strategi untuk exit untuk melindungi profit dan membatasi kerugian. Juga, menunggu sinyal crossing dari MACD itu perlu berminggu-minggu.

Intinya, kalau memutuskan trading, harus berani stop loss alias jual rugi.

Sampai hari ini, modal saya masih bertumbuh meskipun pelan-pelan. Saya belum berani menambah porsi modal setiap kali saya entri posisi. Belum berani lihat kerugian yang berlipat ganda.

Jadinya, modal saya sebagian besar dalam bentuk cash. Dengan sistem baru sekarang ini, saya tidak pernah memakai modal saya 100%. Saya tidak bisa menambah modal karena dengan modal yang sekarang ini saja, saya belum pernah kehabisan dana cash.

Jadi tabungan perencanaan keuangannya mau diarahkan kemana?

Sementara itu, LM alias emas batangan, performanya stagnan cenderung turun. Wajar, karena memang pasar modalnya sedang naik. Biasanya kalau pasar modalnya jelek, baru LM naik. Sempat kemarin LM menanjak ke harga yang sangat bagus sehingga saya sempat berpikir untuk menambah porsi investasi di LM, tetapi eh, ternyata turun lagi. Bahkan sekarang ke titik saya dulu beli LM ini. Ingat yah, harga beli dan harga jual LM itu berbeda. Begitu kita keluar dari toko emas, nilai LM kita sudah turun 10% sampai 15% (buy back price).

Jadi, what should we do? Tetap fokus ke tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing. Kalau biasa nabung LM ya diterusin koleksinya. Reksadananya juga diterusin. Meskipun saya trading, saya masih beli reksadana Panin Dana Maksima saya. Karena fund manager reksadana itu pasti lebih hebat daripada saya, performa saya sekarang sudah tidak bisa mengejar imbal hasil IHSG, kalah separuhnya. Cuma akhir-akhir ini saya lebih suka nabung dalam bentuk tabungan, karena sebentar lagi saya akan eksekusi banyak sekali tujuan keuangan, hehehe…

Tentang BUMI

Posted by: on Feb 23, 2013 | 5 Comments

Sepertinya akhir-akhir ini pelaku pasar pada heboh tentang BUMI (PT. Bumi Resources, Tbk) ya? Saham ini sebenarnya tidak pernah saya lihat sejak saya belum masuk pasar modal. Waktu itu, teman kantor yang seorang swing trader, Agung, acapkali menceritakan keanehan-keanehan saham ini.

Ada ungkapan umum yang saya patuhi: jauhi saham-saham keluarga Bakrie apapun yang terjadi, kecuali jika ARB jadi presiden, hehehe. Analisis fundamental saya di awal tahun 2013 ini juga mengindikasikan bahwa BUMI bukanlah perusahaan yang sehat. Indikator ROE yang rendah, cash flow negatif, cukup menakut-nakuti saya. Saya mungkin trader yang penakut karena tidak pernah mau keluar dari daftar LQ45 untuk trading, itupun juga setelah diseleksi khusus untuk saham-saham yang fundamentalnya sehat.

BUMI memang fenomena. Saham ini bergerak dalam rentang yang sangat lebar. Awal tahun 2011, awal-awal saya belajar saham, BUMI ada di titik tertingginya di 3600. Awal tahun 2012, BUMI bergerak di sekitar harga 2600. Investor apes yang masuk di harga 3600 akan merugi 30% (uang sejuta tinggal 700 ribu). Tapi okelah, trader akan menunggu support terkuat untuk masuk. Support itu ada di 1600 di sekitar bulan Mei 2012. Tapi lagi-lagi BUMI longsor ke 1200. Puncaknya, bulan puasa 2012 kemarin saya masih ingat, harga BUMI jatuh ke titik terendah di harga sekitar 600 dan kemudian bergerak sideways.

Saya tidak bisa membayangkan seorang investor sejati yang menyisihkan gajinya untuk dollar cost averaging setiap bulan. Atau trader yang masuk di 3600. Ia sudah merugi 80% (uang 100 juta tinggal 20 juta).

Hari Selasa pagi yang lalu (kalau tidak salah), saya diberi tahu teman untuk membeli saham BUMI. Saham BUMI bergerak naik dan nampaknya orang-orang juga ramai-ramai membelinya. Tapi saya ini orangnya penakut. Saya takut saya sudah terlambat masuk. Saya tidak sempat melakukan analisis teknikal karena minggu ini saya disibukkan oleh pekerjaan. Tapi saya lihat sekilas, indikator-indikator yang biasa saya pakai untuk masuk (saya belum punya indikator buat keluar hahaha), tidak menunjukkan konfirmasi. Ya sudah, saya harus mematuhi aturan yang saya buat sendiri. Saya tidak menyesal kalau BUMI meloncat naik karena kegiatan trading sebenarnya adalah membuat sebuah sistem, kapan masuk, hold, dan kapan keluar.

Harga penutupan minggu ini ada di 910, saya akan ada di posisi merugi jika saya masuk hari Selasa lalu. Apakah analisis saya benar? Tidak ada yang bisa menebak arah pasar selanjutnya. Bisa saja ini hanya sebuah koreksi untuk melanjutkan kenaikan. Tetapi harap diingat, disana Stochastic sudah ada di area jenuh beli (overbought). Dan kalau melihat berita, nampaknya tidak akan ada perubahan secara fundamental dalam waktu dekat ini. Jadi saya memilih tetap jauhi saham BUMI. Masih ada beberapa saham yang ada dalam tren naik dan berfundamental bagus. Atau beli reksadana saja yang aman dan nyaman, hehehe…

Cara Meningkatkan Tabungan

Posted by: on Jan 21, 2013 | 2 Comments

Saya sedang mengikuti kuliah Fundamentals of Financial Planning di Coursera.org yang diajar oleh dosen bersertifikat CFP. Minggu lalu adalah minggu pertama dan membahas hal-hal dasar yang harus diketahui oleh setiap orang yang akan memulai perjalanannya mengelola keuangan pribadi.

Pada prinsipnya sama dengan yang diajarkan oleh setiap perencana keuangan: mengetahui di mana posisi keuangan kita dan menuliskan tujuan keuangan kita.

Untuk mencari tahu dimana posisi kita, caranya cukup sederhana. Pertama adalah memotret kondisi keuangan dengan membuat Net worth statement, atau mencatat berapa harta dan berapa hutang, lalu selisihnya banyakan harta apa hutang. Yang kedua adalah mengetahui kondisi Cash flow, berapa penghasilan dan berapa pengeluaran. Selisihnya untuk mengetahui apakah kita besar pasak daripada tiang atau tidak. Dan yang ketiga adalah Emergency funds. Ini adalah dana segar yang harus disiapkan untuk mempersiapkan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Besarannya sekitar 3-6 bulan pengeluaran.

Nah, karena mahzab CFP adalah mahzab kapitalis, maka pengelolaannya pun juga dengan cara kapitalis. Cara dasar untuk memenuhi tujuan keuangan adalah memperbesar selisih positif antara pendapatan dan pengeluaran. Atau dalam kalimat yang lebih sederhana: memperbesar tabungan. Urusan bagaimana memanfaatkan tabungan ini supaya berkembang efektif adalah urusan lain.

Cara memperbesar tabungan juga sudah banyak yang tahu pastinya. Gampang teorinya, susah dijalankannya. Itu sudah pasti. Berikut beberapa tips dari dosen virtual saya tadi:

  • Menaruh tabungan di rekening tersendiri yang susah diambil. Gunting saja kartu ATM-nya.
  • Transfer uang ke rekening ini secara rutin. Pakai autodebet misalnya.
  • Jadikan menabung sebagai pengeluaran tetap bulanan, dan lakukan di awal setelah gajian seperti layaknya bayar tagihan-tagihan.
  • Tentukan target, dan rayakan target itu ketika target tercapai. Ini yang saya suka. Setiap kali target keuangan saya tercapai, saya selalu merayakannya. Yang paling saya ingat adalah ketika saya berhasil membeli saham saya untuk pertama kalinya, besoknya saya ke Plaza Senayan membeli jam tangan, hehehe…

Intinya sih sebenarnya kembali ke komitmen dan keseriusan kita. Duit hari ini, mau dihabiskan hari ini juga, atau nanti. Logikanya sama saja. Masalahnya adalah ketika kita punya duit, rasa-rasanya seisi dunia mau dibeli. Shop ’til drop katanya. Ujung-ujungnya duit habis aja ga kerasa.

Untuk mengetahui lebih detail tentang perencanaan dan pengelolaan keuangan pribadi ini, bisa ikut kuliah juga di Coursera, atau kalau mau baca buku yang sudah saya tulis hehehe. (Promosi, #repost gan). Silakan di-download di homepage saya yah. Gruatisss. Pamrihnya cuma semoga ilmunya bermanfaat sehingga saya dapat pahala jariyah hehe. Amiiinn…

Besar Sebagai Negara Konsumen

Posted by: on Jan 13, 2013 | 2 Comments

Saya baru baca ulasan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan di majalah The Jakarta Post yang merilis edisi khusus bertajuk Outlook 2013. Bukannya sok keren atau gimana ya, tapi emang jadi inpestor galau di pasar modal itu musti tahu sedikit paling tidak Indonesia ini mau dibawa kemana (ceileeh…).

Banyak hal positif dari perekonomian Indonesia saat ini, beberapa di antaranya adalah:

  1. Indonesia adalah salah satu negara tujuan investor. Runtuhnya Amerika dan krisis Eropa membuat aliran uang menuju ke negara-negara timur seperti Cina dan India, dan tentu saja Indonesia. IHSG yang baru saja mencatat rekor tertingginya sepanjang masa di awal tahun 2013 menandakan hal itu.
  2. Indonesia adalah negara anggota G-20, atau 20 negara yang memiliki angka pertumbuhan terbesar. Saat ini Indonesia ada di urutan ke-15. Diproyeksikan tahun 2020 Indonesia akan masuk ke sepuluh besar negara G-20.
  3. Secara demografi, Indonesia saat ini didominasi oleh usia-usia produktif, dan semakin meningkatnya golongan ekonomi kelas menengah. Ini adalah saat-saat emas untuk bertumbuh pesat bagi sebuah negara.

Negara kita memang bertumbuh pesat luar biasa di saat Amerika dan Eropa berjuang menyelesaikan krisis. Seperti ditunjukkan di grafik, di tahun 2011, Indonesia adalah negara importir terbesar ke-28 dunia. Sekaligus, Indonesia adalah negara eksportir terbesar ke-26 dunia. Tetapi seperti yang dikutip Pak Menteri, komponen utama faktor pertumbuhan ini adalah faktor konsumsi. Saya pernah membahas tentang cara menghitung Growth di artikel ini.

Indonesia adalah pasar yang sangat menggiurkan bagi produsen-produsen dunia karena jumlah penduduknya yang besar dan kemampuan konsumsinya yang terus meningkat. Baru-baru ini Lion Air dicatatkan sebagai pembeli terbesar pesawat-pesawat Boeing. Atau contoh yang lebih dekat, dua ribu keping iPhone 5 yang dijual Telkomsel, XL, dan Indosat secara bundling ludes bak kacang goreng saja. Ini adalah barang tersier yang bahkan teknologi LTE-nya belum ada provider yang bisa menyediakan. Hehehe, saya tulis ini soalnya saya termasuk yang nggak kebagian

Dan kita membelinya dengan masih saja menjual sumber daya alam yang melimpah ruah…

Research and Development memang tidak pernah diperhatikan dan dihargai oleh bangsa ini. Bagi yang nonton film Habibie & Ainun, tentu sangat trenyuh melihat adegan Pak Habibie dengan putus asa memutar baling-baling pesawat N-250 Gatotkaca yang mangkrak berdebu di hangar PT. DI. Dan berapa banyak murid-murid beliau yang sekarang menjadi manajer di Boeing dan perusahaan-perusahaan pesawat di dunia.

Saya, lebih tertarik bekerja di perusahaan multinasional daripada meneruskan riset S1 saya dulu di bidang information retrieval. Membantu para investor asing ini mengeruk kekayaan minyak dan gas. Saya orang yang realistis, saya tidak idealis.

Di bidang teknologi informasi pun, Indonesia adalah pasar. Waktu saya kuliah, tahun 2002 hingga 2006 adalah masa-masa dimana software house lokal berkembang. Mereka mengembangkan framework sendiri, dan memiliki produk lokal yang bisa dibanggakan. Saya dulu pernah bercita-cita bekerja di software house sebagai programmer, dan meniti karier hingga menjadi senior specialist layaknya James Gosling si pembuat Java. Senior technicalist yang bergaji lebih besar daripada manajer.

Sayang teknologi lokal ini kalah bersaing dengan produk luar. Tentu saja, karena memang tidak ada kesempatan untuk melakukan R & D. Sementara gap antara kampus yang diharapkan menjadi pusat R & D dengan industri terlalu lebar. Seorang fresh graduate tidak akan bisa langsung dipakai di industri. Bahkan sekarang para lulusan S1 itu pengennya langsung menjadi sistem analis atau bahkan project manager. Tidak ada yang ingin jadi programmer handal.

Industri IT mungkin adalah industri yang kompetisinya global tanpa proteksi sedikit pun dari pemerintah (jangankan proteksi, HaKI aja masih gagap). Solusi lokal untuk ERP buatan software house lokal kalah bersaing dengan Oracle eBusiness Suites dan SAP. Satu per satu software house itu rontok. Ada joke terkenal di kalangan kami para programmer, kalau kerja di software house itu gajinya kecil kerjanya kayak kerja rodi. Mungkin ada benarnya karena kompetisi antar software house pun juga berdarah-darah. Mereka yang bertahan biasanya beralih menjadi implementor software-software paket dari Oracle dan Microsoft. Daripada bikin software sendiri, lebih enak memakai software terkenal yang sudah ada, lalu mengimplementasikannya ke user sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Sayang sekali. Indonesia adalah negara besar dengan potensi alamnya yang luar biasa. Kita sebenarnya bisa hidup sendiri tanpa harus tergantung dengan negara lain. Entahlah.

Switch to our mobile site