Aplikasi Vim for Windows, GVim, adalah editor teks yang paling saya sukai. Mungkin sudah terlanjur kebiasaan dulu waktu masih sering memegang Debian di ITSnet. GVim dapat dikatakan sama persis dengan Vim yang versi console. Namun sayangnya, GVim memiliki background putih. Ah, ndak mbois blas! Maka di sini, saya bikin penyesuaian (customization – apa bahasa Indonesianya?) untuk membuat si GVim berbackground hitam.
Simpan dengan nama file _gvimrc dan taruh di root folder instalasi GVim berada, misalnya di C:\ Program Files\Vim\_gvimrc.
Lokasi File: Box sayah.
Entries Categorized as 'Developer'
Agar GVim Berbackground Hitam Pekat
December 3, 2007
Membangun Aplikasi Web-Based dengan Java Enterprise: Pendahuluan
November 28, 2007
SERI 1: PENDAHULUAN
Sekarang, aplikasi web-based sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat, menggantikan aplikasi desktop-based. Ini dikarenakan kepraktisannya dimana pengguna tidak perlu melakukan instalasi aplikasi di desktop masing-masing – cukup buka browser dan menuju server tempat aplikasi tersebut dipasang.
Java sendiri memiliki cabang yang menangani masalah aplikasi web-based ini yang dinamakan Java Enterprise Edition. Cabang ini sebenarnya ruang lingkupnya sangat luas, yaitu ruang Enterprise yang khusus menangani aplikasi-aplikasi berskala besar dan membutuhkan reliabilitas yang tinggi. Web-based application, karena merupakan aplikasi yang multitier, tentu saja termasuk dalam cabang ini.
Apa saja kunci dari aplikasi enterprise? Paling tidak ada beberapa kunci, yaitu:
- Reliabilitas. Ketahanan aplikasi untuk tetap tangguh melayani permintaan dalam waktu yang panjang.
- Skalabilitas. Jumlah penggunaan aplikasi yang berkembang dengan cepat dan banyak. Skalabilitas juga bisa diartikan server-server penyusun aplikasi bisa berkembang dalam jumlah yang banyak.
- Multitier. Satu aplikasi enterprise memerlukan lebih dari satu tier (bagian) yang menyusunnya. Misalnya, client, application server, database server, dan middle tier sebagai penghubung client dan application server.
- Networked. Kata kunci ini muncul tidak terelakkan dengan adanya tiga kunci di atas.
Java telah memfasilitasi pembuatan aplikasi seperti ini dengan menyediakan sebuah sistem dan bingkai kerja (framework) yang khusus didesain untuk aplikasi enterprise sehingga memudahkan developer. Fitur-fitur apa saja yang disediakan oleh Java? Banyak sekali, di antaranya adalah yang saya sebutkan di bawah ini:
- Mekanisme komunikasi antara client dan server.
Protokol komunikasi yang paling umum digunakan adalah HTTP. Java memiliki struktur mekanisme yang paling dasar untuk menangani protokol HTTP, yaitu Java Servlet. - Kit dan berbagai komponen untuk penyajian antar muka pengguna, atau user interface.
HTML hanya menyediakan komponen user interface yang sangat dasar. Berdasarkan komponen tersebut, Java Enterprise menyediakan komponen-komponen tambahan yang memudahkan penyajian isi, misalnya seperti validasi otomatis, komponen kalender, komponen auto-complete, dan sebagainya. Java Server Pages, adalah kunci dari nomor 2 ini. - Persistent Connection dan Object Relational Mapping.
Aplikasi enterprise nyaris tidak bisa dipisahkan dari koneksi ke database. Karena Java adalah bahasa yang sangat berorientasi objek, maka Java menyediakan mekanisme khusus untuk menangani database relasional secara object-oriented. Data-data pada database disimpan dalam objek-objek yang telah didefinisikan, sehingga sangat memudahkan kita untuk melakukan operasi database (Create, Update, Delete, Select) dengan langsung mengakses objek tersebut. Standar Java Enterprise yang mengurusi masalah ini adalah EJB (Enterprise Java Bean).
Java Enterprise Edition sebenarnya hanyalah spesifikasi-spesifikasi yang ditulis dalam standar JSR. Oleh karena itu dalam implementasinya ada beberapa model bingkai kerja Java Enterprise yang didukung oleh vendor-vendor tertentu. Apa saja implementasi standar JSR yang didukung resmi oleh vendor-vendor besar seperti Sun dan Oracle? Ada Java Server Faces, Java Server Pages, dan Enterprise Java Bean (EJB).Selain vendor-vendor resmi, beberapa komunitas juga mengembangkan standar mereka sendiri untuk membangun aplikasi enterprise. Berbasis Java, ada bingkai kerja semacam Struts 2, Spring, dan semacamnya. Aplikasi-aplikasi ini meskipun tidak mengimplementasikan JSR, telah cukup untuk membuat aplikasi enterprise. Ini yang akan saya bahas nanti.
Aplikasi yang akan saya bangun nanti adalah sebuah aplikasi kosong yang memiliki fungsional enterprise. Framework yang saya gunakan adalah:
- Struts 2, framework yang mengatur hubungan antara client dan server. Struts 2 memiliki roh dari Webwork 2.
- Spring, framework untuk mengatur MVC (Model View Controller).
- Hibernate, framework untuk Object Relational Mapping. Semacam Entity EJB jika di standar Java Enterprise.
See you at the next posting ![]()
PS: Susahnya menulis teknis pemrograman aplikasi dalam bahasa yang tidak terlalu mengawang-awang
*keluh…
Tim yang Baik dan Solid
November 13, 2007
Alkisah, dua teknisi IT dari background pendidikan yang berbeda bergabung dan bekerja sama dalam membangun sebuah aplikasi. Teknisi A bertugas membangun infrastruktur dan desain network dan server. Kebutuhannya adalah, server harus tetap tangguh ketika diakses oleh 10.000 pengguna secara bersama-sama. Teknisi B bertugas membangun sistem perangkat lunak yang akan dipasang di atas server tersebut. Kebutuhannya adalah, program harus cepat, tangkas, responsif, dan memiliki sistem validasi yang baik tanpa terlalu banyak membebani kerja server yang sudah berat melayani banyak koneksi.
Ternyata, dua teknisi ini membawa konsep dan desain yang berbeda sehingga pada akhirnya, ada beberapa data yang tidak lulus uji standardisasi. Teknisi B (sistem) berkata, “Itu disebabkan oleh desain dan infrastruktur servernya! Tahu cara menyusun server tercluster nggak sih?” Teknisi A (infrastruktur) berkata, “Itu pasti programnya jelek, terlalu banyak bug, dasar programmer culun tak punya pengalaman!”
Well… anyway, mereka seharusnya menjadi team yang solid bukan? Seharusnya ego masing-masing bisa ditekan untuk kepentingan bersama bukan?
A Little Note About Templating With Freemarker
September 17, 2007
Freemarker Template Engine is a library which is used to make a template that it can be dynamically merged with dynamic data. Actually we can generate this template by hard coded directly in hot code. But the lack of this method is that if we want to change the static side of template, we have to recompile the code.
Recompile the code? It sounds easy things to do for you? Not really. In my world, recompile the code means that we have to redeploy the application to J2EE server again. Sometimes it’s so hurting for me.
With freemarker, the static side of template can be saved in separate file. We don’t need to recompile the code conform to the template changes.
The idea is simple: You need two things, the static side of template which is saved in separate file, load your dynamic content, and “merge” this two things into one package of String by freemarker engine.
You can learn freemarker more details on: http://freemarker.sourceforge.net
Cuplikan dari catatan kecil saya tentang template engine freemarker. Jika tertarik dengan freemarker, silakan mempelajarinya di website-nya. Dokumentasinya termasuk mudah untuk dipelajari dengan cepat. Saya menuliskannya dalam bahasa Inggris, itu kebetulan saja. Nggak usah dikritik soal grammar-nya, bahasa Inggris saya memang jelek kok ![]()
Catatan tersebut bisa didownload di box saya.
Javascript:parseInt
June 6, 2007
Fungsi yang bernama parseInt (parse integer, bukan parseInt***
), banyak ditemukan di bahasa pemrograman, antara lain Javascript. Fungsinya untuk menerjemahkan suatu angka dalam tipe String ke dalam tipe integer sehingga bisa dimanipulasi lebih lanjut, misalnya untuk kebutuhan penghitungan Matematis.
Fungsi ini adalah fungsi global JS, sehingga bisa langsung dipanggil tanpa harus menginstansiasi suatu objek tertentu. Bentuk umumnya adalah sebagai berikut:
parseInt( valueInString [, radix] )
valueInString adalah angka dalam tipe data String yang akan diterjemahkan ke dalam integer. Nah, kemudian parameter kedua ini yang seringkali dilupakan. Parameter ini memang opsional, bisa disertakan atau tidak. Radix adalah ke dalam bilangan basis berapa nilai string tersebut dikonversi, apakah desimal, oktal, dan lainnya. Nah, jika parameter ini tidak disertakan, maka Javascript akan menerjemahkan nilai string dengan aturan sebagai berikut:
- Jika string dimulai dengan “0x”, maka JS akan mengkonversi ke dalam bilangan heksadesimal (basis 16).
- Jika string dimulai dengan “0″, maka JS akan mengkonversi ke dalam bilangan oktal (basis 8).
- Jika string dimulai dengan nilai selain itu, JS akan mengkonversi ke dalam bilangan desimal (basis 10).
- Jika string tidak dapat dikonversi, maka return value-nya adalah NaN (Not a Number).
Jadi, melihat aturan ini, kita harus sedikit hati-hati dalam memanggil fungsi parseInt tanpa menyertakan radix-nya. Tadi aku dipusingkan oleh konversi string “08″ yang menjadi angka 0, bukan 8. Ternyata memang JS mengkonversinya ke dalam bilangan oktal, pantesan deh hehehehe…
Catatan pengingat ini bersumber dari artikel ini.
Posted in












