Entries Categorized as 'Cermin (Cerita Mini)'

Sebuah Pertemuan

Date December 9, 2008

Pertemuan kami sebenarnya singkat saja. Tak lebih dari sejam. Sebenarnya saya ingin meminta ditemani untuk keliling Surakarta, melihat-lihat alun-alun utara Kraton Kasunanan dan mengunjungi Mangkunegaran, wisata kuliner macem-macem, tetapi entah kenapa lidah kok jadi kelu. Saya ingat hari ini adalah hari Arafah, dan saya menghormati puasanya sehingga rencana itu saya batalkan. Tapi ia tahu saya baru saja menempuh jarak 40-an km, ia bertanya puasa apa tidak, saya jawab tidak, dan ia segera membuatkan saya segelas air jeruk dingin.

Ia menjemput saya di bundaran Carrefour Solo Baru, setelah mulai dari Kartasura hingga Pasar Klewer memandu saya lewat telepon. Tak banyak bicara. Duduk di samping saya sambil memangku keponakannya, sambil sesekali memberitahu arah ketika waktunya berbelok.

Di tepi sawah berangin lembut itu, kami lagi-lagi lebih banyak diam daripada saling berbicara. Ia memang pendiam, sedangkan saya tidak punya bahan untuk bicara. Saya bukanlah seorang yang ahli menghidupkan pembicaraan. Tapi pertemuan singkat itu membuat saya mengeluh,

“Kemana saja aku dua tahun ini… ”

Semoga saya belum terlalu terlambat.

Sebuah Kegelisahan

Date December 5, 2008

Malam itu, langit tidak menampakkan keramahan sedikit pun di atas kota Kyoto. Mendung hitam berarak rendah, mungkin sebentar lagi akan menjelma menjadi badai siklon pasifik yang ganas. Bulan seharusnya hadir penuh, tapi tak secuilpun menampakkan dirinya. Mengintip malu-malu pun tidak, sembunyi sepenuhnya di balik awan hitam berat mengerikan. Angin mendesau mengiris telinga, mendobrak ranting-ranting pohon bunga Sakura yang setiap musim semi selalu menghadirkan orkestra alam yang indah di sepanjang sungai Shirakawa.

Mungkin suasana yang sama ada di dalam dada Rikyu. Bergemuruh, berdentang-dentang tak karuan di balik lipatan kimononya yang berlapis-lapis. Ia padahal tidak pernah merasa segelisah itu, bahkan ketika harus menghadapi pendekar samurai paling berbahaya sekalipun. Padahal apa yang ia hadapi kali itu jauh tidak berbahaya. Apalah arti semangkuk matcha1 yang dihidangkan kepadanya dengan tata cara chashitsu2 yang sempurna? Bukan… bukan itu yang membuatnya gelisah…

Tapi tangan lembut yang disembunyikan di balik lengan kimono merah muda itu…
Tapi tatapan mata teduh yang menunduk itu…
Dan akhirnya, wanita cantik yang sedang duduk malu-malu di hadapannya itu yang membuatnya gelisah…

“Aku lebih baik dihimpit Gunung Fuji daripada harus terjebak pada situasi runyam seperti ini… ” keluh Rikyu dalam hati. Setitik keringat muncul dari dahinya dan bersiap meluncur turun. Tapi ia tahu, ini kesempatan terakhir untuk menyatakan perasaan cintanya kepada perempuan hebat yang sedang tersenyum manis di hadapannya. Otsu.

Otsu adalah gadis yang mungkin paling diharapkan setiap lelaki di dunia untuk dijadikan isteri. Cantik, kalem, sekaligus lembut hatinya. Pada umur dua puluh awal itu, ia sudah menguasai tata cara upacara minum teh ala Jepang yang rumit. Hafal naskah drama Kabuki dan detail karakter masing-masing pemainnya. Maklum, ia merupakan putri Daimyo terpandang di kota ini sehingga aksesnya terhadap ilmu dan pengetahuan membuatnya berwawasan seluas samudera.

Segala kualitasnya itu membuat tidak banyak laki-laki yang berani meminangnya. Beberapa anak daimyo kaya raya di segala penjuru telah mencoba meminang, namun tak satu pun diterima. Otsu benar-benar bagaikan sebuah bunga cantik dari jenis yang jarang, sehingga ia harus disimpan dan dirawat dalam rumah kaca dan tidak sembarang orang bisa melihat jenis bunga itu. Ada semacam sesuatu yang keras di balik pribadi yang lemah lembut.

Dan Rikyu… akan segera mengetahuinya!

* Bersambung *

1: Jenis teh khusus yang digiling halus yang biasa digunakan dalam tradisi upacara minum teh Jepang
2: Tradisi upacara minum teh Jepang