Entries Categorized as 'Agomo'
August 27, 2010
Salah satu ungkapan yang populer di bulan Ramadhan ini adalah bahwa setan dan iblis itu dibelenggu ketika bulan Ramadhan. Nggak boleh mengganggu dan menggoda manusia. Ini berasal dari hadist populer yang berbunyi, “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu (HR. Muslim)”.
Sekadar pemikiran sambil lalu saja, saya tidak membayangkan bahwa setan dan iblis benar-benar dibelenggu secara harfiah, apalagi kalau penafsirannya memakai ilmu makrifat, dimana setan itu sejatinya hidup di dalam hawa nafsu. Sehingga tidak mungkin dibelenggu (buktinya kita masih bisa saja tergoda untuk melihat paha-paha putih mulus ketika puasa) :p
Ramadhan, bagi saya lebih merupakan sebuah pengkondisian, sebuah kawah candradimuka. Kita menganggap Ramadhan adalah bulan yang spesial, yang khusus, yang hanya datang setahun sekali. Spesial dalam hal apa tentu tergantung dari masing-masing kita mengintepretasikannya. Spesial diskon pahala kah, spesial bulan ampunan kah, spesial suasana macet di sore hari karena ada penjaja kolak di pinggir jalan kah, spesial buka gratis di masjid kah, atau spesial acara TV karena semua TV membuat program khusus Ramadhan?
Karena terkondisi — oleh suasana, oleh ibadah itu sendiri, dan oleh lingkungan, maka kita akan lebih terkontrol untuk bertindak. Lebih sulit untuk berbuat hal yang dilarang agama. Bahkan melihat perempuan lewat di trotoar saja segera memalingkan muka karena takut memandang sesuatu yang bukan hak, yang bisa mencederai kesempurnaan puasa kita.
Di sinilah saya kira, makna belenggu itu sendiri. Kita lah yang membelenggu dan mengendalikan hawa nafsu. Bulan Ramadhan dengan segala kekhususannya itu membantu kita untuk lebih mudah mengendalikan, karena banyak sekali rambu-rambu yang harus dipatuhi.
Saya membayangkan, selama sebulan Ramadhan ini, para setan dan iblis seluruh dunia sedang memanfaatkan cuti sebulan mereka untuk sejenak beristirahat setelah setahun bekerja keras. Kemudian, para ketua regu akan mengadakan konferensi dan rapat koordinasi tahunan. Mungkin di salah satu venue di Las Vegas begitu. Mereka melakukan persiapan-persiapan, melakukan update knowledge, membahas strategi baru yang akan mereka terapkan sesudah para manusia keluar dari kawah candradimuka mereka dalam kondisi yang bersih dan suci (Fitri).
Tentu saja. Makanya, buat saya, puasa sunnah enam hari di bulan Syawal itu lebih berat daripada puasa wajib di bulan Ramadhan. Karena pengkondisian itu telah selesai. Belenggu telah dilepaskan. Setan datang dengan kemampuan yang lebih tinggi. Seperti halnya orang yang diet “balas dendam” ketika berhasil menyentuh bobot terendah (dan oleh karena itu bobotnya langsung menanjak), saya khawatir akan terjadi proses “balas dendam” juga untuk memperturutkan hawa nafsu setelah “diet” selama sebulan.
Semoga kita semua dijauhkan dari hal itu. Semoga tobat yang kita lakukan setiap hari setiap malam di bulan Ramadhan ini menjadi taubatan nasuha. Dan semoga kita tetap berada di dalam lindungan-Nya dalam menghadapi godaan setan yang terkutuk yang akan datang lebih dahsyat selepas Ramadhan.
A’udzubillahi minasyaithonirr rojiim…
Posted in Agomo, Catatan Harian
1 Comment »
August 10, 2010

FLICKR
Lokasi: Slamet Riyadi Citiwalk, Solo, Jawa Tengah
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Ramadhan ke-4 di Jakarta. Masih seperti tahun-tahun yang lalu. Ramadhan yang akan berbeda. Ramadhan yang akan jauh lebih berat. Tetapi semoga inilah Ramadhan terbaik yang pernah saya jalani. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi Anda yang menjalankan. Maafkan saya atas segala kesalahan.
Sekadar flashback:
- Ramadhan 1430 H – Karimun Jawa
- Tarhib Ramadhan 1429 H – Dakwatuna
- Selamat Datang Bulan Ramadhan 1428 H – Al-Baqarah 183
Posted in Agomo, Catatan Harian, Night Shot
4 Comments »
August 5, 2010
Seperti yang ditanyakan olehnya, apa saja persiapan yang saya sedang lakukan untuk menyambut bulan Ramadhan tahun ini, maka saya menjawab tidak banyak yang saya persiapkan. Saya lebih menyiapkan mental. Memperbaiki kualitas sholat lima waktu dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an.
Target saya tidak terlalu muluk: ingin mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu bulan. Saya juga mengharapkan bulan Ramadhan nanti adalah waktu saya untuk berprihatin. Saya ingin menunduk mohon ampun, bersujud untuk-Nya, menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Bahwa untuk ikhlas itu sulit ya Allah. Bahwa untuk ber-istiqamah itu sulit ya Allah. Bahwa untuk memeluk agama-Mu dengan kaffah itu maha sulit ya Allah…
Eh, kok jadi keterusan, kembali ke laptop he he he…
Ada dua aplikasi mobile yang saya install untuk menyambut bulan Ramadhan. Aplikasi pertama adalah aplikasi Adzan dari SearchTruth.com. Fungsinya sebagai petunjuk batas-batas waktu sholat lima waktu. Bukan apa-apa, saya ini termasuk yang masih buruk sholatnya, jadi saya install ini lebih sebagai pengingat supaya tidak ketinggalan kereta, syukur-syukur nanti kalo saya bisa memperbaiki kualitas sholat saya.
Kemudian yang kedua adalah Al-Qur’an mobile dari 7langit.com. Saya menemukan aplikasi Qur’an lainnya di BlackBerry Application Center, yaitu uQur’an, tetapi yang satu itu hurufnya terlalu kecil dan nampaknya bukan huruf Arab yang dipakai di Qur’an terbitan Indonesia. Aplikasi dari 7langit.com ini hurufnya lebih besar sehingga lebih enak dibaca, meskipun saya agak kurang familiar dengan tanda bacanya. Maklum, saya tidaklah piawai dalam membaca Al-Qur’an — hanya bisa baca dengan terbata-bata — jadi harus menggunakan huruf yang gede-gede supaya lebih lancar.
Bukan perkara gampang menyelesaikan target tersebut buat saya. Apalagi tahun ini adalah tahun pertama Ramadhan bersamaan dengan kuliah kelas malam. Saya berharap catatan sholat tarawih saya tidak terlalu memburuk nanti, dan bisa mengikuti sekali dua kali sholat qiyamul lail di Istiqlal atau di Al-Hikmah.
Ayo, sudahkah kita persiapkan diri untuk menyambut Ramadhan?
Posted in Agomo, Catatan Harian
2 Comments »
April 6, 2010
Ada hal yang menarik ketika saya membaca salah satu buku yang ditulis oleh Dr. Quraish Shihab1 ketika membahas tentang surat Al-Ashr. Kata ‘ashr hanya ditemukan sekali penggunaannya dalam Al-Qur’an, yaitu Wal ‘ashr, demi masa. Ternyata secara etimologis, kata ‘ashr atau masa ini berasal dari akar kata yang berarti “memeras atau menekan dengan sekuat tenaga sehingga bagian yang terdalam dari sesuatu dapat keluar dan nampak di permukaan”.
Untuk kesekian kalinya, saya mengangkat tema waktu di blog saya ini. Untuk kesekian kalinya lagi, setiap kali saya ingat tentang waktu, saya ingat surat favorit saya ini. Cekak aos. Singkat padat.
Jika pepatah Inggris mengatakan time is money, bagi saya, waktu adalah kesempatan. Waktu adalah modal awal kita untuk melakukan segala sesuatu. Setiap dari kita diberi jatah modal yang sama: 24 jam sehari. Dan kesempatan itu bisa kita jadikan apa saja semau kita: mau jadi uang, ilmu, relasi, dsb.
Seberapa produktif kita memanfaatkan waktu, semua tergantung dari kita dalam memanfaatkan waktu. Astaga, tidakkah kita menyadari kalau kepentingan kita begitu banyak? Bagaimana harus membagi waktu dengan efektif dan efisien?
Ketika saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan formal saya ke jenjang S2, saya sadar bahwa waktu saya telah habis. Pagi hingga sore bekerja, kemudian malam kuliah. Dalam kuliah saya kembali berkutat dengan materi-materi yang sangat padat, yang sebenarnya sangat menarik untuk dikaji dan dipelajari, sayangnya, tidak banyak waktu untuk mengupas setiap detail bahan kuliah dengan mendalam.
Padahal, saya masih ingin melakukan sesuatu yang masih saya rindukan: mengajar. Darah guru mengalir terlalu deras di tubuh saya karena kedua orang tua saya guru dan kakek-kakek saya juga guru. Ketika di kampus saya mendengar ada akses untuk bergabung ke lembaga NGO (Non-Government Organization) — LSM, saya sebenarnya ingin bergabung. Mungkin bisa mengajar anak-anak SD, menerangkan persamaan linier matematika, atau sekedar mengenalkan Linux Ubuntu.
Tapi apa daya? Saya mungkin masih punya Sabtu dan Minggu, tapi saya takut tidak bisa mengejar ketertinggalan saya di kuliah jika dua hari itu tidak saya pakai untuk belajar materi kuliah. Saya agak lambat dalam menyerap materi sehingga perlu waktu yang lebih panjang untuk bisa mengerti. Rasanya, semakin banyak subjek yang dipelajari, saya merasa semakin bodoh. Setiap subjek memiliki detail, dan kita tentu tidak mungkin menguasai setiap detail yang banyak itu.
Begitulah, semoga keluhan saya ini sedikit banyak bisa menginspirasi Anda yang mungkin masih memiliki banyak waktu luang. Atau terlalu lama bersantai-santai. Atau sibuk keluyuran dari wall ke wall. Marilah kita produktif, 24 jam itu terlalu cepat kawan. Seminggu itu sekarang lewat begitu cepat. Mungkin, panjang satu minggu sepuluh tahun yang lalu rasanya sudah sama dengan panjang satu bulan di masa sekarang.
Wal ‘ashr, innal insaana la fii khushr illa…
1 Lentera Hati. Dr. M Quraish Shihab, M.A, Penerbit Mizan: 1994
Posted in Agomo, Catatan Harian
3 Comments »
September 14, 2009
Seorang kawan memposting di plurk-nya, “Sekian hari menuju hari kemenangan”. Nampaknya dia sudah menghitung mundur menyiapkan datangnya hari lebaran yang tinggal beberapa hari lagi ini. Tiba-tiba saja, sebuah pertanyaan menyeruak di benak saya, “Layakkah kita diberikan kemenangan?”
Bagaimana kita mengklaim menang perang jika secara pribadi kita tetaplah sama dan tidak ada perubahan signifikan? Berapa malam kita sholat malam — atau bahkan — apakah sholat wajib sudah tidak ada yang bolong?
Bagaimana kita bisa dengan bangga menyerukan takbir Allahu Akbar Walillahilhamd jika di jalan raya kita masih serobot sana serobot sini, klakson menyalak di mana-mana. Di mana letak kesabaran yang seharusnya ada ketika berpuasa?
Sungguh, di Jakarta ini, saya benar-benar merasa ironis dengan keadaan lalu lintas. Menjelang berbuka puasa, semua orang berebut pulang ingin segera berbuka puasa di rumah. Tetapi mereka yang berpuasa ini tidak saya temukan nilai puasanya di perilaku berlalu lintas. Tidak ada perbedaan. Mereka sama sekali tidak berusaha menahan diri untuk tidak mengklakson ketika jalannya diserobot, ketika lampu hijau menyala, ketika ada pengendara yang lain menghalangi jalan.
Bagaimana kita bisa merayakan kemenangan jika di malam-malam terakhir, dimana pahala yang sudah diskon diobral lagi, justru shaf-shaf sholat malam di masjid semakin sedikit, sementara mal penuh sesak macam pasar tumpah saja. Persiapan mudik lebaran.
Mudik, momen ini saya rasa telah melenceng terlalu jauh dari semangat puasa Ramadhan. Semangat mudik tidak lagi menjadi semangat bersilaturahmi, tetapi momen yang tepat untuk unjuk kesuksesan dan status sosial di hadapan keluarga dan teman-teman lama. Kalau tidak, kenapa orang bela-belain beli baju baru, handphone baru, mobil baru? Kenapa mal penuh sesak? Dari mana kita bisa berkata: inilah hari kemenangan?
Imam Al-Ghazali menyebutkan, ada tiga golongan orang yang berpuasa. Orang biasa, khawas (khusus), dan khawasul khawas (khususnya khusus). Saya kira kalau hanya lapar dan haus, kita telah bisa menaklukkan, apalagi sekadar dari pagi hingga sore. Tetapi apakah kita telah memenangkan dari pertempuran untuk bersabar, menjaga pandangan, menjaga ucapan? Apakah kita tidak ingin menjadi golongan yang khawas?
Ada quote menarik dari Mario Teguh tentang puasa ramadhan. Seharusnya ibadah puasa tidak lagi menjadi ajang pembelajaran, tetapi justru pembuktikan dari 11 bulan sebelumnya berproses untuk memperbaiki diri. Karena adalah mustahil jika proses perbaikan diri itu berhasil hanya dalam waktu sebulan saja. Ketika proses itu telah dijalankan, bukan tidak mungkin malam Lailatul Qadar itu jatuh di malam pertama Ramadhan baginya. Apa yang tidak mungkin bagi Allah azza wa jalla?
Saya pribadi merasa, rasanya tidak pantas jika saya merasa menang dalam ramadhan kali ini. Ibadah sholat saya masih amburadul, bacaan belum benar, saya masih suka bergunjing, saya masih suka melirik wanita yang bukan mahrom saya… Saya hanya berharap bisa memperbaiki apa yang saya masih bisa perbaiki di ujung hari-hari terakhir ramadhan ini. Semoga Allah mengampuni. Semoga Allah menerima. Semoga proses ini tidak berakhir ketika ramadhan selesai, tetapi terus berlanjut hingga insya Allah tahun depan dipertemukan kembali dengan ramadhan.
Amin…
Posted in Agomo, Catatan Harian
15 Comments »