Nabi Adam dan Buah Khuldi

Posted by: on Apr 17, 2013 | 3 Comments

Saya kadang-kadang membaca ungkapan, atau film barat, yang mengutip kisah Adam dan Hawa (Eve) ketika dikeluarkan dari Surga. Ceritanya seolah-olah semuanya ini gara-gara kesalahan Eve yang memakan buah Apel terlarang sehingga manusia dikeluarkan dari surga.

Sebagai orang awam, saya bertanya-tanya juga kan, secara kita ini sangat dipengaruhi oleh film-film dan buku-buku barat, bagaimana Islam mengajarkan konsep ini. Saya perlu menulis ini supaya kita sebagai muslim lebih mengenal konsep asal-usul manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Tema Nabi Adam, Siti Hawa, dan buah Khuldi dipaparkan dengan jelas di Al-Qur’an. Tadi pagi, saya membaca Surat Taha ayat 121, yang artinya begini,

“Lalu keduanya memakannya, lalu nampak oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupnya dengan daun-daun (yang ada di) surga dan telah durhakalah Adam kepada Tuhan-Nya, dan sesatlah dia.

Catatan kaki menjelaskan maksud kata “durhaka” dan “sesat”:

Yang dimaksud “durhaka” di sini ialah melanggar larangan Allah karena lupa, tidak sengaja sebagaimana disebutkan dalam ayat 115. Dan yang dimaksud dengan “sesat” ialah mengikuti apa yang dibisikkan setan. Kesalahan Adam as. meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat karena tingginya martabat Adam as. dan untuk menjadi teladan bagi orang dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang, bagaimanapun kecilnya.

Kemudian, ada hadist yang berkaitan dengan ayat 121 ini

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Nabi Musa as. memprotes Nabi Adam as. di hadapan Tuhan mereka Allah SWT dengan berkata: ‘Engkau adalah Adam yang telah Allah ciptakan dengan tangan-Nya. Dia telah meniupkan ruh-Nya kedalam jiwamu, para malaikat telah bersujud kepadamu, dan engkau telah diberi tempat tinggal di surga namun engkau keluar sehingga manusia berada di bumi oleh karena perbuatan dosamu.’

Kemudian Nabi Adam as. menjawab, ‘Engkau adalah Musa seorang yang telah Allah pilih untuk menyampaikan risalah dan kalam-Nya, dan Dia telah memberikan kepadamu lembaran-lembaran yang di dalamnya terdapat penjelas segala sesuatu, dan dia telah mendekatkan kepadamu (sesuatu hal yang seharusnya) menjadi rahasia, maka berapa lamakah engkau dapati di dalam Taurat bahwa Allah telah menetapkan sesuatu sebelum dia menciptakannya?’ Musa as. menjawab, ‘Empat puluh tahun.’

Adam berkata lagi, ‘Adakah engkau dapati di dalamnya kalimat yang berbunyi, ‘… dan durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia’. Musa as. menjawab, ‘Ya, (kalimat tersebut ada dalam Taurat).’

Adam berkata, ‘Maka apakah engkau ingin mencercaku atas perbuatan yang telah aku lakukan, padahal perbuatanku tersebut telah Allah tetapkan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?’”

Rasulullah SAW bersabda, “Maka Adam dapat membantah hujatan Musa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian oleh-oleh dari ngaji kitab Al-Qur’an Bayan tadi pagi. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Catatan Umrah, Tentang Travel Penyelenggara

Posted by: on Mar 31, 2013 | One Comment

Bandara King Abdulaziz Jeddah, 28 Maret 2013.

Ini akan menjadi catatan terakhir saya mengenai perjalanan umrah tahun ini.

Baiklah, sekarang saatnya membahas tentang EO-nya. Terus terang waktu saya riset tentang travel perjalanan umrah, saya tidak punya referensi travel yang terpercaya. Sekarang ini kan buanyaaakkkk sekali travel umrah secara ibadah ini sedang ngetren — terima kasih kepada artis-artis yang mempopulerkan umrah ini.

Perlu saya garis bawahi di sini, menurut saya, hukum menunaikan ibadah umrah itu sunnah, sementara haji itu wajib. Sehingga seharusnya, mengumpulkan dana untuk ibadah haji lah yang didahulukan. Dalam kasus saya, hukumnya adalah wajib karena ini adalah nadzar yang harus saya laksanakan atas janji saya kepada Allah.

Mari kita bahas dari yang paling sensitif dulu: harga. Saat ini sudah bejibun travel penyelenggara perjalanan umrah. Range harganya sangat luas, mulai dari 15-an juta hingga 30 juta lebih. Paket yang ditawarkan pun bermacam-macam, mulai umrah reguler hingga umrah plus. Plus Mesir, plus Eropa, plus Masjid Al-Aqsa, dsb.

Tentu saja ada harga ada kualitas dong. Paling tidak, komponen biaya-biaya utama dalam perjalanan umrah adalah berikut ini:

  • Pesawat yang dipakai. Maskapai tanah air yang ke Saudi adalah Garuda Indonesia dan Lion Air, keduanya langsung menuju Jeddah. Beberapa travel yang lebih murah menawarkan menggunakan maskapai lain seperti Malaysian Airlines atau Emirates Airlines, perlu dicek apakah pakai transit dulu. Pertimbangkan waktu transit karena perjalanan Indonesia – Saudi Arabia itu perjalanan super panjang. Waktu transit akan menjadi waktu yang cukup melelahkan — apalagi jika sampai di tempat transit harus mengurus sendiri. Bandara luar negeri, bahasa Inggris bukan bahasa utama, belum lagi koper-koper yang harus dibawa. Bayangkan jika kita harus mengurus sendiri transit di bandara di Yaman atau Dubai begitu misalnya.
  • Hotel tempat menginap. Tingkat bintang hotel di sana diukur dari jaraknya ke Masjid. Ada ring satu, ring dua, ring tiga. Cek dimana tinggalnya. Sejauh pengalaman saya, setengah jam sebelum adzan, masjid sudah penuh. Jika kita tiba pas ketika adzan, kita akan dapat tempat di pelataran masjid. Setiap jamaah rebutan posisi shaf terdepan.
    Di Madinah, saya tinggal di Al-Haram Hotel yang ada di ring dua. Perjalanan ke pelataran masjid adalah lima menit, dan sampai shaf terdepan membutuhkan waktu sepuluh sampai lima belas menit.
  • Akomodasi. Bus yang digunakan, soalnya saya sempat melihat ada rombongan jamaah yang menggunakan bus tua seperti yang dipakai bus Cawang – Grogol.
  • Makan dan minum. Rata-rata rombongan makan di food court hotel. Tapi perlu dicek juga fasilitas ini disediakan oleh travel atau tidak.

Jadi bagaimana kriteria saya memilih travel?

Satu: Google. Kepada siapa lagi anak IT ini harus bertanya? Saya sudah terlalu terbiasa menyelesaikan permasalahan dengan Google. Jadi daftar travel saya ambil dari Google untuk disortir. Travel yang memiliki website akan saya nilai lebih. Tetapi website yang asal-asalan akan saya nilai kurang. Terupdate atau tidak juga faktor yang sangat penting.

Dua: Cek apakah travel tersebut memiliki pengalaman yang sudah lama. Apakah travel tersebut terdaftar di Kementerian Agama? Berapa kali dalam sebulan ia memberangkatkan jamaah umrah? Semakin sering jadwalnya tentu saja menandakan ia profesional.

Sebenarnya saya hanya memeriksa itu saja. Saya akhirnya memutuskan untuk memilih NRA Tour (http://www.nra-tour.com). Yang jelas setiap kali pulang kantor saya itu selalu melewati kantor biro jasa umrah ini dan kok sepertinya kena di hati. Waktu saya datang dan tanya-tanya sepertinya juga menyakinkan. Jadi saya bismillah saja.

Perjalanan saya kurang lebih seperti ini:

  • 20 Maret 2013. Manasik Umrah di Wisma Umrah dan Haji Warung Buncit. Saya izin untuk pulang setengah hari. Hari itu koper besar dikumpulkan. Acara manasik dilakukan di ballroom dan dijamu dengan menu prasmanan dipandu oleh dua orang ustadz pembimbing, Ustadz Sugiarto dan Ustadz Agung MA (Makassar Asli). Saya menjadi yang paling aneh sendiri karena berangkat sendirian, hehe…
  • 21 Maret 2013. Berangkat dengan pesawat Garuda Indonesia GA0980 menuju ke Bandara King Abdulaziz Jeddah. Rombongan berkumpul di terminal 2D untuk menerima Paspor, Visa, dan boarding pass. Boarding jam 11 siang, saya menghabiskan waktu di BNI Lounge. Tiba di Jeddah pukul 17:30 waktu setempat. Rombongan baru bisa meninggalkan bandara menuju ke Madinah pukul 21:00.
  • 22 Maret 2013. Dini hari rombongan tiba di Madinah dan menginap di Al-Haram Hotel.
  • 23 Maret 2013. Ziarah kota Madinah, menuju masjid Quba, Kebun Kurma, Bukit Uhud, dan Percetakan Al-Qur’an.
  • 24 Maret 2013. Mandi ihram, memakai pakaian ihram, dan selepas shalat Dzuhur, check out. Rombongan meninggalkan Madinah dan menuju ke Makkah dengan mampir di Dzul Hulaifah atau Bir Ali untuk mengambil miqat dan berniat umrah. Labbaik Allahumma Umratan.
  • 25 Maret 2013. Rombongan menginap di Makkah Clock Tower Hotel (Fairmont) di Zam-Zam Tower. Dini hari itu menyelesaikan thawaf, sai, dan tahallul. Hari itu acara bebas.
  • 26 Maret 2013. Ziarah kota Makkah, menuju ke Jabbal Tsur, Padang Arafah dan Jabbal Rahmat, Muzdalifah, Mina, Jabbal Nur, dan akhirnya berhenti di masjid Ji’ranah. Mengambil miqat bagi yang melaksanakan umrah kedua.
  • 27 Maret 2013. Acara bebas.
  • 28 Maret 2013. Thawaf Wada’, perpisahan dengan Masjidil Haram. Bertolak menuju ke Jeddah. Di Jeddah mampir di Balad dan shalat Dzuhur di masjid terapung di tepi Laut Merah (yang airnya ternyata berwarna biru juga hehehe). Lepas dari situ langsung menuju ke Bandara King Abdulaziz untuk siap-siap pulang.
  • 29 Maret 2013. Pukul 09:00, pesawat GA0981 Boeing 747-800 mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta. Segala urusan koper bagasi imigrasi dan lain-lain selesai pukul 10:30. Sampai di luar terminal disambut oleh senyum ceria sang calon isteri. Alhamdulillah, hehehe…

Terakhir, dalam hal umrah ini, saya rasa yang paling perlu diperhatikan adalah niat. Luruskan niat. Memilih travel yang sedikit lebih mahal supaya bisa fokus dan khusyuk dalam beribadah saya rasa bukan hal yang salah, setidaknya itu pertimbangan saya waktu memilih travel.

Semoga nanti bisa balik ke sana lagi menunaikan kewajiban ibadah haji. Amiin. Labbaikallahumma labaik!

Catatan Umrah: Miqat dari Ji’ranah

Posted by: on Mar 30, 2013 | One Comment

Makkah Al-Mukaramah, 26 Maret 2013.

Setelah menyelesaikan prosesi umrah di Senin dini hari, seharian itu acaranya bebas. Boleh belanja, boleh tidur di hotel, boleh istirahat melepas penat. Hari Selasa, rombongan diajak ziarah kota Mekkah. Kami mengunjungi Jabbal Tsur, bukit dimana terdapat goa yang dipakai Rasulullah untuk menghindar dari kejaran pemuda Quraisy yang diiming-imingi hadiah 100 ekor unta jika berhasil menangkap Rasulullah. Di sini kami sekadar lewat saja tidak sampai naik bukitnya. Pagi masih jam 09:00, tapi panasnya itu bo, sudah menyilaukan.

Kami kemudian menuju ke padang Arafah, tempat jamaah haji melaksanakan Wukuf. Kami mengunjungi Jabbal Rahmah, tempat Rasulullah menyampaikan khotbah panjangnya di Haji Wada’. Di bukit ini banyak yang melakukan vandalisme dengan mencorat-coret batu. Juga banyak yang meratap di tugu penanda. Hati-hati. Hati-hati. Lagipula, Arafah ada di luar areal tanah haram, bukan tempat yang mustajabah, kata ustadz. Tempat ini mustajab hanya tanggal 9 Dzulhijah saja waktu wukuf dilaksanakan.

Muzdalifah, tempat jamaah haji bermalam dan mengumpulkan batu sebelum bertolak ke Mina untuk melontar jumrah adalah tempat yang berdekatan. Suasananya sepi jika bukan bulan haji. Di sana banyak kontainer-kontainer untuk toilet yang difungsikan setahun sekali. Saya berdoa semoga kelak saya kembali ke sini untuk menunaikan ibadah haji bersama isteri.

Dari Mina, rombongan menuju ke Ji’ranah untuk melakukan miqat. Umrah kedua. Menurut ustadz, dalil yang dipakai adalah hadits “Antara umrah menuju umrah berikutnya menjadi penghapus (dosa) di antara keduanya”. Karena itu kita bisa bolak-balik dari Makkah ke tempat-tempat miqat di Ji’ranah, Tan’im, atau Hudaibiyah untuk melaksanakan umrah pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Pertama kali yang melintas di pikiran adalah, wah panas dong umrah dan sai siang-siang bolong. Tapi itu hanya sarana pikiran saya untuk mengajak menelaah lebih dulu dalil-dalilnya — tidak langsung ikutan, meskipun kain ihram sudah saya siapkan (tapi belum memutuskan niat atau tidak).

Setelah menimbang-nimbang baik dan buruknya, dan dalil yang mendasarkan umrah kedua ini, saya memutuskan untuk thawaf saja tanpa berniat umrah kedua. Saya memutuskan untuk tidak ikut dengan tidak membawa kain ihram ke bus. Tentu saja saya menghormati travel yang menyelenggarakan. Saya tidak mengatakan pendapat mereka salah, lhawong saya cuma riset sebentar dari apa yang didapat di internet. Saya juga tidak punya agenda untuk meng-umrah-badal-kan kerabat.

Pas sampai di sini saya melihat para ustadz pembimbing sangat bijaksana. Menyadari memang ada perbedaan pendapat, para ustadz bersikap memfasilitasi semua jamaah. Yang ingin umrah kedua difasilitasi dengan diantarkan ke sini sementara yang tidak juga tidak dipermasalahkan.

Ji’ranah, Sebuah Sindiran

Di perjalanan dari ziarah Arafah-Muzdalifah-Mina sampai Ji’ranah, ustadz pembimbing bercerita mengenai wanita Ji’ranah di Al-Qur’an surat An-Nahl 92.

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, … (dst)

Seorang wanita bernama Ji’ranah kerjaannya memintal benang, lalu sesudah menjadi kain diuraikannya kembali, lalu dipintal lagi, begitu seterusnya.

Ini adalah sindiran untuk semua jamaah Umrah. Ketika di tanah suci, semua adalah untuk beribadah. Sejam bahkan dua jam sebelum waktu shalat sudah standby khusuk di shaf depan. Tak ada shalat sunnah yang tak ditunaikan — rawatib, tahajud, dhuha. Tadarus dan tilawah…

Apakah itu akan hilang tak berbekas ketika kembali ke tanah air?

Ustadz Sugiarto, ustadz pembimbing kami, mengingatkan supaya kita semua tidak seperti Ji’ranah yang mencerai-beraikan benang yang sudah dipintal menjadi kain. Supaya ibadah umrah kali ini berbekas dan tingkat ibadahnya sama dengan waktu di tanah suci. Tak ada lagi shalat sendirian di rumah, harus di masjid berjamaah. Itulah umrah yang mabrur…

Berat… Tapi Insya Allah bisa!

Catatan Umrah: Ziarah Kota Madinah

Posted by: on Mar 27, 2013 | No Comments

Madinah Al-Munawarah, 23 Maret 2013.

Hari ini rombongan diajak keliling kota Madinah, berziarah tempat-tempat bersejarah.

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah. Ada hadits yang meriwayatkan bahwa siapa yang bepergian di hari Sabtu, wudhu dari rumah, dan shalat sunnah di Masjid Quba, maka kepadanya mendapat pahala sekali umrah. Maka tujuan pertama kami adalah shalat sunnah di sana.

Lepas dari Masjid Quba, rombongan menuju ke kebun kurma. Pohon kurma itu mirip banget dengan kelapa sawit. ya iya, satu famili kelapa-kelapaan hehehe. Sebenarnya kebunnya cuma kecil. Fokusnya ada di pasar kurma yang ada di situ. Saya membeli kurma dengan sisa uang rupiah yang masih ada di dompet saya — semua penjual di Madinah menerima rupiah dengan kurs 2600.

Tujuan berikutnya adalah berziarah ke bukit Uhud, tempat perang yang sangat heroik terjadi. Bukit Uhud adalah kebanggaan warga Madinah karena diriwayatkan Rasulullah berkata bahwa salah satu gunung di surga nanti adalah Gunung Uhud.

Di sini sayidina Hamzah dan suhada lain yang gugur waktu Perang Uhud dimakamkan. Ditunjukkan pula Jabbal Rumat, bukit tempat pasukan pemanah kaum Muslimin ditempatkan, strategi kunci yang dimanfaatkan dengan cerdik oleh Khalid bin Walid ketika posisi ini ditinggalkan pasukan untuk berebut harta rampasan perang.

Melihat warna bukitnya yang kemerah-merahan, ustadz pembimbing sekaligus ketua rombongan menjelaskan bahwa itulah percikan darah para pasukan muslimin yang gugur. Saya jadi ingat Pak Awang Satyana, beliau pasti bisa menjelaskan secara geologis batuan yang ada di bukit ini hehe…

Dari bukit Uhud, rombongan menuju ke tempat percetakan Al-Qur’an terbesar yang terletak di luar area Al-Haram Madinah. Di sana yang boleh masuk hanya kaum pria — kaum wanita dilarang masuk karena takut mengganggu konsentrasi pekerja percetakan yang selalu terjaga wudhunya. Bisa-bisa karena meleng dikit melihat pengunjung, susunan barisnya salah jadi gagal cetak. Oh iya, tingkat akurasi percetakan ini adalah 100%. High class.

Lepas dari sana sudah menjelang Dzuhur. Jalanan sekitar hotel di masjid Nabawi macet hebat karena arus manusia yang masuk masjid. Ini setengah jam sebelum adzan. Kapan masjid-masjid kita akan seperti itu yah…

Dialog antara Forum Kiai Muda NU dengan Jamaah Islam Liberal (JIL)

Posted by: on Oct 21, 2012 | 6 Comments

Saya akhirnya bisa menonton dan mendengarkan tentang konsep liberal yang dibawa oleh Ulil Abshar Abdalla di dialog berbobot antara Forum Kiai Muda NU dengan JIL di Youtube ini:

Saya memang sekian lama penasaran ingin mendengarkan langsung dari Ulil sendiri tentang konsep liberalismenya, sejak saya tahu apa itu JIL. Sejak itu saya mencari-cari dan kebanyakan saya dapat konsep yang sepotong-potong, dan sisanya adalah hujatan dari yang anti JIL.

Pada akhirnya, saya memang tidak bisa menerima konsep pemikiran Ulil yang disebutkan dalam dialog itu, antara lain:

Satu: Ulil mengatakan, “Saya tidak bilang bahwa semua agama itu sama, tetapi semua agama itu benar.” Ia membenarkan khususnya untuk tiga agama semit Yahudi, Kristen, dan Islam. Ia juga mengatakan pada dasarnya Trinitas itu adalah monotheisme. Tetapi ia menolak untuk dibilang jika demikian agama itu seperti ganti baju saja. Hari ini pakai merah, besok biru. Secara akidah ia muslim, dan baginya tidak gampang bagi seseorang untuk ganti agama meski diyakini semua agama itu benar. Ia juga tidak menjawab tentang bebasnya konsekuensi ketika orang keluar agama Islam.

Kalaulah ini sebuah ide, saya menganggap ide itu terlalu rumit bagi saya. Tidak sesederhana konsep yang dibawa NU bahwa satu-satunya jalan keselamatan itu Islam, dan tetap menghormati pemeluk agama yang lain untuk menjalankan ibadahnya tanpa ikut menyetujui bahwa apa yang dianutnya adalah benar.

Analogi saya terhadap hal ini juga sederhana. Ketika saya berusaha menyelesaikan sebuah persamaan Matematika, semakin rumit jalan yang saya tempuh, maka itu bukan penyelesaian yang benar. Sesuatu yang berakhir dengan benar itu selalu memiliki jalan yang sederhana dan logis. Ketika saya tersesat di dunia penurunan rumus yang semakin ruwet, saya tahu saya harus segera berhenti.

Dua: Dalam pembahasan sakralitas Al-Qur’an, Ulil berpendapat bahwa cerita-cerita umat terdahulu di Al-Qur’an tidak terlalu memperdulikan faktualitasnya, yang penting adalah hikmahnya. Apakah cerita itu benar atau tidak perlu dibuktikan lagi secara historis. Di lain pihak, ia secara akidah mengimani cerita itu. Ia memisahkan antara keimanan akidah dengan kebenaran cerita itu secara faktual.

Ini menurut saya lagi-lagi juga rumit untuk dipahami. Bagaimana bisa mengimani suatu cerita secara terpisah begitu. Hal yang berbahaya tentang pemisahan ini adalah bahwa lama-lama kita bisa saja juga tidak mempercayai cerita di dalam Al-Qur’an karena secara faktual bisa saja tidak benar. Karena faktanya tidak dipercaya, hikmahnya pun seharusnya juga tidak bisa dipercaya. Bagaimana bisa belajar hikmahnya umat Nabi Luth yang homoseksual jika kita tidak terlalu peduli dengan kebenaran fakta sejarah yang diceritakan Qur’an. Ah, pusing saya memikirkannya. Tentu saja lebih mudah mengatakan bahwa cerita-cerita sejarah dalam Al-Qur’an adalah benar-benar terjadi sehingga kita bisa belajar hikmah sejarah tersebut. Ilmu manusia yang harus mengejar untuk membuktikan bahwa fakta sejarah itu memang benar-benar terjadi.

Pemikiran Ulil Abshar terlalu prematur untuk dijadikan konsep. Ia mencoba mengawinkan berbagai macam pemikiran, ulama-ulama modern, termasuk konsepsi Kristen dan Yahudi, untuk membuat sebuah pemikiran baru Islam yang segar dan modern. Bahayanya ketika konsep prematur ini diajarkan semakin jauh dari sumber pemikirnya, terjadi distorsi yang di luar kendali sumber pemikirnya sendiri. Mungkin Ulil sendiri, dalam konsepnya yang rumit, tidak setuju orang berpindah agama, tetapi bisa jadi pengikutnya – dengan berbagai macam motivasi – hanya mengambil konsep kulitnya saja, toh kan semua agama itu benar.

Di penutup sesi diskusi ini, ada nasihat yang sangat menarik dari ustadz Ahmad Baso tentang bagaimana sebaiknya mempelajari modernitas. Hal yang harus dipunyai dahulu sebelum mengembangkan konsep dan menyerap konsep dari luar adalah, bahwa seseorang harus alim dulu. Baik shalatnya, akhlaknya, tahajud-nya, amal-nya, dsb. Setelah itu barulah modern. Saya pikir itu merupakan petunjuk yang sederhana dalam menyikapi setiap konsep teologi dalam arus badai informasi ini.

Bekas

Posted by: on Aug 18, 2012 | One Comment

Catatan Minggu Keempat/Penghujung Bulan Ramadhan 1433H

Tak terasa, betapa Ramadhan telah meninggalkan kita semua. Saya pribadi bersyukur bisa melalui Ramadhan ini dengan baik, dan mengisinya dengan hal-hal yang baik. Saya bersyukur bisa menjalankan ibadah ini lebih baik dari tahun kemarin. Tentu saja harapan tertinggi saya adalah diterimanya segala amal ibadah selama bulan Ramadhan oleh Allah SWT.

Apakah saya merasa menang? Hari kemenangan telah tiba. Allahu Akbar walillahilhamd…

Saya lebih merasa berdebar-debar. Hal yang paling saya khawatirkan setiap selepas bulan Ramadhan adalah segala hal yang saya lakukan di bulan Ramadhan tidak membekas selepas Ramadhan. Ogah-ogahan lagi, bermaksiat lagi… Astaghfirullah.

Betapa tidak, ibaratnya seperti murid yang ditempa di kawah candradimuka, inilah saatnya bertemu dengan ujian yang nyata. Ramadhan hanyalah pelatihan. Semuanya terkondisi untuk Ramadhan. Semua motivasi telah disiapkan. Bagi yang mencari pahala, berlipat-lipat ganda pahala disediakan, diobral habis-habisan. Setelah Ramadhan selesai, lalu apa? Sudah begitu saja? Pesta telah usai, mari kembali ke kehidupan semula?

Ketimbang memandang sebagai sebuah akhir dengan perayaan yang meriah (dan sering berlebihan) menyambut hari raya Idul Fitri, saya lebih memandang akhir Ramadhan sebagai sebuah awal. Awalan bahwa kita menjadi seorang manusia yang lebih baik, lebih bertakwa, lebih tebal imannya dari sebelum-sebelumnya. Dengan setan yang kembali dilepas belenggunya. Tertawa gembira menyambut lalu kembali berusaha menggerus lapis demi lapis keimanan.

Apa parameternya? Mari tentukan sendiri dan mari berjanji pada diri sendiri. Shalat lima waktu tanpa bolong, lebih di awal waktu, dan ditambah dengan sunnah Rawatib. Sisihkan waktu untuk bertilawah, tadarus, dan tadabbur Al-Qur’an dengan target khatam menjelang Ramadhan tahun depan. Lanjutkan Qiyamul Lail dengan shalat Tahajud setiap malam. Pertahankan jumlah infaq dan sedekah. Sanggupkah kita? Saya tahu kadar iman itu berubah-ubah. Semoga Ramadhan tahun ini bisa membekas dan terus membekas hingga nanti saat kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan. Untuk lebih baik lagi.

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Lailahailallah huallahu akbar
Allahu Akbar walillahilhamd

It’s not the end. It’s just start.
Wish You Ied el-Fitr Mubarak

-Galih Satriaji-

Zakat

Posted by: on Aug 11, 2012 | 5 Comments

Catatan Minggu Ketiga Ramadhan 1433 H

Zakat adalah rukun Islam yang keempat setelah syahadat, shalat, dan puasa. Dan zakat sendiri terdiri dari dua macam, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Meskipun sama-sama sebagai kewajiban, namun mayoritas orang tidak terlalu memahami fiqih zakat daripada fiqih shalat.

Zakat fitrah relatif lebih mudah pelaksanaannya karena cukup ringan, hanya 3,5 liter, atau sekitar Rp. 30,000. Tidak sampai biaya makan dalam sehari. Maka pelaksanaannya pun lancar tidak banyak perdebatan. Berbeda dengan zakat mal. Memang besaran yang wajib dikeluarkan secara persentase hanya 2,5%, tetapi 2,5% dari berapa? Saat ini, potensi zakat di Indonesia mencapai 300 triliun, tetapi realitas-nya hanya sekitar 1,9 triliun saja.

Zakat berbeda konsep dengan pajak. Zakat memungkinkan sebuah aliran dana dari kelas ekonomi kuat ke kelas ekonomi lemah. Hal ini bisa memperkecil gap antara dua kelas ini. Bertolak belakang dengan konsep kapitalisme yang membuat yang kaya akan semakin kaya sedangkan yang miskin akan semakin miskin.

Seperti orang kebanyakan, saya tidak terlalu paham fiqih zakat mal. Jadi mohon jangan jadikan artikel ini sebagai referensi. Tetapi hal yang perlu diketahui di sini adalah macam harta apa saja yang wajib dikeluarkan zakatnya. Dalil aslinya menyebutkan bahwa yang termasuk dalam “objek zakat” adalah hewan ternak, pertanian, emas dan perak, harta perniagaan, hasil tambang dan barang temuan. Kemudian, hal penting berikutnya adalah berapa nisab-nya dari masing-masing harta itu. Nisab adalah batas minimum suatu harta dikenakan zakat. Contohnya adalah nisab emas yang 85 gram. Jika Anda punya investasi LM dibawah 85 gram, maka itu tidak wajib dikeluarkan zakatnya.

Menjadi lebih sulit karena pada zaman sekarang banyak sekali macam-macam harta. Jika dilihat, saya tidak memiliki harta yang wajib dizakati. Mungkin hanya beberapa gram logam mulia yang belum masuk nisabnya. Harta saya sisanya dalam bentuk tabungan, saham, dan reksadana. Tetapi jika itu dianalogikan sebagai emas, maka jelas sudah masuk nisab dan wajib dikeluarkan zakatnya.

Saya khawatir jika masalah zakat ini dipersulit, saya akan seperti Qarun yang selalu menghindar ketika diseru Nabi Musa untuk mengeluarkan zakat. Qarun tidak pernah menolak mengeluarkan zakat tetapi ia berdalih butuh waktu untuk menghitung jumlah hartanya yang jika semua kunci brankasnya dikumpulkan, maka tidak akan mampu dipikul oleh seorang yang kuat. Kerumitan accounting hartanya menyebabkan perlu waktu yang panjang sampai tahun depannya lagi pun belum selesai. Alasan itulah yang dipakai Qarun untuk menghindar dari pengeluaran zakat.

Karena itu, gampangannya, saya menganalogikan semua instrumen investasi dalam bentuk zakat emas. Saya tidak sependapat dengan zakat profesi, sehingga saya tetap berpegang pada dalil zakat mal, dan menzakatkan harta dari penghasilan profesi saya menurut hukum zakat mal emas.

Saya mengambil cut-off date pelaksanaan zakat pada setiap bulan Ramadhan. Sejak harta saya masuk nisab zakat, saya meminta ibu saya sebagai amil zakat untuk disalurkan ke yang berhak di kampung saya di Tulungagung. Saya ingat bahwa dalam melaksanakan zakat, infaq, dan sodaqoh, sebaiknya mulai dari orang terdekat kita terlebih dahulu. Untuk alasan inilah saya memutuskan untuk mengelola pengeluaran zakat secara mandiri tidak menggunakan badan amil zakat.

Dan dari ibu saya, saya diajarkan bagaimana mengeluarkan zakat dengan baik dan benar. Mindset-nya adalah melayani dan memuliakan orang yang diberi zakat. Karena dalam hal ini sebenarnya kita lah yang butuh mereka, bukan sebaliknya. Ini kewajiban lho, bukan sembarangan. Tanpa mereka, kewajiban tidak akan pernah tertunaikan. Jadi ibu saya mendatangi mereka satu per satu, dari rumah ke rumah. Jauh lebih capek ketimbang mengundangnya ke rumah tentu saja. Tetapi ibu saya mengajarkan satu konsep penting: memuliakan orang yang diberi zakat.

Dalil yang berbunyi “Tidaklah berkurang harta dengan shadaqah” itu benar sekali. Saya yakin betul, harta yang telah dikeluarkan dalam bentuk zakat dan infaq itu telah dikembalikan Allah dengan berlipat ganda. Secara hitungan accounting kapitalis mungkin tidak (meskipun seringkali juga iya, seperti yang didakwahkan ustadz Yusuf Mansur). Saya selalu berpamrih untuk selalu didoakan oleh tetangga-tetangga saya itu. Dan setiap tahun saya rasakan doa-doa mereka selalu dikabulkan oleh Allah. Tahun ini, saya mengharapkan doa saya yang satu itu dikabulkan Allah: dikirimi seorang bidadari surga yang menjelma dalam sosok seorang isteri.

Amin hehe…

Switch to our mobile site