Dream Theater Live in Jakarta

Apr 22, 2012 | 9 Comments

A Dramatic Turn of Events Tour, tur dunia band progresif rock dari Amerika bernama Dream Theater, mampir ke Indonesia, live di Mata Elang International Stadium (MEIS), Ancol, semalam. Saya pikir hampir setiap anak muda yang suka musik rock mestinya mengenal band ini. Apalagi anak band, pegang gitar listrik, dan jika dia memilih Ibanez sebagai gitarnya, dia tentu mendewakan John Petrucci.

Saya kenal Dream Theater waktu SMA, waktu sekolah saya mengadakan festival band. Menyaksikan band teman sekelas memainkan Under a Glass Moon. Sebagai tokoh yang tidak populer di kelas (basket ga bisa, main musik pun baru belajar gitar), sepertinya keren sekali melihat teman-teman beraksi di atas panggung — dan tentu saja digandrungi cewek-cewek.

Ternyata pas kuliah, saya menemukan banyak lagu-lagu Dream Theater dari album-album Images and Words, Scene from Memory, Octavarium, hingga album terbarunya sekarang, Dramatic Turns of Events.

Build Me Up, Break Me Down, dari album Dramatic Turn of Events

Saya ini suka berbagai macam musik, mulai pop mellow, rock metal, ballads, musik klasik, jazz, sampai campur sari dan langgam gamelan. Salah satu yang ingin saya lihat langsung sebenarnya adalah Bon Jovi dan Guns n Roses. Suvenir abad ke-20. GNR sudah lama bubar, dan Bon Jovi personelnya sudah pada tua. Maka Dream Theater adalah kesempatan langka. Saya bela-belain tidak nonton Java Jazz Festival 2012 dan menombokkan budgetnya dengan selembar tiket kelas Festival untuk konser Dream Theater: 2012 World Tour  - Live in Jakarta.

Keluarnya Mike Portnoy sebagai icon Dream Theater memang membuat sebagian ciri Dream Theater menghilang. Tapi penggantinya, Mike Mangini, punya ciri khas sendiri. Gebukannya lebih mantap, dan ia bisa lebih menyatu dengan band — tidak seperti Portnoy yang sering mendominasi. Jadi formasi Dream Theater yang tampil semalam adalah James LaBrie (vokal), John Petrucci (gitar), John Myung (bass), Jordan Rudess (keyboard), dan Mike Mangini (drum).

Jordan Rudess, selain dengan keyboard KurzweilKorg-nya yang khas, juga membawa Haken Continuum Fingerboard-nya. Itu sih cerita lama. Yang baru adalah adanya iPad di sebelah keyboardnya yang di tangannya bisa mengeluarkan suara-suara yang indah. Selama ini saya berpikir aplikasi alat musik di iPad hanya sebagai main-main saja.

John Petrucci, dengan gitar Ibanez-nya, tampil sempurna. Dream Theater memang band “sekolahan” — disiplin dan tidak banyak ulah. Jadi jangan harap ada aksi banting gitar di sini, atau memetik gitar dengan lidah. Tapi melihatnya secara langsung dari dekat — dari jarak 15 meteran — membuat saya yakin kalau Petrucci ini masih manusia. Kalau lihat permainannya, yang ada hanya takjub saja. Kalau kata James LaBrie waktu memperkenalkan John Petrucci, “the most talented, gifted guitar player”.

Uniknya, si LaBrie ini berkomentar mak jleb soal Jakarta: traffic. Dia bilang, God! betapa susahnya dari satu tempat ke tempat lain dengan lalu lintas yang gila-gilaan. Bahkan di pintu masuk venue ini! Iya sih, EO-nya sepertinya kelas kacangan membiarkan penonton berdesak-desakan masuk ke venue. Padahal tiket paling murahnya 700-900 ribu pre sale untuk kelas Festival. Kabarnya, tiket go show kelas Festival sampai 1,2 juta.

Saya akan bilang, konser Dream Theater ini akan saya kenang lama sekali. Saya tidak terlalu suka nonton konser, apalagi kalau lihat harga tiketnya. Tetapi adalah pengalaman tersendiri nonton di kelas festival, berdiri, berjingkrak-jingkrak, mengacungkan jari, menggoyangkan tangan, teriak-teriak walau suara sendiri tidak terdengar kalah sama hentakan drum dan raungan gitar. Kuping budeg, jantung rasanya berdentam-dentam! See you again in Indonesia, Dream Theater!

 

 The Spirit Carries On, dari album Scene from Memory

Dream Theater, full team. Dari kiri ke kanan: John Petrucci, Mike Mangini, James Labrie, Jordan Rudess, dan John Myung

Footprint :p. Setelah konser usai. Sesak napas karena banyak anak-anak muda bodoh merokok di ruangan tertutup dan minim oksigen ini

Dream Theater Dramatic Turn of Events Tour
Live in Jakarta, 21 April 2012
Mata Elang International Stadium, Ancol
Foto-foto: Saya
Kamera: Panasonic Lumix DMC F-3

Bicaralah Secara Denotatif, Wahai Kaum Wanita

Apr 21, 2012 | 3 Comments

Perjalanan Balikpapan-Jakarta dengan pesawat Garuda GA517 dari bandara Sepinggan selepas shalat Jumat itu menyenangkan. Bukan karena cuacanya yang mendung, tidak pula karena makanannya yang tambah mirip makanan kereta Gajayana. Tidak karena suara bariton kapten pesawat yang tidak bisa basa-basi tapi kewajiban prosedur memaksanya berceloteh tentang ketinggian, suhu, dan cuaca. Juga bukan pula karena mbak-mbak pramugari khas Garuda: make up yang tidak natural untuk menyembunyikan umur sehingga membuatnya mirip boneka bertopeng, senyum yang terlatih yang membuat saya berpikir, “orang ini hanya ramah ketika bekerja, pasti jutek kalau sudah turun dari pesawat”. Jauh dari kesan keramahan khas Indonesia yang disimbolisasi seragamnya yang mirip kebaya dan telapak tangannya yang mengatup ketika mengucapkan terima kasih.

Oh iya, setiap kali kita akan turun pesawat, mbak pramugari itu kan bilang “terima kasih” sambil tersenyum ramah, tapi jarang lho membalas tatapan tulus saya yang berkata, “terima kasih”. Seperti robot saja, mungkin karena kebanyakan penumpang juga super cuek. Penumpang-penumpang yang mahasibuk yang bahkan sudah bertelepon dan ber-BBM dengan entah siapa waktu masih di pesawat.

Eh, saya bukan mau cerita soal pelayanan Garuda, tapi soal in-flight entertainment-nya. Saya memilih nonton film drama Korea, tanpa pakai head-set. Soalnya saya takut kadung nangis-nangisan, film dihentikan paksa karena sudah mau mendarat. Jadi saya menikmati tokoh ceweknya yang berwajah imut, berkulit putih mulus, bertubuh langsing. Sosok yang bakal diidam-idamkan semua pria untuk dimiliki, sekaligus segala hal yang dimiliki cewek itu diidam-idamkan semua wanita. Saya hanya mengikuti ceritanya dari subtitle ganda yang tampil di layar – Mandarin dan Bahasa Inggris.

Ceritanya sih template, seorang gadis perawat rumah sakit yang jatuh cinta dengan dokternya. Seorang dokter muda sukses di puncak karier, bebas finansial, berwajah tampan dengan potongan rambut gaya terbaru, tubuh tinggi langsing. Profil yang menjadi impian setiap wanita. Masalahnya adalah, si gadis itu sedang berjuang menyembuhkan patah hati karena baru saja diputus oleh pria romantis. Pria itu awalnya seorang pria sederhana yang membuatkan puisi, membuatkan lagu dengan gitarnya. Gadis yang masih lugu polos itu pun klepek-klepek. Sampai akhirnya seorang produser film menemukan si cowok yang tiba-tiba menjadi bintang besar. Dan kisah cinta itupun kandas di tengah jalan.

Singkat cerita, sepuluh menit menjelang pesawat posisi landing, si gadis menyadari cintanya akan kabur ke Beijing melanjutkan riset bersama seorang dokter cantik yang ambisius yang juga mencintai sang dokter. Si gadis memburu cintanya di airport, dan jadilah adegan mirip film AADC waktu Cinta mengejar Rangga. Si Rangga, eh, si dokter itu akhirnya muncul sambil memeluk si gadis, dengan background pesawat yang sedang boarding, si dokter cantik, dan satpam bandara yang siap menangkap si gadis.

Setelah emosi terluapkan, si dokter itu berkata, “Kalau kamu meminta aku tinggal di sini, akan kutinggalkan risetku di Beijing. I will stay here with you.”

Tapi apa yang dikatakan si gadis, setelah segala hal yang dilakukannya menembus keamanan bandara, “Pergilah ke Beijing. Jangan lihat aku lagi!” Ia berkata begitu sambil menangis. Ia tak mau egois, meskipun ia cinta mati ke dokter itu, ia ingin pria yang dicintainya itu berkembang dalam kariernya. Ia juga ingin membuktikan kalau dia bisa tegar, tak bisa dibunuh oleh cinta.

Siapapun yang melihat ekspresi si gadis akan mengerti kalau gadis itu tak ingin si pria itu pergi. Tapi seperti yang akan dilakukan semua pria, dokter itu menurut apa yang disuruh di gadis. Si dokter naik pesawat ke Beijing.

Begitulah, saya rasa, hampir semua pria tidak bisa melihat apa maksud tersembunyi dari kata-kata wanita yang seringkali bertolak belakang. Atau minimal saya deh! Saya paling nggak bisa melihat maksud konotasi dari setiap perkataan wanita, apalagi jika saya sedang jatuh cinta. Efek kimia jatuh cinta itu sering membuat saya jauh lebih bodoh dari yang aslinya sudah bodoh. Melakukan tidakan bodoh. Berkata bodoh. Membuat blunder tidak perlu.

Lha, kok jadi curcol, ehehehe.. Ya pokoknya begitu deh. Pesan moralnya: kembali ke judul.

Project Reklame

Apr 8, 2012 | 6 Comments

Beberapa hari yang lalu saya sempat mengeluh di Twitter kalau saya bosan dengan foto-foto saya yang itu-itu saja. Seperti seorang seniman yang mengalami masa kering ide, saya juga mengalami hal itu sehingga fotoblog saya biarkan tidur selama lebih dari dua bulan.

Saya suka memotret landscape, arsitektural, rekaman kejadian (yang saya sebut once upon a time), dan bunga-bungaan (makro). Tiba-tiba saya merasa foto-foto saya menjadi kusam, kurang bening. Saya selalu iri melihat foto-foto yang menampilkan cerahnya pagi dengan warna-warna cerah: biru, hijau, dengan pencahayaan yang sempurna.

Tadi pagi, waktu menyusuri jalur Sudirman-Thamrin di Car Free Day, saya menemukan ide yang lama saya lupakan. Saya sudah lama ingin mengoleksi iklan-iklan dalam bentuk reklame, poster, dan baliho di jalan. Dulu sekali waktu blog masih ngetren kalau nggak salah ada blog niche yang khusus membahas itu. Sekarang tentu saja sudah mati blognya (emang berapa biji blog niche yang masih hidup?).

Saya memulai topik baru di http://foto.galihsatria.com/topics/reklame/. Tentu saja kategori lainnya akan menggeliat kembali seiring dengan passion motret yang tiba-tiba meledak bangun ini. Khusus “Daily Photos”, saya akan khususkan untuk fotografi mobile. Foto-foto yang asal jepret tanpa pakai mikir. Pokoknya, Don’t think, just shoot!

Tentang Mobil yang Minum Premium

Apr 3, 2012 | 11 Comments

Ciri khas orang Indonesia — saya dan Anda — adalah kecemburuan sosial dan egoisnya yang tinggi. Susah lihat orang senang dan senang lihat orang susah. Ketika ada foto berantai sebuah Alphard mewah minum bensin bersubsidi, langsung semua orang mencaci maki dengan sinis setiap mobil baru yang minum Premium. Tapi mari kita lihat dengan sudut pandang yang sedikit berbeda.

Selain egois dan cemburu sosial, orang Indonesia itu — saya dan Anda — juga sering mengedepankan gengsi dan status sosial. Jika Anda berumur sekitar 30 tahun, memiliki keluarga baru, kemudian punya uang nganggur 300 juta, apa yang Anda akan lakukan dengan uang itu? Saya yakin, mayoritas akan membeli rumah atau mobil. Mobil menempati urutan prioritas yang tinggi karena salah satu ukuran kekayaan adalah punya mobil. Tidak peduli itu mobil dibeli dengan hutang sehingga cash flow bulanannya menjadi defisit, dan net worth-nya juga minus. Miskin secara accounting, tapi kaya secara sosial.

Nah, banyak orang membeli mobil padahal struktur keuangannya sebenarnya belum mampu. Atau mampu untuk kelas mobil second yang sudah lama. Tetapi karena status sosial-nya seharusnya memantaskan dirinya untuk punya mobil baru yang mewah, maka ia memaksakan diri untuk membeli yang lebih baru.

Bayangkan status sosial yang didapatkan. Rasakan setiap orang yang akan memandang dengan lebih hormat. Tidak ada yang bisa meremehkan. Apalagi jika umur masih muda. Sebagai seorang eksekutif muda yang sukses.

Padahal urusan mobil tidak berhenti sampai membeli saja. Akan ada biaya operasional yang besar. Biaya bensin, tol, perawatan berkala, cuci mobil, dll.

Berandai-andai lagi, jika ada seorang eksekutif muda gajinya 15 juta sebulan, ia pantas punya mobil kan? Sangat. Terus, pengeluaran kan berbanding lurus dengan gaya hidup. Apakah orang gaji segitu pengeluarannya hanya 4 juta sebulan? Tidak mungkin. Secara gaya hidup, bisa jadi ia bahkan tidak punya simpanan tabungan sama sekali.

Sudah dapat efek psikologisnya? Tidak jadi naiknya harga BBM tak pelak membuat gap antara Premium dan Pertamax lebih dari dua kali lipat. Pertamax sekarang harganya Rp. 10.200, itu jika dibelikan Premium sudah 2,26 liter sendiri.

Jika setiap seminggu sekali, si eksmud itu harus memenuhi tangki mobilnya, katakanlah 30 liter, maka pengeluarannya dengan Pertamax adalah Rp. 306.000 seminggu. Sebulan adalah sekitar 1,2 juta. Rasio dengan penghasilan bulanannya hampir 10%. Jika dia pakai bensin premium, maka pengeluarannya jadi Rp. 135.000 seminggu, Rp. 540.000 sebulan, atau hanya 3% saja dari penghasilannya.

Efeknya mantap sekali. Penghasilan si eksmud itu sebenarnya hanya cukup membiayai mobil dengan Premium. Dan bukankah tidak ada aturan setiap mobil baru harus pakai non-premium? Itu menjawab pertanyaan kenapa ada orang yang pakai mobil mewah tetapi tidak mampu beli BBM non subsidi.

Tanpa melihat segala macam kepentingan, gap antara Premium dan Pertamax sudah terlalu jauh. Saya boleh bangga memakai Pertamax karena pengeluaran saya untuk BBM hanya 30 ribu setiap minggunya. Masih jauh dari pengeluaran untuk makan seminggu. Mungkin jika saya punya mobil mewah begitu, saya juga tidak bisa menerima pengeluaran sebesar itu untuk Pertamax. Untungnya, saya tidak punya mobil.

Review: Perahu Kertas

Apr 1, 2012 | 14 Comments

Spoiler ALERT: Tulisan ini akan penuh dengan spoiler. Ini bukan resensi, tetapi review gaya bebas. Ada bocoran akhir ceritanya. Jadi yang belum membaca dan ingin membaca novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari ini disarankan tidak membaca artikel ini. 

Tentang Novel Kriminal dan Pembunuhan

Mar 21, 2012 | 10 Comments

Kalau ditanya jenis novel apa yang paling saya suka, saya tentu akan menjawab dengan pasti: novel pembunuhan. Meskipun saya suka romantisme, tapi saya selalu bosan membaca novel-novel tentang jatuh cinta dan patah hati. Saya juga akan merasa terlalu tua kalau lagi baca novel teenlit yang ceritanya tak jauh-jauh dari rebutan pacar. Dan saya sebut novel-novel percintaan Islami itu sama semua gayanya: pakai gayanya Habiburrahman El-Shirazy.

Teman saya di Twitter ada yang geleng-geleng, apa nggak menjijikkan mengimajinasikan darah-darah berceceran, tangan dipatahkan, leher ditebas pedang, leher dijerat sampai putus nafas dan lubang dubur terbuka, dll. Tapi anehnya saya bisa membaca pembunuhan Barzini, Philip Tattaglia, Carlo, dan musuh-musuh keluarga Corleone di novel Godfather sambil makan dengan nikmat. Baiklah, mungkin sekarang teman-teman menganggap saya punya bakat psikopat…

Tapi terlepas dari kekejamannya, novel kriminal menurut saya lebih kaya muatan dan pengetahuan. Di sini tidak melulu hanya pembunuhannya, tetapi ada seni perencanaan pembunuhan berencana. Ada konflik batin dimana seseorang dihadapkan pada satu pilihan: membunuh untuk menyelamatkan umat manusia. Ada drama romantis hero worship. Ada cinta posesif yang berujung kematian. Ada filosofi. Kadang-kadang ada sastra Shakespeare (Othello, Romeo and Juliet).

Nah, karena itu saya suka membaca novel kriminal. Selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari, selalu ada pengetahuan baru. Saya mungkin sudah membaca novel Godfather ratusan kali, karena apa yang saya lihat dari seorang Don Vito Corleone bukan kekejamannya, tapi leadership-nya, visinya, seni negosiasinya yang membuat dia menjadi seorang negarawan dunia bawah tanah yang jauh lebih sukses dari Paus dalam membawa misi perdamaian dunia bawah tanah.

Saya suka sosok Hercule Poirot yang sombong bukan main, tetapi itu saya anggap sebagai sebuah kepercayaan diri. Dia tidak pernah menyombongkan hal yang tidak bisa dia lakukan. Saya suka sosok Sir Charles Cartwright yang mempesona, seorang aktor yang membuat dramanya sendiri, menjadi peran-peran yang ia inginkan di kehidupan nyata. Bahkan saya suka Jupiter Jones, yang mengandalkan kecerdasan otaknya dan kemampuan analisisnya yang luar biasa.

Pernah saya mencoba membaca novel yang kelihatannya adalah drama romantis. Penulis macam Sandra Brown novel-novelnya drama romantis bukan? Tapi apa yang saya dapatkan? Sebuah petualangan dokter muda cantik yang dikagumi oleh seorang pembunuh bayaran. Pembunuhan lagi, hahaha…

Mungkin saya harus ambil novelnya Mira W kalau ingin baca novel drama percintaan yang benar-benar romantis.

Nganggur Seminggu

Mar 19, 2012 | 6 Comments

Saya tidak mengira sama sekali kalau tiba-tiba saya diberi cuti seminggu di tengah-tengah kesibukan pekerjaan yang cukup menguras energi. Awal tahun, saatnya melaksanakan rencana-rencana kerja yang telah disusun. Dan apa rasanya tiba-tiba stop, jangan bekerja! Panik, hahaha… Bingung mau mengisi liburan kemana. Wacana yang muncul adalah, liburan ke Bali-Lombok, atau backpacking lintas kota-kota di Jawa. Naik kereta ke Cirebon, merayap ke Semarang, turun ke Solo, lalu baru ke rumah. Nike membujuk-bujuk buat ke Palembang.

Dan keputusannya adalah antiklimaks: pulang kampung. Jadi pengangguran seminggu. Tanpa email kantor, tanpa internet. Biasanya saya malah gelisah kalau tidak terhubung dengan kantor via internet, tapi kali ini: tanpa internet! Hehe…

Demikianlah, seminggu sukses menaikkan berat badan saya beberapa kilo. Pagi hari menikmati sinar matahari terbit di balik Gunung Budheg. Kalau hujan, melihat ayam-ayam bapak yang lagi dikasih makan, lalu ditangkap satu dipotong buat makan sehari. Mengantar ibu ke sekolahan. Menikmati sawah yang menghijau, pohon jati yang sedang berbunga di kaki bukit di tepi hutan kecil, hiruk pikuk pasar…

Salah satu momen yang paling saya nikmati adalah di hari terakhir liburan, waktu saya menunggu mobil dicuci di tempat pencucian mobil di tepi sawah Sukoanyar. Jam 10 pagi, hari kerja. Sesekali kendaraan lewat. Seribu kilometer jauhnya dari pusat kota Jakarta Raya. Ritme kehidupan yang begitu bertolak belakang. Hehe…

Foto: Persawahan mBancang, Suwaluh. Dijepret dengan Panasonic Lumix DMC F-3

Switch to our mobile site