Saya Menulis Karena Krenteging Ati

Feb 23, 2012 | One Comment

Postingan bertopik basi, tapi ini adalah road to one thousand posts!

Krenteg artinya keinginan yang menggebu-gebu, yang seakan-akan mau meledak kalau ditahan. Ati itu ya hati. Itulah gambaran kalau saya sedang ingin menulis. Menulis itu buat saya sudah menjadi kebutuhan, seperti sarapan pagi, seperti minum obat tiga kali sehari.

Karena itu saya tidak mau membatasi tulisan saya dalam topik tertentu saja. Lihat saja photoblog saya yang saya diamkan hampir sebulan penuh, karena sebenarnya saya tidak mau dibatasi oleh topik-topik tertentu. Dan ternyata saya juga tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk memposting artikel, meskipun aturan main itu saya juga yang bikin.

Postingan seperti ini, mengingatkan saya seperti tulisan-tulisan tahun 2006-2007-an, sebelum saya upload foto-foto di sini.

Kalau ternyata tulisan-tulisan saya bermanfaat bagi teman-teman sidang pembaca, saya yang harus berterima kasih karena biar bagaimanapun juga, blogger itu juga perlu pembaca selain dirinya sendiri.

^_^

Apakah saya akan istirahat menulis dulu, atau malah menutup blog ini setelah menyentuh tulisan ke-1000, saya belum tahu. Yang jelas saya ingin merayakan dulu tulisan ke-1000 itu. Dengan jumlah 8-10 postingan setiap bulan, sepertinya itu akan terjadi satu atau dua bulan lagi.

Psikotest Itu…

Feb 19, 2012 | 7 Comments

Psikotest itu, penghalang pertama langkahmu menjadi karwayan di perusahaan idamanmu. Tidak cuma gerbang menuju perusahaan baru, buat promosi pun seringkali kamu dihadang dengan gerbang bernama psikotes ini. Anehnya, banyak yang menganggap remeh tes ini, termasuk yang lagi nulis postingan ini…

Soal psikotest sebenarnya tidak sulit. Kemampuan numerik cuma matematika tambah kali bagi kurang, kemampuan verbal asal banyak baca aja pasti bisa. Persoalannya adalah waktu yang diberikan itu tidak masuk akal. Tiga puluh soal hanya dalam waktu sepuluh menit? Mimpi kali ye…

Mungkin banyak orang yang menganggap psikotest itu gampang, pasti lulus. Tapi nyatanya saya tidak. Bertahun-tahun saya digagalkan di gerbang pertama ini. Sejumlah perusahaan minyak besar seperti Chevron Indonesia (eks Unocal, Caltex), ExxonMobil, Total E & P, hingga Pertamina (dari holdingnya sampai EP), cukup tertarik melihat catatan akademis saya. Tapi saya selalu gagal di psikotest. Kalau ada yang menyelenggarakan tes dua hari (hari pertama kemampuan numerik verbal, hari kedua tes kepribadian), saya tidak pernah menyelesaikan tes itu dua hari penuh.

Saya tidak mau mengakui kenyataan. Seorang yang begitu cemerlang menyelesaikan topik-topik rumit bidang Computer Science dikalahkan di soal-soal tambah kali bagi kurang. Saya mulai membenci lembaga-lembaga psikotest seperti UI dan Experd. Saya berkata ada banyak kelemahan di metode pengukuran mereka, bahwa saya seharusnya tidak sebodoh yang mereka pikirkan sehingga tidak layak untuk maju ke babak berikutnya.

Teman saya menyangkal begini, “Bayangkan ada 20 ribu calon pelamar yang sepandai kamu datang bersamaan. Kamu sebagai pencari karyawan harus memiliki metode yang praktis, murah, dan cepat untuk mengetahui potensi mereka semua. Tentu tidak mungkin semua diwawancarai satu-satu. Psikotest adalah metode yang paling gampang. Katakanlah saja akurasi psikotest itu hanya 60%, maka mendapatkan dua belas ribu calon yang tepat, tentu saja itu sudah sangat luar biasa. Karena mungkin yang dibutuhkan tidak lebih dari 50 orang.”

Ya, benar juga sih…

Sampai akhirnya hal yang paling memukul saya terjadi. Tidak banyak pukulan dalam hidup saya yang bisa membuat saya jatuh tersungkur. Saya mendapatkan kepercayaan oleh atasan saya untuk direkomendasikan menjadi karyawan BP Migas. Saya sudah wawancara dengan Kadin (setara General Manager) dan Kadiv (setara Vice President) dan beliau oke semua. Tapi saya digagalkan oleh lembaga psikotest keparat! Saya dinyatakan tidak memenuhi syarat.

Tapi yang paling memukul saya bukan kegagalannya (kata gagal dalam psikotest waktu itu sudah biasa buat saya), tetapi bahwa saya telah mengecewakan atasan saya yang telah mempercayai saya, yang telah susah payah berjualan nama saya. Saya telah memalukan beliau. Kadiv yang mewawancarai saya hanya bisa menggelengkan kepala, “Padahal cum laude ya, tapi kok bisa gagal di psikotest…” Apapun yang dilakukan atasan saya itu untuk membela saya sia-sia, beliau tidak bisa melawan sistem yang telah baku. Apalagi sebuah sistem di birokrasi pemerintahan.

Saya jatuh ke titik kepercayaan diri terendah dalam karier pekerjaan saya. Dua tahun sejak itu, saya tidak pernah lagi melamar pekerjaan.

Saya mulai menyadari kesalahan saya. Mungkin saya terlalu freak. Banyak orang IT yang dijauhi psikotest. Saya harus mengurangi tingkat geek saya. Itulah yang mendasari keputusan saya untuk sekolah lagi. Memilih jurusan sejauh-jauhnya dari IT. Jurusan Ekonomi dan Manajemen. Sesuatu yang jauh lebih general dan tidak terlalu sains. Saya tidak peduli apakah S2 membawa dampak positif buat saya, tapi ini salah satu usaha saya untuk bangkit. Tujuan saya adalah untuk mengembalikan kepercayaan diri bahwa saya bisa.

Dua tahun setelah itu, setelah secara de facto memegang gelar Master of Management, saya menghadapi psikotest pertama saya. Saya datang dengan kepercayaan diri yang baru pulih. Saya tahu, jika saya gagal lagi, mungkin saya tidak akan bisa bangkit lagi. Jadi saya mempersiapkan itu sebaik saya mempersiapkan sidang thesis saya.

Saya mengikuti pelatihan psikotest di GPS Jakarta, di sebuah ruangan sempit di sudut Education Centre di POINS Square, Lebak Bulus. Saya melewatkan hari Minggu yang sangat padat dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Di sana lah, mind set saya terbuka. Pelatihan itu bukan pelatihan untuk mencurangi psikotest, tetapi bagaimana menerima dan mengerti kenapa psikotest itu dirancang dan diadakan. Instrukturnya bilang, pelatihan itu untuk mereka yang berpotensi tapi tidak siap menghadapi psikotest, sehingga dinyatakan gagal. Mereka yang tidak berpotensi, meskipun ikut pelatihan itu tetap tidak akan lolos psikotest.

Hari Jumat, saya menjalankan tes itu setelah lebih dari dua tahun trauma tidak mau tes lagi. Saya pasang status BBM, “Bismillah.” Ada satu yang merespon, mengucapkan selamat berjuang. Seseorang yang saya kagumi. Sayang sudah punya pacar. Heheheh…

Beberapa minggu kemudian, ketika saya ditelepon oleh HR untuk di-interview, saya sujud syukur. Terima kasih ya Allah.

Update Ilmu dan Teknologi

Feb 14, 2012 | 6 Comments

Waktu masih kuliah dulu, senior tetangga kamar saya sudah bekerja di LippoTelecom sebagai desainer grafis. Sebuah posisi yang menurut saya sudah mapan secara finansial. Tiba-tiba suatu hari, teman saya itu bilang kalau dia resign dan memilih mengajar di Desain Produk ITS. Menjadi dosen tidak tetap. Waktu itu, saya menganggap itu sebuah keputusan yang amat berani karena secara finansial pasti itu downgrade jauh.

Alasan teman saya itu, “Di industri aku ketinggalan Lih, kalau di kampus aku tetap bisa update ilmu dan perkembangan terbaru.”

Baru sekarang saya bisa mengerti maksudnya. Saya yang di industri, apalagi di industri oil and gas yang IT masih menjadi support dan business enabler — belum menjadi core dan business driver, merasa begitu ketinggalan dengan perkembangan teknologi yang berlari.

Kalau saya membaca milis jurusan, rasanya mereka sudah eksplorasi macam-macam. Ya data mining, pengolahan data sangat besar, information retrieval, dengan segala alatnya yang keren-keren. Padahal di industri saya, yang diperlukan masih software pengolahan data biasa. Metodologi pengembangan perangkat lunak juga masih memakai metode waterfall. Analisis sistem juga masih prosedural memakai Flowchart. Teknologi yang paling maju yang sedang diimplementasi mungkin hanya Service Oriented Architecture (SOA), teknologi yang booming lima sampai sepuluh tahun yang lalu.

Tapi ya memang harus begitu. Kampus adalah rumah untuk riset. Hasil riset yang telah matang baru akan diimplementasikan di industri. Karena tentu saja mengimplementasikan sebuah teknologi — bagi industri — adalah sebuah investasi bisnis. Harus ada hitungan jelas Return on Investment-nya. Dan untuk menghitung investasi IT, tidak pernah mudah (bagaimana menghitung valuasi dari sebuah software yang tidak terlihat — apalagi middleware yang lebih tidak kelihatan?).

FHM

Feb 13, 2012 | 6 Comments

Hari ini saya setengah dipaksa oleh dua princess di tim saya untuk beli majalah FHM. Katanya biar saya lebih jadi cowok sini banget begitu (Jakarta maksudnya). Ditanya saya suka beli majalah apa, ya saya jawab, majalah-majalah yang saya baca: Investor, Warta Ekonomi, Marketing Mix, Forbes, Info Linux, Info Komputer, CHIP, dan CHIP Foto Video. Mlengos semua dua orang itu disodori judul-judul begituan, hahaha…

Edisi Februari 2012 ini ada bonusnya: agenda bersampul hitam dengan tulisan Durex. Walah, untung gak dikasih kondomnya sekalian, he he he…

Tadi baca sekilas (lebih tertarik foto-fotonya ketimbang tulisannya hehe), isinya memang maenan cowok semua. Gadis-gadis muda berpakaian seksi, di sini tidak ada foto yang pahanya tertutup hehe. Lalu ada iklan jam tangan, kacamata, Samsung Galaxy Note, dan mobil BMW.

Lagi-lagi memang gaya hidup. Namanya juga majalah tentang gaya hidup. Sah-sah saja punya gaya hidup seperti itu. Yang langsung terlintas di kesan saya, FHM menjual image pria sukses itu: mapan, punya mobil bagus, fashionista, perokok, suka dugem ke party-party. Dan tentu saja, kekuasaan yang mutlak untuk seorang pria sukses adalah ketika ia berhasil membeli apa saja, dan setiap wanita jatuh ke pelukan dia tanpa terkecuali.

Kalau memang itu lifestyle nya pria sukses Jakarta, saya pilih jadi bukan pria sukses saja.

Pagi hari bekerja kantoran, banting tulang (eh, otak kali ya) menelusuri kode demi kode program. Sepulang kantor, di malam hari yang hangat, mempelajari angka-angka indeks pasar modal, indikator-indikator ekonomi, mengatur strategi untuk perdagangan di esok hari. Sabtu menikmati hidup dengan memainkan beberapa not musik klasik. Minggu berolahraga, sorenya ngaji ke masjid.

Hidup sehat jasmani rohani, jauh dari pengaruh rokok, dan segala hal yang menguras kantong, hahaha…

Saya sebut itu, gaya hidup pria single kapitalis religius. Halaaah . Apa definisi anda tentang pria sukses itu? Boleh dong dishare di sini.

Tentang Move-On

Feb 11, 2012 | No Comments

Minggu ini, saya akan menulis tentang melankolis. Februari, musim orang sedang jatuh cinta dan patah hati. ^_^

Saya ditanya di Twitter, bagaimana caranya move on? Secara matematis, saya pernah empat tahun tidak berhasil move on, menghasilkan puluhan puisi dan ratusan curhat di kategori melankolis ini. Jadi sebenarnya, saya bukan orang yang ahli untuk melupakan yang telah berlalu dan suka dengan kondisi terluka dan patah hati.

Bagaimana caranya sembuh dari patah hati? Sependek pengalaman saya, ya, menemukan figur baru. Tidak mungkin melupakan orang yang pernah menyakiti kita. Sampai sekarang pun, saya akan ingat setiap kali menulis variabel  int x = 0; di kode program saya. Saya akan ingat ketika melihat penjual kerak telor. Jadi, daripada susah-susah berjuang dilupakan, tempatkanlah ia di tempat yang baik, di salah satu sudut hati, sebagai salah satu bagian sejarah yang indah.

Indah? Bukankah saya berkali-kali menulis potongan syair entah punya siapa, Love is such beautiful pain? Setiap orang akan menikmati sakitnya patah hati. Karena saya hanya bisa bikin puisi kalau lagi patah hati.

Permasalahannya adalah, bagaimana menemukan figur baru itu?

Nah kan, jadi lingkaran setan. Patah hati hanya bisa sembuh ketika kita telah menemukan figur baru. Padahal setiap kali muncul figur baru, kita selalu membandingkannya dengan yang telah berlalu.

Entahlah, saya sendiri belum pernah merasa menemukan figur baru yang lebih baik. Tidak ada gadis yang lebih cantik darinya. Tidak ada yang bisa diajak curhat, diskusi, tertawa bareng seperti dia. Tidak ada yang bisa membuat saya merasa seperti anak kecil yang merasa aman di dekat figur keibuan seperti dia. Di saat yang sama, tidak ada yang bisa membuat saya seperti seorang ksatria yang sanggup menyelamatkannya dari gangguan apapun. Sampai saat ini, tidak ada yang bisa seperti itu.

Tapi bukankah tiap orang itu unik? Kalau mindset-nya mencari yang bisa seperti itu, bukankah saya hanya akan menyakiti figur baru itu karena saya tidak menempatkannya di tempat yang tertinggi di hati saya, bahkan hanya sebagai figur pengganti? Mungkin tanpa sadar, saya memang telah menyakiti figur baru itu. Maafkan aku, aku hanya laki-laki biasa yang punya sangat banyak kekurangan yang aku coba tutupi dengan segala macam topeng.

Hasbunallah wa nikmal wakil.

Cukuplah Allah buat saya. Segalanya akan lebih simpel kalau segala urusan dikembalikan kepada Allah. Apa sih niat saya? Kalau mencari pasangan hidup untuk menggenapkan separuh dien, kenapa urusannya dijadikan seribet itu? Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi saya mencoba mengurangi segala kriteria yang bersifat “duniawi”, membuka segala pintu kemungkinan jodoh itu datang dari pintu mana. Apakah melalui pacaran, taaruf, perjodohan… segalanya saya buka.

Yang cukup mengerikan yang sedang saya bayangkan adalah: bahwa saya akan menikah tanpa melalui proses jatuh cinta.

Apakah move on saya sudah lebih mirip putus asa? Semoga bukan. Tetapi di sini yang ingin saya share adalah:

  • Tidak mungkin melupakan orang yang pernah mencuri hati. T-i-d-a-k M-u-n-g-k-i-n. Jadi, tempatkanlah dia sebagai salah satu bagian dari sejarah hidup.
  • Pakai pikiran jangan perasaan. Saya yakin, cewek lebih susah move on, tapi ya hanya rasionalitas dan logika yang bisa menyelamatkan orang dari jatuh cinta. Because love is blind, and I will find my way with you.
  • Kembalikan segala urusan kepada-Nya.
  • Buka segala pintu kemungkinan. Jodoh akan datang melalui cara yang tidak terduga-duga.

Dan satu hal lagi yang sedang saya nasihatkan ke diri saya sendiri. Tidak boleh putus asa. Tidak boleh bosan melalui jalan yang itu-itu lagi ketika sebuah hubungan kandas di tengah jalan. Melelahkan. Apalagi kalau urusannya sudah serius dan sudah membawa antar keluarga. Urusannya tidak hanya sekedar perasaan sendiri dan yang dikasihi, tetapi sudah menyangkut perasaan, harga diri, nama baik, dan ego antar keluarga.

Percayalah pada saya, nanti setelah move-on, ketemu figur baru, lalu sudah serius, masih banyak hambatan dan tantangan yang lebih kompleks ketimbang sekadar move on. Mungkin karena pernikahan itu adalah sebuah mitsaqan ghaliza ya, dan penggenapan dien, makanya setan yang mencoba menghalangi bukan yang kelas teri lagi.

Pembagian Kelas Kamera, Versi Saya

Feb 10, 2012 | One Comment

Jika kita ingin belajar memasak, tentu benda yang pertama kali harus kita punyai adalah alat masak: kompor, wajan, dan bahan makanan. Begitu juga dengan kalau kita suka fotografi dan ingin belajar fotografi: benda yang mutlak harus kita punya adalah sebuah kamera.

Apakah harus kamera bagus dan mahal? Iya dan tidak, tergantung mau seserius apa kita belajar. Kalau mau bisa bikin hidangan ala barat, tentu wajan tidak cukup untuk membuat masakan barat. Mungkin perlu oven, blender, segala macem. Begitu juga dengan fotografi, kalau mau bikin foto bagus sekelas foto iklan di baliho, butuh kamera dan lensa yang bagus — yang pasti mahal harganya.

Nah, di sini saya mau share tentang berbagai macam jenis kamera, menurut versi saya tentu saja. Setiap jenis kamera memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tentu saja. Kalimat bodoh.

Mobile Camera

Ini saya kategorikan untuk kamera-kamera kecil yang biasa ada di gadget: ponsel, smartphone, dan tablet. Ciri-cirinya, ukuran lensanya mini, hanya menjadi bagian dari fungsi alat induknya. Karena ukurannya yang mini, jangan berharap banyak dari kamera jenis ini. Tidak terlalu tajam, range warna dan cahaya yang sempit, dan noise-nya gila-gilaan. Tetapi keunggulannya adalah ia bisa secepat kilat diunggah ke internet. Makanya orang biasa memakai ini untuk pamer ke teman-temannya bahwa ia sedang ada di mana, ngapain, dsb.

Jika mengutip profil Instagram saya, fotografi mobile itu menarik. Keterbatasannya menantang kreativitas untuk menaklukkannya. Fotografi mobile, tidak bisa mengunggulkan kualitas teknis agar dilirik, tetapi lebih mengandalkan kekuatan konsep, cerita, dan komposisi.

Kamera Saku

Mungkin hampir setiap orang memiliki kamera jenis ini. Kamera kecil yang bisa dikantongi. Fungsinya hanya sebagai kamera dan kamera video tanpa fungsi yang lain. Karena itu, ukuran lensanya lebih besar daripada kamera mobile, dengan LCD yang lebih luas. Sekarang saya memakai Panasonic Lumix DMC F-3 yang murah meriah.

Kamera saku mengedepankan segi kepraktisan, maka disebut juga point and shoot camera. Tunjuk dan bidik. Gak usah pakai mikir. Don’t think. Just shoot!

Nah uniknya, saya pikir kamera saku akan semakin terjepit di tengah seiring meningkatnya kualitas kamera mobile. iPhone bisa dikatakan kamera mobile yang terbaik saat ini. Saya sering mengantongi kamera saku saya, memotret, lalu mendiamkannya sampai saya mentransfer-nya ke laptop, editing, lalu mengunggahnya ke web. Project365 di photoblog saya nampaknya hanya bertahan sebulan saja, hehehe…

Kamera Prosumer (Kamera Saku High Level)

Kamera saku saya kategorikan untuk kamera-kamera digital yang harganya di bawah 2,5 juta. Di atas itu saya sebut kamera saku high-end, atau sering disebut juga kamera prosumer. Kamera ini seperti kamera saku karena lensanya tidak bisa diganti-ganti, tetapi dengan fitur dan kualitas yang jauh lebih baik. Pengguna kamera ini ada dua: satu adalah orang yang memiliki budget lebih untuk membeli kamera saku karena ia menginginkan kualitas yang bagus dan tidak usah beli apa-apa lagi. Dan dua adalah penghobi foto yang menjadikan ini sebagai kamera kedua setelah kamera DSLR high-end-nya.

Iya, saya sering malas membawa Nikon D90 yang berat itu (karena harus bawa tas sendiri). Makanya saya menjadikan Lumix F-3 sebagai kamera kedua. Tetapi F3 sendiri kurang jika harus memotret kondisi-kondisi sulit seperti low light, butuh depth of field, macro, dsb. Contoh kamera di kelas ini adalah Canon Powershot G12 (baca: ji twelfv).

Kamera Mirrorless

Saya tahu kamera lucu ini setahun yang lalu waktu teman saya membawa kamera Olympus PEN ke kantor. Bodi-nya yang sekecil kamera saku tapi berlensa gendut membuat saya berpikir itu kamera prosumer. Makin melongo ketika teman saya itu membuka lensa dan menggantinya dengan lensa manual tua buatan Rusia. Ia tergabung di komunitas PENatics, yang sedang gandrung dengan lensa-lensa manual fokus berkualitas bagus.

Jadi ini adalah semacam perkawinan antara SLR dan kamera saku. Lensa bisa diganti-ganti, dengan layar bidik LCD tanpa viewfinder untuk mengintip. Sehingga ukurannya, baik ukuran bodi maupun lensa bisa diperkecil secara signifikan. Praktis, dengan kemampuan yang “nyaris” menyamai DSLR. Saya yakin, beberapa tahun ke depan bukan tidak mungkin kamera ini menduduki kasta tertinggi di dunia fotografi menggeser DSLR.

Kelemahan utama dari mirrorless kamera adalah shutter lag-nya, yaitu jeda/tunda/delay sepersekian detik ketika tombol shutter dijepret. Ini tentu menjengkelkan karena banyak sekali momen yang memerlukan reaksi saat itu juga. Shutter lag ini disebabkan oleh waktu yang diperlukan kamera untuk memindahkan sensor dari mode preview ke mode record.

Ini tidak dialami oleh DSLR karena mode preview dipantulkan oleh cermin, dibelokkan ke viewfinder. Ketika shutter dijepret, cermin tinggal diangkat dan cahaya langsung menuju sensor yang selalu dalam mode record. Makanya model ini disebut SLR – Single Lens Reflex.

Kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex)

Nampaknya saya tidak perlu menjelaskan lagi jenis kamera ini. Ini adalah kamera yang biasanya berwarna hitam, memiliki viewfinder untuk mengintip, lensa yang juga cukup besar, dan yang pasti tidak bisa dimasukkan ke dalam saku. Saat ini, teknologi kamera digital paling canggih ada di kamera DSLR, bahkan untuk entri level sekalipun. Kemampuan menangani noise yang halus, cahaya remang-remang, range warna yang luas, menjadikan kamera DSLR menghasilkan kualitas gambar yang terbaik.

Untuk belajar fotografi, membeli kamera DSLR adalah menunjukkan keseriusan yang tinggi. Ada banyak hal yang bisa dieksplorasi dengan kamera DSLR. Tetapi, saya harus memperingatkan anda dari awal, kamera DSLR hanyalah salah satu bagian kecil dari alat fotografi. Saya harus katakan, dengan satu kamera DSLR dan lensa normal (18-55 mm), dan jika anda ingin:

  • Membuat foto candid, anda perlu lensa tele di atas 70 mm
  • Membuat foto pemandangan yang asal jepret saja pasti kelihatan bagus, anda perlu lensa wide di bawah 17 mm
  • Memotret pernikahan, model, prewedding, anda perlu alat pencahayaan tambahan, bisa speedlight, bisa juga softbox

Jer basuki mawa beya. Begitulah. Makanya sayang sekali kalau sudah bisa motret, punya kamera bagus, tidak dikomersilkan. Paling tidak bisa mengganti biaya beli alat-alat ituh….. He he he …

Saham untuk Pemula (3 – Habis)

Feb 9, 2012 | 2 Comments

Oke, sekarang, paling tidak kita sudah punya daftar 20 saham yang baik. Saya memutuskan untuk menulis tentang rasio dan kriteria saya sendiri di lain waktu karena itu memerlukan penjelasan tentang analisis fundamental yang lebih. Bulan Februari, musimnya orang jatuh cinta, masak nulisnya begini-begini mlulu, saya mulai merasa blog ini semakin tidak punya perasaaan (coba bandingin sama masa 2004-2006 — isinya patah hatiiii mlulu hahahaha).

Saham-saham yang saya sebutkan di seri Saham untuk Pemula (2), sudah merupakan saham yang baik untuk dikoleksi. Di titik ini boleh-boleh saja membeli dengan emosi dan perasaan:

  • Pilih yang paling anda kenal.
    Dalam hal ini, saya sudah memilih Bank BRI dan Charoen Pokphand.
  • Pilih yang paling terjangkau.
    Di sini saya belum memakai istilah mahal dan murah karena mahal dan murahnya saham sama sekali tidak dicerminkan oleh harga per lembarnya. Ini berhubungan dengan valuasi saham (ada cukup banyak metode valuasi yang cukup bikin pusing).
    Contoh, untuk membeli 1 lot CPIN, dengan asumsi harga Rp. 2600 per lembar, maka anda memerlukan uang minimal sebesar Rp. 1,300,000. Untuk BBRI, dengan asumsi harga Rp. 6900 per lembar, maka anda perlu uang minimal sebesar Rp. 3,450,000.

Setelah itu, kita masuk ke pertanyaan semilyarnya? Kapan harus membeli?

Hal yang paling gampang tanpa banyak berpikir adalah membelinya secara rutin, misalnya sebulan sekali. Katakanlah setiap bulan anda bisa menyisihkan penghasilan Rp. 1,3 juta. Di minggu-minggu tersebut, tunggulah IHSG turun berapapun, dan pastikan saham incaran anda juga sedang turun — berapapun. Lalu belilah. Lakukan secara rutin dan konsisten.

Kalau anda sudah punya dana yang cukup besar, katakanlah, mari berandai-andai, Rp. 100 juta. Maka anda perlu timing untuk melakukannya. Ilmu yang mempelajari kapan ini disebut analisis teknikal. Timing yang sederhana adalah, belilah saat terjadi krisis ekonomi atau moneter di saat pasar modal sedang berdarah-darah. Contoh waktu yang tepat buat masuk pasar adalah saat krisis tahun 1998, 2005, dan 2009 kemarin. Atau Oktober 2011 saat krisis Eropa kemarin. Sekarang bukan saat yang cukup tepat karena saham-saham sudah beranjak mahal. Tunggu saja. Masukin ke logam mulia saja dulu. Secara makro, fundamental Indonesia sangat-sangat bagus. Andai saja infrastruktur telah bagus, dan korupsi itu tidak sebesar sekarang, kita tentu sudah menjadi macan Asia, bukan Cina atau India.

Terakhir, belajar analisis fundamental dan teknikal adalah hal yang perlu dikuasai sebelum masuk pasar modal. Tidak ada sesuatu yang instan. Dengan menguasai ilmu itu, kita akan lebih tenang melihat perkembangan turun naik investasi di pasar modal. Berikut adalah buku-buku yang pernah saya baca:

  • Kiat Investasi Valas, Emas, dan Saham. Istijanto Oei (saya baca tahun 2009).
  • Trading for Dummies. Michael Griffis (saya baca tahun 2011).
  • Technical Analysis: The Complete Resource for Financial Market Technicians. Charles D. Kirkpatrick (2011).
  • The Intelligent Investor. Benjamin Graham (2011).
  • Corporate Finance. Jonathan Berk (2011).
  • Investor Sibuk: Solusi Investasi di Bursa Saham Indonesia bagi orang Sibuk. Ferdie Darmawan (2011).
  • Happy Investing: Temukan Rahasia Sukses Berinvestasi di Pasar Saham. Jhon Veter (2011).

Selengkapnya di rak pasar-modal di Goodreads saya.

Terima kasih. Semoga bermanfaat. Selamat berinvestasi. ^_^

Switch to our mobile site