Mudik 2018: Tentang Tol Fungsional dan Hilangnya Macet

New photo by Galih Satriaji / Google Photos

Untuk pertama kalinya, mudik tanpa cerita tentang macet. Saya agak-agak khawatir kejadian tragedi Brexit 2016 terulang karena berita tentang tol fungsional sangat gencar. Saya menyiapkan beberapa jalur alternatif dengan mempelajari peta berulang-ulang lewat Waze dan Google Maps. Dari berita, jembatan Kalikuto Gringsing belum selesai dan akan dikeluarkan ke Pantura, saya membayangkan akan macet berkilo-kilo di situ, sehingga saya akan keluar Pantura di titik ini, masuk ke tengah jauh sekali buat skip Kendal dan Semarang, lalu tembus di Ungaran. Agak terlalu jauh, tapi kalau sampai kejadian parkir berjamaah Brexit, jalur ini setidaknya bisa dipakai, seperti saya dulu melalui jalur Slawi – Randudongkal – Kajen – Pekalongan. Jalur yang mungkin tidak akan saya lewati lagi.

Hasil mengecek foto udara tol Batang – Semarang, saya juga tidak terlalu percaya pemerintah, jadi saya merencanakan akan keluar di exit Gandulan, Pemalang, titik terjauh tol yang sudah benar-benar jadi. Kalau di sini juga macet, saya akan lewat Pantura dari Cirebon, sama sekali tidak masuk tol Trans Jawa.

Itu rencananya.

Alhamdulillah, segala plan B dan C tidak perlu dilakukan. Saya berangkat hari Senin pagi jam 7 dari Cirebon, melihat situasi, saya masuk tol Kanci arah ke Brebes. Sempat kena macet di tol Pejagan, lokasi tragedi Brexit terjadi, tapi saya lihat Waze macetnya normal, 3-5 kilometer saja di depan, mungkin ada mobil mogok. Setelah itu lancar sekali, stabil di 110-120 km/jam. Sampai Pemalang, seharusnya menurut rencana A, saya keluar di exit Gandulan dan melanjutkan perjalanan ke Pekalongan lewat Pantura. Tapi melihat situasi tol yang sangat menyenangkan, saya memutuskan untuk melanjutkan ke tol fungsional yang dijanjikan pemerintah. Kondisi tol sudah jadi (sepertinya tinggal menunggu izin operasi doang), ada gerbang tol darurat di tengah-tengah untuk membayar. Dari Ciperna Cirebon sampai titik itu bayar Rp. 58,000.

Barulah setelah itu tol fungsionalnya berasa. Tol Pemalang Batang, Batang Semarang masih jauh dari kata jadi. Tapi sama pemerintah dibuat jadi. Sambungan-sambungan yang saya yakin masih belum bisa dilewati diurug, dipadatkan, dan diaspal! Ada cukup jauh jalanan beraspal yang bahkan sangat mulus kualitasnya. Masih bisa 60-70 km/jam. Cuma emang harus waspada karena harus sering ngerem pas melewati sambungan-sambungan ke jalan beton aslinya. Rasa-rasanya, jalan beraspal mulus (tapi terasa masih tipis) itu akan dihancurkan setelah acara mudik ini, buat diganti jalan beton sesuai desain awal.

Sekitar pukul setengah 11, saya sudah lewat Pekalongan dan akan melalui area jembatan Kalikuto. Menyadari di sana ada kemacetan, yang menurut Waze juga tidak terlalu parah, saya keluar di exit Kandeman, Weleri, 30 kilometer sebelum dan melanjutkan perjalanan lewat Pantura. Yang keluar cuma saya. Di Pantura, kondisi jalan sepi-sepi saja seperti tidak sedang musim mudik. Isi bensin dulu di pom bensin Subah yang ternyata sama dengan mudik tahun 2017. Waktu itu, saya tiba di situ jam 4 sore. Tahun ini, jam setengah 11.

Saya agak geli dengan kecepatan di Pantura. Kondisi lalu lintas dan jalan yang bergelombang membuat saya cuma bisa jalan dengan kecepatan 40-50 km/jam. Lebih cepat jalan aspal tipis sementara di tol fungsional. Lewat Alas Roban yang biasanya ramai kayak pasar, kali ini sepi sekali, hanya ada satu dua mobil. Rest Area di Subah juga sepi. Agak sedih juga sih, efek tol yang kejam buat perekonomian jalanan Pantura sudah berasa. Lewat jembatan Kalikuto sangat lancar. Saya jadi mengerti kenapa rekayasa lalu lintas di sini berhasil. Lalu lintas buangan tol memakai contra flow ada di sisi paling kanan (jalur lambat kalau dari arah sebaliknya). Sedangkan lalu lintas utama di Pantura tidak diganggu, tetap 2 jalur. Sehingga yang terjadi hanya penyempitan jalur dari arah sebaliknya, tidak terjadi perlintasan sebidang yang menghambat jalan.

Tapi karena saya ada di sisi kiri, selepas jembatan saya tidak bisa curang belok kanan untuk masuk tol lagi. Polisi menutup jalur pakai pembatas. Jalur Pantura tetap dibuang ke kiri ke arah Kendal. Wah, saya ga mau rugi. Melihat kondisi tol yang menyenangkan, saya cari putaran balik agar bisa masuk lagi. Untung dibiarkan sama polisi, lokasi putaran ada di 2 km di depan, jadi total 4 km buat bolak-balik. Ndak apa-apa, masih jauh lebih cepat daripada ikut antri masuk contra flow.

Jam setengah 12 siang sudah masuk Semarang, di simpang susun Krapyak. Ini juga sebenarnya belum jadi, tapi sama pemerintah direkayasa sedemikian rupa supaya bisa dipakai. Melihat niat yang sedemikian besar, orang yang khusnudzon akan bilang: “Wah, pemerintah luar biasa pelayanannya dengan hajatan mudik ini.” Sedangkan yang suudzon: “Ini pasti buat pencitraan, kampanye!” Memang ada biaya besar untuk membuat sesuatu yang hanya dipakai sementara. Terserah Anda semua buat menafsirkannya hehehe…

Karena masih pagi dan target saya cuma Solo, sudah book hotel di Solo untuk menginap, jadi kami mampir masuk kota Semarang dulu, anak-anak makan siang, saya istirahat, dan cari Bandeng Presto di jalan Pandanaran. Ternyata simpang susun Krapyak ini tidak bisa keluar ke kota, hanya bisa masuk tol Jatingaleh. Akhirnya harus ikut masuk tol dan keluar di exit pertama, putar balik masuk kota 10 km-an. Anak-anak makan siang di Richeese, sesuai request Zafran.

Kami baru melanjutkan perjalanan pukul 2 siang. Masuk lagi ke tol Krapyak, lalu lanjut ke Salatiga. Sampai di Salatiga, ternyata tol fungsional ke Solo ditutup, jadi keluar ke jalur utama masuk ke kota Boyolali lalu ke Kartasura. Cukup lancar dan menyenangkan. Kami sampai di hotel pukul lima sore. Menginap di Pop! Hotel Solo. Hotel budget seperti biasa, saya memilih hotel ini karena murah, cuma 200 ribu, dan parkirnya luas karena menempel dengan hotel Harris, kakaknya, jadi berbagi parkiran di basement. Nanti kalau ada waktu ditulis review-nya.

New photo by Galih Satriaji / Google Photos

Sampai hotel anak-anak senang sekali melompat-lompat di atas springbed. Meskipun sebenarnya bisa dilanjutkan sampai Tulungagung, tapi biar anak-anak ga capek, saya rasa keputusan untuk menginap dulu adalah keputusan yang tepat. Sopirnya biar segar juga, hehehe…

New photo by Galih Satriaji / Google Photos

 

New photo by Galih Satriaji / Google Photos

Keesokan harinya, setelah anak-anak sarapan pagi, kami melanjutkan perjalanan. Langsung menuju tol Solo-Ngawi yang dibuka fungsional. Kondisinya sangat baik, tapi di beberapa titik masih bersinggungan dengan jalan warga karena flyover-nya belum jadi. Lagi enak-enak jalan 120 km/jam, harus rem sampai berhenti. Kami keluar tol di exit Wilangan, tempat terakhir tol Trans Jawa dari arah Jakarta. Tol fungsional Ngawi-Kertosono dibuka searah dari arah Surabaya. Kami melanjutkan perjalanan lewat Nganjuk, Kediri, lalu akhirnya Tulungagung. Saya sengaja menghindari jalur utama Kediri-Tulungagung sehingga lewat Mojo, sebelah jembatan baru yang diresmkian oleh menteri PUPR belum lama kemarin.

Sampai rumah sekitar jam 4 sore, masih lama menunggu berbuka puasa.

5 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *