Review: Aroma Karsa

Pertama kali waktu ibu suri Dee Lestari merilis Aroma Karsa dalam bentuk cerita bersambung di format digital, saya menetapkan hati untuk menunggu versi cetaknya. Saya tidak suka cerbung yang menggantung dan membuat penasaran. Yang kedua saya punya kebiasaan membaca novel yang saya suka berulang-ulang sambil makan. Novel yang masuk daftar baca berulang ini adalah: Godfather (Mario Puzo), Intelegensi Embun Pagi (Dee Lestari), Cinta dalam Gelas (Andrea Hirata), dan Kun Fayakun (Andi Bombang). Jadi waktu saya baca twit Dee mengenai pre-order hari terakhir, saya tidak pikir panjang langsung beli di Bukukita. Ternyata, istri saya sudah lama pesan pre-order ini sebagai bagian dari kejutan ulang tahun saya. Jadi, pas dua paket yang sama persis datang dari Bukukita, terjadilah keributan kecil. Surprise juga sih hehehe…

Oke, masuk ke review-nya.

Membaca Aroma Karsa seperti membaca sebuah karya ilmiah, atau paper, tapi di bidang penulisan fiksi. Saya tidak pernah mendalami ilmu teknis penulisan, tapi saya rasakan betul novel ini rapi sekali dalam hal alur, penokohan, pengembangan konflik, hingga plot twist yang meskipun tidak tertebak, tapi terasa betul disiapkan pelan-pelan dari awal. Ada rumus-rumus tertentu yang tidak saya pahami tapi saya tahu ada. Misalnya di bagian putusnya hubungan Arya dan Suma, saya melihat pola yang sama di cerita Perahu Kertas, waktu Kugy dan Remi (baca komentar khusus saya tentang novel Perahu Kertas di postingan yang ini). Hubungan mereka sengaja disiapkan untuk putus untuk mendukung alur cerita utama, sebagai pemanis dan bumbu konflik.

Salah satu yang saya sukai dari novel Dee adalah riset yang sangat detail. Membaca novel Dee tidak hanya menikmati cerita fiksi, tapi juga pengetahuan baru mengenai banyak hal. Seperti novel-novel Dan Brown. Dalam hal Aroma Karsa, kita dibawa ke dunia peracikan parfum. Mengeja olfaktorium. Saya pikir yang namanya parfum itu ya sesuatu yang disemprot ke badan dan wangi. Ternyata bagi peracik parfum, wangi itu disusun dari bermacam-macam bau-bauan. Bahkan ada not atas, not tengah, akor-akor pengikat dan formula DNA yang mendukung. Saya tidak tahu apakah istilah not dan akor yang lebih saya kenal di dunia musik ini memang sudah ada di dunia parfum, atau ini cara Dee mendeskripsikannya saja, melihat background dia yang penyanyi dan pencipta lagu.

Kalau merujuk ke novel terakhirnya: Supernova IEP, sebenarnya Aroma Karsa masih berkutat di area yang sama. Imajinasi liar mengenai alam lain di luar alam manusia. Ini sangat khas Dee. Cerita dibangun dengan bahan utama dengan ambisi keluarga Prayagung (Janirah dan Raras Prayagung) yang mencari bunga bernama Puspa Karsa yang ternyata adalah bunga gaib. Mereka mempekerjakan paksa seorang peracik parfum dari kios isi ulang di Bantar Gebang bernama Jati Wesi yang ternyata ekspedisi ini ikut membuka jati diri dan asal usul Jati Wesi, dengan desa gaib bernama Dwarapala di Gunung Lawu.

Seperti halnya novel Dee yang lain, mengikuti Aroma Karsa selalu mengasyikkan. Saya membaca dengan santai tidak terburu-buru, tapi tetap saja tidak bisa melepaskan buku ini lama-lama. Saya menghabiskan sehari penuh jam kantor saya untuk baca ini. Salah sendiri sih, novel dibawa ke tempat kerja. Dua hari saja untuk menyelesaikan novel yang cukup tebal ini. Saya sedemikian terhisap ke cerita, hingga saya tiba-tiba takut sendiri waktu ke toilet kantor. Sepertinya saya masih berada di Dwarapala bersama makhluk-makhluk gaib itu. Malam harinya, parfum-parfum Puspa Ananta sampai terbawa mimpi.

Di novel ini pekerjaan sebagai peracik parfum dikupas detail oleh Dee. Saya jadi ingat Filosofi Kopi, profesi barista diangkat dan begitu viral dan setelah itu diangkat di beberapa film sampai akhirnya hari ini cara menyeduh kopi yang ribet itu telah menjadi gaya hidup banyak orang. Lalu ada profesi artisan atau tukang roti di novel Madre. Kemudian profesi hacker komputer (meskipun di sisi jahat — tukang mencuri kartu kredit dan semacamnya) disentuh sedikit di tokoh Mpret, Wallstreet trader di tokoh Alfa di Supernova. Saya penasaran di novel berikutnya, profesi unik apa lagi yang akan diangkat Dee. Semua bisa diangkat dan dikemas dalam cerita yang begitu menghanyutkan dengan sedikit bumbu-bumbu percintaan.

Novel Aroma Karsa ini menurut saya bagus, tapi namanya selera saya rasa ini bukan bacaan untuk semua penikmat novel. Saya suka novel ini, tapi ini jelas bukan genre yang disukai istri saya yang lebih suka baca Tere Liye dan Ika Natassa. Lain halnya seperti Perahu Kertas atau Laskar Pelangi yang lebih diterima semua pembaca novel. Aroma Karsa ini ceruknya lebih kecil, seperti Supernova.

2 thoughts

  1. Di luar khasnya Dee. Aroma karsa mengingatkan saya akan Perfume: the story if murderer. Ada bbrp bagian yg mirip, yaiyalah objeknya kan sama hehe

    Btw skali lg met ultah mas & saya cukup kaget njenengan suka intelejensi embun pagi yg menurut saya justru antiklimaks dari supernova hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *