Mi A1 Review: Kalau Begitu, Apa yang Tersisa dari Handphone Mahal?

Saya baru ganti handphone dari Mi 4i ke Mi A1. Adanya Mi A1 ini mengingatkan saya dua tahun lalu waktu membeli Mi 4i: handphone dengan spesifikasi tinggi dengan harga yang sangat terjangkau. Tidak seperti merk tetangganya seperti Oppo dan Vivo yang overpriced, Mi ini selalu best for value. Baiklah, sebelum Anda menduga saya sedang menulis paid review, saya hentikan gaya penulisan ala-ala reviewer gadget kekinian ya, wkwkwkwk…

Saya mem-pensiunkan iPhone 4s dan banting stir pakai Android dengan Mi 4i dengan melungsur dari istri saya setelah dipakai setahun. Android lebih fleksibel dan lebih kaya fitur ketimbang iPhone. Saya memakai Mi 4i selama dua tahun berikutnya melalui sekali ganti batrei dan ganti LCD karena kecerobohan saya waktu ganti batrei sendiri. Sejak ganti LCD itulah, performanya semakin menurun: GPS semakin lemah tidak bisa dipakai sambil jalan, batrei ngedrop hingga sehari harus dicharge 3x kayak minum obat. Tiga tahun juga sudah cukup membuat handphone demikian ketinggalan jaman.

Jadi saya memutuskan untuk ganti handphone baru. Sejak pakai Mi 4i, saya tahu saya tidak akan kembali ke iPhone atau ke Android flagship macam Samsung Galaxy. Saya cari sekitar Xiaomi atau ASUS. Saya hampir menjatuhkan pilihan ke Redmi Note ketika Xiaomi mengeluarkan Mi A1.

Hal yang paling menarik dari Mi A1 adalah dual camera belakang. Ini fitur yang hanya ada di handphone mahal. Bahkan iPhone 7 pun belum ada. Setelah itu sistem operasinya menggunakan Android One, bukan MIUI. Ngg… jadi begini, meskipun sama-sama Android, biasanya produsen membuat tampilan yang khas. Jadi Androidnya Samsung akan jauh berbeda dengan ASUS, Mi, LG, Oppo, dll. Mereka biasanya juga menambah-nambahi aplikasi yang seringkali tidak ada gunanya. Misalnya di Mi, ada aplikasi email dan photo gallery sendiri, ketimbang pakai bawaan Google (GMail dan Google Photos). Dengan mengusung Android One, saya bisa mendapatkan pengalaman sebenar-benarnya Android.

Satu-satunya yang membuat saya ragu adalah kapasitas batreinya yang relatif kecil. Dengan teknologi terbaru, apa cukup hemat dengan batrei berkapasitas kecil itu. Tapi kemudian saya mendapatkan testimoni dari dua rekan di kantor yang baru beli Mi A1, bahwa batreinya hemat, saya jadi mantap dan akhirnya membelinya via toko online.

Waktu pak Gojek datang dan saya unboxing, istri saya spontan komentar, “Wah, bagus yah, kayak hp-hp Samsung gitu”. Secara fisik memang jauh sih dengan Mi 4i yang plastik dan kelihatan murahan. Mi A1 ini fisiknya metal dan elegan. Mungkin karena ukurannya yang besar (layar 5,5 inch). Tidak ada logo Mi di depan, jadi sekilas seperti HP belasan juta gitu hehehe.

Dual cameranya juga tidak terlalu mengecewakan. Jangan bandingkan dengan Samsung atau iPhone. Secara kualitas tetap di bawah mereka, tapi tidak banyak. Sudah sangat cukup untuk kebutuhan social media macam IG. Apalagi kalau kondisi cahaya ideal, hasilnya sangat bagus. Bisa bikin foto depth of field atau yang populer disebut bokeh, dengan kamera handphone tanpa harus bawa-bawa kamera DSLR yang berat.

Display-nya yang lebar membuat nyaman sekali untuk membaca. Saya biasa membaca buku di Scribd dan Google Books (untuk buku Indonesia) dan merasa senang sekali dengan pengalaman lebar. Selain itu lebih tajam bahkan dibandingkan handphone istri saya. Saya belum pernah mencobanya untuk nge-game, saya ndak suka nge-game, dulu saya suka Clash of Clans dan sekarang game yang lagi ngetren adalah Mobile Legends, tapi saya ga suka game model RPG begitu (oke, genre tepatnya MOBA, bukan RPG, yaa beti beti lah). Mestinya asyik juga buat nge-game ya.

Suara yang dihasilkan lumayan. Telinga saya bukan telinga sensitif yang bisa membedakan earphone jutaan dengan puluhan ribu, tapi yang jelas suaranya lebih bagus dari laptop kantor saya Lenovo Thinkpad T440s. Saya coba untuk mendengarkan Spotify (saya baru pindahan dari Apple Music btw) dan terkesan dengan suaranya yang jernih dan cukup keras.

Performa baterai cukup mengejutkan saya. Saya pikir dengan teknologi hardware yang baru begitu, baterainya tidak kuat tahan lama. Ternyata beberapa hari ini pakai, rata-rata bisa sampai 15-18 jam penggunaan normal (baca buku, buka Twitter, sedikit Youtube, sedikit FB, banyak IG, sekali dua kali telpon). Mudah-mudahan awet dan tidak cepat ngedrop. Istri saya baru mengajari cara-cara membuat baterai tahan lama dan saya akan mengikuti caranya. Sudah terbukti di handphone-nya.

Apa yang Tersisa dari Handphone Mahal?

Saya ditanya istri saya, kenapa tidak beli iPhone atau Samsung? Kan bisa dicicil. Saya bilang, kalau dicicil, efek senang punya handphone baru cuma bertahan sebulan, sisanya tinggal duka mencicilnya. Selain itu, dengan segala pertimbangan di atas, sudah tidak worth it beli handphone model begitu. Sekarang sudah banyak handphone kelas menengah yang sudah sangat bisa memenuhi kebutuhan. Mendingan uangnya buat nyicil uang sekolahnya anak-anak, wkwkwk…

Saking terkesannya dengan Mi A1, saya sampai punya ide untuk ngeblog (setelah bulan November cuma bisa menelurkan satu tulisan) dengan pertanyaan ini. Apa yang tersisa selain prestige alias gengsi? Mungkin ada satu: kualitas. Tapi saya rasa tidak terlalu jauh juga bedanya. Tidak sepadan dengan beda harganya.

Beberapa orang mungkin beralasan awet jika menolak alasan prestige. Apakah awet masih relevan dengan teknologi handphone yang (dibuat) berkembang sedemikian cepat? Dua tahun saja sudah terasa ketinggalan jaman. Atau kalau tidak terasa ketinggalan, baterai akan jadi komponen pertama yang rusak. Entah ngedrop, entah kembung. Baterai adalah benda yang paling tidak berkembang di dunia handphone. Saya rasa memang dibuat begitu supaya orang dipaksa beli dan beli lagi.

Mungkin memang sebaiknya beli handphone itu yang umurnya dua sampai tiga tahun saja. Karena itulah, saya pilih handphone kelas menengah yang memang bagus. Bukan seperti Oppo atau Vivo yang menjual handphone kualitas rendah tapi berharga mahal karena habis untuk iklan dan bayar artis untuk meng-endorse habis-habisan (padahal mereka pakainya juga iPhone).

5 thoughts

  1. Donlod game Duel Otak aja, Mas. Nanti main sama aku. 😆

    Btw, aku sekarang pakai Xiaomi. Udah 2x sama yang sekarang. Sebelumnya pakai redmi 4x. Baru dipake 2 bulan, terus dicopet. Sekarang pakai mi5. Dan aku lebih suka 4x. Baterenya aweeet beudh ketimbang mi5.

  2. ..Istri saya baru mengajari cara-cara membuat baterai tahan lama ..

    Saya justru penasaran dengan bagian itu, ditunggu bocoran rahasianya hehehe

    Btw saya masih nyaman dg kesederhanaan 5s sekarang. Soalnya kurang/belim nyaman juga layar diatas 5 inchi, entahlah nanti hehe

    1. Sederhana mas:
      – Jangan pakai charger selain charger bawaan handphone
      – Jangan ngecharge di powerbank, laptop, dll
      – Jangan colok-cabut-colok-cabut, setelah dicabut, tunggu dulu sampai baterai minimum

      Saya dulu juga berpikiran begitu, tapi lama-lama enak pakai layar besar, baca buku (PDF khususnya), browsing, tidak perlu tablet lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *