Mencari Sekolah TK

Serasa sekedipan mata, anak sulung saya, Zafran, sudah 3,5 tahun. Kami berencana untuk mulai menyekolahkan dia di TK A tahun ajaran 2018 depan. Kami sebenarnya setuju dengan paham parenting bahwa sekolah yang terlalu dini berakibat tidak baik untuk anak-anak. Itu sudah kami lakukan dengan tidak menyekolahkan dia ke preschool, playgroup, ataupun PAUD. Prinsip kami, masa balita adalah masa bermain tanpa “aturan”. Memasukkan dia ke preschool, meskipun isinya adalah bermain, rutinitas dan aturan-aturan seperti pakai seragam, sepatu, sudah cukup membebani.

Di sisi lain, tidak menyekolahkan ke sekolah mengharuskan dia harus mendapatkan stimulasi yang cukup di rumah. Ini argumen yang sering dipakai para psikolog yang punya afiliasi dengan preschool — bahwa jaman sekarang anak-anak makin jarang mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tua dan terlalu banyak terpapar gadget.

Di mana posisi kami? Jalan tengah hehehe. Rasa-rasanya, umur tujuh tahun masuk SD terlalu terlambat. Kita hidup di lingkungan dan sistem yang sudah menggelinding. Sistem dimana industri persekolahan sudah membuka murid mulai umur 18 bulan. Gila nggak? Anak satu setengah tahun sudah disekolahkan. Memasukkan anak ke sekolah di umur tujuh tahun membuka risiko anak akan tertinggal jauh dengan teman-temannya dan sedikit banyak akan mempengaruhi psikologinya dia. Saya dulu mulai masuk TK umur 5 tahun, dan 6 tahun masuk SD. Dan dulu, saya baru bisa baca lancar di SD kelas 3. Sekarang, masuk SD sudah dituntut bisa baca tulis hitung. Berat sekali beban anak-anak sekarang.

Biaya Pendidikan

Faktor pertama yang jadi pertimbangan adalah biaya. Di Jakarta sini, biaya TK dalam setahun bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah. Ajegile. SPP kuliah saya saja dulu cuma 650 ribu satu semester. Kuliah S2 agak mahalan sedikit: 3 juta sebulan. Ya itu S2. Ini TK bo’! Saya bertanya-tanya apa yang membuat biaya TK bisa semahal itu? Apakah semata-mata karena kurikulum? Atau fasilitas sekolah? Sebagai gambaran, TK Al-Izhar Pondok Labu mematok biaya TK setahunnya adalah Rp. 48,200,000 (sudah termasuk uang pangkal dan SPP bulanan). TK Madania, Ciganjur, Rp. 42,350,000. Saya ga bahas sekolah-sekolah internasional ya. Bisa ratusan juta soalnya. Ini adalah level kelas menengah saja. Take a deep breath, take it out slowly…

Mau tidak mau, faktor biaya membentuk kelas sosial. Saya membayangkan anak-anak yang masuk akan sangat homogen: anak orang kaya. Ini sama buruknya dengan memasukkan anak ke sekolah sembarangan. Pergaulan kelas atas akan terbentuk. Anak bisa jadi hanya memandang ke atas. Menuntut ini itu di luar kemampuan orang tuanya. Seringkali sekolah menjadi ajang pamer dan unjuk kemampuan finansial orang tua. Ibu-ibu muda menjadi sosialita yang haus pengakuan, berkompetisi dengan ibu-ibu yang lain. Sakit.

Anak-anak yang bersekolah di sekolah kelas atas tidak akan pernah tahu kondisi anak-anak kelas menengah ke bawah. Ekskulnya juga beda: tari balet atau ice skating. Ekskul anak negara tropis kok ice skating, sementara anak-anak biasa ekskulnya main bola di lapangan. Seandainya pun kami mampu, kami tidak akan memasukkan anak ke sekolah begitu. Bergaul dengan anak-anak artis. Tidak.

Di sisi lain, memasukkan ke sekolah yang secara biaya lebih terjangkau membuka risiko lain yang tak kalah buruknya. Saya ngeri dengan anak-anak di luar kompleks perumahan yang begitu gampang memaki temannya. Kotor sekali kata-katanya. Apakah guru sekolah akan mampu mendidik anak-anak seperti ini? Salah-salah, anak saya akan larut terpengaruh lingkungan itu.

Teori parenting bilang, keluarga dan orang tua adalah benteng utama menghadapi arus negatif dari lingkungan. Oke, itu teorinya.

Berbasis Agama

Faktor berikutnya adalah perlukah memasukkan ke sekolah berbasis agama Islam?

Saya mencari contoh kurikulum TK Islam. Dapat TK Islam Ar-Rahman Gandul yang tak jauh dari rumah. Kesan saya: sangat padat! Sistemnya full day school dari jam tujuh pagi sampai setengah dua siang. Kurikulum biasa digabung dengan pelajaran agama. Anak TK sudah diberi materi full day begitu, apa tidak berat? Dulu, ada batasan jelas antara SD dan MI. Sekarang ada SDIT, SD Islam, SD Tahfiz, dan masih banyak lagi.

Saya tetap pada prinsip bahwa TK adalah bermain. Namanya bermain seharusnya tidak boleh ada tuntutan. Tuntutan harus hafal juz 30 misalnya. Ini bukan berarti saya menolak anak diajari menghafal Quran. Itu bagian dari pendidikan karakter yang islami. Yang saya tolak adalah tuntutan harus hafalnya. Jika ternyata dia memang hafal, itu bonus. Yang lebih penting buat saya: mau sholat tepat waktu, mau antri, buang sampah di tempatnya, dan pendidikan karakter semacam itu. Budi pekerti kalau orang dulu bilang.

Orang tua sekarang kebanyakan menyalahgunakan ungkapan golden age masa perkembangan anak. Semua-mua jadi dijejal-jejalkan di masa golden age itu tanpa memperhatikan kemampuan dan kapasitas anak. Masalahnya, anak kecil belum bisa bilang kalau dia capek, apalagi kalau mentalnya yang capek. Para pengusaha kapitalis mana peduli ini, yang mereka tahu bahwa ini adalah potensi bisnis. Jadilah mereka membuka les musik dari umur tiga tahun, lupa kalau tidak semua orang seperti Joey Alexander, membuka kelas tahfidz, lupa kalau tidak semua anak bisa menghapal sebaik hafidz dan hafidzah cilik di TV. Anak saya kalau bernyanyi tidak fals, dan dia sudah bisa menekan tuts piano do-re-mi dengan tempo yang stabil, tapi saya tidak memasukkannya ke les musik. Biar saja bermain.

Kembali ke laptop, jika sekolah berbasis agama sepadat itu, kami memilih tidak. Pendidikan agama akan kami tanggung sepenuhnya (seperti yang sudah seharusnya).

Kurikulum Nasional Plus

Kemungkinan besar kami akan mencari sekolah yang kurikulumnya standar nasional plus. Sekolah alam juga kami coret. Saya adalah produk kurikulum nasional, jadi saya masih belum bisa menerima kalau sekolah itu cukup di saung dan lesehan. Sudah bayar mahal-mahal kok seperti tidak serius begitu. Demikian juga sekolah dengan metode yang sangat khusus seperti kuttab, atau metode yang tidak umum lainnya. Saya ingin sekolah yang bisa mengikuti ujian nasional dengan biasa tanpa harus ikut ujian persamaan seperti kejar paket.

Saya berharap kurikulum nasional plus membuat anak tidak kaget ketika harus kembali ke sistem standar Kemendikbud (sekolah negeri). Saya juga berharap mendapatkan lingkungan yang cukup heterogen yang masih bisa dikontrol oleh guru-gurunya. Pendidikan agama tetap diajarkan tapi tidak menjadi beban utama. Anak yang beragama Islam mendapatkan pelajaran Islam seperti sholat, iqro’, membaca Quran setiap pagi, dll. Demikian pula anak yang beragam Kristen bisa mendapatkan pelajaran agamanya. Sehingga anak bisa belajar toleransi dan menyadari bahwa perbedaan agama bukanlah sesuatu yang harus dimusuhi. Mereka memang kafir, tapi bukan berarti harus dikafir-kafirkan dan dicela-cela.

Sepertinya susah ya menemukan sekolah TK yang tak jauh dari rumah dengan kriteria di atas dengan biaya yang terjangkau? Semangat!

2 thoughts

  1. Kriteria TK njenengan rumit tenan mas walo logis sih

    Anak2 saya pas TK saya percayain sama TK Aisyiah (ABA). Pola didikan mereka saya akui bagus. Begitulah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *