Membuat Monitor Penggunaan Listrik

Bulan Juni 2013, waktu kami berdua baru beberapa hari menikah, kami pindahan dari kos-kosan masing-masing ke rumah yang kami tempati sampai sekarang di pinggiran Jakarta. Namanya keluarga baru, kami cuma punya perabotan dasar saja: tempat tidur, kompor, dan kulkas. Saya ingat, untuk listrik sebulan, kami beli token PLN 200 ribu. Bulan depannya perabotan nambah AC dan mesin cuci dan tambah daya dari 1300 VA ke 2200 VA. Setelah itu sampai sekarang, biaya listrik semakin membesar karena selain penggunaan yang semakin bertambah, tarif listrik juga semakin naik.

Tapi, alih-alih nyinyir ke Jokowi, saya berpikir bagaimana caranya supaya penggunaan listrik kami hemat. Saya bisa mengerti kebijakan pemerintah. Energi memang mahal. Selama ini murah karena disubsidi. Tidak adil rasanya jika orang Jakarta menikmati listrik 24 jam sepuas-puasnya, sementara di luar Jawa listrik hanya menyala beberapa jam saja sehari.

Cara Manual

Hal yang bisa dilakukan untuk menghemat listrik adalah melihat kembali alat-alat listrik yang digunakan sehari-hari. Mencatat satu per satu berapa watt energi yang diperlukan. Misalnya, lampu-lampu 5W, 25W, 15W. Kulkas 200W. Setrika 600W. Mesin cuci 900W. AC 500W. Kemudian perkirakan berapa jam setiap harinya alat-alat tersebut menyala. Kemudian kalikan waktu dalam jam dengan watt-nya. Itulah konsumsi energi listrik dalam satuah Wh (Watt hour). Tarif listrik dihitung dalam satuan kilo watt hour (kWh). Tarif per kWh berbeda-beda setiap total daya (VA), bisa dilihat di situs listrik.org. Karena itu, hitungan yang kita dapat dalam satuan Wh perlu dibagi 1000 untuk mendapatkan kWh-nya, lalu dikalikan tarif dasar per kWh untuk mendapatkan total biaya-nya.

Contohnya begini:

  • Lampu 5W, menyala 12 jam sehari, energi yang dibutuhkan: 60 Wh
  • Lampu 25W, menyala 10 jam sehari, energi yang dibutuhkan: 250 Wh
  • Lampu 15W, menyala 10 jam sehari, energi yang dibutuhkan: 150 Wh
  • Kulkas 200W, menyala 24 jam sehari, energi yang dibutuhkan: 4800 Wh
  • Setrika 600W, menyala 1 jam sehari, energi yang dibutuhkan: 600 Wh
  • Mesin cuci 900W, menyala 1 jam sehari, energi yang dibutuhkan: 900 Wh
  • AC 500W, menyala 12 jam sehari, energi yang dibutuhkan: 6000 Wh

Total energi yang dipakai dalam sehari adalah: 12760 Wh, atau 12.76 kWh. Jika tarif dasar listrik adalah Rp. 1467, maka biaya listrik sehari adalah Rp. 18,718. Atau dalam sebulan kira-kira Rp. 561,600.

Analisis Penggunaan

Jika kita lihat di atas, ternyata faktor besarnya watt tidak langsung membuat biaya lebih mahal, tapi yang lebih penting adalah lama penggunaan. Mesin cuci yang dayanya lebih besar daripada AC, karena penggunaan sehari hanya 1 jam, maka biayanya jauh lebih sedikit. Demikian pula lampu-lampu yang meskipun penggunaannya berjam-jam, karena daya watt-nya sedikit, maka biayanya juga relatif murah.

Dari analisis ini, jika kita ingin berhemat, maka yang perlu kita kurangi penggunaannya adalah AC. Prinsip ini disebut prinsip Pareto, kita fokus kepada hal-hal yang besar dulu. Kalau kita coba mengurangi penggunaan AC dua jam saja sehari (menjadi 10 jam) maka energi yang diperlukan akan berkurang 1 kWh per hari, atau 30 kWh per hari. Sebulan kita akan menghemat sekitar Rp. 44,000. Jadi kalau biasanya AC menyala dari jam 6 sore ke jam 6 pagi, kita coba menjadi jam 7 malam ke jam 5 pagi. Lumayan kan, 44 ribu sebulan.

Bandingkan jika kita mengganti lampu 25W menjadi lampu LED 9W (karena melihat iklan lampu LED yang lebih hemat energi). Akibatnya buat kita tidak akan terlalu terasa. Berbeda jika misalnya Pemprov mengganti semua lampu jalan itu menjadi LED. Karena jumlahnya banyak, akan nampak akibatnya.

Cara Kids Zaman Now

Cara di atas saya sebut cara manual karena penghitungan dayanya hanya perkiraan dari yang tertera di buku panduan alat. Dalam kenyataannya, konsumsi energi setiap alat listrik berbeda. Yang tertulis di buku panduan biasanya daya efektif atau daya maksimalnya. Kulkas misalnya, pada waktu dinyalakan, akan makan daya maksimalnya atau lebih dari yang tertulis. Setelah berjalan, dayanya bisa jadi hanya setengah atau seperempatnya saja. Demikian pula dengan AC, konsumsi daya mode salju yang paling dingin tentu saja berbeda dengan mode dry. Suhu 17 derajat akan berbeda dengan suhu 26 derajat. Berapa biaya yang bisa dihemat sebulan jika saya mengubah suhu dari 20 derajat ke 25 derajat?

Saya ingin bisa menjawab pertanyaan itu dengan memasang sensor daya di alat-alat listrik yang memakan daya besar. Dengan melihat konsumsi energi yang real time, mungkin saya bisa melihat pola-pola penghematan lain. Karena itu, langkah awal saya adalah membeli WeMos D1 mini sebagai alatnya. Cara kids zaman now adalah memonitornya melalui perangkat Internet of Things (IoT).

Tentu saja ide saya ini ditertawakan (dan sudah ada yang menertawakan) karena biaya yang dikeluarkan untuk membangun sistem sensor monitor daya bisa jadi lebih besar daripada hasil penghematannya sendiri. Tapi tidak apa-apa, namanya juga ide gila. Belajar hal baru. Dari apa yang saya baca, tren teknologi informasi bergerak ke arah sana. Internet of things, big data, dan machine learning.

5 thoughts

  1. Saya kadang-kadang tidak paham pada diri saya sendiri karena selalu membaca sampai habis tulisan-tulisan mas Galih yang bahkan tidak saya pahami karena sifatnya teknis… seperti tulisan ini :)))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *