Akhirnya Lutut Saya di-MRI

Tujuh belas tahun yang lalu, saya pulang sekolah dengan motor Suzuki Tornado GS jam setengah dua siang seperti biasa. Tapi tidak langsung pulang, tapi menuju ke rumah Budhe di Durenan. Ibu saya sedang rewang di sana karena ada acara pernikahan kakak sepupu saya (anaknya Budhe). Jadi saya mau makan siang dulu di sana karena di rumah pasti tak ada makanan.

Setelah makan nasi dengan sop daging sapi khas hajatan di Jawa, saya pulang ke rumah sendirian.  Acara utamanya baru besok pagi. Jarak rumah Budhe dan rumah saya hanya sekitar 5 km, tapi jarang saya lewati. Entah kenapa, karena hari masih siang, di sebuah tikungan yang seharusnya belok kiri ke arah bulak sawah Suwaluh, saya belok kanan. Mau muter-muter dulu.

Tak jauh dari situ, di sebuah pertigaan, di depan ada pengendara Honda GL Max dengan anak kecil duduk di tangki bensin depan. Tiba-tiba mendadak belok kanan. Saya yang sudah mengambil arah untuk mendahului tak sempat menghindar. Tabrakan terjadi dan saya jatuh tersungkur ke depan. Dalam kondisi masih sadar saya ditolong oleh penduduk sekitar ke tepi jalan dan dikasih minum. Saya cek tidak ada yang berdarah, jadi saya mencoba berdiri. Pas berdiri itulah saya rasakan lutut kanan saya seperti bergeser. Pas dicek seperti terkilir dan bengkak. Saya tidak bisa berjalan selama seminggu dan seminggu berikutnya saya jalan dengan tongkat ke sekolah.

Muka bapak waktu itu tak bisa digambarkan waktu menjemput saya di lokasi kejadian. Saya dulu menafsirkannya sebagai kemarahan. Tapi sekarang setelah punya anak, saya tahu itu adalah ekspresi panik, sedih, campur menyesal (apa padanan yang tepat untuk kata bahasa Jawa getun?).

Tradisi waktu itu kalau ada yang terkilir adalah membawa ke sangkal putung. Pengobatan alternatif untuk sendi-sendi yang terkilir sampai patah tulang. Kayaknya jaman dulu belum ada dokter fisioterapi — setidaknya informasi itu tidak sampai ke desa. Setelah beberapa kali, akhirnya bengkak menyusut dan saya bisa berjalan seperti biasa.

Untuk memastikan tidak ada tulang retak atau masalah lain, ibu membawa ke RSUD Dr. Sutomo Karang Menjangan, Surabaya untuk difoto rontgen. Beberapa jam hasilnya di bawa ke dokter di situ untuk dibaca. Antrinya luar biasa banyaknya (saya tidak tahu waktu itu pakai Askes atau tidak) dan dokternya sepertinya hanya membaca sambil lalu. Waktu sampai giliran saya, foto dilihat sekilas dan ia berkata buru-buru dengan nada seolah-olah ini ngapain pake dironsen segala, “Ga apa-apa ini. Baik-baik saja!” sambil menaruh foto rontgen di samping lalu memanggil pasien berikutnya.

Tapi bertahun-tahun setelah itu, saya menyadari lutut saya tidak kembali 100%. Saya tidak bisa main badminton atau basket karena jika lutut saya menumpu pada sudut tertentu, saya merasakan seperti geser itu tadi. Jika berlari, saya lari dengan pincang karena tidak berani menumpu terlalu berat. Dan ternyata saya baru sadar, kalau kena lantai seperti pas sujud sholat, lutut kanan saya sakit. Itu semua tidak saya rasakan dan anggap terlalu serius karena saya masih bisa beraktivitas seperti biasa. Saya memilih olahraga renang dan bersepeda.

Istri saya mendesak saya berkali-kali untuk memeriksakan ke dokter. Saya tetap keukeuhit’s ok, not a big problem, I can live with that. Tapi sebenarnya saya takut menghadapi kenyataan. Kadang-kadang lebih baik tidak tahu daripada menghadapi kenyataan yang pahit. Saya tahu ada masalah menahun di lutut, tapi saya tidak tahu separah apa. Dan jika itu ternyata sangat serius, saya belum siap menghadapinya.

Sampai akhirnya, dua teman di kantor menjalani operasi lutut di RS Premier Bintaro. Dua-duanya karena cedera saat berolahraga. Satunya saat basket, satunya futsal. Hasil MRI mengatakan bahwa ligamen ACL (Anterior Cruciate Ligament) nya putus. Cedera begini katanya tidak akan nampak di foto rontgen dan hanya bisa di MRI. Secara sekilas teman saya itu tidak nampak bermasalah, tapi dalam jangka panjang — kata dokternya — bisa bermasalah, termasuk tidak bisa berolahraga berat, bahkan arthritis. Lha kok mirip-mirip dengan saya ini? Jangan-jangan selama ini ada masalah dengan ligamennya. Saya bertahun-tahun selalu pegang kata-kata pak dokter Karang Menjangan itu bahwa tidak ada masalah dengan lutut saya.

Akhirnya saya memantapkan hati. Kalaupun ternyata hasilnya dioperasi ya sudah dijalani saja. Saya bilang ke istri saya yang langsung menghubungi Rumah Sakit Pondok Indah untuk dijadwalkan konsultasi dengan dr. Agung P Sutiyoso, dokter spesialis orthopedi. Saya sengaja tidak ke dokter RS Premier Bintaro yang mengoperasi teman saya. Istri saya lebih dulu memeriksakan ke dokter Agung dan kami punya kesan yang baik, bahwa jalan operasi adalah jalan terakhir.

Setelah diperiksa, saya diyakinkan bahwa ligamen utama aman. Saya diberi obat anti radang untuk keluhan sakit waktu dipakai sujud. Ajaib, sakit yang “tidak saya rasakan” bertahun-tahun itu menghilang. Sebelumnya saya pakai sajadah berlapis supaya tidak terlalu sakit. Lha, tahu gitu kenapa ga dari dulu-dulu ya hahaha…

Seminggu kemudian waktu kontrol saya bilang sakitnya sudah hilang tapi sensasi geser itu masih ada. Reaksi si dokter mengingatkan saya pada dokter RSUD Karang Menjangan: lututmu ga ada masalah! “Ya udah, diobat lagi ya.” Karena tidak puas kalau solusinya “cuma” diobat, saya tunjukkan lagi posisi seperti apa yang bisa bikin geser itu. Saya ditanya bisa di-MRI ga? Ditanggung asuransi ga karena biayanya cukup mahal. Saya bilang bisa. Akhirnya saya dijadwalkan untuk MRI minggu depannya.

Saya masuk ke tabung mesin MRI dengan takut-takut dan lutut saya di-scan selama hampir setengah jam.

Hasilnya ada 4 jam berikutnya di meja dr. Agung. Canggih sekali MRI ini, detail tulang hingga otot-otot terlihat semua dan berlapis-lapis begitu. Tulang saya sama sekali tidak ada masalah, alhamdulillah, jadi pak dokter Karang Menjangan itu betul. Tapi ternyata ditemukan robekan ringan di otot hamstring belakang. Dokter Agung bilang robekan tersebut tidak perlu dijahit atau dioperasi. Wajar karena bekas cedera. PR berikutnya adalah menguatkan otot paha supaya kuat.

Alhamdulillah.

Langkah selanjutnya saya akan membawa hasil MRI ini ke dokter fisioterapi di ISMC, tempat saya berhasil menurunkan berat badan hingga 17kg. Saya ini suka olahraga freeletics, tapi beberapa latihan ada yang high impact dan saya tidak tahu itu berpengaruh ke lutut atau tidak. Sekalian saya mau konsultasi bagaimana supaya lebih kuat. Kalau ga salah pemain bola itu sering cedera hamstring dan mereka bisa fit kembali.

*Gambar dicomot dari sini.

5 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *