Bisnis Transportasi Online Tidak Sekadar Jualan Aplikasi

Baru-baru ini terjadi demo sopir angkot di Bandung menolak angkutan berbasis online, dan ujungnya Dishub Jawa Barat melarang online beroperasi di seluruh wilayah Jawa Barat. Polemik dan kontroversi terus berlangsung hingga hari ini.

Saya sempat baca, solusi yang ditawarkan pemerintah adalah membuat aplikasi tandingan yang bisa dipakai para sopir angkot dan ojek pangkalan (baca catatan kaki di bawah untuk link sumber). Bahkan Ahok pada saat jadi gubernur juga pernah mnawarkan hal yang sama. Saya kok agak geli dengan solusi itu. Seperti biasa, pemerintah menurut saya gagal (atau tidak mau) mencari akar permasalahannya. Ini bukan tentang aplikasi pak!

Contohnya, Blue Bird juga punya aplikasi. Tapi kenapa tidak populer? Ya karena anehnya pengguna akan di-charge tarif lebih mahal jika pesan dengan aplikasi dibandingkan dengan menelepon atau menyetop dari pinggir jalan.

Akar masalah transportasi sebenarnya sederhana: pengguna mencari segitiga suci, yaitu murah, cepat, dan nyaman (dan aman). Aplikasi hanyalah bagian dari segitiga itu yaitu kecepatan dan kenyamanan dalam mendapatkan transportasi. Akar masalahnya sederhana, tapi solusinya tidak ada yang sederhana. Mungkin karena itulah pemerintah hanya mau memberikan solusi aplikasi saja. Sebuah proyek IT yang mudah dimark-up.

Kalau kita lihat angkot, dia adalah antitesis dari tiga hal yang dicari pelanggan. Angkot tidak murah, karena seringkali harus ganti beberapa kali untuk mencapai tujuan. Tidak cepat, karena angkot sering ngetem tidak menentu. Tidak nyaman dan aman: sudah sumpek, panas, rawan copet lagi.

Sekarang coba orang disuruh membenahi permasalahan angkot ini supaya punya tiga competitive edge tadi itu. Sangat berat.

Salah besar jika orang mengira Uber, Gojek, dan Grab hanya tentang bikin aplikasi. Mereka setiap hari bakar duit bermilyar-milyar supaya tarifnya murah (meskipun ini bisa dikritisi sebagai predatory strategy — jual rugi sampai semua pesaing mati atau bergabung). Mereka juga membuat sistem rating dan aturan yang rumit agar para driver-nya punya standar pelayanan yang baik seperti taksi konvensional. Dan yang terakhir mereka membuat aplikasi yang mudah dipakai, cepat diakses dan jarang nge-hang, dengan fitur yang selalu diperbarui. Saya membayangkan seperti apa bentuknya jka Dishub membuat aplikasi tandingan untuk angkot: besar kemungkinan tampilannya buruk, lambat, sering error, dan tidak pernah diupdate. Kenapa pesimistik begitu? Karena ini hanya sebuah proyek IT di sebuah tahun anggaran yang rawan mark up dengan vendor pelaksana yang buruk. Dishub bukan penyedia aplikasi, mereka tidak mungkin bisa membuat platform sebaik online yang siang malam mengurusi itu.

Jakarta sebenarnya sudah sangat baik membuat Transjakarta menjadi profesional. Terlepas dari faktor permasalahan sosial seperti Metromini yang semakin tersingkir, Transjakarta telah berubah semakin baik. Ke depan bahkan berencana mengintegrasikan angkot dengan Transjakarta dengan sistem pembayaran tunggal. Ini tentu akan membuat angkot menjadi lebih murah dan membantu mereka lebih profesional. Langkah yang penuh tantangan tapi nyata.

Ini yang tidak saya lihat di Jawa Barat, sebut saja Bandung. Ridwan Kamil mungkin telah sukses mempercantik Bandung dengan berbagai macam taman kota yang indah, tapi beliau saya anggap gagal di permasalahan transportasi. Tidak ada upaya serius membenahi angkot. Sampai hari ini, smart city itu tidak punya sistem transportasi modern yang smart.

Jadi jangan salahkan warga mau memilih moda transportasi apa. Hadirnya transportasi online sangat membantu mobilitas maupun kirim-mengirim barang dan makanan. Saya sendiri masih memilih sepeda motor untuk komuting dari rumah ke kantor. Sepeda motor adalah moda transportasi yang paling murah dan paling cepat. Soal kenyamanan cincai lah. Mencontek ungkapan yang viral di media sosial, sepeda motor itu kalau panas tidak kehujanan, kalau hujan juga tidak kepanasan, hehehe…

Catatan kaki:

  1. Ide Ridwan Kamil, Ojek Pangkalan Kota Bandung Berbasis Aplikasi Online
  2. Dishub Luncurkan Aplikasi Angkot Online
  3. Soal Angkutan Online Vs Konvensional, Ahok Siapkan Aplikasi

2 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *