Mahalnya iPhone X dan Kegagalan Saya Menjadi Apple Fanboys

Oke, iPhone X baru saja keluar dan seperti biasa orang-orang pada heboh dan pada pengen punya. Konon kabarnya harganya mencapai 18 juta. Handphone seharga motor! Gila nggak tuh. Tapi soal beginian jangan tanya ke orang Jakarta, tunggu saja sebentar lagi akan banyak orang yang punya. Saya punya teman kantor yang hobinya membeli handphone baru pada saat launching. Bukan iPhone sih tapi merk sebelahnya: Samsung. Saya terkagum-kagum melirik Galaxy S8 Edge, sementara saya scroll-scroll timeline Twitter dengan Xiaomi Mi 4i.

Ada masa saya menjadi Apple fanboys, sekitar tahun 2011-2013. Mulai iPod Touch, lalu iPad, MacBook Pro, iPhone 4s. Saya punya justifikasinya masing-masing, meskipun agak lucu dan mekso. iPod Touch: saya ingin coba apps nya Apple. Kenapa iPod, karena saya sudah ada BlackBerry untuk komunikasi. Koneksi internet masih mahal, BlackBerry adalah pilihan terbaik saat itu.

Setelah kena asyiknya aplikasi Apple, saya membayangkan tentu asyik baca buku di tablet. Kebetulan Kindle saya rusak. Saya anggap iPad 2 sudah nyaman untuk membaca eBook. Beda dengan iPad generasi pertama yang masih resolusi rendah. Sampai sekarang iPad ini masih baik, bahkan kabel charger originalnya masih bisa dipakai.

Next: MacBook Pro, karena saya ingin belajar membuat aplikasi Apple. Kebetulan lagi, laptop Compaq saya sudah agak berumur dan mulai lambat. Laptop Compaq adalah laptop yang saya install Ubuntu dan bertahan paling lama selama saya menggunakan Linux untuk keperluan sehari-hari, bahkan untuk kuliah S2.

Next: iPhone 4s. Pertimbangan saya waktu itu, untuk kamera, iPhone masih yang terbaik. Jadi saya tidak perlu membawa kamera saku lagi. Jadi yang tergusur waktu itu adalah kamera saku. Koneksi internet sudah membaik dan saya bisa browsing dengan lebih nyaman daripada pakai BlackBerry. Ternyata membawa-bawa iPad cukup merepotkan.

Sekarang, sepeninggal Steve Jobs, masih relevankan menjadi konsumen produk-produk Apple? Setiap kali melihat peluncuran produk flagship Android dan Apple, saya tidak melihat inovasi yang betul-betul berguna. Justru, produk-produk Cina yang semakin baik memenuhi kebutuhan yang sesungguhnya dengan harga jauh lebih murah. 18 juta untuk sebuah handphone? Apakah dia bisa buat bikin software? Siapa yang butuh Touch ID, Face ID? Bandingkan dengan jaman dulu: kamera. Sekarang justru iPhone sangat ketinggalan teknologi kameranya. HP lain sudah wide lens, dia masih saja rasio 4:3 seperti kamera saku jadul. Produk alternatif seperti Xiaomi atau ASUS sudah sangat baik kualitasnya.

Jadi saya menganggap gagal jadi Apple fanboys. Untuk handphone, saya berpindah ke Android. Sama sekali tidak ada alasan untuk kembali ke iPhone, kecuali jika alasan itu adalah prestige, alias gengsi. Teknologi? Nehi…

2 thoughts

  1. saya jelas bukan fanboy atau apalah istilahnya, tapi saya sekarang lg seneng make aipon justru karena kesederhanaannya, selebihnya mungkin karena ram-nya yg relatif stabil, ya juga hasil fotonya relatif bagus. Itu juga baru bisa beli 5s setelah diskon habis-habisan hahaha dan yg sekarang ini ukurannya lebih pas di tangan saya. Kalo soal versi terbaru, logika saya masih waras untuk tak ikutan tren, yaiyalah emang durung mampu dan belum terlalu penting utk apdet gejet :v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *