Printer 3D, Teknologi Menarik yang belum Ekonomis

Pertama kali saya melihat 3D printer di film robot Baymax gendut itu (saya lupa judul film-nya — Hero ya?). Saya melihat Hiro, tokoh utamanya, membuat kostum perang untuk Baymax menggunakan 3D printer. Jika printer biasa mencetak tulisan di kertas, dengan 3D printer kita bisa mendesain benda tiga dimensi di software CAD, lalu “mencetak”-nya. Alat ini akan memotong, mengukir, memahat bahan sesuai dengan yang didesain di software. Dalam kasus si Hiro, ia membuat perisai untuk Baymax.

Saya waktu itu baca Instructables mengenai cara-cara membuat webcam yang bisa dikendalikan dari jarak jauh dengan motor servo. Webcam itu seperti yang sudah saya buat di Raspberry Pi, tapi punya keunggulan bisa menoleh ke kiri-kanan-atas-bawah. Desain rangka penyangga webcam itu dishare dalam bentuk file yang bisa di-print 3D.

Iseng-iseng saya cari situs layanan 3D printer di Indonesia. Memang teknologi ini sudah sampai sini. Rata-rata tarifnya sekian ribu, per gram. Kebetulan, salah satu rekan yang sudah terkenal sebagai blogger (sekarang mungkin vlogger ya hehe), Cak Budiono, memposting di IG tentang fidget spinner yang ia cetak dengan 3D printer. Iseng saya tanya berapa harga per gram-nya. Kurang lebih sama dengan web yang sudah saya lihat.

Masalahnya ketika ditotal-total, harganya jadi mahal. Untuk kotak kecil si penyangga webcam itu, perkiraan harganya sekitar 150-an ribu. Untuk mainan IoT, komponen casing (atau penyangga atau semacamnya) ini jadi terlihat mahal, karena sekarang komponen IoT harganya sudah murah. Sensor-sensor kecil saja harganya 30-70 ribu. Masak asesorisnya lebih mahal daripada komponen utamanya?

Makanya saya menyebut teknologi ini belum ekonomis. Seperti mainan hardware jaman dulu yang mahal. Tapi sekarang era hardware mulai semarak karena sudah murah. Sejak era Raspberry Pi, kita bisa punya CPU handal hanya dengan 300 ribu saja. Dulu mana ada komputer seharga ini. Microcontroller-pun sudah murah-murah karena banyak versi “clone”-nya. Seperti Arduino UNO yang versi aslinya di Indonesia dijual 300 ribuan, versi clone made in China hanya 50 ribu. Sudah sangat ekonomis sehingga rasa-rasanya tidak terlalu menyesal kalau alatnya terbakar gara-gara salah solder kasih tegangan 5V yang harusnya 3.3V. Jaman dulu, salah solder IC atau transistor berarti buang uang 300 ribu.

Saya berharap 3D printer ini juga begitu. Saya anggap ekonomis kalau biaya bikin penyangga kecil itu sudah sekitar 30-40 ribu dari harga 100 ribu. Saya rasa, waktunya tak lama lagi. Mudah-mudahan ya.

4 thoughts

    1. Betul mas, syaratnya memang tiga itu, kalau cuma buat main-main perlu ga perlu ya jadinya ga ekonomis wkwkwk…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *