Memperkenalkan: Tinkercad Circuit, Sebuah Simulator Elektronika

Saya jadi ingat waktu kuliah Sistem Digital dulu (saya beruntung diajar langsung oleh Prof. Supeno Djanali). Mata kuliah ini intinya adalah pengantar kepada konsep bahwa secanggih apapun komputer, seruwet apapun kita memprogramnya, dia hanyalah alat yang disusun dari 1 dan 0. Angka 1 berarti menyala (arus mengalir), angka 0 berarti mati. Lihat komputer Apple generasi pertama yang disolder tangan oleh Steve Wozniak. Masih mirip rangkaian elektronika begitu. Terbata-bata saya menghapalkan gerbang-gerbang digital AND, NAND, OR, XOR, dkk. Programmer yang cuma mengenal Java atau Python mungkin tidak menyadari bahwa untuk sekadar menulis pesan “Hello World!” di layar, ada berjuta-juta proses 1 dan 0 yang melalui berbagai macam komponen itu.

Kami, mahasiswa Teknik Informatika, tidak sampai praktik menyusun dan menyolder IC digital itu secara fisik. Sampai sekarang saya tidak bisa merakit komputer sendiri lho — pernah mencoba dan gagal. Praktikum hanya sebatas di depan layar komputer dan menggunakan software bernama Electronic Workbench (EWB). Praktikum berjalan dengan diawasi oleh kakak-kakak senior yang galak, kecuali jika adik praktikannya itu cakep — galaknya hilang berubah jadi modus PDKT.

Sekarang jamannya IoT, perkembangan hardware mulai semarak lagi. Untuk membuat alat elektronika yang bisa diprogram, sudah banyak microcontroller yang populer seperti Arduino dan NodeMCU. Tidak perlu bikin microcontroller dari awal seperti anak-anak Poltek Surabaya yang merajai kontes robotika dunia itu.

Dari baca-baca Arduino ini saya diantarkan ke situs ini: Tinkercad buatan AutoDesk. Ternyata sudah ada simulator elektronika berbasis web. Tinkercad ini menyediakan komponen Arduino UNO yang bisa diprogram langsung. Selain itu ada IC microcontroller ATTiny. Apa itu saya tidak tahu. Saya mau fokus belajar Arduino dulu.

One thought

  1. Wah, jadi ingat pak Peno 😀
    Karena saya kurang cerdas, jadi suka bingung sendiri ngikuti kuliah beliau; di saat teman-teman lain sudah pada bisa nangkep konsepnya. Dulu masih bingung kenapa urutannya di Carnough Map 00, 01, 11, 10 bukan 00, 01, 10, 11 😀 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *