Belajar Teknologi Kekinian (Node.js, Angular.js, Ionic Framework, Internet of Things)

Dunia IT adalah dunia yang berkembang dan berubah sangat cepat. Terlalu cepat. Kalau membahas apa yang sedang #kekinian, ada saja hal yang baru. Ini seringkali membuat dunia industri tertinggal sangat jauh. Di dunia korporasi/industri seperti tempat saya bekerja, kestabilan dan kepastian dukungan adalah hal yang utama. Ini menjawab kenapa Linux dan software open source jarang yang berhasil dan raksasa-raksasa Windows, Oracle, dan IBM menguasai dengan sangat dominan. Jawabannya ada di ketersediaan dukungan yang berkelanjutan. Uang ada banyak kok.

Sebagai karyawan, saya tidak mau larut dalam ritme industri yang lambat. Kalau mengikuti ritme sih, teknologi yang dipakai ya itu-itu saja: Java, SOA, database, dan aplikasi berbasis web. Saya tidak tahu sampai kapan saya akan bertahan di industri ini. Jadi kalau saya tidak dipakai lagi, saya harus siap dengan perkembangan teknologi.

Itu salah satu alasan kenapa saya dulu membeli Macbook dan belajar Swift.

Ketika sedang mempelajari Swift, saya menyadari untuk membuat tampilan saja, orang harus bekerja di dua platform yang berbeda. Untuk Android dengan Java, untuk Apple iOS dengan Swift. Minimal dua itu. Belum lagi bikin back-end-nya. Waktu itu saya berpikir, apakah tidak ada bahasa yang bisa sekali tulis bisa langsung untuk berbagai macam platform? Native app tentu saja. Saya teringat jargon Java waktu awal-awal muncul: write once, run everywhere.

Ternyata ada. Ada banyak malah. Salah satunya Ionic Framework.  Ini adalah framework JavaScript. JavaScript! Bahasa yang dulu saya benci karena susah di-debug ini akhir-akhir ini sangat populer. Ada JQuery yang membuat manipulasi tampilan web menjadi menyenangkan. Kemudian sekarang ada Ionic Framework berbasis Angular.js. Karena itu framework-framework berakhiran *.js ini jadi ingin saya pelajari. Saya juga meminta tim saya yang sedang mengerjakan proyek mobile app untuk mencoba Ionic Framework dengan harapan lebih menghemat waktu dan sumberdaya.

Bagaimana dengan Java sendiri? Saya tidak tahu data statistiknya ya, tapi saya merasa popularitasnya semakin menurun. Saya sendiri juga malas membuat aplikasi dengan Java. Saya malah menyukai Laravel yang berbasis PHP dengan alasan lebih ringan dan bisa jalan di shared hosting yang murah. Pre-requisites Java yang mahal mungkin salah satu penyebab bahasa ini hanya populer di level korporat. Trennya sepertinya semakin menurun. Tapi karena kestabilan dan skalabilitasnya, saya rasa Java akan masih bertahan cukup lama lagi. As I have said previously, kestabilan dan kepastian dukungan adalah hal yang utama.

IoT (Internet of Things)

Kepopuleran Raspberry Pi membuat dunia hardware semarak lagi. Saya dari dulu suka elektronika, solder-menyolder, jauh sebelum saya mengenal komputer dan perangkat lunak. Di rumah saya punya dua Raspi. Satu untuk CCTV teras rumah sekaligus back-end server untuk aplikasi pribadi saya terkait monitoring saham dan reksadana, satu lagi untuk media server untuk nonton film, sekaligus CCTV untuk melihat ikan-ikan saya di Aquarium kalau lagi ditinggal mudik atau ke rumah mertua.

Itu sih belum IoT levelnya, masih jadi server biasa. IoT adalah sesuatu yang memiliki sensor, diolah dulu (pre-processed) atau langsung dikirimkan ke server melalui jaringan komputer (bisa lokal bisa internet). Data dari berbagai macam sensor akan diolah menjadi informasi yang berguna.

Saya ingin punya monitor konsumsi daya listrik di rumah. Data ini akan dianalisis, perangkat apa saja yang memakan daya (biasanya sih AC, kulkas, sama mesin cuci). Dari pola konsumsi ini, software akan melakukan analisis dan memperkirakan berapa biaya listrik yang akan dihabiskan. Asumsi saya bisa saja salah setelah melihat polanya, misalnya eh ternyata lampu-lampu yang memakan banyak daya sehingga perlu diganti ke LED semua yang jauh lebih hemat. Seperti itu contohnya. Saya kepikiran mau pakai Arduino atau NodeMCU sebagai micro-controller.

Kadang-kadang saya ditertawakan karena pikiran saya terlalu ruwet. Masalah ini mungkin bisa diselesaikan dengan cara yang jauh lebih sederhana dan manual. Misalnya tinggal beli aja pengukur daya, ambil sampel data di beberapa titik selama seminggu. Analisa di Excel. Selesai. Tapi bukan di situ fokusnya. Fokus utamanya saya ingin belajar IoT dan saya perlu studi kasus, sesuatu yang perlu diselesaikan dengan IoT. Sesuatu yang lebih sulit dari sekadar menyalakan lampu LED dan berguna buat saya pribadi. Di situ serunya. Di situ seninya. Dan itu menyenangkan sekali, hehehe…

One thought

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *