Trik Penghematan: Bawa Bekal Makan dari Rumah

Sebenarnya motivasi awalnya bukan penghematan, tapi karena saya harus diet (bagian dari program The New Me). Diet rendah kalori, pakai nasi merah, kurangi gorengan. Spek ini cukup sulit lho ditemukan di warung-warung dekat kantor. Untung istri saya mendukung penuh diet saya ini dan membuatkan saya bekal makanan ke kantor setiap hari. Dan setelah dipikir-pikir, ternyata penghematan yang didapat sangat signifikan. Jadi sekali dayung dua tiga pulau terlampaui: makanan sehat sekaligus murah meriah.

Kalau tidak bawa bekal dari rumah, pilihan makanan yang ada sebenarnya sangat tidak sehat. Misalnya untuk sarapan pagi. Di Jakarta sini, orang umumnya sarapan bubur ayam. Entah kenapa, padahal budaya bubur ayam ini seingat saya tidak ada di Tulungagung atau di Surabaya. Asosiasi bubur adalah makanan orang sakit. Tapi di Jakarta bubur ayam laris manis pagi dan sore hari. Apa yang jahat dari bubur ayam? Kecepatannya dikonversi ke energi oleh tubuh. Karena bentuknya sudah bubur, tubuh tidak perlu waktu lama untuk memproses makanan dan langsung diserap dalam bentuk gula darah. Gula darah ini menjadi pasokan energi. Makanya bubur bagus untuk orang yang sakit. Tapi untuk orang yang sehat, bubur akan menyebabkan gula darah naik terlalu cepat. Dalam waktu lama, bisa menyebabkan kolesterol, obesitas, atau diabetes.

Selain itu masih ada: ketoprak, soto mie, lontong sayur, nasi uduk. Biasanya untuk sarapan pagi rata-rata sekitar 10 ribu.

Siang hari makin beragam: ayam goreng, ayam bakar, sate ayam, ikan, nasi padang, soto, sop buntut, sop iga, nasi goreng, kambing, tong seng dll. Bagi yang apes kantornya dekat mal atau malah di lingkungan mal, menunya makin keren: restoran fast food dan restoran mahal. Di Jakarta sini, makan siang dengan menu tadi (bukan yang makanan mal ya) bisa sampai 25 ribu. Saya pernah coba menu minimalis nasi telur dadar dan tempe atau tahu, harganya 15 ribu.

Jadi, sehari makan di kantor sekitar 35 ribu. Sebulan kalikan 20, menjadi 700 ribu. Sebanyak itulah pengeluaran makan di kantor selama sebulan. Banyak ya. Jakarta mahal sih ya. Dengan pengaturan menu sedemikian rupa, saya pernah bisa menekan pengeluaran hingga 400 ribu.

Dengan bawa bekal dari rumah, selain sehat, saya juga bisa berhemat banyak. Contoh menu bekal saya: sarapan pagi roti gandum dua lembar diolesi selai kemudian dipanggang di teflon. Variasinya: kentang rebus, telur rebus dua butir (putih telur saja, kuning telur dibuang), brokoli dan wortel. Kadang-kadang ada tahu rebus. Makan siang: nasi merah organik tiga sendok makan, sayur buncis atau kangkung atau bayam, ayam katsu goreng, kadang-kadang tempe goreng. Nasi merah organik ini rasanya sangat pera ga ada punel-punelnya. Sampai-sampai kalau wadah plastik Lock and Lock itu saya guncang-guncang, suaranya klothak… klothak… klothak… Tapi karena butirannya besar-besar, tiga sendok makan itu bikin kenyang sampai sore. Rendah kalori.

Kata istri saya, belanja ke tukang sayur 50 ribu itu sudah bisa menghidupi semua anggota keluarga dalam sehari. Menunya sudah joss lagi: pakai ayam hehehe.¬†Anggaran makan di kantor bisa dihapus dan ikut ke anggaran makan untuk keluarga sehari. 700 ribu bisa buat banyak hal. Nambah untuk infaq shodaqoh bisa. Nabung reksadana¬†as I’ve written in previous post bisa. Kadang-kadang saya pakai buat betulin rumah, genteng bocor, cat dinding, dikumpulin untuk beli rak buku. Atau buat beli baju baru hehehe…

Kalau teman-teman sidang pembaca yang budiman punya tips #lifehacking macam begini ga? Boleh dishare di komentar yah. Maturnuwun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *