Sell in May and Go Away

Di dunia trading saham, ada istilah yang populer yaitu sell in May and go away. Ini adalah semacam anjuran bagi para trader untuk menjual saham mereka di bulan Mei dan pergi jauh-jauh dari bursa karena seringkali harga saham turun cukup dalam. Tentu saja tidak selalu dan tidak semua saham begitu, kadang-kadang malah naik, tapi memang jika dilihat sejarah, kebanyakan memang turun di bulan Mei lalu mulai kembali naik menjelang akhir tahun.

Ada tiga strategi yang bisa dipakai dalam berjualan saham. Pertama adalah ikutilah tren. Beli tren mulai naik dan jual ketika tren menurun. Buy high and sell higher. Jangan beli ketika tren menurun. Diam saja dan tunggu tren berbalik. Karena bursa Indonesia tidak membolehkan praktik short selling, kita tidak bisa menjual (saham yang belum kita punya) ketika tren mulai turun dan membeli (untuk mencover) ketika tren sudah dibawah dan mulai naik. Strategi ini biasanya dilakukan oleh swing trader yang melakukan analisis teknikal. Strategi ini memanfaatkan fluktuasi harga dan berusaha mengambil keuntungan dari sana. Strategi ini menyebabkan trader harus keluar masuk (jual beli) dengan cepat karena jendelanya sangat sempit. Ini juga menyebabkan trader juga harus fokus terhadap pergerakan harian mingguan dan bulanan.

Saya sudah memutuskan kalau saya tidak cocok dengan strategi ini. Saya tidak sanggup dan merasa usaha yang dilakukan tidak worth it mengingat modal saya yang kecil.

Strategi kedua adalah contrarian. Ini bisa berlaku di saham atau reksadana. Beli ketika harga jatuh dan jual ketika harga tinggi. Kedengarannya gampang tapi ternyata susah dilakukan. Ketika harga jatuh dan portofolio kita merah, kita akan malas untuk beli karena itu sama dengan menambah jumlah kerugian. Kebanyakan sistem portofolio menggunakan harga rata-rata untuk menghitung untung rugi. Ini menyebabkan kerugian membesar ketika kita beli waktu portofolio menunjukkan hitungan rugi. Sebaliknya, ketika harga tinggi, kita cenderung tergoda untuk top up (beli lagi) karena hitungan di portofolio akan menunjukkan keuntungan kita membesar. Padahal namanya fluktuasi, ternyata harga beli kita sudah terlalu tinggi dan besok harga jatuh. Rugilah kita hehehe…

Kesulitan kedua strategi itu adalah: kita tidak pernah tahu harga sedang tinggi atau rendah. Patokan sederhana saya adalah: jangan beli saham atau reksadana ketika IHSG sedang cetak rekor seperti ini. Saya tidak tahu IHSG akan setinggi apa, tapi berdasarkan pengalaman, ada saatnya IHSG akan jatuh cukup dalam. Selalu. Beberapa saham saya sampai hari ini masih nyangkut alias rugi, bahkan ketika IHSG sedang tinggi-tingginya ini, gara-gara saya tergoda beli dan top-up waktu IHSG dulu mencetak rekor di 5200-an. Sekarang, meskipun IHSG cetak rekor di 5700-an, saham saya itu masih nyangkut hehehe… Jadi strategi saya sekarang adalah: tabungan untuk tujuan investasi saya masukkan ke deposito dulu yang pasti menghasilkan return positif meskipun kecil. Nanti ketika IHSG jatuh, saya akan top up. Kapan itu dan di titik mana jatuhnya? Saya tidak tahu.

Strategi yang ketiga adalah yang paling gampang, cocok buat mereka yang awam, tapi menghasilkan keuntungan yang positif. Ini aneh tapi nyata. Strateginya sederhana: top-up rutin setiap bulan pada tanggal yang sama, tidak peduli harganya naik apa turun, pokoknya beli. Strategi ini dipakai untuk melawan fluktuasi harga. Kita dapat harga murah ketika harga turun, tapi juga dapat pahitnya harga mahal ketika harga naik. Dengan tren yang cenderung terus naik, pada akhirnya kita tetap untung. Mungkin hasilnya tidak sebesar mereka yang berhasil beli di harga rendah, tapi melihat usahanya yang merem saja, strategi ini sangat menjanjikan.

Saya share kisah sukses strategi ini ya. Mulai tahun 2013, saya nabung reksadana saham di agen penjual Bank Mandiri 300 ribu sebulan. Karena agen penjualnya sama dengan rekening tabungan, saya bikin surat pernyataan auto top up setiap tahun dan berjalan dua tahun. Sebenarnya setelah itu saya bikin surat pernyataan lagi, tapi rupanya sama CS bank-nya entah kenapa tidak tereksekusi dan saya malas untuk mengurusnya. Jadinya berhenti di 2014. Hari ini saya jual reksadananya (karena tujuan keuangannya sudah dekat) dan saya kaget ketika melihat hitungan kasar yang dihitungkan mbak CS: sekitar 9,1 juta.

Banyak atau sedikit itu relatif ya. Buat saya 300 ribu itu banyak, apalagi hasil return reksadana-nya yang 9,1 juta. That means really-really a lot of money! Tapi di Jakarta sini, banyak yang menganggap 300 ribu sebulan itu sedikit. Uang jajan doang. Itu setara dengan uang rokok sebulan atau nongkrong di Starbucks seminggu (iya, seminggu). Tapi ternyata ketika itu diinvestasikan, dalam 4 tahun (dengan hanya 2 tahun rutin auto top up tanpa lihat harga sama sekali), nilainya sangat lumayan. Imbal hasil efektifnya sekitar 10% setahun.

Cuma 10% setahun? Tunggu dulu, deposito hanya 5% setahun lho. Tapi bukannya kata perencana keuangan investasi saham bisa mencapai 20% setahun? Mungkin bisa jika dana yang diendapkan sampai 15 tahun ya. Tapi saya sendiri belum pernah mendapat imbal hasil 20%. Rekor trading saya tertinggi adalah 15% setahun. Saya menganggap cerita-cerita sukses imbal hasil di atas 20% bahkan hingga ratusan persen hanyalah cerita motivasi. Ada tapi hanya buat yang beruntung atau yang sangat hebat — tidak untuk semua orang. Saya menganggap imbal hasil realistis ya antara 5-15%. Dan ingat masih ada faktor risiko untuk rugi. Seperti yang saya bilang tadi, sampai hari ini ada beberapa saham saya yang nyangkut rugi. Tidak tahu kapan bisa dicairkan. Mudah-mudahan perusahannya tidak bangkrut sehingga modal saya tidak pernah bisa kembali atau saya terpaksa harus jual rugi.

Pesan moralnya, mari coba sisihkan 100 ribu atau 200 ribu selama sebulan, cobalah berhemat dari gaya hidup. Entah dari rokok, nongkrong, nonton film, bawa bekal makan dari rumah, dan semacamnya. Lakukan selama dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun, dua puluh tahun. Lalu lihat apa yang terjadi. Itu…. (wkwkwk….)

2 thoughts

  1. Perkara Sell in May and Go Away itu, saya nggak pernah lakukan.
    Saya masih pakai aliran mainstream aja, beli ketika harga (lebih) rendah, jual ketika harga tinggi dan sahamnya tidak bisa berkembang lagi.

    Kalau saya nungguin IHSG jatuh untuk beli saham, bisa ubanan saya, prinsip saya sih.
    Jadi saya paling nungguin harga sedang rendah dan minat market sedang bagus. Biasanya saya pakai lihat SMA, CCI, dan RSI dulu untuk menilai minat market. Jika minat market bagus dan saya merasa harga masih bisa naik lagi, saya langsung tekan tombol BUY.

    1. Good strategy mbak, masing-masing memang perlu punya strategi sendiri yang cocok dan setiap orang bisa berbeda-beda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *