Tentang Freeletics Bodyweight

Saya tidak mengatakan sepenuhnya bahwa tidak ada rahasia khusus dalam rangka usaha menurunkan berat badan. Tapi benar bahwa saya menggunakan metode yang umum yaitu mengatur asupan makanan dan olahraga. Pertanyaan yang lebih tajam adalah: olahraga yang seperti apa? Saya bilang olahraga freeletics, olahraga yang sedang ngetren beberapa tahun belakangan ini. Saya mulai fokus berolahraga ketika menyadari saya sulit turun hanya dengan diet saja.

Masalah saya dan mungkin kebanyakan orang-orang yang bekerja di Jakarta adalah waktu. Di sini kebanyakan waktu habis di jalan. Setiap pagi, setiap habis Subuh, saya harus sudah bersiap-siap berangkat ke kantor, jadi praktis tidak ada waktu untuk lari atau olahraga pagi. Sore hari, saya baru sampai di rumah paling cepat jam lima atau setengah enam sore. Jam segitu sudah amat saya syukuri karena saya tahu banyak teman-teman saya yang baru sampai rumah paling cepat jam sembilan malam.

Saya sudah bilang tidak mungkin pergi ke gym yang ada di mal-mal. Perjalanan pergi-pulang-nya sudah cukup melelahkan. Belum lagi di gym-nya waktu untuk berganti pakaian, mandi setelah workout, dan energi ekstra untuk menembus kemacetan pulang ke rumah. Ditambah biaya membership-nya yang selangit, olahraga ke gym sama sekali bukan pilihan yang menarik.

Saya mengenal kata freeletics ketika program “The New Me” tapi waktu itu saya pikir itu istilah dari klinik ISMC saja untuk menyebut senam. Sampai saya menemukan footer/signature email rekan dari klinik kantor yang menyertakan link blog seseorang mengenai perjuangannya ber-freeletics. Ternyata freeletics adalah nama komersial untuk program olahraga. Alamatnya ada di www.freeletics.com.

Freeletics ini kurang lebih program yang memungkinkan kita berolahraga tanpa seorang PT (Personal Trainer). Waktu nge-gym di Susan Waine dulu, saya harus menambah biaya khusus untuk menyewa seorang PT untuk menentukan menu-menu workout apa saja yang perlu saya lakukan untuk mencapai tujuan saya (weight loss). Di Freeletics, PT itu disebut coach, merupakan program komputer Artificial Intelligence dalam bentuk apps berbasis iOS dan Android. Ada tiga apps: Freeletics Running untuk melatih stamina dan kemampuan berlari (misalnya targetnya ikut lari maraton 20K), Freeletics Gym, menggantikan fungsi PT di gym, hari ini angkat beban apa saja, pakai alat yang seperti apa, dst. Lalu terakhir adalah Freeletics Bodyweight. Ini seperti gym tapi menggunakan beban tubuh sendiri.

Saya tertarik dengan Freeletics Bodyweight. Ini sesuai dengan keterbatasan saya soal waktu. Jadi saya bisa olahraga di rumah sepulang kantor atau bahkan setelah anak-anak tidur. Ada yang bilang olahraga malam hari itu tidak bagus, tapi saya pikir masih jauh lebih baik ketimbang tidak olahraga sama sekali.

Jadi saya download aplikasinya. Seperti biasa, ada versi trial seminggu. Saya diberi menu pertama. Saya coba dan langsung mau muntah-muntah karena sangat berat buat pemula. Badan dan otot sakit-sakit semua besoknya. Waktu itu berat badan saya 84 kg. Seperti sudah diantisipasi sebelumnya, besoknya Freeletics mengirimkan email motivasi. Email pertama tentang penjelasan mengenai nyeri otot (sore muscles) dan nyeri otot itu baik karena otot sedang beradaptasi untuk lebih kuat. Jadi nikmati nyeri ototmu, begitu katanya. There’s no elevator to success, you have to take that damn stairs! (keren ya). Email yang kedua adalah tentang video transformasi seorang yang gemuk menjadi berbadan atletis hanya dalam waktu 15 minggu saja.

Saya tentu saja tidak berharap punya badan atletis. Too good to be true. Saya cuma ingin turun berat badan ke level normal. Tapi saya sepakat untuk kalimat motivasinya, saya akan coba menjalani olahraga metode ini dulu.

Sayang sekali harga langganan untk coach cukup mahal, sekitar 35 ribu seminggu atau sekitar 150 ribu sebulan. Saya masih belum yakin apakah saya akan berkomitmen penuh untuk ini, jangan-jangan begitu beli langsung menyerah seperti waktu ngegym dulu. Meskipun 35 ribu itu jauh lebih murah daripada jadi member gym dan menyewa personal trainer. Akhirnya saya googling mencari mereka yang share menu workout-nya dan saya coba ikuti.

November-Desember 2016 saya ber-freeletics memakai menu orang lain. Saya sempat menghabiskan waktu hingga satu setengah jam. Jam 12 malam saya baru selesai dan mandi dan beranjak tidur. Tapi saya merasa cocok dan menyukai freeletics dengan segala nyeri ototnya. Apalagi makin lama saya merasa makin cepat dan kuat. Dulu, untuk melakukan jumping jacks sebanyak 75 kali, saya perlu tiga kali jeda istirahat. Ngos-ngos-an. Sekarang saya bisa tanpa jeda. Dulu, saya sudah habis push-up lima kali dari 50 kali yang dijadwalkan. Sekarang saya membaik, saya bisa 10 kali, istirahat, 10 kali lagi, istirahat, terus sampai 50 kali.

Awal tahun baru 2017, saya membeli langganan coach dari Freeletics. Kebetulan ada diskon lumayan, 300 ribu untuk enam bulan. Kemudian si Coach melakukan assessment kebugaran terhadap saya. Ada beberapa workout yang harus diselesaikan dan dihitung waktunya. Berdasarkan itu, si Coach menentukan menu apa saja yang harus dilakukan minggu ini. Dengan kondisi saya, saya tidak pernah melakukan full workout, hanya 1/4 VENUS, 2/5 MORPHEUS, dan semacamnya. Lebih ringan tapi masih berat. Pas lah, tidak lebih tidak kurang.

Januari hingga Maret 2017 saya workout dengan intensif. Di akhir minggu ke-7 (saya skip banyak jadwal, sehingga tiga bulan hanya ada 8 minggu bersih menurut Freeletics), ada pesan dari coach, “Hai, lihatlah ke cermin sekarang, apakah Anda melihat ada sedikit perubahan? Tidak terlalu banyak, tapi perubahan itu ada di sana. Berbeda dengan saat memulainya, Anda mulai merasa lebih ringan menghadapi tiap workout. Masih berat, tapi jauh lebih ringan.”

Berat badan saya hari ini 75kg. Turun hampir 10 kilo lagi. Atau sudah 15kg lebih dari rekor berat badan saya. Saya tidak pernah punya bayangan bisa turun lebih dari 78kg. Ukuran celana panjang turun dari 38 ke 34. Baju-baju sudah terlihat kedodoran dan pas beli kemarin, ternyata saya bisa memakai ukuran M (biasanya XL atau XXL). Saya bahkan mulai percaya dengan video transformasi itu, bahwa saya pun bisa memiliki badan yang atletis, hehehe…

Entahlah, itu bukan tujuan utama saya, tujuan saya adalah hidup sehat. Sekarang, tantangan terbesarnya adalah melawan godaan untuk bersantai-santai melawan perasaan bahwa saya sudah sampai tujuan. Libur makan disiplin sebentar. Libur berolahraga sebentar. Padahal, jalan masih panjang. Jalan ini seharusnya tidak punya akhir karena inilah jalan hidup saya yang baru — hidup aktif dan sehat dengan berolahraga.

PS: Saya tidak mungkin bisa menulis review sebebas ini kalau saya menerima tawaran memasukkan paid review ke dalam postingan saya. Karenanya saya selalu menolak, kecuali jika mereka mau dimasukkan ke kategori “Advertorial Review” atau semacam itu.

14 thoughts

  1. Ini tampaknya menarik. Bolehlah dicoba. Eh tapi berdasarkan pengalaman aku kurang suka olahraga yang kayak di gym gitu. Aku sukanya yoga. Tapi, harus divariasikan juga gak sih olahraga itu?

    1. Bisa dicoba, Kimi. Olahraga memang lebih bagus divariasikan, soalnya tubuh akan hapal kalau olahraganya itu-itu saja sehingga tidak terlalu efektif. Freeletics tidak pernah kasih menu yang sama setiap minggu. Kalau minggu ini yang dihajar perut (crunches, burpee, situp), minggu depan pasti ganti, kalau ga push up ya squat atau disuruh lari sprint.

  2. dari XL jadi M, selangsing apa kamu sekarang Lih ?
    Duh penting banget nih di share ke suamiku, dan bener, emang harus niat ingsun dan konsisten. Bismillah semoga semua bisa jadi sehat, demi masa depan ya 🙂

    1. Kalau dilihat ga terlalu banyak beda, tapi yang berubah banyak di perut. Sekarang udah hampir rata meski masih njemblung. Kalau dulu pas berat 92kg buncit banget kayak orang hamil.

    1. Lha kan sudah kurus, ga perlu freeletics hehe. Tapi olahraga yang cukup tetap penting untuk kebugaran biar ga cepat lelah. Mungkin jogging atau renang adalah olahraga yang pas. Cobain ya. 🙂

    1. Sepertinya ga bisa mas, pembayarannya langsung lewat payment gateway nya Freeletics, bukan lewat Google Play/App Store.

    1. Kapan-kapan saya share ya mas. Tapi karena tingkat fitness setiap orang berbeda-beda, bisa jadi menu saya ga cocok untuk orang lain. Bisa terlalu ringan atau terlalu berat. Saya pernah latihan 2 jam karena nyontek menu orang yang saya download. Setelah pakai coach, porsi latihan maksimal 1 jam (kata coach nya 30-45 menit — kenyataannya 1 jam).

  3. Mas mau tanya nih, selama freeletics itu makan nya gimana ya? Apa harus diet ketat atau biasa saja asalkan olahraga?
    Lalu dalam seminggu brapa kali?

    1. Diet yang bukan diet mba karena sampai sekarang jadi kebiasaan. Yang berubah drastis jumlah nasinya, dari nasi putih porsi tukang becak ke nasi merah 6 sendok makan. Awalnya berat gampang lapar, tapi sekarang biasa. Kurangi gorengan. Selebihnya biasa saja, tiga kali sehari, menu rumahan biasa ga pakai pesen katering paket aneh-aneh.

      Seminggu 4 kali. Kalau njarem (sore muscle) parah ya 3 hari. Sehari latihan sehari istirahat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *