Pengalaman Mengelas Listrik untuk Pertama Kalinya

Saya nekat belajar las listrik (arc welder). Alasan saya tiba-tiba nekat belajar mengelas adalah karena jengkel dengan bengkel las yang memasang harga terlampau mahal. Waktu awal-awal menempati rumah baru, saya memasang teralis jendela dan membuat atap kanopi untuk penutup tempat parkir mobil. Waktu itu saya cukup mengeluh karena harga per meternya cukup mahal — saya kira karena faktor bengkel lasnya. Dua tahun kemudian waktu pasang pagar depan, teman kantor merekomendasikan bengkel las yang menawarkan harga miring. Ternyata setelah selesai, saya menyadari bahwa kualitas bahannya yang diturunkan, bukan ongkos jasanya yang lebih murah. Tapi waktu itu saya masih belum terlalu ambil pusing.

Kemudian, waktu saya memasang pemanas air di kamar mandi atas, saya perlu tempat untuk menaruh tabung gas di dinding. Saya mendesain penyangga dari besi yang ditempelkan ke dinding dan ukurannya hanya sekitar 30 cm. Saya perkirakan paling mahal 75 ribuan karena ukurannya kecil saja. Ternyata saya dikenakan harga 300 ribu, saya tawar dapat 200 ribu. Di sini saya menyimpulkan, bengkel las sudah menerapkan sistem kartel, harga jasanya seragam, sama-sama mahal.

Beberapa minggu kemarin, saya memerlukan ranjang susun untuk di kamar belakang. Saya cek di IKEA Alam Sutera harganya yang paling murah 2 juta. Sayangnya panjangnya tidak bisa masuk ke kamar belakang itu. Saya ukur terlalu panjang tiga senti. Jadi harus bikin custom dari bengkel las. Saya cari bengkel las di sekitar rumah yang bisa di-WA dan menanyakan berapa biayanya. Taksiran dan budget saya adalah budget IKEA: 2 juta. Ternyata penawaran bapak bengkel las: 3 juta! Waduh…

Ini jadi bikin saya penasaran, kenapa IKEA bisa lebih murah? Padahal bahan bakunya mungkin sama atau bahkan sedikit lebih baik kalau pakai analogi rak buku IKEA vs rak dapur karya bengkel kayu. Akhirnya saya mulai riset berapa sih rincian biayanya jika saya bikin sendiri. Hasil hitungan saya cukup mengejutkan. Untuk membuat ranjang susun, butuh sekitar dua batang besi hollow dan besi siku yang cukup tebal. Sebatang panjangnya enam meter. Sebatang besi siku harganya 90 ribu. Besi hollow-nya 60 ribu. Jadi raw material yang diperlukan butuh biaya 300 ribu. Inipun sudah sisa banyak. Artinya lebih dari 80% adalah biaya jasa, bukan biaya materialnya.

Jika persentasenya seperti itu, memang biaya tenaga kerjanya yang mahal (dan karena itulah dulu IKEA muncul). Mungkin saya sudah harus berpikir seperti orang luar negeri yang harus mandiri apa-apa dikerjakan sendiri. Pekerjaan ini memang memerlukan skill khusus, yaitu penggunaan gerinda untuk memotong besi dan pengelasan. Cukup berisiko. Tapi saya berpikir, sekarang sudah ada Youtube, Pinterest, dan Instructables, kenapa tidak nekat mencoba belajar?

Saya membeli gerinda tangan (angle grinder) merk Krisbow dan alat-alat pelindung diri di Ace Hardware. Saya membeli las listrik MMA Inverter 880 Watt merk Redbo dari salah satu penjual online di Bukalapak. Harganya 730 ribu sudah lengkap dengan kawatnya (elektroda las). Tadinya saya mau beli las listrik yang populer dipakai merk Lakoni Falcon 900 Watt dari Tokopedia. Harganya 1 jutaan. Tapi hari Jumat kemarin Tokopedia sedang error dan waktu cari-cari di BukaLapak saya malah dapat yang jauh lebih murah. Toh juga hanya dipakai sekali-sekali saja kan.

Bahkan dengan mengusahakan beli alat-alatnya, pengeluaran saya masih setengah kali harga yang ditetapkan bapak bengkel las. Masih lebih murah dari ranjang susun IKEA.

And the Work Began…

Pekerjaan pertama adalah memotong besi dengan gerinda tangan. Saya memakai sarung tangan, baju lengan panjang (baju kantor yang sekarang kegedean — ihiy…), celana, sepatu, safety glasses, dan tudung pelindung muka. O iya, APD-nya kurang satu: earplug. Saya akhirnya pakai kapas untuk menyumbat lubang telinga.

Percobaan pertama ini sukses menghabiskan dua pisau gerinda dengan sia-sia. Kesalahan saya adalah menekan gerinda terlalu kuat sehingga pisaunya terjepit dan cakram tengahnya patah (sepertinya memang didesain mudah patah untuk alasan keamanan). Pelajaran moralnya, jangan menekan gerinda terlalu kuat. Biarkan pisau bergesekan dengan besi dan lama-lama mengikis besinya sehingga terpotong dengan mudah. Beberapa potongan saya jelek sekali: mencong sana mencong sini tidak ada yang lurus. Tapi akhirnya dengan jam terbang yang semakin tinggi, potongan saya semakin rapi dan halus.

Setelah besi terpotong, saya cat dulu pakai cat dasar. Kemudian saya lubangi dengan bor. Pekerjaan dengan bor ini juga memakan dua mata bor gara-gara saya salah menset modenya. Karena selama ini saya hanya mengebor dinding, jadi mode bor tetap terpasang ke mode beton (gambar palu). Harusnya ke mode pengeboran biasa. Jadinya mata bornya cepat tumpul. Pengalaman hehehe…

Setelah itu, besi yang saya lubangi saya tempelkan ke dinding dengan dyna bolt. Saya tidak memakai tiang untuk penyangga ranjang tapi saya langsung tempelkan ke dinding supaya lebih menghemat tempat. Untuk menjaga tetap datar dan tidak miring, saya pakai waterpass yang ada magnetnya sehingga menempel ke besinya. Setelah rangka terpasang ke dinding, saatnya mengelas besi-besi hollow untuk jadi alas rangka ranjang.

Saya sudah membaca dan mengikuti banyak video Youtube mengenai teori mengelas. Tapi pengalaman tetap segalanya. Saya memakai welding goggle dan ini sudah mendatangkan kesulitan pertama karena kacanya gelap sekali.

Kesulitan kedua, menentukan besaran arusnya. Saya agak ngeper ketika melihat kawat bawaan mesin las pakai diameter 3mm. Cukup besar dan ini tidak dianjurkan untuk pemula. Saya coba pasang dan dengan grogi dan tegang mengetuk-ngetuk besinya berharap ada percikan api pertama. Adanya cuma letupan-letupan kecil saja. Busur api yang diharapkan menyala kontinu belum berhasil dinyalakan. Saya coba besarkan arus sampai 110, adanya kawatnya malah menempel dan susah dicabut sampai kawatnya membara merah. Ini juga pentingnya pakai sarung tangan, begitu bara merahnya hilang saya dengan bodohnya pegang kawatnya. Ya panas lah hehehe, untung efeknya ga sampai tembus ke kulit.

Saya mulai stres, ternyata mengelas tidak semudah nonton di Youtube. Tiba-tiba saya berpikir, jangan-jangan saya pasang kawatnya terbalik. Jadi ujung yang kecil saya jepit di tang positif dan ujung yang besar dihadapkan ke besinya. Dan benarlah, sekali sentuh, busur api menyala menyilaukan sekali. Untung sudah pakai pelindung. Ini juga berbeda dengan teori yang diajarkan. Untuk menyalakan busur api, cukup tempelkan kawat pada besi dan timbul percikan kecil yang membesar secara cepat menjadi busur api. Segera setelah apinya jadi, angkat kawat sedikit dan mulailah mengelas!

Tentu saja, hasil las pertama saya jelek sekali. Sama sekali tidak rata. Di beberapa tempat, besi hollow-nya malah berlubang karena terlalu lama kena api. Di sini juga saya sadar sesuatu. Yang saya lakukan seharusnya dilakukan mereka yang sudah ahli karena menyambung besi dengan ketebalan berbeda. Jika arusnya terlalu kecil, besi yang tebal belum cukup meleleh, tapi kalau terlalu besar, besi yang lebih tipis bolong duluan.

Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting besi sudah bisa tersambung dengan kuat dan saya merasa berhasil dengan achievement ini. Karena semua dikerjakan sendiri, tentu saya tidak mengharapkan hasil serapi para profesional bengkel las. Setelah semua selesai dilas, saya coba taruh kasur di situ dan saya coba naik di atasnya. Cukup kokoh dan saya percaya diri dengan hasilnya. Pekerjaan berikutnya adalah menambahkan lengan pengaman supaya kasur tidak merosot jatuh ke samping dan membuat tangga naik ke ranjangnya.

Begitulah cerita pengalaman pertama saya mengelas listrik. Gampang-gampang susah dan sangat menantang. Yang paling penting, tetap kenakan alat-alat pelindung diri seperti sarung tangan, safety glasses, dan topeng las. Selalu berhati-hati dan antisipatif terhadap potensi bahaya yang muncul. Itu yang selalu diajarkan tim HSE (Health Safety dan Environment) di kantor.

Nuwun.

Update: Berikut foto hasil akhirnya, seperti yang diminta sama Mas Agung di komentar di bawah, hehehe…

11 thoughts

  1. Biar lebih seru, di-posting dong mas Galih foto ranjang karya pertamanya… Penasaran pingin liat hasil percobaannya 😀

  2. Kalau menurut saya, inverter las listrik Lakoni itu kurang bagus. Lebih bagus yang merk Rhino, saya sudah membandingkanya.
    Sekedar sharing aja, klo mengelas besi pipa/stal dg ketebalan <2 mm itu arusnya saya biasa pake 60A-70A dg metode pengelasan di titik titik. Karena kalau langsun di full bisa jebol besinya. Pakai elektroda diameter 2mm….

  3. Jadi di total habis berapa semuanya mas? Pantes jasa ngelas itu mihil sangat beresiko tinggi ya,,cuma baca aja ikut deg2an xixixixiii…

    1. Material 300 ribu, beli mata gerinda sama kawat las sekitar 100 ribu. Jadi total 400 ribu. Buat beli alatnya habis sekitar 1 juta (gerinda 300 ribu, trafo las 700 ribu).

  4. pengen lihat dong lih kalo itu nggak ada kasurnya seperti apa, ternyata mahal ya ngelas gitu, kalau kita yg nyiapin bahannya juga mahal ya lih ?

    1. Begitulah, karena perbandingan ongkos dengan material terlalu njomplang aku nekat bikin sendiri. Kalau dulu mau belajar ngelas harus ikut kursus, sekarang era keterbukaan informasi jadi bisa belajar sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *