Indonesia Darurat Diabetes

Tiga hari kemarin, saya mengikuti training PSC Economics, membahas skema bagi hasil antara pemerintah dan kontraktor kerja sama migas yang disebut dengan istilah cost recovery, dan skema baru yang disebut gross split. Tapi saya tidak akan bahas ini — mungkin lain kali — saya akan membahas makanan dan minumannya hehehe…

Hari pertama ada Buavita. Persepsi saya (dan mungkin kebanyakan orang) adalah ini adalah jus buah. Jus itu sehat. Mari kita lihat tabel Informasi Nilai Gizi-nya:

(Foto dari sini). Di situ tertera jumlah gulanya adalah 20 gram. Berapa kebutuhan gula sehari manusia? Sekitar 40 gram. Jadi hanya minum kotak kecil Buavita ini dua kali saja, kita sudah bisa memenuhi kebutuhan gula kita sehari. Padahal kita masih makan dan minum yang lain. Nasi putih yang kalorinya tinggi, ujung-ujungnya oleh tubuh diolah dan diubah menjadi gula.

Jadi, Buavita sehat karena ia jus itu salah besar. Minuman ini sebenarnya berbahaya. Jus yang sehat itu ya jus tanpa gula. Apalagi jus yang selain gula masih ditambah susu kental manis. Tambah ndak sehat.

 

Hari kedua minumannya adalah Teh Kotak. Again, saya tengok lagi tabel nilai gizi-nya dan mendapatkan ini:

(Foto dari sini). Di sini berapa gulanya? 26 gram! Sekitar satu sendok teh lebih banyak daripada Buavita. Makanya manis sekali. Ini berlaku juga buat teh-teh sejenis seperti Teh Botol, S-Tea, Teh Pucuk, dan semacamnya yang sering dipesan waktu makan siang di kantor.

Dulu saya tidak menyadari kalau makanan dan minuman itu sangat manis. Sehingga saya punya teori bahwa lidah manusia itu juga beradaptasi. Semakin kita terbiasa makan dan minum manis, semakin tumpul indra perasa manis di lidah. Semakin tidak sensitif. Kembali ke 15 kilogram yang lalu (halah), saya take it for granted untuk urusan makanan. Tidak peduli nutrisi, tidak peduli jumlah porsinya, tidak peduli efeknya ke kesehatan.

Saya baru menyadari nasi putih itu rasanya manis waktu makan nasi merah. Dan ketika konsumsi makanan dan minuman manis menurun drastis, saya sudah tidak bisa lagi. Buavita dan Teh Kotak itu saya berikan ke rekan saya dan saya memilih mengambil botol air mineral.

Saya sendiri heran bahwa saya sekarang bisa menolak makanan. Terakhir waktu makan Dunkin Donuts, kalau tidak salah varian Elmo warna biru yang ada matanya, saya tidak bisa menelan gigitan pertama. Manis sekali. Saking manisnya sampai saya berpikir bahwa makanan ini sangat berbahaya.

Saya pernah baca artikel, seharusnya gula tingkat awareness-nya disamakan dengan rokok. Karena gula juga bikin kecanduan. Budaya makan sehari-hari kita sangat sarat gula. Nasi putih, minum teh pakai gula, minum kopi pakai gula (sering combo pakai ekstra krimer dan susu), kue-kue yang kaya gula dan kuning telur, dan masih banyak lagi.

7 thoughts

  1. Aku juga mengurangi makan yang manis-manis, Mas, soalnya aku sudah manis. Nanti overdose manis. Nggak ding. Becanda.

    Aku memang beneran mengurangi manis. Sudah sejak lama sih. Sesekali aku bandel juga. Misalnya sedang makan di luar terus minumnya es teh manis atau jus alpukat pakai susu. Tapi, jarang. Kalau pas lagi pengen banget aja. Toleransiku akan manis tidak serendah Mas Galih. Ya itu buktinya aku masih bisa minum jus alpukat pakai susu. Ha, ha, ha.

    Soal kue-kue itu aku ngeri lho, Mas. Apalagi yang namanya kue lapis legit, kue tart, dll. Membayangkan bahan-bahannya saja aku sudah ngeri. Kuning telur entah berapa, gula entah berapa banyak, dan herannya orang masih bisa makan dan menikmatinya. Aku mah nggak sanggup.

  2. Soal manis2 menurutku sih asal ga over ya gpp *yaiyalaah* yg penting seinbang dgn aktifitas pembakaran kalorinya.

    Yg bahaya suka manis, jarang minum air putih & kurang gerak. Lha kalo kurang gula jg ga bagus jg toh

    Saya cuma berkaca pada kakek saya dulu, makan & minun ya biasa aja nyaris ga ada pantangan, tp beliau aktif bergerak, ya ke sawah, ya ke sungai (itu sih demi keinginan cucunya ini yg pengen makan remis hehehe)

    Ya gitu deh, intinya imbang aja, mungkin, mbuh wong saya bukan ahli gizi 😀

    1. Yes mas, kalau mau seperti kakek nenek dulu yang ga ada pantangan, kita juga harus ikuti lifestyle-nya yang aktif bergerak: ke sawah, sungai, lebih sering berdiri ketimbang duduk. Lha gaya hidup orang modern sekarang lebih banyak diam, duduk di kantor dari pagi sampai sore. Mau pesan makanan ada OB. Pergi pulang naik kendaraan pribadi, kalau pakai sopir langsung turun di lobi. Kalau naik kendaraan umum malas jalan kaki ke halte, ada gojek. Sangat tidak aktif. Padahal makanan yang masuk selain kaya kalori/gula juga lebih terolah dari jaman dulu. Kakek nenek dulu makan lalapan daun-daunan, sekarang kita makan sushi, pizza, donat, dll.

      Beda jaman, beda tantangan :mrgreen:

      1. Nganu mas, saya jarang bangeet makan pizza, sdh lama ga bikin donat, dan belum pernah ke sushi tei #dibahas hihihi

        Saya jd kagum jg jadinya dengan temen saya yg kerja di salah satu bank di Jogja ini, ngantor sering pake sepeda, juga satu temen yg kerja di ibukota, sering naik sepeda lipatnya PP. salut buat mereka.

        Saya jg mendadak inget kantor saya dulu, di lantai 3, naik turun cuma via tangga. Akibatnya satu kantor napasnya jd terlatih semua huehehe

  3. Saya sih masih doyan manis, Mas… Tapi kalau sudah mentok di takaran tertentu kayaknya badan saya punya sinyal sendiri. Jadi ya gitu. Hahaha. Memang ada makanan-makanan yang nggak ketelan karena “Yampun apaan neh manis banget????”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *