Lebih Mudah Memilih Anies Daripada Ahok

Bagi saya, memutuskan untuk tetap mendukung dan memilih Ahok adalah pilihan yang berisiko. Risiko menjadi orang munafik dan masuk neraka seperti yang dikatakan pesan-pesan yang setiap hari dikirim melalui WA group, yang diceramahkan setiap Jumat dari khatib shalat Jumat. Menjadi pendukung Ahok semakin membuat saya merasa ada di barisan yang berseberangan dengan teman-teman yang sedang semangat bertransformasi.

Menjadi Ahokers juga berisiko ke karier saya. Mungkin orang jadi tidak mengajak bekerja sama untuk suatu proyek baru. Karena saya berseberangan. Karena saya mendukung orang yang mereka benci. Si penista agama. Tapi ya biarlah. Rezeki sudah ada yang mengatur. Segalanya adalah Dia, Allah SWT.

Akan lebih mudah bagi saya memilih Anies Baswedan ketimbang Basuki T Purnama. Lebih aman. Saya bebas dari segala macam risiko di atas. Saya aman tenteram menjadi bagian arus mayoritas yang menafsirkan kata auliya pada Al-Maidah 51 berarti pemimpin. Saya tidak perlu terpapar virus liberalisme akut.

Mengapa saya kekeuh dan mengambil risiko itu?

Pertama-tama, saya mengambil pendapat yang menafsirkan kata auliya di Al-Maidah 51 bukan sebagai pemimpin dan sifatnya kontekstual darurat perang. Saya tidak setuju ayat ini digunakan sebagai alat politik seperti Pilkada. Dan saya juga heran kenapa tafsir kontekstual ini tidak disosialisasikan sebagai tafsir alternatif secara adil, padahal jumlah referensinya cukup banyak. Seharusnya jika mau adil, ustadz-ustadz itu memaparkan semua pendapat, lalu dia mengambil salah satu pendapat yang ia anggap paling kuat. Setelah itu diserahkan ke masing-masing mau mengikuti yang mana.

Selain itu, jika saya mengambil pendapat yang menafsirkan ayat ini secara tekstual, saya akan menghadapi kontradiksi. Saya bekerja di lingkungan yang majemuk dengan banyak bos-bos non muslim. Jika mau konsisten, saya harus resign dan mencari perusahaan yang pemimpinnya seiman. Atau jika tidak mau resign, saya harus menggunakan banyak alasan dan pembenaran bahwa pemimpin di kantor berbeda dengan memilih pejabat publik.

Kedua, saya meyakini Pak Ahok tidak menista agama. Beliau memang melakukan kesalahan, tapi beliau juga sudah meminta maaf. Berkali-kali. Adab sebagai muslim ya memaafkan. Menjadi aneh kalau orang Islam masih banyak yang marah dan tersinggung sampai hari ini. Kesannya arogan sekali sebagai umat mayoritas. Andai saja tidak dalam suasana Pilkada, apakah kemarahan umat Islam akan sebesar ini? Jika tidak ada video editan Buni Yani yang viral, apakah kasusnya akan jadi sebesar ini? Dan seandainya tidak ada tujuh koma delapan juta orang berdemo dalam aksi 212, apakah beliau akan jadi tersangka dan terdakwa seperti hari ini? Menurut saya tidak. Jika menurut Anda iya, ya biarlah proses pengadilan yang memutuskan.

Ketiga adalah soal kinerja.

Saya mulai tinggal dan bekerja di Jakarta tahun 2007 dan menjadi warga DKI tahun 2014. Saya mengalami masa gubernur Fauzi Bowo secara penuh dari awal sampai akhir. Saya melihat Jakarta sama seperti kota-kota lain. Biasa saja. Tidak tampak pembangunan infrastruktur baru, tidak terlihat ada pelaksanaan program yang sistematis untuk mengatasi macet dan banjir. Pembangunan infrastruktur seingat saya hanya jalan layang non tol Antasari – Blok M dan Kasablanka – Tanah Abang. Itu pun mangkrak dan lama sekali. Pembangunan MRT hanya muncul di baliho menjelang Pilkada 2012. Banjir setiap tahun. Bus-bus Transjakarta makin bobrok dan waktu tunggu lama sekali. Warga Jakarta mencari jalannya sendiri-sendiri untuk beradaptasi di kota metropolitan. Ibukota sedemikian sakitnya.

Kemudian datang era gubernur Jokowi dan dilanjutkan gubernur Basuki. Siapapun yang bekerja setiap hari di Jakarta saya rasa kalau mau jujur akan mengakui bahwa Jakarta telah banyak berubah. Sangat banyak. Saya sebut yang terlihat oleh saya saja ya. Bus-bus Transjakarta berganti baru dan jumlahnya banyak sekali. Bus-bus Mercy dan Scania dengan karoseri Laksana. Tidak ada lagi bus-bus Cina. Infrastruktur dikebut tanpa peduli makian orang-orang karena jalanan semakin macet. Lihat macetnya Lebak Bulus – Fatmawati – Sudirman karena pembangunan MRT. Seakan tidak peduli dengan kondisi itu, jalur Tendean hingga Cileduk dibangun jalan layang khusus busway. Bersamaan dengan itu, flyover Kuningan dibangun dalam waktu tidak sampai setahun. Baru sebulan dua bulan menikmati lancarnya jalan, proyek baru sedang dimulai: underpass Kuningan – Mampang, di lokasi yang sama tempat flyover baru ini, dan di tempat dibangunnya MRT dimulai pembangunan simpang susun Semanggi.

Tentang penanganan banjir, ada hal yang berkesan bagi saya. Sejak saya pindah ke Jagakarsa, ada satu jalan di M. Kahfi 1 yang selalu tergenang parah ketika hujan karena tidak ada saluran air. Setiap pagi macet parah meskipun hujan sudah selesai. Dan kondisi ini seolah-olah tidak ada yang memperhatikan. Tidak ada pegawai kelurahan atau siapapun yang peduli. Kemudian waktu itu gubernur melakukan persiapan banjir besar-besaran dengan mengeruk semua selokan. Ada yang bilang gubernur Ahok mengeruk selokan at all cost. Selain itu saluran-saluran air baru dibuat termasuk yang di jalan M. Kahfi 1 ini. Sekarang daerah itu bebas genangan meskipun hujannya sangat deras.

Saya hanya menyebutkan yang berkesan buat saya saja. Sisanya masih banyak disebutkan di koran-koran dan para buzzer Ahok.

Tentang kontroversi Sumber Waras dan Reklamasi dan klaim bersih dari korupsi, saya punya keyakinan sederhana. Pak Ahok telah membuat banyak musuh. Terlalu banyak. Jika dia tidak bersih, dia sudah kena kasus dari dulu, sekuat apapun kekuatan di belakangnya. Karena musuh-musuhnya juga tidak kalah kuat. Tapi toh dia lolos di Sumber Waras dan Reklamasi. Dia akhirnya kena tembak tepat di titik lemahnya: agama.

Pak Ahok layak diberi kesempatan untuk menyelesaikan program-program yang sekarang telah berjalan. Pekerjaan memang belum selesai. Jakarta masih banjir dan masih macet. Tidak benar jika Jakarta sudah bebas banjir dan macet. Tapi usaha perbaikan itu nyata dan mulai terlihat hasilnya.

Karena tiga alasan itu, saya memutuskan untuk mengambil risiko mendukung beliau. Jauh lebih mudah dan lebih aman untuk memilih Pak Anies. Tapi saya akan membohongi hati nurani saya jika saya melakukannya. Saya merasa seperti seorang oportunis yang cari aman.

Tapi toh saya sudah pesimis kalau beliau akan bisa terpilih lagi. Hitungan matematisnya meskipun putaran 1 unggul tipis, lebih banyak kemungkinan pemilih nomor satu beralih ke nomor tiga daripada ke nomor dua. Selain itu, tekanan isu agama ini sudah terlalu masif. Saya yang biasanya cuek sempat termenung sedih ketika saya sudah dicap menjadi orang munafik. Semoga Allah menjauhkan sifat itu!

Saya juga melihat sepertinya timses nomor dua slowing down, tidak seperti nomor tiga yang makin gencar berkampanye. Partai-partai mungkin setengah hati saja mendukung karena tahu tidak akan ada balas budi dan mungkin tidak akan ada bagi-bagi proyek. Momentum ada di paslon nomor 3. Saya sudah ikhlas kalau Pak Ahok tidak terpilih kembali. Buat saya, warga Jakarta don’t deserve him. Mudah-mudahan Pak Anies bisa melanjutkan dengan baik (meskipun dalam bayangan saya Jakarta akan lebih mirip Jawa Barat di bawah kepemimpinan Pak Anies). Jika pun nanti Pak Anies lebih buruk, paling tidak saya sudah memilih yang menurut saya benar.

Artikel ini akan menjadi postingan saya terakhir terkait Pilkada DKI.

#TetapAhok