Tentang Kartu Kredit

Bulan ini salah satu tagihan cicilan kartu kredit saya lunas. Biasa, sebagai kelas menengah ngehe pada umumnya, punya gadget mutakhir namun dibiayai dari cicilan 0%. Rasanya seperti bisa bernafas lega sekali. Kebetulan juga kartu kredit saya expired dan sampai sekarang saya belum aktifkan lagi kartu penggantinya. Biar bulan depan tidak ada tagihan. Biar plong.

Tapi di jaman sekarang di saat kartu debit sudah sedemikian canggihnya untuk bertransaksi, masih perlukah punya kartu kredit?

Kartu kredit adalah kartu untuk berhutang. Penggunaannya akan sangat mempengaruhi gaya pengelolaan finansial masing-masing orang. Berhutang adalah menarik potensi uang di masa depan untuk membiayai kebutuhan di masa sekarang. Misalnya saya ingin beli handphone seharga 5 juta. Agar punya uang segitu, saya harus menabung menyisihkan uang 500.000 setiap bulan. Saya baru bisa beli handphone itu sekitar setahun dari sekarang.

Dengan kartu kredit saya bisa menarik eksekusi pembelian itu sekarang. Saya bisa punya handphone baru sekarang juga. Setahun berikutnya hal yang dilakukan sama: menyisihkan uang. Bedanya, yang ini membayar cicilan.

Karena yang kita tarik adalah uang bank, tentu itu tidak gratis. Ada biayanya. Biaya itu disebut bunga. Kartu kredit adalah salah satu jenis pinjaman yang paling tinggi bunganya karena tanpa jaminan dan tanpa permintaan persetujuan dulu. Setahun bisa mencapai 35%. Ini berarti mengambil sejuta, kita harus bayar bunga 350.000. Lebih sadis lagi bunganya kalau kita tarik tunai. Ini adalah hal yang paling mengerikan dari kartu kredit. Sesuatu yang bisa mengubah hidup kita dari yang aman tenteram damai sentosa menjadi tidak bahagia karena dikejar-kejar hantu kartu kredit.

Cicilan 0% cukup aman karena tidak ada bunga. Beli handphone dengan 0% hampir mirip seperti menabung. Asal disiplin membayar cicilannya sebelum jatuh tempo agar tidak kena bunga penalty. Ini yang sering dimanfaatkan oleh para kelas menengah yang tak pernah ketinggalan punya gadget baru yang paling canggih.

Cicilan 0% itu padahal ilusi supaya orang makin konsumtif. Makin sulit untuk menentukan mana kebutuhan dan keinginan. Sekarang mungkin belum ada kebutuhan yang mendesak sehingga kita bisa untuk memenuhi keinginan. Padahal kita tidak tahu di masa depan kebutuhan yang mendesak itu bisa muncul. Pada waktu kebutuhan itu muncul, uangnya sudah tidak dapat dipakai lagi. Kalau kita menabung, kita bisa memanfaatkan uang tabungan handphone tadi untuk memenuhi kebutuhan. Dengan menarik cicilan, uang itu tidak bisa dipakai. Ujung-ujungnya, kita harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak itu. Dan gaya hidup tidak sehat pun dimulai. Kita akan hidup bulan ke bulan dari hutang, membiayai kebutuhan dengan hutang, dan gaji pun serasa mampir sebentar karena habis untuk bayar hutang. Untuk memenuhi kebutuhan bulan depan, ya hutang lagi. Hidup yang damai telah berubah.

Dulu kartu kredit menarik karena banyak promo dan fasilitas lounge gratis di bandara. Sekarang apakah masih relevan? Sekarang promo-promo ada di web-web online. Saya juga sudah sangat jarang bepergian dan dinas lapangan menggunakan pesawat. Dulu kartu kredit dipakai untuk belanja online seperti pembelian tiket pesawat. Sekarang kartu debit sudah bisa melakukannya. Hal yang tersisa tinggal kengerian atas keamanannya. Saya ngeri membayangkan limit kartu kredit sedemikian besar, lalu jika kartu itu jatuh dan saya terlambat menyadari untuk memblokirnya. Teknologi PIN yang dijanjikan kartu kredit juga sepertinya gagal terlaksana. Toko-toko selalu menawarkan pilihan tanda tangan untuk autorisasi kartu kredit.

Hal itu yang membuat saya tak kunjung mengaktifkan kartu kredit pengganti. Kemungkinan besar akan saya tutup. Kartu kredit satunya yang masih hidup akan saya pertahankan karena limitnya tidak terlalu besar. Jaga-jaga kalau ada hal-hal yang masih belum bisa dilakukan kartu debit — seperti beli account Apple Developer misalnya.

3 thoughts

  1. Betul, Mas, tarik tunai itu gila-gilaan bunganya. Dan soal pin itu benar juga, padahal saya sudah hapalin pin cc untuk transaksi ternyata tetap saja pakai ttd untuk autorisasi. Limit juga terus dinaikkan pihak bank setiap ganti kartu. Kan godaan besar :)))

    1. Kadang-kadang saya berpikir bisa ga sih minta bank buat turunin limit kartu kredit. Tapi memang sepertinya kartu kredit tidak semewah dan sepenting dulu lagi sekarang. :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *