Rahasia Turun Berat Badan

Beberapa teman yang menyadari bahwa berat badan saya turun bertanya, apa rahasianya. Hampir selalu begitu. Saya bilang tidak ada rahasia. Semuanya sudah jadi pengetahuan yang umum. Semua orang sebenarnya sudah tahu jawabannya: yaitu diet dan olahraga. Masalahnya bukan itu yang dicari, tapi apakah ada rahasia turun berat badan tanpa diet dan olahraga. Apakah bisa turun berat badan tetapi tetap bisa wisata kuliner dengan nikmat dan bersantai-santai mager (males bergerak).

Meskipun banyak metode diet yang mengklaim bisa turun berat badan tanpa diet dan olahraga, saya dengan realistis harus menjawab: tidak ada. There’s no elevator to success, you have to take that damn stair! 

Sebenarnya saya tidak ingin kurus, saya ingin sehat. Masalahnya adalah supaya sehat, saya harus kurus. Perdjoeangan meninggalkan BMI Obesitas ini sama sekali tidak mudah. Sekarang aja masih di BMI Obesitas hehehe. Turun lima kilogram, buat saya adalah turun 50 ons. Sama saja dong. Buat saya tidak, karena turun satu ons itu sebuah achievement tersendiri, hehehe…

Rumus naik turun berat badan sebenarnya sederhana. Jika energi yang masuk lewat makanan lebih banyak daripada yang dibutuhkan oleh tubuh, berat badan kita akan naik. Sisa energi akan disimpan sebagai cadangan dalam bentuk lemak. Jika energi yang masuk lebih sedikit, berat badan kita akan turun. Tubuh akan menggunakan cadangan energi. Bisa dari lemak, bisa dari otot. Jadi ada dua variabel yang bisa dimainkan: energi yang masuk dalam bentuk makanan dan kebutuhan energi yang diperlukan tubuh. Makanya kita tiba pada solusi diet dan olahraga.

Ada banyak metode diet dan sepertinya cocok-cocokan. Saya ternyata cocok dengan diet seimbang. Saya tidak perlu skip makan pagi (OCD yang populer itu skip sarapan). Tantangan diet seimbang ini adalah porsinya yang sedikit. Gampang lapar. Dokter gizi sudah mengantisipasinya dengan menyediakan jadwal snacking di jam 10 pagi dan 3 sore. Tapi ya gitu deh, jangan harap snack-nya adalah batagor atau mie ayam. Buah melon dua potong kecil. Mana kenyang hehehe…

Tapi memang pada prinsipnya begitu. Diet adalah mengurangi asupan kalori masuk ke tubuh. Kita harus perhatian berapa jumlah kalori makanan yang masuk. Ribet? Tak ada jalan lain. Ini masih macronutrient belum urusan micronutrient kayak jumlah protein, lemak, kolesterol, trans fat, dll. Karena itu saya memilih nasi merah daripada nasi putih. Nasi merah lebih mengenyangkan daripada nasi putih sehingga porsinya bisa dikurangi. Saya punya menu diet rendah kalori yang diberikan dokter gizi, kalau berminat, japri email yah.

Mengapa Harus Olahraga?

Nah, sependek pengalaman saya, saya menyadari bahwa tubuh manusia ini luar biasa cepat beradaptasi. Ketika tubuh mengalami penurunan asupan kalori secara drastis, pada awalnya ia memang mengambil cadangan energi. Tak lama setelah itu, tubuh beradaptasi berubah ke safe mode dengan menurunkan metabolisme dan kebutuhan energi harian. Lama-lama, mengurangi asupan kalori tidak efektif lagi. Ada satu titik dimana berat badan sudah mentok tidak mau turun dan gampang sekali naiknya. Efek yoyo. Mau menurunkan jumlah makanan sudah tidak mungkin karena memang sudah sedikit masuknya.

Saya menyadari ini waktu saya puasa Senin-Kamis. Pikir saya sambil menyelam minum air. Dapat pahala puasa iya, dapat diet juga iya. Awalnya, setelah habis puasa, esoknya saya bisa turun 300-500 gram. Lama-lama ternyata tidak bisa. Setelah selesai puasa, berat badan saya tetap. Atau turun 300 gram, besoknya sudah kembali lagi ke posisi semula. Tubuh saya sudah tahu kapan dia harus menurunkan metabolisme, yaitu setiap hari Senin dan Kamis.

Olahraga membuat tingkat metabolisme tetap normal. Dengan asupan kalori yang rendah, tubuh akhirnya dipaksa menggunakan cadangan energinya. Dia akan mengambil dari lemak dan otot. Akhirnya berat badan pun turun. Olahraga yang disarankan juga yang bersifat cardio seperti lari dan renang. Olahraga permainan seperti badminton, futsal, basket, sepak bola katanya tidak terlalu efektif untuk turun berat badan. Apalagi olahraga catur hehe. Saya disarankan dokter untuk berjalan kaki. Jalan kaki? Jangan remehkan jalan kaki. Kalau dipikir-pikir, ia olahraga cardio juga kan? Hanya saja lebih santai dan lebih sedikit makan kalori. Jika olahraga terlalu berat, hidup lebih aktif dengan berjalan kaki adalah alternatif yang menarik.

Jadi begitulah, mari mulai hidup lebih sehat dan lebih aktif.
Nuwun.

10 thoughts

    1. Demi masa depan bangsa dan negara ini, sesuai dengan amanat pendiri republik ini untuk melunasi janji kemerdekaan wkwkwk…

    1. Hahaha, coba dicek makannya, dalam sehari coba dicek jumlah total kalori yang masuk berapa, terus dibandingin sama aktivitas. Pencatat kalori bisa pakai aplikasi My Fitness Pal, sedangkan perkiraan jumlah kalori yang dibakar bisa pakai Google Fit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *