Berusaha Hidup Lebih Sehat dan Lebih Aktif

Ini adalah lanjutan posting “Berdamai dengan Nasi Merah“. Ini adalah sharing saya dalam usaha menyelamatkan diri dari ancaman diabetes dan stroke dan berupaya agar bisa hidup lebih sehat. Saya baru mulai dan masih jauh dari kata berhasil. Saya memutuskan untuk menuliskannya sekarang daripada nanti ketika sudah berhasil. Hasil penting, tapi saya menyukai proses. Apalagi, perjalanan untuk hidup sehat itu adalah perjalanan yang terus menerus. Saya jadikan ini sebagai pengingat dan motivasi diri sendiri, syukur-syukur jika bisa menginspirasi sidang pembaca sekalian.

Buat saya, diabetes melitus alias penyakit kencing manis bukanlah sesuatu yang bahan bercandaan ngeri-ngeri sedap ketika makan enak, seperti candaan para perokok yang berolok-olok risiko penyakit akibat merokok. Buat saya, ancaman itu sudah nyata di depan mata waktu hasil MCU saya menunjukkan komponen trigliserid (salah satu komponen kolesterol) yang sangat jauh di atas normal.

Dokter saya bilang, saya sudah ada di bibir jurang. Dia berkata dia  lebih suka melihat hasil MCU dengan kolesterol LDL tinggi daripada melihat hasil trigliserid tinggi. Ancaman jantung koroner dan stroke mungkin baru akan terjadi 10 tahun lagi, katanya. Masih ada waktu. Tapi jika seseorang telah terkena diabetes, dia harus minum obat sepanjang sisa hidupnya.

Akar masalahnya saya identifikasi adalah berat bedan yang sudah masuk ke Obesitas Level 2 (BMI > 30). Sedangkan akar masalah dari berat badan adalah pola makan dan pola hidup saya. Salah satu hobi saya adalah makan. Semua makanan itu hanya ada dua rasa: enak dan enak sekali. Saya seorang karyawan kantoran yang kerjanya duduk sepanjang hari. Malas berolahraga.

Hidup Lebih Sehat

Dari situ saya memulai perjalanan. Usaha terdekat saya adalah berusaha ke berat badan Overweight dulu, jika menuju ke level Normal masih terlalu jauh. Hidup lebih sehat, artinya lebih aware dengan makanan yang saya makan. Berapa jumlah kalorinya. Apa nutrisinya. Contohnya, maksimal saya dalam sehari tidak boleh lebih dari 1500 kalori. Ini diet yang santai, tapi 1500 kalori artinya bye-bye sama camilan dan gorengan dan kue-kue di antara tiga makan utama pagi siang sore.

Kemudian apa nutrisi di dalam makanan itu. Saya jadi rajin melihat Nutritions Fact Table yang ada di belakang bungkus makanan. Jelas saya harus mengucapkan selamat tinggal untuk Indomie, Samyang, dkk. Enam ratus kalori hanya untuk mie instan? Lagipula, kata dokter saya juga, mie instan akan menaikkan trigliserid banyak sekali. Lalu santan. Terus gorengan (trans fat).  Saya juga baru tahu kalau nasi goreng juga tidak bagus. Ya iyalah, sudah digoreng, karbo lagi. Karbohidrat tidak boleh digoreng katanya.

Apakah berubah itu mudah? Sama sekali tidak. Bagaimana seorang penghobi makan harus berubah jadi pilih-pilih makanan begini? Saya baru saja berhasil berdamai dengan nasi merah. Saya mengibarkan bendera putih kepada Oatmeals. Saya belum bisa meninggalkan ayam goreng dan tempe goreng.

Belum lagi dari faktor eksternal. Saya lebih banyak diketawain ketika bicara mengenai kalori nutrisi bla bla bla. Maklum sih, mungkin karena saya juga belum terlihat banyak berubah. Masih obesitas begini sok sok an ngomong kayak nutritionist. Waktu meeting, kami diberi minuman teh botol (yang bentuknya kotak pakai karton bergambar botol). Saya bilang bahwa kadar gula dalam teh botol ini adalah 24 gram. Padahal kebutuhan gula sehari kita hanya sekitar 37 gram. Artinya minum teh botol dua kali sudah lewat kita. Dan semua orang di ruangan meeting minum teh botol, kecuali saya.

Hidup Lebih Aktif

Berikutnya adalah berusaha untuk hidup lebih aktif bergerak. Masalah klasik orang kantoran adalah tak punya waktu. Apalagi Jakarta yang super macet begini. Bagaimana menyiasati supaya tetap bisa olahraga dan aktif dengan waktu sempit ini?

Sebelum menikah, saya hanya pernah bertahan tiga bulan saja menjadi member gym. Seminggu dua kali. Selebihnya saya biarkan hangus sia-sia itu member setahun. Jadi percum tak bergun lah jadi member gym. Sudah sangat mahal (coba tengok berapa ratus ribu per bulan buat jadi member Fitness First), waktunya susah.

Terinspirasi dari program The New Me, saya melanjutkan program itu sendiri. Saya beli Mi Band 1s sebagai pedometer (alat penghitung langkah). Target 10 ribu langkah setiap hari saya revisi jadi 8000 yang lebih realistis. Pagi hari, biasanya kami para karyawan turun ke bawah untuk sarapan di warung-warung tenda kaki lima. Durasinya antara 30 menit sampai sejam tergantung topik pembicaraan. Saya pakai waktu tersebut buat berjalan kaki keliling sekitar kantor. Saya sarapan bawa bekal dari rumah dan saya makan di meja. Saya berharap waktu saya lebih berguna daripada menghabiskan 45 menit untuk ngobrol. Sesi pagi ini biasanya dapat sekitar 1,5 km atau sekitar 3000 langkah.

Waktu istirahat siang saya pakai untuk berjalan lagi. Entah buat ke masjid atau makan siang. Saya mengambil jalan berputar-putar untuk menambah langkah. Sesi siang ini biasanya dapat 2000 langkah. Masih ada 3000 langkah, biasanya didapat dari sore hari sepulang kantor kalau saya diajak lari-larian sama anak saya dan total langkah biasa yang dilakukan sehari-hari. Jika saya tidak membuat sesi khusus untuk berjalan kaki, saya cuma bisa mengumpulkan maksimal 2000 langkah saja sehari.

Berat? Tentu saja. Berjalan kaki bukan bagian budaya orang Indonesia. Lihat saja kondisi trotoar. Kalau tidak penuh lubang ya dibajak oleh pedagang kaki lima. Turun dari halte bis, kita biasa naik ojek untuk mengantarkan ke depan kantor. Saking malasnya jalan kaki sampai tukang ojeknya memasang tarif tinggi untuk sekedar jalan 700 meter. Dan mereka laris manis.

Belum soal panas dan keringat. Saya sempat kepikiran untuk membawa payung kalau lagi sesi jalan siang. Tapi kayaknya aneh juga dilihat ada laki-laki siang-siang terik berjalan pakai payung. Bisa dicurigai termasuk kaum “melambai dan berjari patah” hehehe…

Sampai Sekarang…

Dari obesitas level 2 itu, saya sudah turun 12 kilogram. Saya sekarang mentok di obesitas level 1. Tiga kilo lagi menuju batas overweight. Tapi saya menemui plateau dan berbulan-bulan bolak-balik naik turun. Ini istilah ketika berat badan mentok dan tidak mau turun lagi. Turunnya susah, tapi naiknya gampang. Tinggal makan Nasi Padang atau steak daging ala Holycow selesai sudah usaha turun mati-matian itu. Tapi setidaknya, saya senang mindset saya mulai berubah. Saya senang ketika menyadari saya jauh lebih aware dengan makanan yang saya makan. Berapa kalorinya, apa nutrisinya. Dan perjalanan masih jauh dari selesai.

Semangat!

8 thoughts

  1. usahanya keren!
    smoga makin sehat dan stabil badannya mas, saya sih rasanya sudah lama musuhan sama mie goreng, lagi ga kenal sama nasi goreng, bersahabat dengan nasi merah walau tak sering-sering, dan walau ya kmaren waktu ke bogor nyaris seminggu kembali bersahabat dengan gorengan sih ehehehe

    1. ohiya skarang saya pun jd penggemar makanan berbahan dedaunan, yang dulu saya tak suka, juga penggemar perasan jeruk nipis, walau seminggu ini terabaikan, kadang emang perlu ditegur sakit dulu baru sadar bahwa sehat itu penting sih ya

  2. Mas Galih, tetap semangat! Baca ini aku berasa tertohok. Belakangan ini aku rada berantakan makannya. Karena aku pengen menggemukkan badan. Tiga bulan beratku cuma naik 3 kg. Aku bingung harus makan apa lagi. 🙁

    Pas makan itu juga suka merasa bersalah sih. Huft. Untung diingatkan Mas Galih lewat tulisan ini. Aku tobat lagi deh.

  3. Menarik membaca usaha kerasnya, mas.

    Saya jadi mikir, ada nggak ya suatu penemuan untuk mentransfer kelebihan berat badan seseorang ke badan orang lain? Lha saya kebalikan sampeyan jare… Naiknya susah, turunnya cuepet. Dipakai perjalanan jauh naik kereta api Jakarta – Surabaya waktu mudik aja, celana udah pada longgar. Soalnya saya juga males ngemil sih kalo di perjalanan 😀

  4. Istirahat siang, ikut temen2 makan siang nasi padang dkt kantor, habis itu pulangnya melipir ke tukang piscok lumer dan mbungkus 3 biji. Habis nelen semua piscoknya sendirian, terus iseng browsing buka blog ini, dengan postingan yang judul dan isinya begini..
    Disitu kadang saya merasa sedih.. wkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *