2016: Perang Informasi, Fitnah Ada di Mana-Mana

Sepuluh tahun yang lalu hingga mungkin sekitar 2012, dunia media sosial masih enak buat dinikmati. Setiap pagi kebiasaan saya blogwalking dari satu blog ke blog lain, melahap informasi bergizi untuk menambah pengetahuan. Rasa-rasanya, kadar informasi hoax masih sedikit dan mudah sekali menentukan bahwa ini adalah hoax.

Sekarang, di saat bandwidth internet sudah jauh lebih cepat, akses internet telah menjangkau masyarakat awam, saya kok melihat paradoks. Kualitas informasi semakin menurun di saat kuantitasnya meningkat drastis. Informasi hoax semakin banyak dan polanya semakin tidak bisa dideteksi. Berita bohong semakin tidak bisa dibedakan dengan berita yang valid.

Tengok saja Facebook. Bandingkan Facebook waktu awal-awal menggantikan Friendster dengan Facebook sekarang. Rasanya dulu Facebook adalah media merekatkan silaturahmi yang terhalang oleh jarak dan waktu. Kita tetap bisa berinteraksi dengan kawan-kawan, saling like, saling follow, saling berkirim komentar. Facebook hari ini, begitu banyak orang bertengkar karena berbeda pendapat, begitu banyak kebencian membanjir di timeline.

Twitter tak jauh beda. Dulu, Twitter buat saya adalah media pertemanan. Banyak teman-teman yang saya kenal lewat blog dan belum pernah berjumpa di dunia nyata, saling silaturahmi dengan mention-mention-an di Twitter. Saking akrabnya sehingga waktu ketemu di dunia nyata, kita selayaknya sahabat yang lama sekali tidak bertemu. Padahal ketemunya ya masih sekali itu. Sekarang, timeline Twitter saya isinya twitwar setiap hari. Timeline saya hanya berisi para selebtwit dan buzzer-buzzer profesional yang dibayar untuk ngetwit. Kemana kawan-kawan saya dulu? Sepertinya sudah meninggalkan media ini. Atau jika tidak, menjadi silent reader tidak pernah ngetwit. Saya pun hanya sekali-kali ngetwit.

Tapi yang paling membuat saya prihatin ((( saya prihatin ))) — adalah WhatsApp Group. Begitu mudah sebuah hoax atau yang belum tentu benar dishare oleh seseorang di WA Group dengan embel-embel “dari group sebelah”. Kebencian begitu mudah tersebar. Memaki-maki presiden adalah hal yang biasa. Belum lagi jika menyangkut agama. Mengapa orang seperti kehilangan daya kritisnya ketika menyangkut agama? Jika ustadz-nya sudah berkata begitu, hal itu akan diterima sebagai kebenaran dan diikuti tanpa ada keinginan untuk cross check terlebih dahulu. Sami’na wa atho’na. Cenderung taklid. Ketika sebuah mayoritas anggota group memiliki preferensi pendapat tertentu, siap-siaplah dianggap “anti” ketika mencoba meluruskan dan mengajak untuk tabayun. Dasar jokower, ahoker, liberal, dan segudang label lainnya.

Dan mencoba untuk berhati-hati dalam menanggapi suatu berita itu capek lho. Misalnya soal Aleppo. Terlalu banyak informasi yang beredar hingga saya tidak tahu siapa yang sebenarnya bersalah dalam tragedi ini. Perang tidak hanya terjadi di garis depan adu senjata, tapi perang informasi juga melanda seluruh dunia. Berita dilawan berita. Bagi yang meyakini ini adalah konflik sunni-syiah, umat sunni di sini langsung mengutuk dan membenci rezim Bashar Assad. Shalat Jumat saya minggu lalu ada qunut nazilah yang diarahkan ke Bashar Assad. Saya tidak mengerti bahasa Arab tapi sepotong-sepotong saya merasa doanya ditujukan untuk mengutuk Bashar Assad.

Entahlah. Saya merindukan dunia maya seperti dulu yang aman tenteram dan damai. Tidak seperti sekarang yang chaos. Posting foto-foto lagi aja kali ya di blog ini, upload ke flickr, kasih caption, seperti dulu, hehehe…

6 thoughts

  1. Hehehe.. sama dengan saya. Saya malah mulai lagi ngeblog karena udah jenuh dengan sosmed yg gila dan beringas. Mending ga ngikutin pada gula darah naik Hehehe..

    Salam kenal mas Galih 🙂

  2. Jaman banjir info, banyak orang asal telan padahal rata-rata isinya cuma ludah saja #hoek! hehe..

    Oya numpang tanya di sini, untuk post ‘makmu kiper’. Istilah itu di Surabaya hits tahun berapa ya? Kalau saya di Salatiga dulu hitsnya sekitar awal 80’an (kalau tak salah paruh kedua tahun 70’an juga sempat muncul, tapi tidak hits).

    PS: bagus-bagus kontennya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *