Berdamai dengan Nasi Merah

Ternyata butuh setahun lebih bagi saya untuk bisa berdamai dengan nasi merah. Waktu awal-awal, saya anti dengan nasi merah. Nasi apaan, sudah rasanya hambar, pera (tidak punel) lagi. Saya sempat berseloroh bahwa nasi merah diciptakan supaya kita bisa mensyukuri nikmatnya nasi putih. Nasih putih itu lembut, punel, dan saya sadari belakangan: manis. Dengan porsi makan rata-rata orang Indonesia, tidak berlebihan jika ada yang bilang orang Indonesia terancam diabetes karena kebanyakan makan nasi putih.

Saya agak terlambat sadar, tapi beruntungnya masih belum terlambat. Jumlah trigliserid — salah satu komponen kolesterol selain HDL dan LDL — saya yang jauh di atas normal membuat ancaman diabetes itu nyata. Saya diwajibkan diet dari yang manis-manis. Bagaimana bisa saya yang hobinya makan ini harus diet? Intinya saya harus turun berat badan dari obesitas level I.

Jadilah saya mulai mengganti nasi putih ke nasi merah dengan porsi yang jauh berkurang. Enam sendok makan sudah cukup. Kalau makan malam tiga sendok makan nasi merah yang pera itu. Tapi kenyang. Tapi jika enam sendok itu adalah nasi putih, saya masih kelaparan. Ada pendapat yang bilang sebenarnya jumlah total kalori nasi merah tidak jauh beda dengan nasi putih, tapi faktor porsi jelas berpengaruh banyak.

Kemarin, waktu makan di A&W, saya agak merasa aneh dengan nasi putih. Berkebalikan dengan dulu, saya merasa aneh makan nasi merah. Saya sadar, saya telah berdamai dengan nasi merah. Atau nasi cokelat. Yang organik juga bisa. Pokoknya, makin organik dan makin pera, katanya makin sehat buat saya, wkwkwk…

Tantangan selanjutnya adalah gorengan. Gorengan adalah salah satu penyumbang kalori yang besar. Masalahnya, menu makanan Indonesia apa yang tidak digoreng? Tempe goreng, telur ceplok, ayam goreng, nasi goreng, bahkan camilan yang rasanya enak banget itu juga… digoreng. Minyaknya curah, entah sudah dipakai berapa kali penggorengan, dikatalisasi pakai plastik, makin gurih makin enak.

Saya tahu ini tidak akan mudah. Tapi jika saya bisa berdamai dengan nasi merah, saya yakin saya juga bisa mengurangi goreng-gorengan.

4 thoughts

Leave a Reply to Eko Suhariyadi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *