Sepuluh Tahun

Saya lupa kalau 1 Desember 2016 kemarin adalah tepat sepuluh tahun saya bekerja di Jakarta — kebetulan masih di kantor yang sama. Sejak fresh graduate sampai sekarang, saya tidak menyangka juga akan stay di industri yang IT bukan sebagai core business tapi menjadi support. Bayangan saya dulu saya akan bekerja di perusahaan-perusahaan teknologi seperti IBM, Microsoft, atau Oracle.

Oktober 2006 kalau tidak salah ingat saya resmi lulus dari pendidikan S1 di ITS setelah melalui sidang skripsi yang sangat berkesan buat saya. Dosen pembimbing saya, Pak Rully Soelaiman, sebenarnya sudah bilang kalau saya berminat, beliau bisa merekomendasikan saya ke Oracle Indonesia. Bodohnya saya tidak segera menyambut tawaran itu, hehehe.

Saya memang sudah punya rencana saya akan mencoba bekerja di ibu kota. Saya kurang menyukai hawa Surabaya yang panas dan lembab. Sebagai fresh graduate, saya juga mendengar kalau Jakarta menawarkan tingkat penghasilan yang jauh lebih baik. Karena faktor materi juga lah, saya agak kurang tertarik melamar menjadi dosen honorer, walaupun saya suka sekali mengajar. Saya belum menyadari kalau menjadi dosen berarti kemungkinan untuk sekolah di luar negeri terbuka luas. Saya juga belum mengerti konsep manajemen keuangan: bahwa jumlah pemasukan penting, tapi jauh lebih penting mengatur jumlah pengeluaran.

Waktu acara career day di Perpustakaan Pusat ITS, teman-teman saya melamar menjadi management trainee perusahaan-perusahaan besar, ada IBM, Telkomsel, ada juga Tech Mahindra dari India. Entah kenapa waktu itu saya kok masih malas mencari kerja. Saya sepertinya cukup nyaman bekerja magang di Pusat Komputer ITS sebagai sysadmin. Saya menunggu wisuda dulu baru akan melamar kerja. Teman-teman saya yang pada dasarnya jenius sudah digaet perusahaan-perusahaan besar itu.

Pengalaman mencari kerja saya dimulai dengan melamar menjadi programmer Ad-Ins. Itu adalah psikotest pertama saya. Ada dua fase: tes tulis dan tes wawancara. Saya tidak lolos ke tes wawancara. Saya tidak menyadari bahwa itu adalah awal perjuangan saya melalui kegagalan demi kegagalan psikotest hingga enam tahun kemudian. Pulang dari sana saya melamar ke beberapa software house di Jakarta. Dan diundang oleh salah satunya, saya lupa namanya.

Itu adalah pengalaman pertama saya wawancara di Jakarta. Saya diantarkan paman saya ke gedung Sona Topaz Tower di Sudirman. Sebelumnya saya diajak jalan-jalan ke kantor paman saya di Chevron di Sentra Senayan. Saya takjub melihat mewahnya kantor perusahaan minyak. Jauh lah dibanding kantor software house itu hehehe. Saya akhirnya memang tidak jadi bekerja di software house di Jakarta itu karena tidak cocok waktu negosiasi gaji. Saya juga tidak pernah berhasil menembus seleksi menjadi karyawan Chevron Indonesia :-D.

Pulang ke Surabaya, saya kembali ke meja saya di lantai 6 Perpustakaan Pusat ITS, kantor ITSnet (sekaligus “rumah saya” karena saya tidur-mandi-makan di situ). Saya membuka email ada email tawaran menjadi programmer kontrak di perusahaan di Jakarta. Tidak menunggu lama, saya kembali berangkat ke Jakarta. Test kemampuan Java dan SQL query. Saya langsung diwawancara dan negosiasi gaji. Dua minggu kemudian saya ditelepon bahwa saya diterima.

Hari ini, sepuluh tahun kemudian, ternyata saya masih duduk di sini. Qadarullah. Alhamdulillah.

8 thoughts

    1. Iya hehe tapi ada negatifnya juga, kelamaan di satu perusahaan bisa dianggap tidak punya keinginan untuk berkembang dan stuck di zona nyaman 😀 — Hal yang pasti ditanyakan pewawancara kalo saya nanti mau pindah ke tempat baru.

  1. Selamat atas rekor bertahan di ibukota mas, saya selalu berteori bahwa penghasilan yg tinggi saja yg mampu membuat kawan2 saya mampu bertahan hidup di ibukota yg yabegitulah hehehe smoga sukses terus mas!

    1. Sebagian iya tidak dapat dipungkiri, faktor penghasilan memang berpengaruh, tapi sebagian lagi saya berpikir kompetensi saya lebih dibutuhkan di Jakarta. Di sini perkembangan teknologi IT relatif lebih maju sehingga saya bisa menerapkan ilmu-ilmu yang saya dapat di Jakarta. Jika saya ada di Tulungagung misalnya, belum ada yang butuh teknologi IT sekompleks di sini, sehingga saya kurang bisa mengamalkan ilmu saya. Begitu kira-kira hehe…

    1. Iya mas, saya tidak mau berpolemik di forum komentar. Sekarang makin susah mengeluarkan uneg-uneg sensitif tanpa menimbulkan polemik. Saya memutuskan menulisnya di blog ini. Biarlah opini saya begitu adanya. 🙂

  2. Tipe sperti mas Galih ini yg di cari sebenarnya untuk kerja di pemerintahan.. Ga neko neko, namun loyal. Kalau masalah pendapatan sih relatif sifatnya.

    Dimanapun berkarya, tetap berikat hasil yg terbaik. Sukses mas Galih. 🙂

    1. Saya jadi ingat dulu saya pernah disarankan salah satu atasan saya untuk ikut mendaftar jadi PNS di kementerian kominfo. Salah satu kebodohan saya tidak mengikuti saran itu. Mungkin dulu karena masih muda, masih idealis, saya melihat jadi PNS kurang menantang dan terlalu santai. Mudah-mudahan lingkungan PNS sekarang sudah berubah tidak seperti anggapan saya dulu.

      Salam kenal juga mas Ari, sukses juga untuk panjenengan. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *