Festival Gagasan Makmu Kiper

Pada saat muncul foto selfie para calon gubernur DKI dan kemudian pernyataan terkenal dari Pak Anies Baswedan bahwa Pilkada DKI kali ini adalah festival gagasan, saya senang sekali. Siapapun yang akan terpilih, DKI akan memiliki gubernur terbaik yang dipilih dari ide dan gagasan jenius. Saya bisa membanding-bandingkan visi, misi, dan program masing-masing calon, kemudian memilih mana yang terbaik dan yang paling mewakili harapan saya untuk masa depan DKI.

Melihat apa yang terjadi hari ini, saya cuma bisa bilang dengan jengkel dan kecewa: festival gagasan makmu kiper. Buat yang pernah tinggal di Surabaya tahu apa artinya makmu kiper itu.

Dari awal saya memiliki kecenderungan mendukung petahana, Pak Basuki T Purnama dengan pertimbangan sejak jaman Pak Jokowi, Jakarta telah berubah banyak sekali. Tapi banyak juga kekurangan Pak Ahok. Bagaimanapun juga beliau adalah politisi, jadi ekspektasi saya tidak terlalu tinggi, dengan segala plus minus pros cons, saya condong ke beliau.

Mengenai pemimpin kafir, saya juga cukup lama merenungkannya. Saya tidak ikut mengumpulkan KTP waktu rame-rame Teman Ahok dengan calon independennya. Meskipun saya ingin, tapi saya masih ragu-ragu dengan pertimbangan apakah agama saya membolehkannya. Tapi kemudian, banyak ulasan tafsir, dari NU, yang membolehkannya. Saya sendiri membuka tafsir Al-Lubab nya Prof. Quraish Shihab. Kado ulang tahun ke-31 dari istri saya. Saya membacanya sampai Al-Baqarah dan jilid lainnya masih terbungkus plastik. Agak ironis memang, gara-gara Ahok, saya membaca dengan detail penjelasan tafsir Al-Lubab pada bagian Surat Al-Maidah ayat 51. Saya memutuskan untuk mengikuti pendapat yang membolehkan dan bahwa ayat-ayat tersebut konteksnya digunakan pada masa perang.

Sampai di situ saya cukup mantap dengan pilihan saya, tapi masih tidak menutup diri terhadap program calon yang lain. Saya mungkin akan memilih Pak Anies jika tidak bisa memilih Pak Basuki karena programnya yang cukup mirip.

Sampai akhirnya meledaklah kasus pidato di Pulau Seribu. Debat kusir masalah sama nggak antara “pakai” dengan tidak “pakai”. Saya tentu saja tidak bisa objektif. Menurut saya Pak Basuki tidak menista Al-Qur’an. Tapi mengikuti debat linguistik ini saya jadi agak nganu. Orang-orang ini sering mengabaikan aturan di- dipisah atau di- disambung pada jadi ahli bahasa.

Kasus ini berkembang sampai akhirnya jadi aksi damai 411 dan 212. Saya terkesan. Jangan pernah meremehkan umat Islam. Silent majority telah tersinggung. Ada musuh bersama bernama Ahok si penista agama. Jika sebelumnya saling membid’ah kan satu sama lain, kali ini mari bersatu.

Karena saya berpendapat bahwa Pak Ahok tidak menista agama, saya tidak ikut. Saya memang telah kehilangan objektivitas, tapi saya berangkat dari pendapat bahwa beliau tidak menista agama. Kita umat Islam sering terjebak pada kulit, simbol-simbol. Kita bisa tersinggung jika orang non muslim bilang bahwa kita sedang dibodohi pakai ayat-ayat Qur’an. Tapi kita sering abai melihat walikota/gubernur muslim yang tertangkap KPK, yang membiarkan jalanan berlubang, yang membiarkan banjir tanpa ada rencana untuk mengatasinya. Saya jadi ingat kasus batik yang akan diklaim Malaysia. Bersatu padu kita melawan. Pada hari itu, semua karyawan di Jakarta kompak pakai batik. Setelah itu ya, balik lagi, abai lagi sama batik sampai nanti ada yang mengusik lagi.

Jadinya sekarang strategi adu massa dilawan dengan adu massa. Aksi damai 212 dilawan oleh aksi pawai budaya 412. Namanya saja yang budaya. Isinya orang-orang parpol unjuk kekuatan massa. Di Car Free Day lagi. Pak Brewok memaksa berorasi meskipun suaranya serak hampir habis. MetroTV meliput langsung. Maklum kalau TV ini sampai diusir-usir. Lha begitu kelakuannya. Saya rasa itu kontraproduktif dengan elektabilitas calon yang didukungnya.

Berdoa diberikan yang terbaik.

Itu yang bisa saya lakukan sekarang. Apapun hasilnya nanti, siapapun gubernur yang terpilih, saya yakin itu adalah yang terbaik yang dikaruniakan Allah kepada DKI. Saya memang sudah kadung madhep mantep akan memilih petahana, tapi saya tidak doakan minta petahana yang akan menang. Saya berdoa agar DKI dikaruniai jalan yang terbaik, gubernur yang amanah. Menurut saya yang terbaik itu petahana. Tapi Allah lah yang lebih tahu daripada makhluk-Nya. Allah yang lebih tahu yang terbaik untuk DKI Jakarta.

Saya bahkan tidak memaksa atau meminta  istri saya untuk memilih yang sama dengan pilihan saya. Jika ia punya pertimbangan sendiri, ya monggo. Ini urusan Pilkada doang aja. Lima tahunan. Saya mah woles. Kenapa orang-orang ini tidak bisa selow juga? Kalau ndak suka ya ndak usah dipilih to. Ndak usah mencoba mengimankan yang lain yang sudah punya pilihan sendiri. Apalagi mencela, menghina, menyesatkan, sampai mengkafir-kafirkan.