Jogging (halah) di RPTRA Ciganjur dan Taman Kiara Payung

Hari Minggu pagi adalah hari olahraga. Mumpung anak saya masih belum bangun, sehabis Subuhan saya ambil sepeda dan berkeliling. Tentu saja sudah tidak bisa seperti dulu, minggu pagi saya bisa bersepeda puluhan kilometer. Saya pernah bolak-balik Pancoran – Cileungsi (total 60 km), pernah Pancoran – Bogor (pulang naik KRL), rajin hadir di Car Free Day, atau mengelilingi hutan kota kampus UI. Sekarang saya harus segera pulang dan menyimpan tenaga buat diajak lari-larian atau dorong sepeda anak saya.

Jadi saya bersepeda keliling kampung saja. Menyusuri pedalaman Cipedak – Ciganjur. Area selatan Jakarta ini masih sangat banyak kebon-kebon hijau. Mudah-mudahan tidak segera menjelma jadi pemukiman. Karena baru beli Mi Band, saya ingin jalan kaki di taman supaya target jumlah langkah hari ini terpenuhi. Tujuan saya adalah RPTRA Ciganjur Berseri, lokasi yang saya tahu waktu otak atik CCTV Jakarta Smart City. Ternyata sudah ada RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Anak) di dekat rumah.

img_20161120_062347

Di luar bayangan saya, ternyata RPTRA itu tidak terlalu luas. Malah cenderung sempit. Masih lebih luas halaman kantor kelurahan. Lokasinya tersembunyi di dalam gang kecil dan buntu. Tapi di sana ada arena bermain anak-anak (jungkat-jungkit, ayunan, lingkaran besi untuk memanjat dan bergelantungan), lapangan basket sekaligus futsal. Ada juga semacam perpustakaan yang mempunyai beranda yang cukup luas untuk pertemuan warga. Gubernur Basuki T Purnama pernah berkata kalau RPTRA itu kurang lebih seperti Club House-nya kompleks mewah. Saya jadi mengerti. Kurang kolam renang saja hehe.

Karena tidak ada jogging track yang memadai di sini, saya memutuskan untuk melanjutkan bersepeda. Saya ambil arah ke pembangunan tol Depok – Antasari lalu putar balik pulang. Ternyata tidak sengaja saya lewat taman Kiara Payung, tidak jauh dari RPTRA. Tidak lebih luas dari Taman Tabebuya atau Taman Spathodea, tapi jogging track-nya sepertinya panjang juga. Jadilah saya mampir ke sini dan mulai… jogging.

Jogging. Jangan bayangkan saya bisa berlari seperti anak-anak muda urban yang suka berlari di Senayan dan kemudian selfie dengan tagar #PertemananSehat #JanganKasihKendor. Saya berjalan agak cepat saja. Lutut saya cedera waktu kecelakaan di SMA dulu. Sampai sekarang lutut saya tidak bisa kena high impact. Mungkin kena ligamen-nya. Seharusnya saya periksa ke dokter, cuma saya takut dioperasi. Agak ngeri mendengar cerita teman-teman yang operasi lutut. Selama tidak terlalu mengganggu, saya rasa belum perlu.

img_20161120_065112

Dua putaran berjalan kaki, saya mencoba berlari kecil. Eh, sepertinya oke nih. Saya sudah tidak terpincang-pincang kalau berlari. Apa mungkin faktor berat badan? Hari ini saya sepuluh kilo lebih ringan. Mungkin jika saya turun lima kilo lagi, jangan-jangan saya bisa ikutan lari maraton 5K, lalu pamer medali finisher di media sosial. Seperti anak-anak muda urban gitu deh. Dan mungkin lutut saya jauh lebih fit lagi.

Hokeh, setiap minggu saya mau coba lari buat menaikkan stamina. Berapa waktu tempuh yang diperlukan seorang pelari pemula buat jadi finisher lari maraton 5K?

7 thoughts

  1. Maaf ya, out of topic.

    Kalau sakit lutut dan merasa pernah cedera di tempat itu, diperiksakan saja ke dokter ahli traumatologi.
    Belum tentu juga ini harus dioperasi, dan belum tentu juga operasi akan membawa manfaat.
    Selalu ada alternatif lain untuk pengobatan, misalnya dengan memberikan obat semprot anti nyeri, atau dengan memberikan bebat.
    Yang paling penting dari kunjungan ini adalah, kita tahu mengapa kita tidak bisa menggunakan lutut kita dengan optimal. Dan kita bisa mengadakan perbaikan yang terstruktur supaya kita tetap bisa berolahraga nyaman (termasuk berani untuk beraktivitas high-impact) meskipun lutut pernah cedera. Dan tidak terperangkap dalam rasa penasaran seumur hidup.

    Rasa penasaran itu, jangan pernah dimanjakan untuk dibiarkan.

  2. Wah mas Galih ganti template blog!

    Saya sebenernya pengin juga sih punya sepeda, kayuh sepeda ke mana-mana kayak kalau di kampung, cuma masalahnya Jakarta cenderung tidak kondusif untuk hal semacam itu ya huhuhu… Temen saya saja yang pake sepeda untuk ngampus, sepedanya hilang DUA kali (beli, dipakai, hilang dicuri, beli lagi, dipakai lagi, hilang dicuri lagi) dan lokasi hilangnya yang satu di parkiran fakultas, satunya di parkiran perpustakaan. Sampai akhirnya dia menyerah dan memutuskan jalan kaki saja… :)))))))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *