Senja Kala Masterwebnet

Tidak terasa sudah lama sekali saya langganan hosting galihsatria.com ini di MWN. Terhitung sejak lulus kuliah S1 berarti dari tahun 2006, sudah sepuluh tahun saya menjadi pelanggan setia. Sebelumnya saya hosting sendiri pakai komputer pribadi (namanya Eliza btw wkwkwk…) yang saya taruh di lab ITSnet selama saya menjadi sysadmin dan webmaster http://www.its.ac.id. Saya bisa begitu karena komputer saya mendapatkan ip public static — suatu kemewahan yang sekarang mungkin tidak akan pernah ada. Waktu itu ITS mendapatkan jatah ip public sebanyak satu segmen penuh dari Rad.net Surabaya. Artinya ada 254 IP public. Karena penggunaannya tidak banyak, sisa IP kami pakai untuk eksperimen dan belajar.

Dulu semua infrastruktur sistem IT di ITS dibangun sendiri oleh mahasiswa-mahasiswa yang magang di Pusat Komputer ITS. Kami bisa belajar bagaimana membuat firewall, proxy, email system, anti spam, anti virus, web server, dan masih banyak lagi. Semua berbasis software open source. Saya tidak tahu apakah mahasiswa sekarang masih mendapatkan kemewahan itu karena terkahir saya dengar atas nama layanan yang prima, infrastruktur itu telah dipindahkan ke vendor besar macam Microsoft dan Google.

Eh, jadi ngelantur. Kembali ke MWN. Sepuluh tahun ini, hosting hanya saya pakai untuk menghidupkan blog berbasis WordPress ini. Sekali-kali saya pakai untuk aplikasi PHP yang sederhana. Karena itu, kebutuhannya tidak terlalu aneh-aneh, saya nyaman-nyaman saja pakai MWN. Sepuluh tahun yang lalu, MWN adalah layanan hosting dengan citra baik. Meskipun agak lebih mahal tapi stabil dan bagus. Responnya cepat.

Sampai saya belajar framework PHP bernama Laravel. Saya membuat aplikasi yang mengekstrak data-data saham dan reksadana dari situs-situs finansial seperti Reuters dan Bloomberg. Laravel 5 memerlukan versi PHP yang tinggi, sementara PHP yang dipakai blog saya ini belum memenuhi syarat. Saya tanyakan ke tim support mereka, mereka bilang layanan shared hosting Spanel yang saya pakai tidak bisa. Supaya bisa harus migrasi ke shared hosting Cpanel. Saya setuju untuk migrasi.

Migrasinya sebenarnya tidak terlalu mulus, banyak struktur directory yang berubah banyak sehingga saya harus konfigurasi ulang. Saya menghapus blog foto saya (foto.galihsatria.com) karena sepertinya tidak banyak pengunjung hehehe. Tapi yang penting aplikasi Laravel saya akhirnya bisa jalan. Aplikasi itu bisa mengambil data dari luar, ekstraksi, dan menyajikannya seperti yang saya mau. Istilah kerennya adalah scrapping. Semua berjalan lancar sampai tiba-tiba datanya tidak update.

Saya tidak merasa perlu untuk menghubungi tim support MWN. Rupanya ada perubahan di konfigurasi PHP induknya yang memblok beberapa fungsi yang diperlukan Laravel untuk melakukan scrapping. Aplikasi saya tidak bisa lagi aktif mengakses situs di luar. Bisanya pasif. Saya terpaksa harus membuat perubahan di aplikasi saya itu. Saya membuat modul yang melakukan scrapping itu dan saya jalankan di server Raspberry Pi saya di rumah. Setelah itu, modul tersebut memanggil aplikasi di MWN untuk memasukkan data.

Dari sini saya berpikir, MWN jadi terasa ketinggalan jaman. Saya bahkan tidak punya akses ke shell di shared hosting. Padahal banyak operasi di Laravel yang memerlukan akses command line seperti artisan, composer, dan git. Saya coba upload aplikasi PHP shell untuk menjalankan command line dari web. Eh tidak lama kemudian, aksesnya diblok. Yang membuat saya kecewa adalah mereka bersikap reaktif. Jika memang akses tersebut tidak diizinkan, harusnya sudah dilakukan dari awal. Bukan setelah saya pasang kemudian saya diblok.

Mungkin lalu ada pikiran, What do you expect dari layanan shared hosting? Kalau mau fleksibel, ya sewa layanan VPS (Virtual Private Server) dong. VPS rasanya terlalu mahal untuk saya sekedar main-main dan belajar ini. Saya rasa layanan VPS di Indonesia juga harus berubah cepat. Sekarang sudah zamannya Cloud Computing dimana setiap layanan dihitung biayanya per penggunaan saja. Saya sempat coba versi trial layanan cloud seperti Amazon Web Services, Google Cloud Services, dan Microsoft Azzure. Dengan biaya yang nyaris semurah shared hosting, saya bisa mendapatkan VPS yang sangat fleksibel. Teknologinya tidak hanya PHP, bahkan Java dan Microsoft .net juga bisa. Nanti saya share pengalaman saya mencoba cloud server itu secara terpisah.

Masih ada 3 bulanan saya menyewa hosting MWN ini. Saya rasa saya akan mencukupkannya sampai di sini. Saya akan mencari hosting dengan biaya yang sama tapi dengan fasilitas yang lebih untuk menjalankan Laravel, khususnya akses ke shell dan fungsi-fungsi scrapping bisa berjalan dengan baik. Kalau ada rekomendasi hosting yang bagus, mohon saya dikabari di kolom komentar.

Hatur nuhun.

8 thoughts

  1. kalo untuk shared hosting standar, dulu aku pake mwn juga, terus move on ke dracoola. reviewnya, lebih murah, ramah n cepet responnya even tengah malem hubungin helpdesk nya. aku tau ini itu dulu dari forum ccpb kaskus, moderator nya si x-nitro kl ga salah yang punya.
    tapi kl blm ada niatan pasang adsense, iklan, dll di blognya, mending hostingnya pakai punya wordpress aja mas jadi tinggal sewa domain aja.

  2. Tambah satu untuk Dracoola. Dia sudah pakai CPanel, customer service-nya ramah. Sepertinya mereka arek-arek Suroboyo. Saya sudah langganan sejak 2010 hingga sekarang.

  3. Oooh… mas Galih lulus S1 tahun 2006…
    #KemudianMenghitungTaksiranUsia
    #SalahFokus

    Jujur saya roaming banget baca postingan ini. (Maklum, gagap teknologi)
    Tapi lihat mas Galih bisa setia ngeblog sampai sepuluh tahun bikin iri. Saya sebenernya kepengin gitu juga, cuman udah terlanjur ternodai vakum dua tahun (karena dulu nggak punya koneksi internet). Semoga blog saya bisa diresureksi lagi dari sekarang. Yosh.

    1. Hehehe, sudah tua yak :mrgreen:

      Lebih tepatnya hampir 12 tahun, saya ngeblog mulai Desember 2004 hehehe. Hayok semangat nulis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *