Pindah ke Opera

Untuk berselancar di internet, saya menggunakan Google Chrome. Setelah itu pilihannya jika di Windows atau Linux adalah Firefox. Jika di Mac, saya lebih sering menggunakan Safari daripada Chrome. Alasan saya pakai Chrome adalah kecepatannya, enteng begitu kesannya. Ternyata di balik kecepatannya, dia sangat rakus memory. Di Notebook saya, setiap tab bisa menghabiskan sekitar 80 MB sendiri. Padahal saya biasa membuka 3-10 tab sekaligus.

Firefox. Ada apa dengan browser ini ya? Sejak kemunculan Chrome, saya merasa kualitas Firefox semakin menurun. Ini perasaan saja ya, ga pake data hehe. Padahal dulu Firefox adalah pilihan utama. Sampai ada guyonan, fungsi Internet Explorer bawaan Windows adalah untuk men-download Firefox. Setelah itu IE tidak dipakai lagi. Firefox sudah lambat boros memory lagi.

Jadilah saya mencari-cari browser yang bagus yang hemat memory. Ada beberapa nama browser yang tidak begitu dikenal, tetapi setelah ditelusuri mereka adalah turunan Chromium (Chrome) dan Firefox juga. Jadi ya sama aja.

Di Google, ada yang menyarankan menggunakan Opera. Saya sudah lama meninggalkan Opera. Terakhir saya gunakan di Nokia N95. Waktu itu Opera terkenal sebagai browser mobile yang hemat bandwidth dan jalan di Symbian (sistem operasinya Nokia jadul). Seiring dengan perkembangan bandwidth (HSDPA 3G, HSPA 3,5G lalu LTE 4G) dan melesatnya ponsel Android, Opera semakin ditinggalkan. Chrome menjadi sangat populer.

Tapi ternyata Opera masih hidup ya. Terakhir saya cek, Opera mencoba bertahan dengan menggabungkan beberapa fitur sekaligus selain browser, seperti email client dan news aggregator. Tapi perkembangan email client sendiri seperti berhenti sejak ada Google Mail yang berbasis web. Paling yang masih populer tinggal Microsoft Outlook yang berjaya di lingkungan korporasi. News aggregator apalagi, begitu era blogging tenggelam, news aggregator ikutan tenggelam. Sekarang kan jamannya pesan instan ala Twitter dan Facebook.

Opera Strikes Back!

Saya baru saja download dan install Opera. Fitur-fitur tak berguna itu rupanya sudah tidak ada (atau disembunyikan saya belum tahu). Gayanya sekarang sudah mengikuti tren browser modern, ketika membuka tab baru ada kotak-kotak website yang sering dikunjungi sehingga kita tinggal klik jika ingin membukanya, tidak perlu mengetik.

Kemudian ini yang penting: konsumsi memory-nya. Saya cek di Task Manager, Opera hanya membutuhkan sekitar 30 MB pada waktu start up. Sampai sekarang setelah kesana kemari, dia berkembang menjadi 39 MB saja. Ini luar biasa karena jika dibandingkan dengan Chrome, tarikan awal saja sudah memerlukan 80 MB dan setiap tab akan memakan memory segituan juga.

Kesan pertama begitu menggoda. Konsumsi memory ini penting karena Notebook kantor saya ini nafasnya mulai terengah-engah. Memory-nya hanya 4 GB, dan disk drive-nya juga masih magnetic, belum SSD. Di IT semuanya cepat sekali usang yah. Empat belas tahun yang lalu, saya belajar Java menggunakan software Netbeans di atas komputer jangkrik (rakitan made in Hi Tech Mall Surabaya) bermemory 128 MB. Ketika saya upgrade ke 256 MB lalu 512 MB, rasanya komputer saya menjadi kencang sekali. Sekarang memory 4 GB terasa lambat, hehehe…

7 thoughts

  1. Wah bisa dipertimbangkan ini, eh bisa diiinstal di debian jg ga?

    Saya sih termasuk msh fans firefox termasuk turunannya iceweasel yg defaultnya deb.

    Dan btw, 13 tahun yg lalu saya pertamakali punya komputer jg rakitan di Hi tech mall, prosesor pentium III 733 yg bukan ori, hasil remake atau apalah gitu, siyalan sdh mahal ketipu pula, untungnya lancarjaya dipake sampe lulus kuliah hehehe

  2. Opera sekarang bukannya udah ganti engine Chromium juga, mas? Jadi masih sodaraan sama Chrome. Enaknya sih, extention Chrome biasanya bisa dipakai juga di Opera. Lalu Opera terbaru yang versi Developer, sekarang sudah support VPN. Berguna sekali untuk membuka website yang aslinya gak bisa dibuka dari region Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *